Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
10. Peran penting Seseorang.


__ADS_3

Sayang, aku puuu....Lang..." Ucapan Monika memelan karena kaget, matanya melebar besar kala melihat pemandangan di depannya.


Ruang apartemen yang sudah dia bersihkan, kini kembali berantakan. Dia melangkah hati-hati melewati banyaknya kertas berserakan di lantai.


" Sayang, SAYANG...kamu dimana? Monika menaruh kantong berisi belanjaan dapur di atas meja makan.


" Di ruang kerja." Teriak Aryo dari dalam ruangan yang pintunya terbuka.


Mata monika kembali lebih melebar melihat ruang kerja yang amburadul, mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu.


" Mending kamu diam kalau kamu mau ngomong memang kamu nyimpen dokumen itu dimana?" Sindir Aryo sinis. karena pertanyaan itu sering Monika layangkan padanya.


Monika menutup mulutnya menelan perkataan yang ingin dia ucapkan dengan menghela nafas berat.


" Ini udah kelima kali kamu berantakin apart, aku capek beresinnya."


" Aku gak pernah nyuruh kamu buat beresin, aku selalu bilang biar petugas kebersihan yang beresi." jawab Aryo santai.


Raut Monika terlihat tidak senang karena kerja kerasnya tidak dihargai.


" Kamu bisa meminta salinannya pejabat terkait?"


" Gak ada waktu. aku membutuhkannya lusa nanti. aku gak bisa melewati kesempatan emas ini, Hartadraja corp bukan perusahaan ecek-ecek yang mengajak sembarang perusahaan lain dalam bisnis mereka."


" Sudah kamu cari ke rumah mama papa kamu?"


"Sudah, gak ada."


" Kantor kamu?"


" Sudah."


" Di mobil kamu?"


" Sudah."


" Di tas..."


" Monik, kalau kamu gak mau bantu aku mending diam, Suara kamu mengganggu." Bentak Aryo ruwet, ia berjongkok mengacak lemari bagian bawah rak bukunya.


Monika terdiam kaku, dadanya kembang kempis menahan gejolak sakit, ia kaget dipandang remeh oleh lelaki yang mana dia rela merendahkan dirinya.


Setelah menguasai diri, Monika berucap," yang mau aku tanya, selama ini dokumen itu sering dipegang siapa?"


Aryo menghentikan gerakannya, ia termenung, lalu menatap Monika, kemudian duduk lemah di depan.


" Vara, di Vara. Selama ini kalau ada kontrak kerja segala berkas diurus Vara." Ucapnya lemah. ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


Rasa bersalah menghimpit dirinya saat mengingat bagaimana Shavara begitu mendukungnya saat ia berjuang mendirikan perusahaannya demi masa depan mereka.


Monika terdiam, hatinya panas." ya sudah kamu telpon dia, minta dia suruh bawa dokumen pendirian perusahaan kamu. sekarang biar aku yang urus."


" Kamu gak bakal bisa, ini pertama kali aku ngurus perihal surat menyurat. kamu tidak menolong aku, tetapi kamu rewelnya minta ampun."cibir Aryo tidak memperhatikan perasaan Monika.


Monika berdiri, matanya menatap tajam Aryo." kalau dia begitu baik, kenapa kamu meninggalkannya?"


" Karena kamu menyodorkan benda di antara dua selang-kangan mu padaku secara gratis." ungkap Aryo kasar dan terkesan merendahkan.


Monika terkejut, ia merasa direndahkan. walau dia tidak bisa menyalahkan pemikiran Aryo, nyatanya memang dia melemparkan dirinya menjadi pemuas nafsu kekasihnya demi bisa mendapatkan Aryo.


Monika berjalan keluar dari ruangan, " aku pergi, mau kuliah."


" Hmm, kalau Shavara, Tia tidak akan meninggalkan aku susah sendiri disaat seperti ini." sindir Aryo.


" Aku bukan Shavara." bentak Monika.


" Memang bukan."


Monika menatap tajam Aryo yang diabaikan oleh sang empu karena sibuk berbalas pesan dengan Shavara." lihat, dia bilang akan memberikannya padaku sore ini di restoran itu. betapa baiknya dia, setelah aku mengkhianatinya denganmu dia masih mau membantuku. kalau kamu diposisi dia, pasti kamu tidak akan membantuku, bukan? jadi jangan perbandingkan dirimu dengannya."


" Kalau kau begitu menyukainya, kembali saja padanya."


" Kalau dia memberikan kesempatan padaku, tidak akan ku sia-siakan. dia sangat mencintaiku. apa menurutmu, aku memberinya kesempatan agar kami kembali bersama?" ucap Aryo tidak tahu malu.


Monika tidak menjawab dia memilih pergi dari apartemen itu dalam keadaan marah.


❤️❤️❤️❤️


Keluarga Nasution menikmati sarapan tanpa si putri tengah yang terlambat bangun.

__ADS_1


" Pagi semuanya..." Shavara duduk di samping kursi samping kakaknya setelah sebelumnya menaruh bukunya di ruang tamu.


" Pagi, sayang." Jawab Anggara.


" Pagi." Jawab yang lain.


Tring....


notifikasi pesan amsuk ke ponselnya yang ditaruh di meja.


Raut Shavara seketika bermuram durja setelah membaca pesan yang masuk di ponselnya.


" Kenapa?" Tanya Wisnu yang menyadari perubahan mimik Shavara.


" Dari Aryo, dia minta berkas pendirian perusahaannya." Ucap lesu Shavara.


Semuanya terdiam, mereka pikir hubungan yang kandas sejak satu setengah bulan lalu sudah tidak menyisakan cerita.


Shavara menaruh ponsel itu kembali, ia bersandar lemah di kursi." Aku susah payah bantu dia awal sampai dia bisa membangun perusahaannya, mengatur keuangan, dan operasional perusahaan sewaktu dia merintis usahanya sampai sedikit mengabaikan kuliah aku. Pas dia sukses, dengan mudahnya dia membuang aku." Ucap Shavara tercekat.


Dadanya sakit, kembali mengingat perjuangannya membantu mantannya mengurus perizinan perusahaan, dan mencari rekan, serta pelanggan untuk usaha manufaktur-nya.


Aryo yang gengsian, dan kesulitan dalam bersikap ramah, sedikit menyusahakan dirinya dalam mencari pelanggan, Shavara dibantu Anggara yang akhirnya memperkenalkan bisnis Aryo pada relasinya.


" Ya,..mau gimana sebesar apapun usaha pacar membangun usaha pasangannya kalau sudah dibuang ya..gak ada bekasan. Udah aja gitu ilang." cerocos Aditya.


" Aditt..." tegur Anggara yang melihat raut Shavara makin mengeruh.


" Memang benar, coba kalau teteh istrinya, di situasi kayak gini teteh bisa minta setengah bagian. Kalau udah begini, siapa yang rugi? Kuliah teteh kagak kelar-kelar, capek tenaga, buang waktu banyak, belum lagi pikiran. Itu orang kan kagak bisa apa-apa selain bidangnya." ungkap Aditya menggebu.


" Terus berkasnya ada dimana?" tanya Wisnu.


" Di kamar, gak tahu dimana-nya, aku udah singkirin semua hal tentang dia tapi belum sempat dibuang.


" Dia bilang butuh cepat."


" Kasih aja nanti sore di restoran serba ada yang dekat kampus kamu itu. Aa, awasin kamu di dalam." Ujar Wisnu.


" Aku ada kuliah sampe sore. Gak sempat nyari."


" Sepulang sekolah Adit yang nyari, terus ke restoran itu."


" Gak mau sih sebenarnya, tapi kalau gak bantu, teteh juga yang merasa bersalah. Ini supaya cepat kelar aja urusannya sama dia."


" Makasih, adikku. Ini kuncinya Teteh traktir pizza kalau punya duit." Shavara memberikan kunci kamarnya.


" Urusannya bereskan, sekarang sarapan " titah Anggara.


" Aa udah selesai." Wisnu mengusap bibirnya dengan tissue. ia mengalami kedua orangtuanya, lalu beranjak ke ruang tamu.


" Dek, kalau mau berangkat bareng Aa harus sekarang. Aa ada jam pagi." Ujar Wisnu sambil mengenakan sepatu.


" Ini adek baru ngambil sarapan Lo, A." Protes Shavara yang baru menyimpan centong nasi gorengnya.


Semalam Shavara minta Wisnu untuk berangkat ke kampus bareng karena motornya sedang di bengkel.


" Kamu bawa saja, makan di kampus." Fena memasukan nasi goreng ke kotak makan dilengkapi ayam dan telur dadar iris.


Fena membuatkan roti dengan selai coklat empat tumpuk untuk putrinya itu." Di mobil kamu makan roti aja dulu. Supaya maag kamu gak kumat."


" Dek, ayok berangkat." Teriak Wisnu dari arah luar.


" Apa teteh bareng Adit aja?" Tawar Aditya yang tengah menikmati sarapannya.


" Enggak, kamu mah lama. Dit, sesuap dong." Pinta Shavara sambil mengenakan sepatunya.


Aditya menyuapi kakaknya." Mah, jangan lupa jajan Adit dikurangi semalam meriksa hp aku."


" Teh, ini aku udah nyuapin teteh Lo. Kok gitu." Sungut Aditya tidak terima.


Kebiasaanya mengecek ponsel kakaknya untuk melihat apakah ada lelaki hidung belang yang mengganggu kakaknya berakhir Shavara melaporkan dirinya pada mamanya.


" Yang ikhlas jadi orang, dimintai tenaganya aja pelit apalagi duit." Cibir Fena.


" Shavara, Aa tinggal ya." Teriak Wisnu lagi.


" Iya, iya..." Balas teriak Shavara beranjak mencium punggung tangan kedua orang tuanya. menenteng tas bekalnya dan mengambil buku serta tas selempangnya.


" A, nanti Vara diturunin dekat halte kampus aja ya." Pinta Shavara saat mereka berbelok masuk arah kampus.

__ADS_1


" Sekalian aja di lobby fakultas."


" Gak mau, yang ada jadi bahan gosip aku." Tolak Shavara.


" Aa, turunin di sini." Tuntut Shavara, namun tidak digubris Wisnu yang terus melajukan mobilnya ke dalam kampus.


" Di sini?" Tanyanya saat depan gedung fakultas.


" Jangan diparkiran aja." Sungut Shavara.


Wisnu tersenyum geli melihat adiknya yang cemberut. Saat mobilnya selesai diparkir, Shavara bergegas membuka pintunya.


" Makasih, assalamualaikum." Pamit Shavara yang sebelumnya menyalami Wisnu mencium tangannya.


" Wa'alaikumsalam." Jawabnya pada ruang kosong karena Shavara sudah berlari cepat meninggalkan parkiran khusus dosen.


Saat Wisnu mengunci pintunya ada seorang mahasiswi cantik berdiri di sampingnya.


" Bagaimana kalau adik cantikmu tahu kalau aku merebut tunangannya karena kamu menolakku?" Ucap Monika tersenyum miring.


Monika dua bulan sebelum dia berselingkuh dengan Aryo menyatakan perasaanya ada Wisnu, dan dengan percaya diri meminta Wisnu menjadi kekasihnya yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Wisnu.


Meras sakit hati atas penolakan Wisnu, menyisakan balas dendam dalam dirinya pada adiknya yang telah mengalahkan dirinya dalam merebut hati Aryo.


Melihat Shavara yang begitu mencintai Aryo, ia jadikan kesempatan untuk merebut kebahagiaan Shavara yang berujung Wisnu pun menderita melihat kehancuran hidup adiknya seperti dia menghancurkan hatinya.


Wisnu memandanginya datar." Tidak bagaimana-bagaimana. beritahu saja sana." Jawabnya tenang, walau dalam hati dirinya resah.


Monika memandang Wisnu penuh kebencian." Dia tidak akan menderita kalau kamu menerima pernyataan cintaku."


" Lebih baik saya sendiri seumur hidup daripada menyematkan kamu dalam kisah hidup saya meski hanya sedetik." Balas Wisnu pedas.


" Semua penderitaannya itu salah kamu."


" playing victif, kau yang mengkhianatinya. perasaan terluka itu pun hanya sesaat. Apa kamu tidak lihat dia sudah kembali ceria. Pacarmu itu tidak seberapa bagus kualitasnya. Persis seperti kamu." Ucap Wisnu meremehkan.


Monika geram, dalam satu hari dia sudah dua kali dirinya direndahkan. matanya melebar penuh amarah." Kau, aku sangat mencintaimu, seharusnya kamu menerima diriku setelah aku sudi menjadi sahabat adikmu yang kuper itu." Bentak Monika.


" keuntungan bagi Vara kehilangan kamu, tapi kerugian untuk kamu. Setelah ini siapa yang akan menemani mu ketika keluarga mu tidak menganggap mu karena kamu hanya anak haram dari ayahmu. Siapa yang akan menyumbangkan uangnya saat keluarga kamu tidak mau menifkahi kehidupan mu itu."


" Mas Aryo, mantan tunangan tercinta adikmu." Jawab Monika jumawa.


" Berapa lama? Saya dengan mudah bisa menghancurkan bisnis pacarmu itu menjadi serpihan debu dalam satu jentikan jemari, nikmatilah semuanya sebelum hilang " Wisnu pergi meninggalkan Monika yang gemetaran menahan emosi.


Dia sudah menunggu 30 menit kedatangan Wisnu guna menyerang mental Wisnu yang dia tahu sangat menyayangi Shavara.


Dia berharap Wisnu memohon padanya untuk memutuskan Aryo agar kembali pada adiknya yang sangat mencintai tunangannya itu, tentu dengan senang hati Monika mengabulkannya dengan syarat Wisnu menjadi kekasihnya.


^^^^^^


" Hai...hai..." Sapa Berliana masuk ruang kelas dengan riang seperti biasa yang di belakangnya pastian ada Kenzo.


" Berisik Lo Na, mentang-mentang dosen idaman Lo yang ngajar." Omel Mira.


Shavara yang duduk di samping Mira mentalnya bingung." Hah? Ini maksudnya Ana suka sama pak Wisnu atau gimana?" Tanya Shavara yang terkejut.


" Lha gak tahu Lo? Hampir satu gedung ini tahu itu bule cantik ini ngejar dosen manis itu." twrnag Mira.


" Tapi kan galak, dingin lagi. Itu muka saingan sama daun kering yang berguguran di musim kemarau panjang." celoteh Shavara yang mendapat respon tawa dari Bima dan Mira.


" Nah, itu istimewanya. Modelan Kenzo sama Bima yang selalu tebar pesona gue udah bosen. Muka datar pak Wisnu itu jadi daya tariknya. Belum lagi kulit eksotiknya. Beurrrrr sexy!" Ucap Berliana mengkhayalkan sosok Wisnu


Kenzo dan Bima yang duduk di belakang para wanita hanya menggulirkan matanya malas, sudah hafal mereka dengan sifat blak-blakan sahabat mereka satu ini.


" Puji aja terus, sebelum nangis ditolak." Cibir Bima.


" Heh, mulutnya belum pernah disikat pake dolar ya." Sewot Berliana.


" Pagi semua." Wisnu memasuki kelas diiringi tatapan lapar para mahasiswinya yang menaksir berat dirinya sejak menjadi dosen dua tahun lalu.


" Tolong itu yang bule duduk tenang. Jangan gosipin saya di waktu menjelang siang ini." Tegur Wisnu pada Berliana.


" Saya gak gibahin bapak. Saya cuma mengutarakan pendapat kalau bapak itu memang sexy." Ucap Berliana mengedipkan satu matanya genit yang disambut kikikan dari teman kelasnya.


Shavara terkikik geli, melihat ulah Berliana, dan itu tertangkap oleh Wisnu yang melototinya. tawa Shavara pun terhenti, namun binar jenaka di sorot mata Shavara untuk dirinya membuat Wisnu mengerang malas. bisa dia tebak kejadian ini akan menjadi ledekan Shavara padanya saat di rumah nanti


" Mari kiita abaikan ucapannya, sekarang kita memasuki pembahasan tugas yang kemarin saya kasih. Kumpulan makalahnya."


Berliana yang untuk kesekian kalinya gombalan dai ditolak Wisnu cemberut duduk di samping Kenzo, dan bercengkrama dengan nya. tanpa sepengetahuan Berliana dua sudut Wisnu tertarik melihat tingkah ngambek dirinya...

__ADS_1


yuk habis baca tinggalkan like, komen, vote, hadiah, dan juga share ya...


__ADS_2