
Ada kesempatan jangan disia-siakan. Pepatah itulah yang angga jadikan alasan saat meminta nadia untuk mau mereguk madu cinta bersama dirinya. Angga berhasil mengelabui nadia dengan dua kali permainan. Rengekan nadia bukan alasan bagi angga untuk menghentikan aksinya.
"Mumpung ayank sama opa, jadi kita bisa berduaan sebentar aja sayang." Rayuan maut yang terus angga bisikkan ditelinga nadia.
"Mas selalu begitu. Mengambil kesempatan disaat seperti ini."
"Kalau nunggu ayank tidur keseringan batalnya, jadi mumpung ada papa kan kita bisa bebas main berdua."
Terus bersilat lidah tak menyurutkan semangat angga dalam bergerak.
"Uh, sudah mas."
"Sebentar lagi, sabar ya."
Hampir dua jam berada didalam kamar mandi membuat nadia menggigil kedinginan.
"Aku pasti masuk angin ini." Keluh nadia yang duduk didepan meja riasnya.
"Mana merahnya banyak banget."
"Sssttt, jangan bawel ah. Tadi juga kamu suka suka aja waktu mas buat merah merah ini."
Angga mendekat sambil mengelus tanda merah yang menjadi hasil karyanya.
"Ini gimana menyembunyikannya coba mas."
"Rambutnya digerai aja. Kalau ga pakai baju tidur berkerah."
__ADS_1
"Mamanya ayank sekarang jadi semakin bawel."
Nadia hanya berdecak kesal sambil bangkit dari duduknya menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti karena saat ini dirinya masih mengenakan jubah mandi.
"Duh, bahenol banget bini gue." Angga merutuki dirinya sendiri, melihat pemandangan indah yang tersaji didepan matanya membuat sesuatu dibawah sana kembali bergeliat menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
"Lihat apa?" Ketus nadia saat pandangan angga tak berkedip melihat kearahnya yang sedang mengancingkan kemeja tidurnya.
"Montok banget." Gumam angga namun terdengar jelas ditelinga nadia.
Nadia meminta angga untuk turun lebih dulu, agar bisa mengecek apakah putri mereka sudah bangun atau belum. Angga yang sebenarnya masih ingin bermanja dengan sang istri harus bangkit karena nadia sudah melayangkan tatapan maut dengan mata yang sudah melotot membuat angga harus segera keluar dari kamar mereka.
"Makin hari papanya ayank makin nakal aja. Kalau main ga mau bentar mana suka nambah lagi." Nadia menggerutu tapi semburat merah muncul di pipinya yang chubby.
.
.
Ceklek
"Mama, ayank haus mau mimik cucu mama."
Nadia yang sedang menyiapkan baju salin putrinya langsung menoleh ke sumber suara.
"Udah bangun daritadi ya mas?"
"Baru, mas tadi sempet cek meja makan dulu baru dia bangun." Angga menyerahkan putrinya agar bisa segera diberi asi.
__ADS_1
"Yuk, mimik dulu ya nak."
"Papa ikuta ya ma?" Angga tersenyum mesum.
"Ga" ketus nadia.
"Papa pelit."
"Papa nanti aja." Jawab nadia dengan memalingkan wajah karena merasa malu.
"Duh, nambah lagi nanti malam. Asiik,"
Candaan seperti ini memang selalu berhasil membuat warna dalam kehidupan pernikahan menjadi semakin hidup. Malu-malu tapi mau bahkan terkadang galak tapi rindu juga menjadi bumbu penyedap paling nikmat.
Angga duduk disebelah nadia, memperhatikan bagaimana putrinya dengan rakus menyedot kantung asi yang juga menjadi mainan angga dikala aruna sudah tertidur lelap.
"Bagi papa dikit ya nak, jangan dihabisin semua." Angga menjawil pipi putrinya yang masih sibuk dengan kegiatannya.
"Punya ayank bikin kita jadi makin riweh, tapi mas seneng. Adanya dia juga yang bikin kita jadi bisa sama-sama kayak sekarang."
Cup
Angga mengecup pucuk kepala nadia dengan membawa nadia masuk kedalam pelukannya.
"Tetap sama mas ya, apapun keadaannya nanti."
"Iya mas."
__ADS_1
__________