JODOH KU

JODOH KU
MARAH YANG SESUNGGUHNYA


__ADS_3

"Bener sayang, mas udah nolak tapi tetep dipaksa."


Begitu sampai dirumah angga langsung bersimpuh di kaki nadia dan menjelaskan kebenarannya sebelum nadia bertanya.


"Sayang, mas juga disana ga minum ga dekat sama cewek penghiburnya. Sumpah beneran mas ga bohong."


"Eh tapi, mas ga nyangka kalau diluar negeri itu juga ada cewek penghibur seperti disini. Eh, duh."


Sadar jika dirinya sudah salah bicara angga langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan dan menatap takut saat wajah nadia sudah menegang.


"Disuruh bawa intan kesana nolak tapi berangkat sendiri bisa sampe kecolongan dibawa ketempat seperti itu." Akhirnya nadia membuka suara dengan suara bergetar menahan marah dan air mata.


"Kan ga mungkin mas bawa intan sayang, kalau bawa agus perusahaan gimana kalau ditinggal kamu tau papa udah jarang banget ke kantor aekarang."


Alasan yang tepat dan memang masuk akal. Nadia tak lagi berbicara dan memilih untuk diam, sadar tak ada yang harus diperdebatkan membuat nadian memilih untuk diam dan merebahkan tubuhnya diranjang. Kebetulan angga sampai dirumah saat tengah malam jadi memang masih waktunya untuk beristirahat.

__ADS_1


"Mas mau bersih bersih dulu ya, kalau kamu ngantuk tidur aja lagi."


"Hmm"


Meninggalkan nadia yang sudah kembali memejamkan matanya. Angga membersihkan dirinya dikamar mandi dengan pancuran air hangat yang mampu merilekskan tubuhnya. Belasan jam duduk dipesawat membuat tubuh angga terasa pegal.


"Besok pagi pasti diem dan susah buat ngerayu. Ini kesalahan yang ga diperbuat secara sengaja tapi hukumannya bikin hati ga tenang." Angga membasuh wajahnya yang terkena air hangat. Pekerjaan bisa dikesampingkan sejenak tapi jika macan betinanya sudah marah maka angga tak akan bisa mengabaikannya.


Selesai mandi, angga ikut merebahkan tubuhnya disamping nadia yang terlihat nyaman tidur dengan bantal bumilnya. Hamil besar pasti membuat nadia kesulitan untuk mencari posisi nyaman saat beraltifitas apalagi aruna begitu aktif dan sebagian besar kegiatannya hanya mau ditrmani oleh sang ibu. Tak pernah menolak apapun ajakan sang putri membuat angga begitu bangga memiliki nadia sebagai istri.


"Seribu wanita cantik diluar sana seribu wanita baik diluar sana akan kalah dengan kamu sayang. Pilihan pertama dengan pandangan pertama yang sudah menggetarkan hati tidak akan pernah salah. Walau harus melewati banyak lika liku sebelum akhirnya kita bersatu seperti sekarang. Hmm bahkan sampai sekarang kita belum bia bahagia sepenuhnya karena mama."


.


.

__ADS_1


"Sayang"


"Maaf pak angga, mba nadia sudah berangkat mengantar non ayank kesekolah."


Mba marni berdiri didepan pintu dapur seolah sedang menunggu kedatangan angga yanga ternayata bangun kesiangan dan tak mendapati keberadaan anak serta istrinya.


"Kenapa saya ga dibangunin sih mba." Gerutu angga sambil duduk dimeja makan yang sudah tersaji menu sarapan pagi.


"Kata mba nadia kasihan pak angga kalau dibangunkan."


"Hmm"


Mba marni bergegas menyingkir karena melihat angga sudah mulai mengisi piringnya dengan makanan. Sarapan seorang diri membuat angga semakin yakin kalau istrinya pasti marah.


"Ini adalah definisi marah yang sesungguhnya versi nadia. Diam dan mengacuhkan, sakit woi sakit." Angga bergumam sambil menyendokkan nasi goreng kedalam mulutnya.

__ADS_1


"Wanita memang sulit ditebak, sudah berapa tahun ya gue kenal nadia tapi tetap aja sulit untuk dimengerti."


__________


__ADS_2