JODOH KU

JODOH KU
BELANJA BERUJUNG AIR MATA


__ADS_3

Angga jarang mengajak istri dan anaknya untuk pergi keluar rumah karena nadia kerap kali menolak setiap angga ingin mengajak mereka pergi sekedar makan malam diluar. Tapi kali ini nadia yang berinisiatif ingin pergi karena banyak pakaian aruna yang sudah tidak bisa dipakai. Tubuh gembul nya membuat banyak pakaian aruna tidak muat lagi.


"Kita mau belanja dimana?" Tanya angga yang sedang mematut dirinya didepan cermin.


"Ditempat yang waktu kita beli perlengkapan ayank aja mas. Kan lengkap disana lagian tempat makan juga banyak jadi kita ga usah pindah pindah nanti."


"Oke siap. Ayank tenang, kartu papa akhirnya kali ini akan berguna karena mama tidak pernah mau belanja."


"Ck, tapi mas ga boleh beli barang banyak-banyak lagi kayak waktu itu." Ancam nadia pada suaminya.


"Hmm, harusnya kamu biarin mas telpon dira tadi."


"Ga, aku ga akan biarin mas sama dira bersatu lagi apalagi untuk belanja keperluan ayank karena akhirnya akan sangat membahayakan sekali."


"Mama pelit nak, pelit." Angga menjawil pipi aruna yang sudah berada di gendongan nadia.


"Sudah ayo, nanti keburu malam mas. Kasian ayank."


"Iya iya, yuk kita berangkat."


Angga mengambil tas perlengkapan aruna dan berjalan dibelakang nadia.

__ADS_1


.


.


Nadia dan angga sibuk memilih pakaian dan beberapa sepatu serta aksesoris untuk aruna. Membeli perlengkapan anak memang hal yang paling menyenangkan bagi orang tua baru.


"Seneng banget ya bisa belanja belanja bebas, baju branded untuk anak di mall besar begini." Nadia tersentak kaget saat mendengar suara yang begitu dikenalinya. Siapa lagi kalau bukan marini, ibu mertuanya.


Malas, sejatinya nadia enggan meladeni bahkan untuk melihat wajah marini saja nadia sudah merasa malas. Tapi ia ingin menghargai angga sebagai suami jadi mau tak mau nadia menoleh kearah asal suara.


"Mama kesini sama siapa? Mau cari apa?"


Sontak suara marini langsung jadi pusat perhatian, nadia hanya bisa memejamkan mata untuk menetralkan hatinya yang mulai nyeri karena harus kembali merasakan kata-kata pedas yang sebentar lagi akan keluar dari mulut marini.


"Sudah bahagia bisa menjauhkan ibu dari putra kandungnya? Senang kamu? Demi hidup bersama perempuan seperti kamu angga sampai rela menjadi durhaka."


"Ma"


"Jangan pernah panggil saya mama, saya ga pernah sudi punya menantu kamu."


Bulir air mata lolos melewati pipi nadia. Terulang lagi lagi dan lagi, dipermalukan dimuka umum oleh ibu dari pria yang sudah menjadi suaminya. Sulit sekali mendapat restu padahal dirinya dan angga sudah bahagia dengan kehadiran aruna ditengah peliknya hubungan antara ibu dan anak.

__ADS_1


"Apa?"


"Ma, sudah. Aku mohon jangan teruskan, kita cari tempat saja kalau mama ingin bicara." Lihir suara nadia berusaha menghentikan marini yang sudah siap membuka mulutnya lagi.


"Sudah saya bilang, jangan panggil mama."


"Ma" angga datang karena mendengar suara keributan saat dirinya baru kembali dari toilet.


Marini menoleh dan mendapati putranya berdiri dengan wajah masam.


"Apa? Kamu mau bela perempuan ini?"


"Cukup ma, ini ditempat umum. Jaga nama baik papa, bisa saja ada orang yang kenal kita disini."


Angga langsung menarik lengan marini dan menuju kasir untuk menyelesaikan pembayarannya.


"Mba, ini kartu nama saya. Semua barang yang di troli itu tolong dikirim ke alamat yang nanti saya kirimkan dan tolong email saja kesini nanti pembayaran akan dilakukan secara transfer."


Setelah mengatakan hal itu, angga membawa ibu dan istrinya ke parkiran untuk pulang bersama.


__________

__ADS_1


__ADS_2