
"Agus aja yang berangkat ya pa?"
"Ga bisa"
"Astaga papa"
"Jangan kayak anak kecil."
"Pa istriku hamil besar, hanya tinggal menunggu waktu lahiran yang entah kapan."
"Ck"
Angga terus merengek pada sang ayah walau dirinya tau tak akan berhasil. Angga harus pergi keluar negeri untuk menghadiri acara penting yang tidak diwakilkan oleh orang lain.
"Kali ini saja, biarkan agus yang berangkat mewakili perusahaan."
"Ga bisa diwakilkan ga, walau agus bisa diandalkan tapi ini acara penting dan harus salah satu diantara kita yang berangkat."
Menghembuskan nafas gusar, angga tak lagi bisa mengelak. Pergi selama sepuluh hari ke luar negeri membuat mood angga jadi berantakan. Meninggalkan nadia yang sedang hamil besar menjadi alasan terbesar angga melakukan penolakan saat dirinya harus pergi. Ini adalah kali pertama angga pergi dalam waktu lama tanpa nadia dan aruna apalagi perginya keluarga negeri jadi angga semakin galau dibuatnya.
__ADS_1
"Sepuluh hari meninggalkan istri yang lagi hamil besar bukan ide yang bagus pa." Angga masih terus merengek seperti bocah kecil yang tak mendapatkan keinginannya.
"Kalau papa ga alergi dingin pasti papa yang berangkat, belum lagi belasan jam didalam pesawat pasti akan membuat papa keram dan kaku."
"Huft"
.
.
"Ingat gus, kamu harus standby dan urus semuanya dengan baik."
Rasa kesal angga bertambah saat nadia mengijinkannya untuk pergi padahal angga berharap nadia merengek saat mengetahui dirinya harus pergi keluar negeri. Dalam bayangan angga, nadia akan menangis atau setidaknya tak mengijinkan dirinya pergi tapi yang terjadi malah kebalikannya nadia terlihat santai dan tidak merasa terbebani sama sekali.
Dalam hati agus menggerutu kesal karena sejak dua hari lalu angga terus mengomel dan memerintahkan satu dua hal secara berulang ulang kali. Tapi agus mengerti kegelisahan terbesar dihati bos nya.
"Huft"
"Pak, saya sudah berkoordinasi dengan pihak sana kalau sekiranya sudah tidak ada acara penting saya akan urus kepulangan pak angga lebih cepat dari jadwal."
__ADS_1
"Ya"
"Lalu apalagi yang buat pak angga kesal terus?"
"Istri saya"
"Ha?"
"Saya kesal karena dia terlihat santai padahal saya akan pergi selama sepuluh hari mana dia itu lagi hamil besar dan HPL nya sudah dekat. Eh kamu tau? Dia malah duduk santai didepan lemari dan merapihkan semua baju saya kedalam koper." Angga berbicara dengan penuh emosi saat kembali mengingat bagaimana ekspresi nadia tadi pagi.
Ingin rasanya agus menyemburkan tawanya tapi masih ia tahan karena tak ingin menambah kesal bosnya. Kalau sampai ia tertawa bisa dipastikan angga akan mengamuk dan dirinya akan menjadi tumbal utama kekesalan angga.
"Ayo pak, kita rapat sebelum lusa pak angga terbang."
"Masih harus rapat juga?" Angga bangkit dan berjalan lebih dulu dari agus yang dibelakangnya masih berusaha menahan tawa.
"Harusnya saya libur gus, kamu ini tidak mengerti dengan kegalauan yang saya rasakan. Meninggalkan anak istri selama sepuluh hari itu bukanlah hal yang menyenangkan. Coba saja buktikan nanti kalau kamu menikah dan punya anak."
"Argh"
__ADS_1
"Pak angga memang ajaib. Setelah menjadi suami dan ayah malah semakin lengket sama anak istrinya, pekerjaan lebih banyak dilakukan dirumah. Ckckck" agus membatin dalam hati sambil melihat punggung tegap angga yang berjalan didepannya.
___________