
Tak berhasil meminta nadia membuka pintu angga memilih duduk di sofa tempat nadia tadi duduk menunggu dirinya pulang.
Ceklek
Pintu kamar aruna terbuka dan angga yang tadinya menundukkan kepala sontak mengangkat pandangan karena mengira nadia yang membuka pintu.
"Ayank" wajah angga terlihat pias, ada rasa malu karena anak gadisnya pasti tau dan mendengar percekcokan yang terjadi antara kedua orangtuanya barusan.
"Mama ga akan meledak seperti tadi kalau memang papa ga berbohong."
11;12 memang karakter aruna tak jauh berbeda dengan sang ibu.
"Papa ga bilang karena ga mau bikin mama sedih lagi."
"Tapi sekarang malah mama jauh lebih sedih dan terluka kan?"
Angga mengangguk lemah, sungguh dirinya merasa begitu malu karena aruna putri sulungnya sudah bisa berbicara sedemikian rupa kepadanya.
"Mama cerita ke kakak?"
"Ga, mama bersikap biasa saja sejak pulang tadi. Aku ga ngira kalau mama menyembunyikan sesuatu."
__ADS_1
"Kak"
"Aku dengar semuanya pa, mama ga mungkin seperti tadi kalau mama ga berbohong."
"Ya, papa tau."
"Aku akan ikut mama, kenzo dan hansel pun pasti ikut mama. Jujur aja, aku pun sudah lelah dengan oma yang terus menyakiti mama. Disini yang paling terluka adalah mama."
"Jangan pergi tinggalin papa nak."
"Kalau aku tetap sama papa, aku juga akan terus disisihkan dan ga dianggap. Oh ya, opa akan ikut kami."
Duar
"Mereka ibu dan anak benar-benar seperti pinang dibelah dua. sifat dan karakternya tak jauh berbeda hanya saja tampilan ayank yang meniru diriku. Semakin besar ayank malah jadi seperti ibunya diam diam tapi teguh tak bisa terbantahkan."
Angga kembali merundukkan pandangan dan menopang wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tentu saja ia menyesali keputusan tadi siang dengan tidak mengajak agus saat bertemu sang ibu.
"Kenapa tadi ga aku kantongi aja si agus, ck."
Semalaman angga terjaga tak bisa memejamkan mata. Perasaannya campur aduk, takut nadia benar-benar melakukan apa yang dikatannya akan pergi dan menyerah ditambah aruna pun sudah ikut mengambil keputusan.
__ADS_1
Ceklek
Baru saja angga memejam mata ternyata nadia membuka pintu kamar dan sudah rapih dengan dress selutut nya. Nadia berjalan keluar kamar dan menuruni anak tangga melewati angga yang memperhatikan dirinya. Cuek dan terkesan dingin, nadia benar-benar mengabaikan keberadaan angga disana.
Berkutat dengan bumbu dapur, nadia menyiapkan sarapan dan bekal untuk ketiga buah hatinya. Hampir dua jam didapur, nadia kembali naik ke lantai dua untuk mengecek apakah anak-anak sudah siap atau belum.
"We are ready ma."
Jawab kenzo yang sudah duduk di sofa ruang keluarga lantai dua dan kedua saudaranya sedang mengenakan sepatu mereka.
"Bagus, ayo kita sarapan mama sudah masak dan hari ini kalian bekal ayam katsu buatan mama."
"Yey, bekal masakan mama." Sorak hansel penuh semangat.
"Ga tunggu papa ma?" Tanya kenzo sambil melirik pintu kamar orangtuanya.
"Papa berangkat siang, ayo kalian sarapan saja duluan takutnya nanti telat."
Tanpa bertanya lagi mereka menuruni anak tangga dan sarapan berempat.
Sementara didalam kamar, angga meneteskan air mata mendapati perlakuan nadia yang langsung berubah 180° kepada dirinya.
__ADS_1
__________