JODOH KU

JODOH KU
CERMINAN DIRI


__ADS_3

Duduk dengan pandangan lurus kedepan, nadia merasa harinya begitu membosankan. Aruna dan kenzo hanya datang di pagi hari dan saat jam tidur siang mereka tiba maka bramantyo akan memboyong kedua cucunya untuk pulang. Sejak sejam yang lalu, angga sibuk dengan laptop dipangkuannya. Pekerjaan yang menumpuk membuat angga terpaksa harus mengerjakannya segera karena agus tak bisa menghandle semuanya sendirian.


"Mas"


"Hmm, sebentar lagi ya."


Sebentar lagi hanya itu jawaban yang angga berikan saat nadia memanggil. Berbaring makan lalu berbaring lagi, dua hari diranjang rumah sakit malah membuat nadia merasa semakin lemas. Nadia membayangkan berada dirumah dan bisa melakukan hal lain selain rebahan.


"Bosan" gumam nadia dalam hati.


"Kangen ayank dan kenzo."


"Kapan dokter visit lagi ya? Aku mau minta pulang aja."


"Apa sayang?"


Angga yang sudah selesai dengan laptopnya samar-samar bisa mendengar nadia berbicara.


"Dokter kapan visit lagi mas? Aku mau minta pulang."


"Loh, kok udah minta pulang. Harus tunggu dokter yang izinin pulang baru kita pulang."


"Tapi aku bosen disini mas. Sepi terus kerjaan ku cuma rebahan makan terus rebahan lagi."

__ADS_1


"Namanya disuruh bed rest ya jelas rebahan terus lah. Kamu ini ada ada aja,"


"Hmm"


Rasanya percuma berdebat dengan angga karena nadia tak akan pernah menang.


"Mau jajan ga?" Jurus jitu angga untuk menghibur nadia hanya menawari makan.


"Ga"


"Terus pengen apa?"


"Ga ada."


"Malah ngambek."


Memejamkan mata nadia memilih untu tidur untu kembali mempersingkat waktu. Berharap saat bangun nanti sudah esok hari dan siapa gau dokter mengijinkan pulang besok. Bosan ditambah rindu dengan anak-anak membuat nadia merasakan dadanya terasa sesak.


.


.


"Hahaha ayo ayo lagi lagi." Tak seperti sang ibu, kenzo dan aruna begitu gembira karena saat ini mereka sedang ada dihalaman samping dan sibuk bermain bersama kelinci yang bramantyo belikan semalam.

__ADS_1


Kenzo tampak begitu semangat saat mengejar kelinci peliharaannya kesana kemari. Marini yang berada di balkon kamarnya sesekali menatap sinis kearah bawah tepat dimana aruna dan kenzo sedang bermain.


"Ayo de kejar lagi kejar lagi."


"Hahaha iya, dak bisa tantap. Hahaha, lali lagi lali lagi."


Heboh, semarak tawa terdengar begitu ramai karena semua pegawai dirumah utama sedang berkumpul. Ada yang ikut bermain bersama aruna dan kenzo dan ada yang hanya menonton seperti bramantyo. Duduk dikursi taman bramantyo dengan teliti memperhatikan kemana pun gerak aruna dan kenzo.


"Ayo non ayank dibawa kesini kelincinya."


"Berat mba mar, tolong mba angkat ya."


"Iya, ayo non ayank jalan duluan."


"Hmm, makasih mba."


Walau aruna masih terbilang kecil tapi sopan santunnya terhadap orang yang lebih tua sangat bisa diacungi jempol. Mengucapkan kata tolong dan terimakasih adalah pelajaran dasar yang selalu nadia ulangi agar buah hatinya paham bagaimana cara menghargai orang disekitarnya.


Senyum bangga bramantyo tunjukkan atas sikap aruna yang begitu pandai. Bahkan kenzo yang belum genap berusia dua tahun pun sudah mulai bisa mengucapkan tolong dan terimakasih walau masih kerap kali dibantu oleh pengasuhnya atau orang sekitar.


"Didikan yang nadia ajarkan memang terlihat sepele tapi akan menjadi cerminan diri anak-anak kelak saat mereka sudah dewasa.


__________

__ADS_1


__ADS_2