
Shavara mengusir tangan Bhumi dari bahunya begitu mereka memasuki ruangan Bhumi.
" Kakak, gak harus bertindak sejauh itu deh kayaknya. akka gak tega liat anak sekecil itu nangis dia cuma kangen sosok ayah." ucap Shavara bersedekap perut.
" Kamu pengen aku jadi ayah dia?" tanya Bhumi tidak percaya.
" Enggak juga, tapi gak perlu segamblang itu nolaknya."
" Harus begitu, bahasa kode-kodean atau sindiran gak akan mempan. Kinan akan memojokkan aku dengan setiap akta yanng aku ucapkan. itu keahlian dia, sayang. dan aku gak mau terjebak sama dia. cukup dulu kami dekat." jawab lugas Bhumi.
" Saat dia berselingkuh, dia masih bisa memojokkan aku sehingga aku bagai tersalah. itu cara main dia dengan modus playing victim. orang lain mungkin akan merasa enggan, tapi bukan dengan ku."
" Kak, aku hanya kasian dengan Langit."
"Aku juga, tapi Kinan memanfaatkan anaknya untuk ambisi dia yaitu mendapatkan aku."
" Aku yakin tidak sejauh itu."
Bhumi mendekati Shavara yang terlihat mulai goyah keyakinannya, mengelus kedua lengan atasnya." Sayang, enam bukan berpacaran dengannya menjadikan aku menegak dia, tidak seluruhnya tentunya, tapi cukup untuk tahu dia tidak seasyik yang terlihat."
Bhumi menarik Shavara ke dalam rengkuhannya, mengecup pucuk kepala gadisnya." Aku bukan orang yang tidak peka, pengalaman menjadikan aku sensitif, sayang. kamu orang yang cemburuan, tapi aku gak mau kamu salah paham terus merasa lelah bersamaku hanya karena orang lain.
Membalas pelukan Bhumi, Shavara melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Bhumi, menengadahkan kepalanya saling pandang dengan Bhumi yang menunduk.
" Dia akan terus meneror ku sampai aku menikahinya atau dia menemukan pria lain yang menjadi targetnya, dan aku agak sudi melakukan itu."
" Dia kelihatan orang baik."
" Aku gak ngomong dia jahat, tapi dalam konteks ini, dia menyebalkan."
Bhumi mengeratkan pelukannya." Mari kita bertaruh."
seketika Shavara waspada, matanya memicing curiga," Apa?"
" Setuju dulu."
" Apa dulu."
" Ck, gak bisa apa kamu ngalah sedikit."
" Ini aku gak langsung nolak lho."
" Aku bertaruh, kalau dia enggak berhasil membujuk ku, dia akan mendatangi mu, dengan silat lidahnya menempatkan kamu si paling bersalah, dan akhirnya menitan mi menjauhiku, atau memberikan aku untuknya."
" Enak aja, sekate-kate enak udel Ida, dia kor kamu barang apa? lagian gak ada alasan dia deketin aku."
" Ada sayang, dia tahu kamu seseorang yang spesial buatku, dia gak buta. dia tadi lihat kita masuk bersama, tapi dia mengabaikan keberadaan kamu."
" Terus aku harus gimana?"
" Kok nanya. ya itu mah terserah kamu. kamu merasa aku penting gak buat kamu, kalau aku tadi udah negesin kamu calon istri kamu.'
" Aaah, iya..ya... seharusnya dia gak lagi deketin aku dong."
" Seharusnya."
" Tapi..." Shavara menatap Bhumi meminta melanjutkan kata, namun Bhumi mengedikan bahu.
" Kita lagi bertaruh, kalau aku spoiler nanti kamu menang. gak like aku ya." jawab Bhumi lebay.
" Apa sih. emang yang menang dapet apa?" Bhumi mengeratkan pegangan di pinggang Shavara mendekatkan jarak antar mereka.
" Dibolehin civm yang kalah sampe puas dengan cara aku."
Refleks Shavara menumbuk manja dada Bhumi." Kakak bis agak sih mikirnya gak ke sana mulu, serius ini."
" Aku serius banget."
" Itu mah untung di kamu."
" Kamu juga boleh lakuin itu sama aku."
" Emang itu maunya kamu."
Bhumi terkekeh, ia memperbaiki pijakan kaki, lebih menarik tubuh Shavara hingga mereka menoleh satu sama lain.
" Gak usah bahas dia mulu, aku penasaran sama cup'ang kamu. seumur-umur aku belum pernah lihat yang aslinya." seiring berkata demikian wajah Bhumi mendekat miring ke telinga Shavara.
bibirnya bergerak mengecup mengikuti garis tulang dai bawah telinga hingga bawah sepanjang rahangnya, mengecup sedikit menghisap di ceruk garis tenggorokan.
" Kakh..." memanggil dengan suara berat layaknya mendesah melahirkan gelenjar hangat di tubuh Bhumi, tangannya mengelus punggung Shavara seduktif.
" Hmmmhhh..." bumi semakin intens melu-mat leher Shavara bergerilya kemana
" Kakh..." Shavara mencengkram dan memainkan rambut Bhumi seiring kenikmatan yang semakin menjadi.
" Hmmphmmhh..."
"Aakkhh..." desah Shavara begitu Bhumi mengisap kuat ceruk lehernya mengejar kerah kaosnya. sedangkan tangannya semakin bermain menggulung tubuh gadisnya hingga tubuh mereka seakan menyatu.
" Aakkh...kakhhh..aaakkkh...." Bhumi semakin brutal mengeksploitasi leher jenjang itu, Shavara merasakan tubuh bagian bawahnya ada yang berbeda, terasa geli menggelitik.
" Kaakhhh..."Bhumi melepas serangannya ketika hasratnya semakin menambah, ia khawatir tidak bisa mengendalikan diri, ini terlalu memabukkan, terlalu nikmat untuk diabaikan.
Matanya melihat hasil karya barunya berwarna ungu, lalu memandang wajah Shavara yang dipastikan bergairah.
" Cantik! aku suka. Shava, kita harus segera menikah. aku semakin tidak bisa mengontrol diri. rasakan ini." Bhumi sengaja menempelkan bagian bawah tubuh mereka.
Shavara bisa merasakan benda keras yang mengadu dengan perutnya.
" Kakh...' Shavara membelalak. ia mengurai pelukan namun Bhumi menahannya.
" Ini terlalu beresiko bobol, sayang. kalau yang kamu mengkhawatirkan aku berselingkuh dalam pernikahan kita, aku justru takut menyu-tubuhimu dengan salah." ucap Bhumi ftontal.
Lidah Shavara membasahi bibirnya, menegak saliva karena gugup, ia pun sama merasakan kenikmatan itu, tapi ketakutan diduakan begitu menghantuinya.
Bhumi yang sudah tergila-gila, langsung menyambar bibir itu, gerakan lidah Shavara terlalu menggodanya.
"Hmmphh." bibir mereka yang sudah saling mengenal langsung saling melu-mat, Shavara yang masih terkungkung perasaan euforia kenikmatan duniawi menyambut serangan bi'bir sexy itu, tidak lagi bermain bertahan, namun kini turut serta dalam lumayan, dan hisap antar bi'bir itu.
Saat situasi semakin memanas dan intim, Diaman tangan Shavara bermain bebas di rambut Bhumi dan Bhumi sudah menahan antara kepala dan tengkuk Shavara dan satu tangan lagi menekan punggungnya da-da kenal itu menempel da-da kerasnya, pintu dibuka seseorang,
Ceklek...
" Wow, wonderful."
Mereka terkejut, melepas pagutannya, melihat ke arah orang yang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum jahil.
" Kyaaaa..." Shavara yang Mali, berteriak lalu berlari ke ruang pribadi Bhumi menutup lalu mengunci pintu tersebut.
Bhumi berdecak kepala, ia mengatur napas menenangkan diri, merapihkan rambut dan dirinya seraya berjalan ke sofa
" Berhenti lancang, bisa ketok dulu kan."
" Ya sorry, biasanya juga gue begitu." Adnan mengikuti langkah Bhumi.
" Sekarang jangan." Bhumi duduk di sofa tinggal.
" Lo juga begitu kalau ke kantor gue, seorang ganggu gue."
" Jangan samain Shava sama gebetan fake Lo."
__ADS_1
" Gue gak tau ada Vara." Adnan duduk di sofa panjang.
" Sekarang Lo tahu."
" Iye..iye..maaf. gue baru tau Lo seberani itu." Bhumi mendelik mata pada wajah yang nyengir menyebalkan itu.
" Yang bawah aman, Pak." Adnan melihat sesuatu yang menyembul di Bali celana Bhumi.
"Lo perkirakan aja sendiri." Bhumi tidak berniat menyembunyikan. hasratnya yang terlalu kental terlihat.
"Nikahi dia, bro. dia perempuan baik-baik."
"Ngomongnya seakan Lo pernah liat gue sama cewek lain." Bhumi tidak menerima sarkas dibalik perkataan Adnan.
" Maksud gue, gue ngasih tahu lo yang minim pengalaman cewek ini, kalau Vara wanita terjaga."
" Gue udah melamar dia, tapi dia yang belum mau nikah."
"Lha kenapa?"
" Trauma diselingkuhi."
" Baji-ngan itu, terus Lo gimana?"
" Ya terpa usaha lah."
" Gak pake DP duluan ya, Bhum."
" Enggaklah, amit-amit."
Adnan mendengkus skeptis, " Semenit yang kalau itu menjurus ke sana Lo."
" Biasanya gak gitu, akkh elah ngapain gue curhat ke Lo. Lo ngapain ke sini."
" Heh, ganteng Lo yang nyuruh gue ke sini." sewot Adnan.
" Oh iya, lupa gue."
" Vara menguasai otak lo ya." Bhumi mengangguk mengakui.
" Gue tergila-gila sama dia." Adnan cengo mendengar pengakuan yang tidak disangka itu.
Adnan melihat sorot mata melembut di sana," Gur gak bisa jelasin apa yang bikin gue suka banget ke dia, tapi dekat dengannya itu...amazing."
" Anjrit, Lo jatuh cinta?"
" Bhumi mengangguk, ia tersenyum hangat." Dia anugerah buat gue. mybe Lo dengernya berlebihan, but itu kata yang cocok buat dia bagi gue."
Adnan mengulum senyum, ia lega akhirnya sahabatnya ini merasakan kehangatan hati.
" Lo nyuruh gue kemari cuma mau ngomongin itu?"
raut Bhumi seketika berubah, lebih sinis. " Bukan, tapi soal Kinan. dia tadi datang kemari baw anaknya, dan Lo tahu, anaknya manggil gue Papa.
" HAH?serius Lo?" Adnan kaget.
" Ngapain gue bercanda. anaknya gue mo ta Lo urus dia, gue gak mau dia ngerusak hubungan gu sama Shava. dia masih rentan soal pihak ketiga, walau gue udah berusaha meyakinkan dia, tapi gue gak mau ambil resiko."
"Terus, gimana tanggapan Lo?"
" Ya gue tolak lah, bakanya nangis, tapi gue gak peduli amat."
" Tega Lo, Bhum."
" Kita tahu dia, makanya gue sodorin Lo supaya jadi bokap anak dia."
" Btw, kenapa dia pengen Lo jadi bokap anaknya, bapaknya kemana?"
"Dia pasti gak setuju."
" Dia malah bilang gue tega."
" Emang tega sih, omongan Lo pasti pedes banget." Adnan sudah membayangkan marahnya Kinan. wanita yang tidak amu ditolak.
" Gue gak pandai bermain akta kayak Lo, lagian sembarangan banget dia ngomongnya, temen Lo, noh."
" Mantan Lo."
" Benar, mantan. kalau udah mantan kan seharusnya end, kan."
" Ya Lo tolonglah dikit, maksud gue jangan segamblang itu, wajarlah anaknya nangis."
" Ya Lo tolongin aja dia, gue ogah."
" Kasihan anak itu, dia kangen bapaknya."
" Banyak tahu Lo soal dia."
" Ck, gue sama dia sesekali komunikasi, dia seorang nanyain Lo." Bhumi melirik curiga pada Adnan.
" Gue gak pernah cerita soal Lo, spolier aja enggak, suer." Adnan mengangkat jari berbentuk V.
" Tahu darimana dia gue ada di sini?"
" Gue, dia ngotot pengen tahu, dia bilangannya cuma mau temu kangen doang gak pake drama begini. lagian Lo benci banget sama dia."
" Bukan benci, tapi itungnya ke males. dia yang selingkuh gue yang disalahin. kalau dia masuk udahan tinggal bilang, gue juga gak suka-suka amat sama dia. dia malah bilang gue yang dingin lah, gak ngajak jalan lah, punya pacar kayak gak punya pacar lah, segala. gak mutu."
" Tapi emang bener kan."
" Waktu itu gue gak punya uang buat jajanan dia, gaya dia terlalu tinggi buat gue, sedangkan kalau jalan pasti gue yang keluarin duit padahal dia bilang minta anter doang. sama Lo aja, Lo kan yang ngeluarin duit buat belanjaan dia, padahal kalian temenan doang, gak bisa gue sama orang kayak gitu."
" Jadi gue kudu gimana?"
" Terserah Lo mau gimana, gu cuma amu dia gak ganggu gue lagi. gue takut kasar aja sama dia, gue bendi cewek kayak dia, Lo yang paling tahu soal itu." Adnan mengangguk.
Derrrt...
Adnan menunjukkan id caller pada Bhumi yang tertera nama Kinan.
" Hallo."
"......"
" Ada urusan gue, kenapa emang."
" ......"
" Kita ketemu ketemu mau dia cafe Kenangan. gue otw sana."
Klik...
" Dia minta ketemuan gue."
" Lo urus dia."
" Iya, oh ini. ada undangan reuni. kali ini Lo kudu datang gue panitianya."
" Gak janji. lagian ngapain sih sering amat ngadain reunian." dumel Bhumi.
" Bawa Vara. biar gak ngenes."
__ADS_1
" Gue cabut."
Selepas Adnan pergi, Bhumi menuju dapur mengecek bahan makanan yang kabarnya beberapa sudah menipis, niat awal dia datang ke Warungkita weekend ini.
Bhumi mengetuk pintu yang masih tertutup rapat, dia mendekatkan telinganya, di daun pintu tidak terdengar apapun dari dalam.
" Shava. buka sayang."
Ceklek...
Shavara melongok memastikan Adnan sudah pergi." udah pulang ya orangnya." Shavara keluar dari kamar.
" Udah dari tadi malah, aku udah selesai ngecek dapur segala."
" Kok gak bilang?"
" Aku pikir kamu engeh, kan gak ada orang yang ngobrol lagi di sini. kamu ngapain dari tadi di kamar?"
Shavara langsung mendelik padanya sebal padanya," aku gak tahu lagi gimana nutupin ini, yang kemarin aja masih ada, sekarang nambah lagi." Shavara membual kerah lehernya, di sana tercetak jejak baru.
" Aku gak bawa foundation. kita memang gak boleh seorang ketemuan."
" Oh tidak bisa, sayang. bukan itu solusinya. kita nikah itu yang benar."
" Kak, bukannya aku gak mau nikah, tapi ini telah dini, kita belum saling kenal satu sama lain."
" Pacaran lama juga bukan jaminan pasangan saling mengenal, sayang. pengalaman kamu kemarin contohnya."
" Untung aku belum nikah sama dia."
" Dan aku gak mungkin selingkuh."
" Gak ada jaminan juga kamu begitu. sekarang aja kamu lagi kasmaran sama aku, siapa tahu nanti ketemu yang lebih oke menurut kamu terus kamu tinggalin aku."
" Kalau kamu mikirnya begitu, sampe kita peyot juga gak akan mungkin kita menikah, sayang. kamu mau jadi perawan seumur hidup kamu? aku sih gak masalah, toh aku pasti sama kamu terus, dan aku berniat menikmati hubungan ini sampe banyak cu'pang di tubuh kamu, gak cuma di leher."
"KAK...tau ah male saku ngomong sama kamu."
" Dari tadi kita ngomong mbak, baru males. kalau malas ngomong, gimana kalau kita lanjut civman."
" Kakak, gak ya. ni bibir aku udah jentowor kayak digigit lebah tahu gak. aku mau pergi cari buku." Shavara berjalan ke pintu sementara Bhumi tergelak sembari menyusulnya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Di Mall, mereka langsung ke toko buku, ciri khas Shavara. dia hanya akan bersenang-senang di mall jika tujuannya sudah terpenuhi.
Di sana cukup lama mereka mencari buku yang lumayan sudah sudah di dapatkan, namun Bhumi dengan setia mengintili gadisnya, sesekali menggoda, mengganggu. Bhumi jadi tahu Jiak Shavara sedang fokus dia akan melupakan sekitarnya.
" Kak ke toilet dulu ya sebelum makan."
" Iya."
Selepas buang hajatnya, Shavara berpapasan dengan Monika yang sepertinya sengaja menungguinya.
" Well, well...masih hidup Lo? Gue pikir Lo udah meninggoy karena depresi ditinggal tunangan." cibir Monika. dia tahu persisi bagaimana Shavara sangat mencintai Aryo yang sudah dia rebut.
" Gak mungkin lah, cuma putus doang. tinggal nyari lagi."
" Emang ada cowok yang mau sama cewek norak kayak Lo? Aryo yang than sama pikiran kolot Lo akhirnya jatuh juga ke gue, gimana yang lain."
Kalau dulu, mungkin perkataan itu akan menjatuhkan mentalnya, namun tidak dengan sekarang, banyak orang yang menganggap dia berharga, dan bertahan dalam prinsipnya itu hebat.
" Gak semua orang brengsek dan murahan kayak kalian, Lo aja gak nemuin orang itu, kasihan deh Lo." ucap Shavara seraya mencibir terang-terangan pakaian formal nan **** yang hampir tidak muat di tubuhnya.
Monika meradang akan cemoohan itu, " lihat saja gue akan lebih sukses dari Lo dalam menggaet klien untuk mas Aryo."
" Oh, sekarang Lo yang dia eksploitasi, untuk ambisi dia. kasihan, otak Lo pasti gak selevel gue sampe Lo harus memakai pakaian yang lebih mirip layaknya wanita panggilan daripada sekretaris pribadinya."
" Lo..."
" Gue gak pernah berpakaian seperti itu, karena otak gue yang bekerja bukan tubuh gue." Shavara menjauh bom sebelum dia berlalu menjauh dari toilet. tangannya gemetaran, dia tidak menyangka dirinya bisa melawan Monika yang Terkenal tajam bersilat lidah.
Prok...prok...
Shavara terjengkit kecil sebelum berbalik. " Woo, amazing. calon istri aku." Bhumi bersandar di dinding toko arah masuk toilet bertepuk tangan sambil tersenyum.
" Kakak..." Shavara lekas berlari ke delapan Bhumi, di sana dia menenangkan diri mengabaikan lirikan orang yang melewati mereka.
"Good job, sayang. aku bangga sama kamu." Bhumi mengelus punggung Shavara yang berasa bergetar.
Shavara menjauh, Bhumi menghapus sisa air matanya." Dia nyebelin abis."
" Dan kamu berhasil meng-kick out si paling menyebalkan itu. karena kamu udah hebat, aku traktir kamu makan, ayok." Bhumi menggenggam tangan Shavara yang dingin.
¥¥¥¥¥¥
Dia suatu restoran dalam mall, pengusaha calon klien Aryo mengeluh tidak bisa bergabung di perusahaannya karena Aryo belum bisa menunjukka dokuwkn pendirian perusahaan.
" Dokumen itu sendang saya diperbaharui di Menkumham, pak. jadi kita bisa melakukannya sambil porses berjalan." bujuk Aryo.
"Pak Aryo, anda pikir saya pebisnis baru? saya ingin bekerjasama dengan anda karena komitmen Hartadraja yang ingin membantu usaha menengah bawah untuk maju, tapi bukan berarti kalian bisa menipu kami dengan perusahaan yang ilegal."
" Perusahaan saya tidak ilegal, saya sudah banyak kerjasama dengan pihak lain. ini saya tunjukkan dengan siapa saja kami bekerjasama."
" Saya tidak mau tahu, perusahaan anda bukan perusahaan ternama yang sudah pasti keabsahannya, kalau anda tidak bisa menunjukan dokumen pendirian perusahaan dan status badan hukumnya, saya pikir sampai di sini pembicaraan kita." tukas Akbar tegas.
Rahang Aryo menggelitik, ia mengumpati Shavara dan adiknya yang telah membakar dokuwkn sialan itu. dia harus berhasil mendapatkan tender ini kalau ingin perusahaan lebih eksis.
Aryo melirik ke sisi kanannya, dia mendelik sinis pada Monika yang hanya bisa memberi senyum tanpa ikut membujuk, tidka seperti Shavara yang apatis di situasi seperti ini akan menjamin semua syarat ada jika kerjasama terjalin. tapi lihatlah Monika hanya menampilkan cara makan steak yang anggun, sangat tidak berfaedah.
" Pak Akbar, asisten pribadi saya akan menjelaskan lebih lanjut tentang perusahaan ini. saya yakin anda tidak akan menyesal bergaung dengan saya."
"Hah?"inilah bingung, namun itu untuk sesaat, Karne detik berikutnya dengan kode matanya ke da'danya Monika paham apa maksud Aryo.
" Kita lihat nanti."
" Saya permisi, ke belakang, pak."
Begitu Aryo pergi, Monika langsung beringsut pindah duduk ke kursi yang dia dekatkan pada Akbar.
Mencondongkan tubuh, meraba dada terus menurun pelan ke paha Akbar, dan sedikit mere'mas di sana. mende-sah, menjilat bibirnya sensual sedikit membuka, tangannya bermain di paha memutar ke bagian dalamnya, dadanya dicondongkan, kancing yang dibuka dua memperlihatkan gundukan bukit sintalnya, ia mendekatkan wajah ke leher Akbar yang langsung terhenti kala perkataan menghina itu terucap dari bibir tipis pemuda tampan itu.
" Dibayar berapa kau untuk berpura-pura menjadi sekretaris? menjijikkan, wanita sepertimu menjijikan. jauhkan tangan kotor mu dari tubuhku."
Akbar mendorong kasar Monika hingga dia terbentur sandaran kursi. Akbar berdiri,merapihkan pakaian, mengambil serbet menggosok tempat jejak tangan monika seakan mbuang kotoran.
" Katakan pada bos mu.."
" Pak Akbar, ad apa ini?" Aryo berlari mendatangi mereka.
" Pak Aryo, saya bersedia menunggu anda sembuh bukan untuk dilecehkan oleh sekretaris anda, kalau cara anda begini dalam menjalani bisnis, kita lupakan pembicaraan kita." Akbar memanggil sekretarisnya menunggu di meja lain,m untuk segera meninggalkan tempat.
Aryo berlari menyusul," Pak, mohon maafkan kami, saya tidak tahu apa yang dilakukan oleh sekretaris saya, apapun itu maafkan kami." Akbar langsung berbalik padanya.
" Pak Aryo, kau mengecewakan, kau pikir sekretaris mu itu sangat berdedikasi hingga merayu calon klien untuk mendapatkan investor tanpa perintah anda? dia tidak terlihat demikian, jadi berhenti bertindak konyol dengan melempar semua kesalahan pada sekretaris bo'dohmu itu." Akbar melanjutkan langkah kaki menjauh dari Aryo yang mengamuk di tempat yang dia berdiri.
" Akkh, sial. si Monik sama sekali tidak bermanfaat." ini adalah kegagalan yang ketiganya mendapatkan klien.
Peruntungan bisnisnya berhenti saat Shavara pergi darinya, dia sama sekali tidak memiliki kemampuan negosiasi, berbeda dengan Shavara yang lugas dalam berbicara dan adu pendapat.
Seharusnya dia tidak melepaskan wanita itu, Monika hanya bisa bermanfaat di atas ranjang, namun tidak di lain hal.
__ADS_1
Kalau begini terus perusahaannya yang tengah berkembang bisa kolaps, dia harus mendapatkan Shavara Kembali. harus....