
Duduk dikursi belakang sambil memangku aruna, nadia diam seribu bahasa. Air matanya sudah tak lagi keluar bahkan hatinya tak lagi merasa sakit mendengar hinaan demi hinaan yang keluar dari mulut marini. Nadia seperti sudah kebal dan sudah sangat puas karena sejak dulu marini memang selalu bersikap seperti itu pada dirinya.
Angga mengemudikan mobilnya dengan perasaan tak menentu. Ibunya duduk dikursi sebelah sementara istri dan anaknya duduk dikursi belakang. Sebagai suami dan anak, angga merasa posisinya terjepit dan tak tau harus berbuat apa. Tapi angga merasa dirinya tak akan pernah mau menyakiti nadia lebih dalam lagi.
Hampir satu jam mengemudi, mereka sampai dirumah megah milik bramantyo.
"Ayo sayang. Sini, ayank sama papa aja."
"Mas"
Brak
Marini membanting pintu mobil angga dengan sangat keras.
"Aku mau pulang aja." Suara nadia menunjukkan bahwa dirinya tak nyaman.
"Masuk dulu yuk, ketemu papa. Papa pasti seneng kita bawa ayank kesini, ini pertama kalinya ayank main ke rumah opa."
"Mas"
"Ayo percaya sama mas, kita ketemu papa sebentar terus pulang."
__ADS_1
Ada rasa tak tega dihati nadia jika menolak permintaan angga untuk bertemu bramantyo. Mengekor dibelakang angga, nadia berjalan dengan tatapan kosong. Dalam benaknya, pasti mereka akan kembali bersitegang seperti yang sudah sudah. Rasa lelah menggelayuti hati nadia. Ia ingin berdamai tapi marini selalu saja tak bisa menerima dirinya.
Mungkin dulu nadia akan menangis dan terus berfikir apakah yang membuat marini begitu membenci dirinya.
"Hei, cucu opa datang."
Kedatangan mereka disambut hangat oleh bramantyo yang kebetulan baru saja keluar dari ruang kerjanya.
"Darimana? Tumben kalian mampir."
"Dari beli baju ayank pa, semuanya sudah pada sempit."
Bramantyo langsung meraih aruna dari gendongan angga. Aruna yang melihat uluran tangan dari sang opa tentu saja langsung mengerjap senang.
"Kangen opa. Iya? Ayank kangen opa."
Mencari sofa dan duduk. Bramantyo langsung bercanda dengan cucunya dan melupakan orang sekitar. Marini yang menyaksikan bagaimana interaksi antara suami dan cucunya hanya mendengus. Rasa bencinya tak sama sekali tergugah saat melihat aruna untuk yang pertama kalinya.
"Bawa perempuan itu dan anaknya pergi dari sini."
Suara marini membuat bramantyo yang sedang menciumi pipi aruna menoleh dengan tatapan tajam nan mematikan.
__ADS_1
"Mama saja yang pergi dari sini, toh rumah ini bukan rumah kita. Jangan lupa, semua aset bukan milik kita."
Santai bramantyo mengucapkan hal itu sambil kembali menciumi pipi aruna yang sangat menggemaskan sekali.
"Ayo, kita kenalan sama penghuni rumah milik papa aruna ya? Supaya mereka kenal princes aruna yang cantik ini."
Meninggalkan angga nadia dan marini yang masih berdiri diruang tengah dengan pemikiran masing-masing. Bramantyo memencet sebuah bel dan dalam waktu kurang dari sepuluh menit banyak orang yang berkumpul diteras belakang.
"Mas" nadia memanggil suaminya.
"Ayo naik kelantai dua, lihat kamar mas."
"Ngapain? Ayank?"
"Ya biar kamu tau kamar mas. Ayank biar aja sama papa. Diakan lagi dikenalkan sama penghuni disini, princes aruna sedang melakukan perkenalan diri. Biarin aja,"
Kembali diabaikan, marini mendengus kesal dan meraih vas bunga yang ada disebelahnya lalu dibanting sampai membuat vas itu pecah berserakan dilantai.
"Ga tau diri, sekarang bayi sialan itu diperkenalkan sebagai princes. Memang rumah siapa ini? Kenapa dulu aku begitu naif membiarkan mas tyo membalik semua aset atas nama angga."
__________
__ADS_1