
Sudah hampir setengah jam aruna tak mau berhenti menangis karena keinginannya belum juga dipenuhi oleh sang ibu. Saat bangun tidur pagi tadi, aruna tak mendapati ayahnya seperti pagi biasanya. Tak ada pelukan tak ada kecupan seperti biasanya sontak saja membuat aruna langsung menjerit menangis meminta nadia untuk mengantar dirinya mencari sang ayah yang sejak pagi sudah pergi karena ada pekerjaaan penting.
Nadia kewalahan meladeni aruna yang tak juga mau berhenti menangis. Kalimat yang keluar dari bibir mungilnya hanya cari papa cari papa. Kehabisan akal, nadia duduk bersila diatas karpet yang penuh dengan mainan aruna yang tak pernah diijinkan untuk dirapihkan.
"Cup nak, papa nanti siang juga pulang."
"Dak, mau papa. Ayank mau papa." Dengan suara serak aruna terus mengatakan ingin mencari ayahnya yang saat ini tengah menghadiri rapat penting.
Angga pergi bersama bramantyo saat matahari masih malu-malu. Mereka kompak pergi bersama karena memang pagi ini mereka akan mengadakan rapat dikantor guna membahas persoalan penting.
"Kalau pak angga nya ditelpon aja gimana mba?"
Mba marni ikut duduk dilantai karena melihat nadia terduduk lesu sejak sejam yang lalu nadia merayu atuna agar berhenti menangis tapi hasilnya nihil.
"Mereka ada rapat penting hari ini mba, jadi ga berani ganggu."
"Kasihan mba."
"Mau gimana lagi mba, tapi saya sudah wa papa aruna. Siapa tau nanti dibalas atau orangnya malah nelpon."
Nadia dan mba marni duduk menemani aruna yang masih terus terisak ingin bertemu dengan angga ayahnya. Hampir satu jam menangis belum ada tanda-tanda kalau aruna akan berhenti menangis.
__ADS_1
"Mau papa, ayank mau papa. Huhuhu"
Hanya bisa diam memperhatikan sambil berjaga kalau kalau aruna sampai melukai dirinya sendiri karena kesal.
.
.
"Lama nangisnya?" Bisik angga saat baru sampai di rumah.
"Nangis beneran nya hampir satu jam sisanya ya bad mood. Serba salah, maunya papa aja."
"Pasti kamu capek ya?"
"Yang sabar ya, mungkin ayank memang sedang masanya begitu."
"Hmm"
Energinya seolah terkuras untuk menenangkan aruna membuat nadia lemas tak bersemangat.
"Aku mau mandi dulu ya mas."
__ADS_1
Pamit nadia sambil berlalu kearah kamar mandi. Sudah hampir sore nadia baru memiliki waktu untuk membersihkan diri bahkan makan pun nadia belum.
Ceklek
Nadia mendapati suaminya tertidur pulas sambil memeluk tubuh mungil aruna yang tadi menangis tak mau berhenti.
"Kalau sudah sama papa pasti anteng, apalagi sama opa. Mama ga berarti ya nak?"
Ikut merebahkan tubuhnya disamping aruna yang begitu nyaman berada dalam kukungan angga ayahnya.. Hampir jam tiga sore nadia terbangun dan dirinya sudah terlambat untuk membantu marini makan mandi dan hal lainnya.
Terperanjat kaget, nadia terbangun karena mengingat dirinya belum membantu marini padahal hari sudah semakin sore.
"Mau kemana?"
"Mau lihat mama dulu sebentar. Mas tidur aja lagi sama ayank, nanti kalau dia bangun tolong anter aja kekamar mama ya mas."
"Oke" angga menjawab dengan suara pelan karena tak ingin mengganggu tidur putri kecilnya yang sejak pagi bingung mencari keberadaan dirinya.
"Ssssttt ssssttt udah sama papa ini nak." Sambil menepuk paha aruna, angga terus bersenandung.
"Ssssttt bobo nak, bobo ya."
__ADS_1
__________