JODOH KU

JODOH KU
CUCU OPA


__ADS_3

Hari terus bergulir, siang berganti malam begitu terus sampai tak terasa aruna sudah menginjak usia tujuh bulan tapi tak juga membuat luluh hati marini. Berkeras hati adalah pilihan marini, hubungannya bersama suami dan anak sudah tak sehangat dulu. Bahkan bramantyo lebih sering menghabiskan waktu dirumah angga untuk bermain bersama aruna yang semakin hari semakin menggemaskan.


"Ayank tadi sudah bisa tengkurap sendiri." Adu bramantyo dengan semangat pada nadia yang baru saja pulang dari acara launching desain terbarunya.


"Aku ga lihat." Lihir nadia sedih.


"Tenang papa sudah videokan nanti papa kirim ke ponsel mu."


Nadia langsung tersenyum senang sambil mengangguk.


"Papa sudah makan?"


"Sudah, ibumu tadi ngirim makanan banyak. Jadi papa makan duluan."


"Ga masalah, papa jangan telat makan ya."


"Kalau disini papa semangat karena harus nemenin ayank mainan." Bramantyo menepuk nepuk bokong ayang terlihat mulai memejamkan matanya saat berada dalam pangkuan sang kakek.


"Kalau sama papa, ayank ga pernah rewel pas mau tidur. Pasti gampang banget mejemnya."


"Cucu opa" ucap bramantyo bangga.


Aruna yang mereka panggil ayank memang terlihat dekat dengan bramantyo karena hampir seminggu dua atau tiga kali bramantyo akan menginap dirumah angga hanya karena merasa rindu dengan cucu semata wayangnya itu.


Bayi perempuan dengan tubuh gembul menggemaskan itu akan tersenyum senang jika melihat bramantyo mengulurkan tangan kearahnya. Kasih sayang tulus yang bramantyo berikan menjadi alasan kenapa aruna begitu lengket dengan sang kakek.


.

__ADS_1


.


"Ayank mana?" Angga melakukan panggilan video disaat dirinya baru saja selesai melakukan meeting.


"Dibawah sama papa."


"Papa dirumah?"


"Iya tadi jam sepuluh dateng pas aku mau berangkat."


"Astaga, bukannya tadi update bilang on the way badminton."


"Seperti biasa, kayaknya ga badminton."


"Alasan supaya bisa keluar dari rumah."


Niat hati angga ingin melihat wajah ayank yang dirindukan tapi si kecil sedang nyaman berada dalam dekapan sang kakek yang juga ikut terlelap damai. Angga harus rela mengalah jika bramantyo datang maka ayank akan disabotase dan angga tak memiliki kesempatan untuk bercanda dengan sang buah hati.


"Bye sayang" angga yang akan melakukan meeting lanjutan terpaksa harus mengakhiri obrolannya berasa sang istri.


"Iya mas" setelah mita memberi sun jauh sambungan video akhirnya terputus.


tok tok tok


Nadia berjalan kearah pintu kamarnya yang diketuk.


Ceklek

__ADS_1


"mba, malam mau makan apa?" Tanya mba marni didepan pintu.


"Anget lauk yang ibu kirim tadi aja mba. Sekalian dibagi juga buat makan mba sama yang lainnya."


"Iya mba"


Nadia bergegas masuk kedalam kamar mandi mumpung ayank bersama sang kakek. Memiliki sedikit waktu nadia langsung memanjakan diri berlama-lama dikamar mandi sekedar membersihkan diri lebih lama. Semenjak menjadi ibu, nadia tak memiliki banyak waktu untuk dirinya sendiri.


"Seger banget yaampun. Kayaknya udah lama banget aku ga berendam kayak gini."


Mandi dengan busa melimpah ditambah aroma terapi yang menyejukkan membuat nadia betah berlama-lama dikamar mandi. Bisa mandi dengan tenang adalah suatu kebahagian bagi seorang ibu.


Ceklek


Mendengar suara gemericik air, angga langsung tersenyum dengan rencana licik dikepalanya. Sambil berjalan kearah pintu kamar mandi, angga melucuti dirinya.


"Mandi basah" gumam angga dengan riang.


"Aaaaaaaaaa" jerit nadia saat tubuhnya dipeluk dari belakang.


"Mas"


"Ssssttt, jangan berisik." Angga langsung melancarkan aksinya.


"Mumpung ayank tidur nyenyak sama papa."


___________

__ADS_1


__ADS_2