Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
37


__ADS_3

" Teteh, jadi gak ke sekolahan adek?" tanya Aditya yang sedang mengunyah roti bakarnya.


" Jadi, pulang dari kampus langsung ke sekolah. mau ngambil surat pengantar dulu."


Melihat wajah Shavara yang sedikit muram, Anggara bertanya," teteh, kenapa gak bersemangat?"


" Kemarin aku ketemu Monik, dia bilang Aryo ada meeting bisnis, entah kenapa aku gak rela kalau dia berhasil."


"Gagal kok." ceteluk Wisnu.


" Eh, kok kamu tahu?" tanya Fena.


" Akbar Hartadraja yang bilang, dia telpon Aa."


" Hah? serius?" ada sedikit rasa lega di hatinya.


" Iya, kayaknya Aryo main kotor dengan mengirim Monika. dia itu orang idealis, si Monik malah menggerayangi Akbar, ya langsung aja dibatalkan." terang Wisnu.


"Lega rasanya, jahat banget ya aku."


" Enggak, dia sampe kenal Hartadraja kan ada andil kamu yang membantu mengembangkan usaha dia, udah agak berkembang itu perusahaan banyak laga dia." cibir Fena kesal.


" Udah Ma, jangan marah skincare yang kemarin nanti rusak itu. lama banget lagi nunggunya." seloroh Anggara.


" Y udah, Vara berangkat dulu. assalamualaikum."


" Wa'alaykumsalam."


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Bhumi berkeliling mengawasi para muridnya yang memaksakan diri menekuni mengisi soal ulangan.


" Pak, udahan ya." ucap Jaka si jabrik.


" Kumpulkan ke depan."


" Maksudnya ulangannya gak jadi dijadikan pr aja."


" Lusa bapak kasih pr, kalau kalian sangat suka pr fisika."


" TIDAAAAKKKK..." tolak mereka serempak.


Bhumi terkekeh seraya berjalan ke meja kerjanya, ia mengambil lalu menyalakan ponselnya yang tergeletak di atas meja.


Ada lima panggilan dari Siena, Bhumi menghembuskan napas kasar. sejak tiga hari yang lalu Siena selalu menwarkan makan siang dan entah kenapa bersikap layaknya seorang istri baik selama mereka di sekolah, hal yang membuatnya tidak nyaman.


Bhumi menaruh kembali ponsel itu, tidak lama kemudian terdengar getar dari ponselnya, namun dia abai. dia harus bersikap tegas pada Siena seperti dia pada Arleta.


" 15 Menit lagi."


" Paaaakkkk..." teriak kesal bercampur panik dari para siswa.


" Pak, panas gini jangan ulangan yaa..ya..ya..." rengek siswi idaman kelas 12 IPA 3.


" Pak, berhenti ulangan di jam terakhir."


" Waktu 5 menit lagi sebelum istirahat kedua."


Drrrt...


Bhumi melirik dari siapa panggilan masuk tersebut, dia menghembuskan napas kasar saat nama Siena terpampang di ponselnya. ini sudah yang ke 20 kali wanita itu menelpon dalam kurun 20 menit terakhir yang tidak dia hiraukan.


Hal paling menjengkelkan adalah telpon itu masuk saat dia sibuk, namun sayang Bhumi tidak melihat nama lain yang selain Siena yang menelponnya.


" Pak nomor 5 kompensasi ya...itu susah banget." ucap si paling pink di kelas ini.


" Kalau bisa gak jadi ulangan." timpal yang lain.


" Kalian ini dari tadi ngerengek mulu, kalau nilai kalian memenuhi KKM bapak juga ogah ngasih kalian ulangan."


" Cuma kurang dua point, pak. tambahin aja sama bapak."


" Terus membiarkan kalian menjadi generasi strawberry? tidak mungkin. sudah kumpulkan."


" Yaaaa...."


Trriririrng...


" Bel udah bunyi, kumpulkan rajin amat ngerjain soalnya. peraturan masih sama yang nyontek langsung E."


"Iya, tahu..." dumel siswa yang rambutnya sudah kusuk.


¥¥¥¥¥¥


" Gak diangkat kan Bu." tanya Bu Ratna, Seina menggeleng.


" Dibilang juga apa, pak Dewa gak akan angkat telpon dari ibu, ibunya aja terlalu PD."


" Biasanya angkat kok."


"Cuma urusan kerja, gak buat nanya mau makan apa. kalau itu mah pak Dewa juga selalu angkat telpon saya. apa pak Dewa suka sama saya?" sindir Ratna.


" Kenapa sih Bu Ratna kayaknya gak suka banget saya dekat sama kak Dewa?" sewot Siena.


" Saya kasihan sama kalian berdua. saya kasihan pak Dewa merasa terganggu dengan sikap sok dekat anda, dan saya kasihan sama anda ngejar terus padahal ditolak mentah-mentah."


Trriririrng.....


Lewat 10 menit dari bel berbunyi Bhumi memasuki ruang guru, Siena yang melihatnya mengekor setelah mengambil nampan berisi sepiring nasi putih dan soto saat Bhumi berjalan menuju ruangannya.


Sesampainya di depan pintu, Bhumi membalikkan tubuh, dia melihat Siena yang terlihat ribet membawa nampan.


" Ibu ada perlu dengan saya?"


Siena memberi senyum termanisnya." Saya sudah membelikan makan siang buat baoak."


"Tidak perlu, terima kasih.,"


" Tapi terlanjur sudah dibeli, sayang kalau gak dimakan."


Dari arah pintu bhumi melihat Guntur yang baru masuk, dia mengambil nampan dari Siena yang seketika membuat Siena tersenyum lebar. Bhumi berjalan ke belakang mereka.


Siena masih tersenyum saat ia membalikkan tubuh, namun langkah dan senyumnya terhenti saat nampan itu berpindah tangan pada Guntur.


" Makan ni, gue baik kan." Guntur mengangguk meski dari wajahnya la terlihat bingung.


Bhumi kembali ke ruangannya, melewati Siena yang terpaku di sana, hatinya sangat begitu kecewa. Bhumi memutar kenop pintu, dan setengah berbalik.


" Bu Siena berhenti mengganggu saya. itu sangat memuakkan." ucapan Bhumi yang sangat kasar dan didengar oleh guru yang lain membuat suasana seketika canggung.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Sepulang kuliah Shavara dan temannya berjalan sambil bercanda, namun raut wajahnya berubah datar saat ia mengenali sosok pria manis yang berdiri menyandar di depan mobil HR-V putih.


" Kenapa?" tanya Mira bingung. Shavara menunjuk dengan dagu pada pria yang kelihatan baik dan lembut itu.


" Ck, ngapain dia kemari?" berliana langsung memasang tampang sinis.


" Jangan digubris, siapa tahu dia menjemput Monika." ucap Bima.


" Ini parkiran gedug fakultas bisnis, bukan bagian ekonomi. mau pamer dia." timpal Mira


" Udah sih, cuekin saja. Lo udah move on kan, Var." tanya Kenzo.


" Udahlah, tapi inget kelakuan dia yang terakhir bawaanya kesal aja sama dia."


" Motor Lo dimana?" tanya Bima.


" Di parkiran situ."

__ADS_1


" Sini gue yang ngambil, Lo tunggu di luar gerbang aja sama Mira." Shavara mengambil kunci dan kartu parkir dari dalam tasnya.


" Lo lewatin dia aja, jangan nanya apalagi ngobrol." imbuh Kenzo.


" Ngapain gue ngobrol sama dia, males banget."


Bima berlari ke parkiran bagian motor, Kenzo dan Berliana masih berdiri di tempat mengawasi kepergian Shavara, dan Mira.


" Var, jalan terus jangan nengok." bisik Mira diucapkannya tanpa menggerakan bibirnya."


" Hmm, Lo diem. dari tadi komat Kamit mulu kayak dukun." balas Shavara gregetan.


pasalnya selama mereka berjalan mulut Mira tidak berhenti bicara mengomentari posisi Aryo, apa yang sedang dilakukan Aryo hingga jantung Shavara berdetak cepat bukan rindu atau senang tapi saking gugup. dia masih ingat sikap kasar Aryo padanya.


Jantungnya makin berdegup kencang seiring kaki melangkah, mereka sangat gugup saat berjalan hendak melewati Aryo yang syukurnya tengah menunduk sibuk dengan ponselnya saat mereka tepat melewati Aryo napas mereka tertahan, mereka hampir saja menghembuskan napas lega setelah melewati satu makhluk gabut tersebut namun ditahan kembali ketika Aryo memanggilnya.


" Vara, Shavara." mereka mengabaikan panggilannya, melangkahkan kaki lebih cepat, " Vara...berhenti..."


" Terus jalan, jangan berhenti." kata Mira.


" Shavara Nasution berhenti." Aryo menarik keras tangan Shavara.


Mau tidak mau Shavara berhenti, Aryo memaksanya membalikan badan menghadapnya.


" Budeg kamu, dari tadi aku panggilin juga." bentak Aryo.


Tubuh Shavara bergetar, ia paham betul Aryo dalam kondisi mood yang jelek. Dia ketakutan, namun dia tahan untuk pasrah seperti biasa jika Aryo menaikkan suaranya, dia enggan beradu argumen, karena hasilnya akan tetap sama, dia yang salah meski dia tidak tahu apa yang menyebabkan Aryo marah.


" Gak budeg, cuma gak tahu aja kenap Lo manggil gue. gue yakin Lo salah orang. Monik gak ada di sini."


Aryo terkaget," Lo-gue? sejak kapan kamu ngelunjak?"


" Terserah gue, awas gue mau pulang."" Shavara menarik-narik tangannya.


" Aku anter, aku datang buat jemput kamu."


"Gak perlu, aku bawa motor."


" Motor Scoopy yang aku beliin? masih kamu pakai?" ada nada bangga untuk dirinya sendiri dan meremehkan dalam nada suara Aryo.


" Pake duit gue, hasil kerja keras gue membantu lo."


" Terserah, malas aku ngomongin gak guna itu. kamu ikut aku.


" Gak mau, Aryo. Lo gak bisa maksain kehendak Lo ke gue lagi."


" Benarkah? mari kita buktikan." Ucap Aryo sambil menyeringai culas.


Dia menarik kasar tangan Shavara memaksanya ikut ke mobil, di sisi lain Mira menarik berlawan tangan Shavara, hingga terjadilah tarik menarik dengan Shavara di tengah keduanya.


Aksi tarik menarik itu menarik perhatian orang yang lalu-lalang, mereka berhenti dan menikmati tontonan gratis.


" Aryo lepas kasar banget." Shavara mencoba menghentakkan tangan Aryo dari lengannya.


" Yang ada suruh dia lepasin kamu."." balas Aryo membentak


" Lo yang harus lepas, tukang selingkvh." hardik Mira.


" Diam Lo, pergi. ini gak ada urusannya sama Lo." usir Aryo.


" Sejauh tentang Lo, urusan Vara, urusan gue juga. Lo yang pergi, mantan gamon."


Aryo yang sudah tidak sabar, dia menarik kencang Shavara seraya mendorong Mira sampai terjengkang duduk di lantai.


" ARYO.. BERHENTI! GUE GAK ADA URUSAN SAMA LO LAGI, KITA SUDAH PUTUS." bentak Shavara.


Aryo terkejut Shavara begitu lancang menentangnya.


" Kamu, aku sudah sabar banget ngadepin kamu yang childish. sekarang kamu mulai berani bentak aku, gak bisa dibiarin."


" Kamu mau apa hah? kita udah selesai, Lo selingkvh dari gue. najong gila gue kalau masih mau berurusan sama Lo." Shavara sangat marah.


" Tinggal cetak lagi."


" Itu tugas kamu. dia yang bakar, kamu yang bertanggungjawab."


" Ajigile gue kerja buat Lo lagi. bilang aja Lo gak ngerti sama sekali gimana caranya, selama ini kan gue yang ngurusin segala ***** bengek perusahaan Lo. suruh selingkvhan Lo yang kerja rodi."


" Ini anak makin dibiarin ngelunjak, ayok, ikut aku."


" GAK MAU!!" kini Aryo dan Shavara saling adu kekuatan, yang pastinya tidak seimbang dibawah teriakan para penonton.


" Vara, menyerah saja. jangan bikin malu."


" Lo yang bikin malu, anjenk." Mira menyerang Aryo dengan tas Selempang dan buku tebalnya.


" Sialan." umpat Aryo yang kewalahan atas amukan Mira yang membabi-buta namun tidak terarah.


Sesekali Shavara pun kena pukvlannya, ia mengaduh dan merutuki Mira. sedangkan Aryo sudah naik pitam, dia melepaskan Shavara lalu meraih kerah kemeja Mira kemudian mengangkat satu tangannya, Mira dan Shavara sudah memejam mata mereka sudah menebak apa yang akan terjadi.


Bhugh...


" Kyaaaa..."


" Aaarggh..."


Shavara dan Mira kontan meraba pipinya yang tidak merasakan apapun, mereka perlahan membuka mata.


Mereka tidak merasakan sakit di sebelah manapun dari wajah mereka lantas mereka melirik ke lantai dimana Aryo terjungkal berakhir terbaring memalukan di lantai.


Penonton pun menertawainya," Huuuuuu, sok gagah ternyata banci."cibir satu penonton yang lelaki.


" Kalau orang udah gak mau tuh, jangan dipaksa, jerk." ucap Kenzo.


" KENZO." Wisnu berlari ke arah mereka.


Dia langsung pergi ke parkiran begitu Bima memberitahu jika Shavara diseret Aryo. wow, kata yang tepat untuk memprovokasi, khas Bima.


" Dek, kamu gak apa-apa? apa dia mukul kamu?" ucap Wisnu lembut sambil memegang bahu Shavara. memeriksa secara seksama dari kepal sampai ujung kaki.


Shavara menggeleng," Gak sempat, keburu


dihajar Kenzo." adu Shavara.


" Kamu udah gak ada jadwal kan?"


" Iya."


" Pulang, soal dia biar Aa yang urus." tukas Wisnu yang berjalan mendekati Aryo. Shavara hanya mengangguk. dia tidak membantah kakaknya yang jelas terlihat sedang menahan marah


Wisnu menarik kerah kemeja Aryo, menyeretnya di masukkan ke dalam mobilnya, dan melajukan mobil meninggalkan kampus


Di sekitar mereka banyak bisikan mempertanyakan hubungan antara dosen idaman kampus dengan Shavara, si cantik yang terkenal kalem ternyata bisa marah juga.


" BUBAR ..BUBAR ..pada bantuin kagak kalian." bentak


" Bim, motor gue mana?" Shavara memunguti buku dan tasnya yang jatuh akibat saling tarik tadi.


" Di depan gerbang, gue titipin ke satpam. Gue nunggu Lo lama, pas gue kembali tu si sedenk lagi bentak Lo, ya..gue panggil pak Wisnu aja."


" Lo gak apa-apa pulang sendiri? gue anter aja, gimana?"


" Gak apa, gue juga mau nenangin diri. Lo anter Mira aja, dia tadi didorong ODGJ itu." sungut Shavara.


" Dia mah udah diboyong Kenzo." Bima menunjuk Kenzo yang membopong Mira bak karung di tengah tawa para mahasiswa.


" Perang dunia ke 20 dah."


Bima terkekeh mendengar Shavara mengomentari dua sahabatnya itu. Kenzo dengan keposessifan yang haqiqi namun enggan mengakui kalau dia suka Mira. Mira si paling enggak bisa digantung berusaha menolak keras perasaan nyaman saat bersama Kenzo.

__ADS_1


" Sampai sini aja , Bim." ucap Shavara saat mereka sudah berdiri di samping motornya.


" Lo langsung pulang ya."


" Iya, bawel. Sono Lo balik."


" Gue masuk." saat Bima menghilang dibalik tembok, Shavara berjongkok, kedua lututnya lemas dia merasa dirinya lelah, ia mengambil ponselnya di dalam tas, menelpon Bhumi ingin mengajak makan siang bersama.


Saluran tersambung, namun tidak diangkat. terus begitu untuk ke ketujuh kalinya. tak kunjung dijawab, Shavara menulis pesan berharap ketika Shavara sampai di sekolah Bhumi membalas ajakannya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Shavara memarkirkan motornya, menelpon Bhumi sebelum masuk ke area gedung sekolah, namun masih operator yang menjawabnya.


" Serius ini yang katanya cinta banget. positif thinking aja dia sibuk atau hpnya gak kebawa" sarkas Shavara tersenyum miris.


Setelah bertanya pada petugas piket perihal letak kantor administrasi, Shavara berjalan menyusuri koridor sembari celingak-celinguk.


" Ah itu dia."


Kinj dia berdiri di depan pintu bertuliskan kantor staff yang terletak di gedung paling jauh dari gerbang.


Tok...tok...


Shavara menoleh ke samping kiri mencari alasan ada suara sangat berisik karena banyak pengunjung berseragam." Oh, kantin. pantesan rame banget." gumamnya seraya tersenyum mengingat masa SMA-nya dulu ketika hidup tidak berasa beban.


Sambil menunggu pintu dibuka, perhatiannya masih terfokus pada suasana kantin yang hiruk pikuk bagai pasar malam, namun kini senyumnya sirna kala melihat Bhumi tertawa lepas dengan beberapa gadis berseragam yang duduk satu meja dengannya.


Merasa diperhatikan Bhumi menoleh padanya, mata mereka bersirobok Bhumi terkejut, namun tidak mendekat.


Merasa ada sudut hatinya yang dicubit, menahan rasa sesak di dada Shavara memilih masuk ke dalam kantor.


" Permisi.." Shavara membuka sedikit, ada satu orang pria yang duduk di meja sedang sibuk.


" Ya, bisa dibantu, mbak?" pria tersebut menghampirinya.


" Saya mau menyerahkan lamaran magang." Shavara menunjukkan amplop besar coklat.


" Iya, simpan saja di meja nomor dua itu, lumayan banyak yang lamar." tunjuknya pada meja bertaplak warna hijau. di sana sudah menumpuk lumayan tinggi amplop yang serupa dengan miliknya.


" Sudah begini aja, pak?"


" Iya, nanti di telpon untuk tes."


" Kalau begitu saya permisi, terima kasih atas bantuannya, pak."


" Cuma naruh doang mah mending nitip ke Adit besok."


"Terima kasih, pak. mari." saat membuka pintu Shavara kaget mendapati Bhumi menunggu di depan kantor bersandar ke tembok.


" Ada perlu apa kemari?" tanya Bhumi menegakkan tubuh.


Shavara menatapnya datar. " Melamar magang."


" Kamu tahu?"


"Bukan dari kamu." sindir Shavara.


Bhumi berdiri menghalangi jalan untuk Shavara." permisi, aku mau pulang."


Bhumi mengernyit bingung akan sikap Shavara yang tidak seperti biasanya, ia menahan tangan kekasihnya." Kita pulang bareng."


Shavara menggeleng" Bareng aku." tegas Bhumi.


Drrrt...


Bhumi mengambil ponsel dari saku celananya tanpa melihat siapa yang memanggil menjawab telpon yang masuk, Shavara melongo kaget.


" Hallo."


"........"


" Iya, saya ke sana."


Klik....


Bhumi memutuskan telpon. " kamu ikut aku dulu ya, aku dipanggil kepala sekolah."


" Kamu megang hp."


"Hah?"


" Hp kamu gak ketinggalan."


" Enggak, dari tadi di saku celana." jawab bhumi polos.


" Dari tadi?"


" Iya."


Ada batu besar yang seakan menghantam dirinya, sakit.


" Yuk ikut aku."


" Enggak, pergi saja." ucap Shavara lesu.


" Aku cuma sebentar, kamu tunggu di kantin saja." Bhumi mengajak Shavara ke kantin tanpa peduli perhatian dari beberapa murid.


Mendudukan Shavara di meja kosong dekat tukang bakso." Aku pesenin makan dulu."


" Pergi aja sana, aku bisa pesan sendiri." cegah Shavara.


Bhumi memerhatikan Shavara, ia merasa ada yang janggal dari gadisnya ini. " Tunggu aku." Shavara memandangi punggung Bhumi yang menjauh dengan tatapan sayu karena sedih.


Meski ragu, Bhumi akhirnya memenuhi panggilan kepala sekolah, ia sedikit berjalan cepat menyusuri lorong yang sudah sepi karena para siswa sudah kembali masuk kelas.


Dengan ransel di pundak Bhumi berlari kembali ke kantin, matanya menelisik seluruh ruangan kantin yang kosong, tidak ada kekasihnya di meja yang tadi dia tinggali." Mbak, perempuan yang duduk di sini kemana ya?" tanya Dewa pada pedagang bakso.


" Pergi juga, gak lama pak Dewa pergi."


Dewa tertegun, ia merutuki diri seharusnya dia tidak meninggalkan Shavara sendiri di kantin.


Ia mengambil ponselnya, kaget saat melihat bilah notifikasi ada delapan panggilan masuk tidak terjawab dari Shavara.


Karena cemas Bhumi lekas berlari ke parkiran dengan ponsel di telinga menanti jawaban dari saluran sebrang yang terus berdering sampai operator menjawab panggilannya.


Shavara pasti tidak dalam keadaan baik, dia pasti m sangat membutuhkan dirinya karena tumbenan dia menelpon dirinya di siang hari. kata-kata itu yang terus terngiang dipikirannya.


Bhumi melajukan motornya dengan kencang sambil memperhatikan area sekitar, sudah tidak dua jam Bhumi mencari namun juga belum membuahkan hasil.


Drrrt....


Bhumi meminggirkan motornya saat ada sambungan masuk." Hallo."


" Bhum, ini Wisnu. apa Vara sama Lo? tadi dari kampus gue nyuruh dia balik tapi kata mama Vara belum juga pulang, gue khawatir."


Bhumi makin cemas.," tadi gue ketemu dia, gue nyuruh tunggu tapi dia pergi."


" Shitt, seharusnya gue anter dia pulang dulu baru beresin baji'ngan itu."


" Beresin? siapa?" tanya Bhumi mendesak.


" Nu, ada apa?"


" Tadi di kampus dia berantem sama Aryo..."


Bhumi nambah panik, gadisnya benar sedang tidak baik-baik saja, dan dia hanya karena menghindari Siena mengabaikan telpon masuk dari pacarnya. ia merasa sangat jahat


Bhumi melihat ke awan yang kini berubah mendung, " Sayang, kamu dimana?"..…

__ADS_1


__ADS_2