
Sadar, urusan pekerjaan tidak bisa dicampuradukkan dengan urusan pribadi membuat nadia hanya bisa diam tanpa banyak bicara akan keinginannya untuk meminta angga untuk menjauh dengan wanita yang tadi mereka temui tanpa sengaja.
"Sayang"
"Maaf kalau tadi aku udah buat mas malu dan bahkan mungkin nanti urusan pekerjaan mas juga akan kena imbasnya."
"Kamu ga salah jadi ga perlu minta maaf begini. Mas yang harusnya minta maaf karena ga cerita tentang dewi ke kamu. Tapi bukan karena mas ga mau cerita, hanya belum sempat aja."
Nadia menggeleng, sadar semua terjadi bukan karena keinginan mereka dan bukan salah dari mereka berdua. Awal dari semua kerusuhan yang tadi terjadi memang dewi lah yang memulai semuanya.
"Angga, kita harus bicara sekarang." Suara bramantyo terdengar marah.
"Ya pa."
"Tunggu disini ya." Pamit angga pada sang istri dan mengekori langkah bramantyo ayahnya ke ruang tengah.
"Ceritakan semuanya ke papa."
Tanpa hambatan dan tidak ada yang disembunyikan. Angga bercerita dengan lancar dan bramantyo mendengarkan tanpa memotong sedikitpun ucapan angga.
"Batalkan rencana kerjasama yang akan kalian lakukan. Papa ga mau kamu dan nadia jadi ga akur hanya karena hal sepele seperti ini. Bagaimana pun keluarga adalah yang nomor satu."
"Iya pa, tapi maafkan nadia dan aku juga sudah bikin papa jadi malu karena berita yang muncul."
__ADS_1
"Ga masalah, anak dan menantu papa jauh lebih penting dari segalanya. Jangan khawatirkan apapun, didalam dunia bisnis hal seperti ini memang kerap terjadi. Kalau harga saham turun karena hal ini jangan dijadikan beban, nanti akan ada masanya."
Angga menganggukkan kepalanya. Beruntung bramantyo adalah ayahnya. Bagaimanapun permasalahan yang sedang mereka hadapi tak pernah sekalipun bramantyo menunjukkan amarahnya.
"Tenangkan nadia, bilang sama dia papa ga marah. Papa malah senang dia berani bersikap tegas didepan perempuan yang jelas-jelas menyodorkan dirinya pada kamu."
"Baik pa"
.
.
Didalam kamar, nadia duduk dengan gelisah. Ia merasa bersalah dan takut karena sudah membuat keributan yang langsung ramai dibicarakan dibeberapa platfrom berita online. Hal itu sudah pasti akan mempengaruhi reputasi bramantyo dan angga.
Ceklek
"Mas" nadia menoleh saat mendengar suara angga.
"Papa gimana?"
Angga menggeleng dan memasang wajah memelas guna mempertunjukkan kesan dramatis untuk mengerjai nadia.
"Mas papa marah ya? Marah sama aku ya? Aku mau minta maaf sama papa."
__ADS_1
Nadia bergerak cepat kearah pintu untuk mencari keberadaan ayah mertuanya. Tapi beruntung angga lebih gesit jadi sebelum nadia sampai dipintu angga sudah memeluk tubuh nadia dari arah belakang.
"Hei, ga ga. Ga usah cari papa."
"Tapi mas, papa pasti malu karena ulah ku tadi siang itu."
"Ssstttt" angga mengeratkan pelukannya saat mendengar isak tangis nadia.
"Udah jangan nangis, papa ga marah kok. Udah cup,"
Angga membalik tubuh nadia agar berhadapan dengan dirinya. Air nata sudah menetes tanpa henti dipipi nadia.
"Papa ga marah?"
Angga mengangguk.
"Bener ga marah mas?"
Lagi angga mengangguk dan membawa nadia masuk kedalam pelukannya.
"Udah jangan nangis lagi. Papa ga marah, tadi papa pengen tau ceritanya aja terus mas disuruh batalin rencana kerjasamanya dan katanya papa bangga sama kamu karena udah berani tegas."
Mendengar penuturan angga, seketika nadia mengangkat wajahnya untuk memastikan apakah angga sedang berbohong.
__ADS_1
"Mas ga bohong kok, papa bilang sendiri kalau papa ga marah."
___________