
Dalam hati, nadia merasa sudah tidak perlu lagi memperhatikan keberadaan angga disekitarnya. Bahkan kewajiban sepele yang biasanya kerap nadia lakukan untuk angga sudah tidak pernah lagi nadia kerjakan. Fokusnya hanya berpusat pada ketiga buah hatinya dan ayah mertuanya saja. Sejak kejadian tempo hari jika angga masuk kedalam kamar maka nadia akan segera pergi dan jika angga keluar kamar maka nadia yang akan masuk dan mengunci pintu dari dalam. Pernikahan yang tidak sehat memang tapi ego sedang menyelimuti diri nadia saat ini. Rasa kecewanya seperti menguar dengan bebas ditambah tumpukan amarah yang dipendam selama ini menjadi akar dari semuanya.
"Nad, sampai kapan kamu akan begini?" Tanya angga saat nadia baru saja memegang handel pintu.
"Senin depan aku akan mengajukan gugatan perceraian."
Kedua bola mata angga nyaris terlepas karena mendengarkan perkataan nadia yang tak pernah angga sangka akan keluar dari bibir manisnya.
"Jaga ucapan mu nad, mas ini suami mu tidak ada alasan untuk kita berpisah." Angga sontak langsung menaikkan nada suaranya.
"Alasan kita berpisah hanya satu, dan itu adalah ibumu."
"Nad, mama itu orang tua kita. Ibu mas ya ibumu juga."
"Tapi dia tidak pernah menganggap ku sebagai anak jadi aku tidak memiliki alasan untuk menganggapnya ibuku. Anak-anak dan papa akan ikut aku, mungkin sebulan lagi kami akan keluar dari sini."
Blam
__ADS_1
Nadia menutup pintu sedikit kencang. Bersusah payah menahan napas untuk berada dalam satu ruangan bersama angga membuat nadia sesak.
"Mas tidak akan pernah menceraikan kamu dan jangan harap papa dan anak-anak bisa ikut kamu."
"Tak masalah, aku akan pergi sendiri dari sini."
Seperti sedang memancing di air keruh, nadia terus saja memprovokasi keadaan menjadi semakin rumit. Apapun yang angga katakan akan terus nadia jawab dengan perkataan yang selalu menusuk. Bukan karakter nadia senang berdebat seperti ini, sisi lain dalam diri nadia sudah bangkit mungkin karena tumpukan rasa kecewanya selama ini.
"Jangan karena kamu memiliki penghasilan jadi merasa pantas berbicara sombong seperti ini."
"Huh"
Brak
Angga menarik tangan nadia dan banting pintu kamar lalu menguncinya.
"Buka pintunya." Teriak nadia kencang.
__ADS_1
"Pelan kan suaramu anak-anak bisa mendengar kalau kita kita sedang ribut."
Angga yang tersadar karena bisa saja perkelahian mereka akan diketahui oleh anak-anak berusaha menurunkan nada suaranya.
"Kita bisa bicarakan semuanya dengan baik-baik nad, tidak pakai emosi begini. Kalau hanya karena erika kemarin kamu jadi marah, mas bisa menjelaskan semuanya asal kamu mau diam dulu dan mendengarkan semuanya."
"Aku lelah, aku hanya ingin lepas dari derita yang yang ibumu ciptakan dalam hidup ku. Kalau boleh jujur aku sekarang sungguh sangat membenci wanita yang sudah melahirkan mu."
Tak terasa air mata menetes di pipi angga mendengar perkataan jujur nadia barusan.
"Sayang, mas ga sangka kamu akan mengatakan hal ini tentang mama."
"Seberapa buruk pun ibumu dia tetap yang utama bagi mu kan mas? Jadi bagaimanapun dia menyakiti ku kamu ga akan pernah mau menyamaratakannya dengan sayang mu untuknya. Aku rasa sudah saatnya aku yang mengambil langkah tegas, aku ga bisa terus bertahan dengan kehidupan yang seperti ini. Lelah, aku lelah dengan semua drama yang selalu nyonya marini buat."
"Nad, mas cinta kamu mas ga mungkin bisa tanpa kamu dan anak-anak."
Nadia menggeleng lemah, tak lagi bisa berucap hanya getaran di bahunya saja yang menjadi jawaban bahwa betapa lelahnya jiwa serta raga nadia selama ini.
__ADS_1
__________