JODOH KU

JODOH KU
KONTRAKSI


__ADS_3

Sejak subuh, nadia merasa perutnya sakit seperti orang yang hendak buang air besar. Bolak balik ke kamar mandi tapi nadia tak kunjung buang air besar juga.


"Ssstttt, kenapa sih kok mulesnya ga hilang-hilang."


Nadia mengusap keningnya yang basah.


"Halo bu, perut ku mules."


Jam enam pagi nadia memutuskan untuk menelpon ibunya.


"Angga mana?"


"Mas angga dirumah sakit, semalam tante marini masuk rumah sakit karena terpeleset dikamar mandi."


"Sssttt duh bu. Ibu bisa kesini kan?"


"Kamu bisa telpon rumah sakit tempat mu mau lahiran? Itu kontraksi namanya."


"Hah? Aku mau lahiran ini bu?"


"Sepertinya begitu."


Hua tangis nadia pecah, mendengar jika dirinya sedang kontraksi tanpa ada suami dan ibu disampingnya madia kelimpungan.


Tok tok tok


"Huhuhuhu"


"Mba, mba nad. Mba kenapa?"


Ceklek


"Mba kata ibu aku mau lahiran." Sambil terisak nadia membuka pintu dan mendapati prt nya sudah berdiri cemas didepan pintu.


"Mba kontraksi?"


"Hmm, hiks hiks hiks."

__ADS_1


"Astaga mba nadia. Ayo mba duduk dulu biar saya siapkan semuanya dulu."


"Dua koper dekat meja rias ya mba."


"Siap"


Mba marni prt yang bekerja disana dengan sigap memanggil sopir dan satu temannya yang sedang memasak didapur.


"Mari mba, ayo semua sudah siap kita ke rumah sakit saja sekarang."


"Suami saya mba?" Masih terus meringis, nadia berusaha bangkit dari duduknya.


"Pak angga sudah jalan menuju rumah sakit, tadi saya telpon. Kita ketemu di rumah sakit saja."


"Sudah tau rumah sakitnya kan?"


"Sudah mba, pak angga sudah bilang tadi."


Air mata tak henti menetes bahkan sekujur tubuh nadia sudah basah oleh keringat. Meringis menahan mulas nyeri membuat nadia sangat-sangat tak nyaman. Beruntung mba marni selalu setia mengusap pinggang nadia sehingga nadia merasa sedikit tenang.


"Ssssttt"


"Mulesnya makin kerasa mba mar."


Antara mengantuk lapar dan menahan sakit semuanya campur aduk menjadi satu.


"Duh, mba saya ngantuk laper sakit. Yaampun,"


Mba marni hanya tersenyum mendengar setiap ocehan yang nadia sampaikan. Ia mengerti bagaimana rasanya saat akan melahirkan jadi mba marni sangat memaklumi nadia saat ini.


.


.


"Sudah bukaan tujuh. Sebentar lagi ya bu, bisa dibantu bergerak menggunakan bola ini dan bapak bisa terus usap pinggang istrinya."


Begitu sampai di rumah sakit ternyata angga sudah menyiapkan semuanya. Nadia langsung menuju kamar rawatnya dan mendapat arahan disana.

__ADS_1


"Sayang, sakit banget ya?" Pertanyaan angga malah menimbulkan api kekesalan dihati nadia.


"Ya sakit lah mas. Astaga, pertanyaannya ga ada yang lebih bagus sedikit apa?"


"Duh," angga langsung menutup rapat mulutnya, sadar nadia sedang dalam mode senggol bacok jadi ia memutuskan untuk tak membuka suara lagi.


"Pak, tadi mba nadia mengeluh lapar." Bisik mba marni yang masih menemani disana.


"Nih, mba ke kantin beli makanan untuk kita semua dan belikan yang sekiranya nadia suka ya." Angga langsung merogoh dompetnya dan memberikan uang pada mba marni.


"Ssssttt"


"Huft huft huft."


Nadia berusaha menahan gejolak cinta yang ayank berikan demi bertemu dengan buah hatinya, walau rasanya nadia sudah tak sanggup lagi.


"Mas, sakit."


"Iya sebentar ya. Mau minum?"


"Hmm, mau mas."


Angga memberikan teh hangat dan nadia meneguknya sampai setengah gelas.


"Tunggu mba marni lagi beli sarapan. Makan ya nanti supaya ada tenaga buat ngejan."


"Iya, ssssttt"


Kuat kuat nadia meremas lengan angga sampai angga meringis kesakitan.


"Duh," angga mengaduh karena nadia sempat menjambak rambutnya.


"Sakit"


"Iya sayang, iya. Duh"


__________

__ADS_1


__ADS_2