JODOH KU

JODOH KU
PELUKAN HANGAT DIMATA NADIA


__ADS_3

Menangis terisak nadia merasa sesak yang mengganjal di dadanya menghilang di bawa angin. Melihat angga memeluk erat tubuh renta marini yang kembali terbaring lemah di ruang rawat inap rumah sakit. Semalam, marini dikabarkan pingsan dikamarnya tanpa sebab yang pasti. Bramantyo yang malam itu menginap dirumah angga dibuat panik saat perawat yang bertugas merawat marini mengabari tentang kondisi marini yang ditemukan pingsan. Secepat kilat bramantyo angga dan nadia menuju rumah sakit.


"Mama ingin ditemani papa dan kamu. Mama kesepian sendirian dirumah." Dengan suara lemah marini mengutarakan keinginannya.


"Nanti aku minta papa untuk standby dirumah. Mama istirahat saja ya,"


Menggeleng lemah marini menolak permintaan angga.


"Mama ingin pulang, kumpul sama kamu dan papa seperti dulu."


"Aku ga bisa tinggalin anak-anak ma, apalagi nadia." Angga berkata jujur.


"Apa mereka lebih penting dari mama?"


"Kalian sama pentingnya, tapi aku hanya ingin menjaga hati dan perasaan kalian. Aku ga mau menyakiti mama ataupun nadia.'


"Angga, mama hanya ingin kita berkumpul."


"Besok mama sudah boleh pulang, aku akan menginap semalam disana."


Perdebatan antara ibu dan anak itu harus terhenti karena suara bramantyo. Dari sorot matanya marini menunjukkan rasa kecewanya atas penolakan yang angga berikan. Pelukan hangat yang tadi nadia lihat selalu saja berujung dengan perdebatan.

__ADS_1


"Mas, boleh menginap dirumah papa beberapa hari. Kasihan mama pasti kangen." Bisik nadia saat angga sudah duduk disebelahnya.


"Aku ga mungkin ninggalin kamu dan anak-anak."


"Dirumah kan ramai."


"No" ucap angga tegas dan nadia tak lagi berani mengajukan negosiasi jika angga sudah tak ingin dibantah.


.


.


Nadia pulang kerumah dengan diantar supir sementara angga masih tetap dirumah sakit karena marini terus memohon ingin angga menemani. Hari sudah menjelang pagi saat nadia memutuskan pulang kerumah karena tak ingin anak-anaknya merajuk karena tak mendapati kedua orangtuanya dirumah.


"Subuh sudah bangun mba dan nyariin mba dan pak angga kekamar."


"Ga apa mba, makasih ya mba sudah mau nemani kenzo."


"Iya mba, sama-sama. Sudah tugas saya, bagaimana keadaan bu marini mba?" Tanya mba marni nyaris seperti bisikan.


"Sudah ga apa, mungkin besok baru boleh pulang."

__ADS_1


Mba marni mengangguk paham dan bergegas pergi kebelakang untuk melakukan tugasnya menyiapkan bekal untuk aruna dan kenzo.


"Papa mana ma?"


"Papa sama opa masih dirumah sakit jaga oma. Semalam oma pingsan dikamarnya jadi opa papa sama mama kerumah sakit."


"Oh" anak seusia kenzo bersikap cuek tak sedikitpun memiliki keterikatan dengan marini neneknya. Mungkin karena selama ini tak pernah menemukan sosok nenek dari marini.


"Ayo naik, mama bantu mandi."


"Iya." Kenzo berjalan lebih dulu didepan nadia dengan langkah kecilnya kenzo tetap bersikap cuek.


"Anak-anak sama sekali ga ada empati atau rasa khawatir kalau sudah menyangkut mama. Padahal aku sudah berusaha mendekatkan mereka sama mama tapi mama yang selalu menolak dan tidak perduli sama anak-anak." Keluh nadia didalam hati.


"Ma"


"Ya nak, kenapa?"


"Oma itu apa tidak bisa baik sama kami?"


"Ssstttt, jangan bicara begitu."

__ADS_1


Kenzo langsung berlari kekamarnya, pertanyaan ini sudah berulang kali kenzo ucapkan bahkan bukan hanya kenzo saja aruna pun sama. Kenzo dan aruna yang sudah mengerti tentu saja bisa merasakan berbeda dengan hansel yang masih belum paham apapun.


__________


__ADS_2