
Satu bulan dua bulan, nadia dengan penuh perhatian dan sangat telaten merawat marini yang kondisinya sangat memprihatinkan. Selepas operasi yang marini lakukan, ternyata ada salah satu saraf motoriknya yang mengalami masalah jadi marini mendapat sedikit kesulitan untuk bergerak bebas.
Marini selalu menunjukkan wajah sinis kearah nadia jika nadia sedang membersihkan tubuhnya atau menyuapi dirinya makan. Dalam kondisi yang sakit pun marini masih terus memupuk api kebenciannya pada nadia.
"Ayo ma, makan dulu."
Marini bisa berbicara tapi jika nadia sedang bersama dirinya marini akan diam seribu bahasa. Tak mengucapkan sepatah katapun, marini hanya akan berdiam diri sampai nadia selesai melakukan aktifitas dalam membatu marini membersihkan diri, bahkan makan pun marini disuapi oleh nadia.
Sepenuh hati nadia merawat marini yang ia angga sebagai ibunya sendiri dan ibu dari suami yang ia cintai. Tatapan benci yang selalu ia dapatkan tak pernah membuat nadia berhenti dalam mengurus segala kebutuhan marini. Mulai dari makan MCK dan hal lainnya nadia lakukan seorang diri.
Ceklek
Spontan nadia menoleh kearah pintu dibuka.
"Mas"
"Mama sudah mandi?"
"Aku seko aja mas, soalnya tadi pagi udah mandi keramas juga."
"Owh, hari ini menunya apa untuk mama?"
__ADS_1
"Sop tulang"
"Mas cari ayank dulu ya, sekalian mau mandi biar nanti bisa main"?
"Iya mas, ayank udah mandi kok."
"Oke"
Nadia dan marini kembali hanya berdua. Menyisiri rambut marini yang sudah ditumbuhi uban di hampir seluruh kepalanya.
"Besok orang salonnya dateng ma, salon langganan mama."
Marini malah sibuk memperhatikan tayangan di televisi dan mengabaikan nadia yang sedang berbicara dengan dirinya. Sambil menghembuskan nafas pelan, nadia bangkit dari duduknya setelah selesai menyisiri rambut marini. Nadia membawa semua perlengkapan mandi marini dan baju kotornya ke pojok kamar dekat dengan lemari.
Glek
Nadia menutup pintu kamar mertuanya dan bergegas mencari keberadaan anak dan suaminya yang ternyata sudah berada didalam kamar tidurnya bersama angga. Menaiki tangga, nadia menuju kamarnya dilantai dua. Sehari setelah kepulangan marini dari rumah sakit, nadia meminta angga untuk pulang kerumah orangtuanya karena nadia ingin merawat marini. Sebagai tanda baktinya dan ingin membuktikan jika dirinya mencintai angga buka karena persoalan uang semata.
Tak dianggap oleh marini semakin membuat nadia tahan banting. Jeritan marini selalu memekakan telinga, tapi nadia tak pernah merasa kapok untuk kembali datang kekamar marini untuk membantu marini membersihkan diri.
"Mama sudah selesai?"
__ADS_1
"Sudah, sekarang paling lagi dibantu keluar kamar sama mang iman dan mba mar."
"Owh"
"Papa kapan pulang katanya?"
"Sore ini, kenapa mas?
"Tanya aja, udah seminggu pergi kok betah banget ga pulang pulang." Entah kenapa membuat angga merasa kesal karena semua hal jadi dilimpahkan pada dirinya sementara bramantyo menikmati masa liburannya dengan tenang tanpa hambatan.
"Gitu terus." Nadia menegur angga yang selalu seperi itu.
"Mama, mandi ya. Nanti kita makan pizza, tadi papa udah order online."
"Hmm"
Nadia pergi kekamar mandi dan angga kembali menemani aruna yang sedang sibuk bermain dengan semua mainannya
"Kasihan mama de"
Angga mengelus kepala putrinya karena memikirkan kondisi psikis nadia yang masih sering mendapat ucapan pedas dari ibunya.
__ADS_1
"Sudah sakit begini aja mama masih keras kepala keras hati. Padahal nadia sudah mengurus mama dengan baik."
__________