JODOH KU

JODOH KU
YANG AKU INGINKAN


__ADS_3

Semuanya diam, angga sama sekali gak berniat untuk membuka suara karena baginya sang ayah yang berbicara panjang lebar sudah sangat cukup. Apalagi melihat bagaimana ekspresi ibunya saat ini, angga sudah tau yang ada dikepala ibunya adalah kerugian yang mereka alami bukan dirinya.


"Tapi tetap saja harusnya angga bisa berbicara baik-baik dengan nada bukannya mengusir nada dengan cara seperti itu."


Kan, benar. Perasaan bahkan harga diri angga tak berarti sama sekali bagi marini. Gengsi dan segala ambisinya adalah yang utama.


"Mama maunya aku bagaimana lagi? Aku lelah ma, bersitegang dengan mama. Aku sudah pernah berdarah dengan menuruti mau mama menikah dengan tiara tapi apa? Pengkhianatan yang aku dapatkan bahkan dari sana saja mama tetap tak mau belajar. Aku sayang mama tapi aku juga ingin meraih kebahagiaan ku sendiri dengan menikah dan hidup berumah tangga dengan orang yang memang aku cintai."


"Ma, aku sudah menjadi seorang ayah dari bayi perempuan yang aku beri nama ARUNA RAYA WIJAYA. Bisakah mama berhenti memaksa aku untuk menikah lagi? Aku sudah punya tanggung jawab baru sekarang, aku hanya ingin fokus pada pekerjaan dan keluarga saja."


Angga berbicara dengan nada rendah, ia ingin ibunya mengetahui jika dirinya sudah berada diposisi terendah menjadi seorang anak. Angga menjunjung ibunya setinggi langit, bahkan ia pernah berkorban perasaan untuk menuruti segala ambisi marini tapi akhirnya tetap menyakitkan bagi angga.


"Berhenti menyebut anak anak, mama tak mau punya cucu yang ibunya perempuan itu. Perempuan pengeretan, mama mau ibu dari cucu mama itu adalah wanita pilihan mama."


Bramantyo hanya bisa menahan nafas ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak membuka suara. Ia pun tak kalah lelah dengan putranya, meladeni tingkah marini yang semakin menjadi membuat stok sabarnya yang dulu melimpah ruah jadi mengikis dan bahkan sudah hampir habis.


"Angga, kembali ke ruangan mu, selesaikan pekerjaan hari ini karena malam nanti kita harus bertemu orang."

__ADS_1


Angga bangkit dan keluar dari ruangan sang ayah dan bramantyo langsung menuju meja kerjanya. Walau sudah tak ada yang harus dikerjakan lagi tapi bramantyo berpura-pura sedang bekerja.


Brak


Marini keluar dari ruangan suaminya dengan membanting pintu. Tak ada kesadaran sedikitpun dalam hati marini, keluarganya bisa terpecah seperti ini karena keegoisannya.


"Bagaimana caranya agar kamu mau sedikit melunak ma." Bramantyo membatin. Hari tuanya malah tak sesuai harapan, padahal ia berencana bisa mengasuh aruna berdua bersama marini. Menghabiskan akhir pekan dirumah sambil bercengkrama dengan cucu.


Rencana memang tak selamanya bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Bahkan bramantyo saja sudah jarang bertegur saa dengan marini istrinya.


Ting


Menghembuskan nafas lelah, bramantyo mendapat pesan dari angga jika istrinya berpindah tempat.


.


.

__ADS_1


Sebelum angga mengirim pesan pada ayahnya.


Ceklek


"Mama bicara sekali lagi, ceraikan nadia kalau kamu ga mau menceraikan dia nikahi nada jadikan dia istri kedua mu. Mama ingin memiliki cucu dari menantu pilihan mama."


"Kamu tau mama tidak suka dibantah apalagi ditolak."


"Ma, aku lelah. Bisa kita akhiri ini? Keputusan ku sudah bulat, aku ga akan menikah lagi bahkan menceraikan nadia juga aku ga akan pernah mau."


"Apa bagusnya perempuan itu, hah?"


"Nadia memang ga ada bagusnya dimata mama, tapi dia yang aku cintai dia yang aku inginkan."


"Sudah berapa uang mu yabg habis selama menikahi perempuan itu?"


"Mama silahkan minta rincian keuangan ku sama agus. Aku ga akan mau menjelaskan masalah yang ga penting seperti ini. Tapi apa yang mama takutkan ga pernah sekalipun nadia lakukan."

__ADS_1


__________


__ADS_2