JODOH KU

JODOH KU
KETAHUAN


__ADS_3

Amarah di dada nadia seakan siap meledak saat ini juga. Bagaimana nadia tak kebakaran jenggot, di depannya saat ini angga tengah duduk bersebelahan dengan wanita berhijab yang terlihat sangat cantik dan didepannya ada marini yang sudah bisa diyakinkan adalah dalang dari tontonan yang sekarang membuat nadia terbakar api cemburu.


Niat hati pergi keluar rumah karena ingin membeli perlengkapan anak-anak dan setelah selesai berbelanja nadia tertarik dengan salah satu resto yang baru saja dibuka. Naasnya malah melihat suami tercinta sedang duduk tersenyum pada seorang wanita.


"Ditelpon ga aktif taunya lagi asyik disini." Gerutu nadia sambil mengambil ponsel dalam tasnya dan langsung merekam video serta mengambil beberapa foto yang entah nanti akan nadia gunakan untuk apa.


"Coba telpon lagi aja deh." Gumam nadia sambil kembali mengutak atik ponselnya.


Tetap saja, nomor yang anda tuju sedang diluar jangkauan. Sejak dua jam yang lalu nadia berusaha menelpon angga tapi hasilnya tetap sama. nomor angga tak bisa dihubungi dan hanya mba mba operator saja yang menjawab.


"Maaf permisi, ibu sudah memesan meja atau sedang menunggu seseorang?" Tanya seorang karyawan resto yang sudah berdiri dibelakang nadia karena sejak tadi nadia hanya berdiri.


"Eh" nadia terkejut hampir saja ponsel ditangannya terjatuh.


"Maaf, ibu sudah memesan meja atau sedang menunggu orang?" Tanya ulang karyawan resto pada nadia.


"Saya belum pesan meja dan tidak sedang menunggu seseorang. Maaf, saya ga jadi makan disini."


Dengan melebarkan langkah kakinya nadia bergegas keluar dari resto dan tetap memainkan ponsel ditangannya. Kali ini nadia mencoba menelpon agus asisten pribadi angga karena saat didalam resto nadia tak melihat keberadaan agus disana padahal biasanya agus akan selalu menemani angga kemanapun angga pergi.

__ADS_1


"Halo non" jawab agus saat telpon sudah tersambung.


"Pak agus dimana?"


"Saya di kantor non, ada apa? Non nadia mencari pak angga?" Tanya agus dengan nada suara sedikit berbeda.


"Kenapa pak agus tidak menemani suami saya?" Tembak nadia langsung yang tak lagi bisa ber basa-basi.


"Duh, anu non."


"Apa? Apa mas angga yang mau pergi sendiri tanpa pak agus temani?" Cecar nadia dengan suara rendah menandakan amarnya yang sudah dipuncak.


"Maaf non, saya sedang ada pekerjaan penting jadi tidak bisa menemani pak angga keluar kantor."


"An anu non, a"


"Susun cerita yang epik pak agus, saya akan mendengarkan dengan baik."


Kembali nadia memotong ucapan agus dan agus seketika mati kutu karena takut akan amarah nadia yang pasti sedang memuncak.

__ADS_1


Tut


Nadia mematikan sambungan telponnya dan kembali menelpon sopir pribadi angga untuk mengecek apakah suaminya pergi seorang diri atau diantar sopir.


"Halo mang, dimana?"


"Saya lagi anter pak angga bu, di mall xxx."


"Mau ketemu siapa katanya suami saya disana pak?"


"Kurang tau non, cuma saat diperjalanan tadi sepertinya nyonya marini yang telpon."


"Oke terimakasih mang."


Tut


Lagi lagi nadia mematikan sambungan telponnya secara sepihak. Mang udin tak berbohong tapi agus bisa saja bersekongkol karena tadi nada suaranya terdengar seperti menyembunyikan sesuatu batin nadia sambil berdiri bersandar dipojok tiang.


"Kamu sudah mulai mau main api mas, kamu yang ga tegas dan terus mengikuti mau mama. Kalau kamu ga jujur aku akan pergi tanpa pamit sekarang juga. Menghidupi anak-anak bukan hal yang sulit bagi ku."

__ADS_1


Keputusan karena emosi sudah nadia buat dan ia terus berusaha menahan air mata yang sudah siap keluar sejak tadi.


__________


__ADS_2