
Tanpa rasa malu, nada merongrong kekantor angga padahal sudah dihadang oleh security. Berteriak dan memaki seperti tak memiliki harga diri, menjadi tontonan banyak orang tak juga menyurutkan niat nada untuk bertemu dengan angga. Hampir satu jam menunggu dengan teriakan tanpa henti, akhirnya dengan jengah agus turun sesuai perintah yang angga berikan.
"Kalian lihat, aku dijemput oleh asisten pribadi mas angga. Akan aku ingat wajah-wajah yang sejak tadi menganggap remeh diriku."
Nada berjalan lebih dulu didepan angga setelah berbicara sombong pada tiga security yang sejak tadi bertugas menghadang nada dilobi.
Tring
Sampai dilantai tempat ruangan angga berada, tanpa permisi nada masuk ke ruangan angga.
"Mas, kamu harus menepati janji ibumu untuk kita menikah. Janji itu harus segera direalisasikan karena aku sekarang sedang mengandung. Tak perlu tanya anak siapa ini karena sudah jelas bukan anak mu."
Mendengar penuturan nada barusan, angga tersenyum sinis. Antara kasihan dan juga kesal, bagaimana ibunya bisa akan menjodohkan dirinya dengan wanita seperti nada. Pasti akan sangat membuat pusing kepala pikir angga jika dirinya benar menikah dengan nada.
__ADS_1
"Kamu bisa menikah dengan ayah anak itu, saya yang akan urus biaya pernikahan kalian di KUA."
Agus yang berdiri didepan pintu hanya bisa menahan tawa, tak menyangka jika atasannya itu akan bisa mengatakan hal semacam itu disaat genting seperti ini.
"Ga mungkin aku nikah sama ayah anak ini. Dia pengangguran ga ada uangnya."
"Sudah tau ga ada uangnya kenapa mau tidur sama dia? Wanita jaman sekarang pemikirannya memang diluar nalar. Kalau sudah tau tidak akan membahagiakan kenapa juga harus dicintai."
"Nada, awalnya saya pikir kamu ini gadis berkelas karena ibu saya begitu menyukai kamu sampai memaksa saya untuk mau menikahi kamu. Tapi nyatanya kamu ini hmm seperti ....."
"Ah sudahlah, kalau memang kamu tidak mau menikah dengan ayah bayimu ya kamu bisa urus anak dalam kandungan mu itu sendiri."
"Ga bisa gitu dong mas, mas harus nikahin aku."
__ADS_1
"Hei, saya ga ikut tanam saham bagaimana saya harus ikut menikmati hasilnya. Sudah kamu pergi dari sini, jangan lagi datang apalagi buat keributan seperti tadi. Kalau kamu lagi buat ulah saya akan panggilkan pihak rumah sakit jiwa untuk menangkap kamu."
Ancaman yang angga berikan malah menyemburkan tawa agus dan intan yang dengan jelas mendengan suara angga karena pintu terbuka lebar.
Mendengar dua bawahannya tertawa terpingkal-pingkal angga hanya mendengus sebal. Ia sedang banyak pekerjaan malah kedatangan tamu yang menuntut untuk dinikahi apalagi alasannya karena hamil tapi bukan angga yang menghamili. Drama yang tak kunjung usai padahal penyebab masalah ini sekarang santai dirumah berbaring menikmati hari-harinya dengan diam didalam kamar sebagai tanda protes pada suami dan putranya.
"Sudah gus, berhenti ketawanya. Kamu bawa lagi dia keluar, kalau besok lusa dia datang lagi kamu boleh langsung panggil rumah sakit jiwa. Pekerjaan saya banyak malah disuruh tanggung jawab anak yang bukan saham saya."
Kembali kemejanya, angga mengabaikan nada yang terlihat mulai akan mengamuk. Benar saja, tak sampai lima menit nada langsung membuang semua isi meja kerja angga. Isi meja berserakan dilantai dan beruntung angga sempat menyelamatkan laptop yang tepat berada didepannya.
"Astaga, gus panggil sekarang saja petugas rumah akit jiwanya ga usah tunggu besok atau lusa."
__________
__ADS_1