JODOH KU

JODOH KU
SOTO LAMONGAN


__ADS_3

"ayank kenzo hansel, ayo makan siang dulu."


Dengan berkacak pinggang nadia memanggil ketiga anaknya yang masih terus asik bermain dengan kelinci peliharaan mereka di halaman samping rumah. Nadia sudah tak lagi rutin mengajak ketiga anaknya untuk berkunjung kerumah utama semenjak aruna sudah mulai memahami sikap tak bersahabat sang nenek. Bahkan bramantyo sudah dua bulan ini pindah tinggal bersama dengan mereka disini.


"Nanti aja ya ma." Kenzo terus menjadi yang paling dulu menolak ajakan makan siang yang sudah ketiga kalinya.


"Ayo makan dulu." Nadia kembali menaikkan nada suaranya.


"Kalau kalian ga mau makan siang, kelinci kelinci itu akan mama kembalikan ke penjualnya."


"JANGAN."


Aruna kenzo dan hansel langsung bangkit dan kompak berlari masuk kedalam rumah.


"Cuci tangan cuci kaki kalian, mama tunggu dimeja makan."


Sepuluh menit kemudian, aruna kenzo dan hansel sudah duduk rapih dikursi mereka masing-masing. Suasana dimeja makan seketika hening hanya terdengar denting sendok beradu dengan piring. Membiasakan anak-anak untuk tenang saat makan dan tak boleh bersuara adalah didikan yang nadia ajarkan. Nadia termasuk ibu yang cukup keras dalam mendidik anak-anaknya karena nadia tak ingin ketiga anaknya tumbuh menjadi pribadi yang buruk walau memiliki ayah yang mampu dalam finansial.


"Ma,"


"Ya kak" nadia melihat kearah aruna yang memanggil.


"Habis makan harus tidur siang?"


Nadia mengangguk mantap.


"Sepuluh menit setelah makan baru kalian tidur siang. Kenapa?"


Nadia bisa membaca gelagat mencurigakan dari pertanyaan yang aruna tanyakan tadi. Sudah menjadi kebiasaan selesai makan siang mereka akan santai sepuluh menit lalu tidur tapi kenapa aruna tiba-tiba menanyakan hal yang sudah diketahui jawabannya.

__ADS_1


"Ga apa kok." Aruna menunduk lesu.


"Papa kemarin janji mau ajak mereka ke kebun binatang tapi papa malah sakit kepala dan lemas."


Bramantyo yang paham dengan maksud aruna langsung buka suara.


"Ditunda minggu depan saja ya, opa lagi ga enak badan."


Walau tak rela aruna mengangguk pasrah karena ia tak mungkin tega memaksa apalagi melihat wajah sang kakek yang terlihat sedikit pucat.


.


.


"Kita bawa papa kerumah sakit aja yuk mas." Nadia berbicara dengan angga setelah menidurkan anak-anak.


"Mas sudah ajak tadi pagi, tapi papa ga mau."


Tak menunggu angga menjawab nadia kembali keluar kamar untuk mencari ayah mertuanya yang pasti ada didalam kamar.


Tok tok tok


Setelah dipersilahkan masuk baru nadia membuka pintu kamar bramantyo yang berada dilantai satu.


"Pa"


"Kamu nad, ayo masuk."


"Hmm" nadia mengangguk dan berjalan mendekati ranjang.

__ADS_1


"Kita kerumah sakit yuk pa?"


"Ga usah, papa ga apa. Istirahat aja nanti juga mendingan."


Nadia menggeleng, sekarang bramantyo sangat sulit untuk diajak kontrol kerumah sakit atau saat sakit juga sulit untuk diajak ke dokter.


"Dokternya aku panggil kesini aja, kalau papa emang ga mau kerumah sakit."


"Papa capek minum obat."


"Minum obatnya sebentar aja nanti aku atur lagi pola makan makan papa. Yang penting sekarang tau dulu apa penyebabnya sakit kepala yang papa rasakan."


"Iya" tak bisa menolak lagi akhirnya bramantyo pasrah dengan keputusan sang menantu.


"Papa tidur aja dulu, nanti kalau dokter sudah datang aku kesini lagi."


"Iya"


"Nad"


"Ya pa, kenapa?"


"Makan malam bisa papa minta soto lamongan? Tapi pakai ayam kampung."


"Bisa pa, bisa banget. Aku akan suruh mba langsung masak sekarang."


"Oke, papa tidur sebentar."


Nadia mengangguk dan menutup pintu.

__ADS_1


__________


__ADS_2