JODOH KU

JODOH KU
ARUNA RAYA WIJAYA


__ADS_3

Senyum angga tak pernah pudar, sejam yang lalu ia menemani nadia berjuang diruang bersalin. Cakaran jambakan bahkan gigitan gigi nadia sampai berbekas di lengannya. Tapi semua rasa sakit itu terbayarkan dengan lahirnya malaikat mungil yang seolah membuat angga ingin menghentikan perputaran waktu.


"Ayank"


Mencium mengelus mengusap bahkan angga sampai mengeratkan giginya karena merasa begitu gemas dengan bayi mungil yang sedang memejamkan matanya itu.


ARUNA RAYA WIJAYA, nama yang angga persembahkan untuk putri pertamanya. Tangis haru sudah usai tapi senyum bahagia masih menghiasi ruangan rawat inap yang nadia tempati.


"Sudah angga, jangan kamu ganggu dia." Sonya sudah berulang kali memperingatkan pada menantunya untuk tak terus mengganggu aruna yang sedang terlelap.


"Gemas bu" jawab angga tanpa menoleh.


"Kalau dia nangis nanti kita kebingungan, ibunya masih capek. Kasihan kalau nadia tidurnya jadi terganggu kalau aruna kamu ganggu terus."


"Duh, ibu" rajuk angga sambil beranjak dengan enggan untuk mendekati istrinya.


Melihat nadia terlelap dengan wajah letih membuat angga teringat bagaimana perjuangan nadia saat diruang bersalin tadi. Tak terasa buliran air mata kembali menetes. Angga terharu sekaligus mengucap syukur karena sudah diijinkan untuk menemani istrinya bahkan bisa melihat buah hati mereka lahir ke dunia dengan selamat.


"Melankolis sekali hati bapak angga wijaya ini ya?"


"Ck"


"Kamu selalu merusak suasana dir." Gerutu angga pada adik iparnya karena sejak tadi nadira tak henti hentinya menggoda kakak iparnya itu.


"Mas, mas. Kamu itu melankolis banget, sebentar senyum sebentar nangis jangan aja sebentar lagi kamu jadi gila."

__ADS_1


Melotot mata angga mendengar ucapan nadira tapi justru hal itu malah menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi nadira.


"Sumpah mas, mukanya lucu banget. Hahahaha"


"His, nih. Mending kamu keluar sana beli makanan camilan minuman. Apa saja dan jangan kembali kalau tangan mu belum penuh sama makanan."


"Ck ngusir. Tapi aku suka cara mas ngusir."


Secepat kilat nadira menghilang dibalik pintu.


"Ga kakak ga adik, kalau sudah dengar makanan langsung ngacir ga nunggu dua kali." Desisi sonya saat melihat kelakuan anak keduanya.


"Angga orang tua mu sudah dikabari?"


"Papa sudah aku kasih tau bu, tapi papa masih nunggu mama di rumah sakit. Mungkin nanti malam baru papa kesini."


Tak menjawab angga lebih memilih untuk menggeleng samar. Harusnya angga memang tak perlu menjawab karena sudah bisa dipastikan jika marini tidak akan mau datang.


Hening, tak ada lagi obrolan sampai nadira datang dengan dua tangan penuh dengan tentengan kantung plastik.


"Diem diem bae." Cengir nadira.


"Ayo ha usah berisik, kamu susun semuanya ya dir."


"Bu ih, aku kan udah beli semuanya." Protes nadira saat kembali mendapat tugas untuk menyiapkan semuanya.

__ADS_1


Senyum mengejek langsung terlihat diujung bibir angga. Melihat angga yang mengejek dirinya membuat nadira kesal dan terus mengomel.


"Em"


"Sayang" angga langsung menghampiri ranjang tempat nadia berbaring.


"Mas"


"Ya, mau minum?"


"Aku lapar, boleh makan ga sih?"


"Boleh, yuk bisa bangun? Dira udah beli banyak makanan, pas banget kamu bangun."


"Hmm"


"Duh, mba emang selalu hoki. Tepat banget, pas aku udah dateng bangun."


"Laper" gumam nadia, pandangannya berbinar melihat banyak makanan dimeja depan sofa.


"Yuk, bisa jalan ga?"


"Pelan-pelan ya mas, masih sakit."


"Iya sayang."

__ADS_1


__________


__ADS_2