
Sadar ada sesuatu yang terjadi angga langsung menghubungi agus yang ia yakini pasti mengetahui persoalan yang terjadi sampai sepulang dari rumah sakit nadia membawa dirinya pulang kerumah yang dulu mereka tinggali. Angga tau istrinya pasti sedang memendam sesuatu maka dari itu angga lebih memilih diam terlebih dahulu sambil menunggu nadia mau bercerita padanya.
"Gus, kamu pasti tau kanapa nadia membawa saya pulang kesini bukan kerumah papa."
Dengan terpaksa agus menceritakan semuanya walau ada rasa khawatir mengingat kondisi angga yang baru saja keluar dari rumah sakit.
"Ya sudah, saya titip kantor sama kamu dulu ya gus. Kalau ada yang perlu saya tanda tangani tolong kamu antar saja kesini."
Tut tut tut
Sambungan telpon terputus dan angga menghembuskan napas berat. Persoalan paling pelik dalam hidupnya adalah melunakkan hati sang ibu. Sampai dirinya akan memiliki dua anak, marini masih saja belum mau menerima nadia sebagai menantu bahkan aruna pun tak dianggap sebagai cucu. Memang malang nasib mereka tapi beruntung baik angga maupun nadia tak pernah membenci marini walau tak bisa dibohongi didalam hati mereka merasa sangat kecewa sekaligus sedih.
"Mas, makan dulu yuk. Udah waktunya minum obat."
Nadia datang dengan nampan berisi makanan dan obat. Rutinitas yang tak pernah membuat nadia bosan padahal dia juga adalah seorang wanita karir yang masih terus bisa menghasilkan walau memiliki angga sebagai suami.
"Minum obat lagi?" Tanya angga dengan suara malas.
__ADS_1
"Supaya cepat sehat dan cepat bisa beraktifitas lagi."
"Hmm"
"Tadi papa telpon, katanya nanti sore mau kesini sekalian mau menginap."
"Iya"
Setelah menyuapi angga makan dan memberikan obat nadia langsung keluar kamar untuk melihat aruna yang tadi bermain bersama dengan mba marni.
"Ma, papa"
"Yei, opa datang."
Raut sedih yang tadi sempat terlihat diwajah aruna seketika menghilang saat mengetahui kakeknya akan datang nanti sore. Aruna akan bersemangat jika bramantyo sonya atau nadira datang karena kakek nenek serta tantenya adalah teman bermain paling setelah ayah dan ibunya. Anak seusia aruna kesehariannya memang lebih banyak bermain, namun satu sampai dua kali seminggu nadia pasti meminta angga bramantyo sonya nadira bahkan dirinya untuk mengajari aruna.
.
__ADS_1
.
Perut nadia yang sudah membesar membuatnya lebih cepat lelah dan melambatkan gerakannya. Padahal hanya menemani aruna bermain tak sampai satu jam saat ini nadia sudah berbaring disofa dengan mba marni yang sedang mengusap pinggang dan punggungnya dengan minyak kayu putih.
Masa masa mengidam sudah terlewati sekarang nadia hanya tinggal menunggu waktu persalinan datang. Kali ini, jenis kelamin sang buah hati tak bisa diketahui karena si jabang bayi terus berputar dan menyembunyikan diri.
"Kenapa?" Tanya angga yang melihat nadia sedang diusap pinggangnya oleh nba marni.
"Mba nad sakit pinggang pak." Jawab mba marni dalam bisikan karena ternyata nadia tertidur.
"Ayank kemana?"
"Tadi sedang dimandikan sama bibi."
"Oh, ya sudah tolong mba mar temani istri saya ya. Saya mau kekamar ayank dulu."
"Baik pak."
__ADS_1
Sambil merapihkan mainan aruna yang berserakan mba marni terus mengawasi nadia yang sedang tidur sofa karena takut nadia terjatuh karena kondisinya yang sedang mengandung.
__________