
Tidak mendapat perlakuan baik dari sang nenek tidak membuat aruna menunjukkan rasa tidak sopannya di khalayak ramai. Aruna yang sudah menginjak remaja mulai bisa bersikap dewasa dan menempatkan diri bahkan dalam mengolah emosi pun aruna sudah mulai pandai. Seperti siang ini, selepas pulang sekolah aruna pergi ke sebuah toko buka dengan beberapa temannya. Tentu saja aruna tidak dilepas seorang diri karena pasti ada supir yang selalu standby mengantar menjemput dan menunggu aruna jika pergi tanpa kedua orangtuanya.
"Itu kan oma, jangan bilang kalau oma lagi ngajak papa untuk ketemuan sama cewek yang mau oma jodohkan ke papa lagi." Batin aruna saat melihat sang nenek diparkiran.
"Non aruna, itu kan nyonya marini." Mang udin sopir pribadi angga memberitahu aruna akan keberadaan sang nenek.
"Iya mang, itu oma. Apa oma langi ngajak papak ketemuan sama cewek lagi ya?" Percakapan antara aruna dan mang udin terjadi saat kedua teman aruna sudah turun lebih dulu dari dalam mobil.
"Ga kok non, hari ini pak angga full di kantor karena ada meeting penting."
"Mamang yakin papa di kantor?" Tanya aruna meyakinkan.
"Yakin non, 100% saya yakin."
Tok tok tok
Obrolan keduanya harus terhenti karena salah seorang teman aruna sudah mengetuk pintu mobil.
"Saya kedalam dulu ya mang, ga lama kok cuma cari beberapa buku dan alat tulis."
__ADS_1
"Siap non, saya tunggu di mobil."
"Iya mang."
Aruna keluar mobil.
"Kok lama banget, diskusi apa sih?"
"Ga kok, cuma bilang ke mang udin kalau kita ga lama biar mamang ga kemana-mana."
"Owh."
Brug
"Duh, pegang barang segitu aja ga becus."
Aruna mendongakkan kepalanya dan melihat sang nenek lah yang berdiri didepannya.
"Oma" gumam aruna tanpa suara.
__ADS_1
"Apa? Kenapa ngeliatin saya kayak gitu." Ketus marini dengan suara sinis.
Tau sang nenek hanya ingin mencari masalah, aruna memilih untuk diam dan seolah tidak menganggap keberadaan sang nenek.
"Asik ya jadi anaknya angga, mau apa bebas pengen apa beli. Terbukti sekarang kamu belanja segini banyak tanpa ibumu."
Diam tak bergeming, wajah aruna terlihat biasa saja mendengar ucapan pedas yang terus mengalir dari mulut marini.
"Apa begini ajaran ibumu, orang tua bicara tapi kamu diam saja. Tidak sopan sekali!" Bentak marini membuat beberapa pengunjung langsung memperhatikan mereka.
"Oma, pelan kan suaranya banyak orang yang mulai memperhatikan kita." Aruna berucap dengan nada pelan.
"Apa? Kamu ngajarin saya?"
Memejamkan mata aruna mengatur napasnya yang terasa sesak. Ia dirundung rasa malu karena ditempat ramai seperti ini harus jadi tontonan banyak orang ditambah marini terus mengeluarkan perkataan-perkataan yang menjelekkan nadia dan mencemooh dirinya.
"Kenapa kamu diam saja? Memang anak dari perempuan itu ga akan berkelas dan sudah bisa dijamin tidak memiliki sopan santun. Makanya saya ga suka sama ibu kamu itu ck bukan menantu idaman untuk saya."
Gemetar tubuh aruna dibuatnya karena semua yang marini ucapkan. Wajahnya sudah merah padam tapi aruna tetap berusaha menahan amarahnya karena rasa hormatnya kepada marini dan ia masih memiliki sopan santun mengingat marini adalah orang tua dan lagipula mereka sekarang sedang berada ditempat umum.
__ADS_1
__________