Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
43. Pria Misterius


__ADS_3

" Jadi begitu ceritanya Om, Tan." terang Bhumi mengenai kemarin mengapa mereka tidak bisa pulang, karena mereka terjebak hujan.


" Maaf hujan nyalahin kamu." bathin Shavara.


Bhumi duduk bersisian dengan Shavara, mereka bagai disidang karena tercyduk berbuat mesum.


Di hadapan mereka Anggara duduk tenang dan hanya mengajukan dua pertanyaan mengapa Aryo mendatangi Shavara di kampus, dan bagaimana keadaan putrinya tersebut.


Fena yang bertekad lebih mendekatkan diri dengan putri satu-satunya itu hanya bertanya kemana dia pergi semalaman, itu pun dia bertanya dengan hati-hati agar Shavara tidak tersinggung. menurut Fena itu membuat bathinnya capek.


Segudang pertanyaan pribadi lebih banyak dilontarkan oleh Aditya yang beberapa kali mendapat teguran dari kedua orang tuanya.


Sedangkan Wisnu diam, hanya mengamati. baginya Shavara sudah dewasa dan bisa memutuskan sendiri soal dirinya, walaupun suatu hari nanti amit-amit terjadi hal yang tidak diinginkan dia tahu siapa yang harus bertanggung jawab dan di mana rumahnya.


" Mereka dua orang dewasa gak mungkin semalaman di hotel gak ngapa-ngapain, Ngaku, bapak ngapain aja selama sama teteh saya?" interogasi Aditya kukuh dengan kecurigaannya.


Anggara dan Fena bersikap seolah itu tidak penting, namun kedua telinga mereka dipasang baik-baik.


Bhumi bersikap act cool, Shavara kontan memasang muka biasa walau jantungnya berdetak cepat.


Bhumi melirik Shavara yang menunduk dalam, dia menghela napas berat sambil matanya mendelik tajam pada murid menyebalkannya ini.


" Saya mampu memesan dua kamar bersebelahan, Adit." tekan Bhumi, Shavara menoleh pada Bhumi yang tersenyum kecil padanya, sebelah matanya mengerling genit.


" Tapi kan bapak pelit, kalau nraktir paling banter sekitaran somay, batagor, cilor. mana mungkin mau buka dua kamar."


Semua orang yang mendengar ucapan Aditya memutar mata malas.


" Jangan samakan kamu sama teteh kamu, jangan kan buka kamar, nikahin Shava aja saya mau walaupun punya adik ipar menyebalkan kayak kamu, saya rela." balas Bhumi.


Semuanya tergelak, terutama Anggara yang puas ada orang yang mau meladeni kejulidan anak bungsunya itu. sementara Shavara mendelik sebal pada Bhumi.


" Tuh, teh. ada yang bersedia melamar, teteh siap gak nikah muda?" tanya Fena.


" Belum, Ma. takut kak Bhumi selingkuh."


" Lah, modelan Bhumi mana bisa dia selingkuh, Bhumi suka sama kamu aja sujud syukur Tante Rianti." ujar Wisnu.


" Siapa tahu setelah mengalami rasa suka, kak Bhumi overload puber, terus jadi playboy kayak dua temannya itu. Vara harus nguji itu dulu."


" Dan harus dapet restu aku juga, pak saya gak merestui bapak ya, kalau bapak julid." timpal Aditya.


" Soal kesetiaan, saya gak bisa banyak bicara, tapi saya harap Shava peka terhadap usaha saya membuktikan kalau saya bukan pria brengs'ek. soal restu, yang jadi wali Shava itu om Anggara, jadi restu kamu...." ucap Bhumi menggantung, ah, mempermainkan muridnya yang rese ini memang menyenangkan.


" Apa? gak butuh?" sewot Aditya.


" Sudah, sudah. Bhumi yang waras ngalah." potong Fena.


" Mamaaaa..." rengek Aditya manja, tidak terima dirinya dikatai tidak waras.


" Sadar diri, Dek. sadar!" tekan Anggara jenaka.


" Apa semuanya sudah clear, Om, Tante?"


" Sudah, terima kasih ya tadi mau mengajar si Dugong itu." ucap Fena.


Bhumi tertawa kecil menimpalinya," sama-sama, saya yang berterima kasih kalian tidak keberatan saya membela kehormatan Shava."


" Om, Tan. saya weekend mau minta izin ajak Shava ke reuni SMA, om, Tan." pinta Bhumi.


" Boleh, tapi pulangnya dianter baik-baik, ya." timpal Fena.


" Tentu, Tan."


" Kalian begitu, saya permisi dulu, Om, Tan." Bhumi beranjak ke arah pintu diikuti Shavara dan yang lain.


Kecuali Shavara yang mengikuti Bhumi ke motor, mereka mengantar sampai depan pintu dan langsung masuk ke kamar masing-masing.


Saat tiba di motornya, Bhumi menarik tangan Shavara agar enih mendekat padanya, namun shavara enggan menurutinya.


" Kak, ada mama, papa." Shavara celingak -celinguk takut tertangkap tangan.


" Gak akan, motor aku jauh dari rumah kamu." Bhumi menahan pinggang Shavara agar tubuh mereka saling menempel.


" Tadi kenapa bohong? kamu berani banget bohong di depan mama-papa?"


" Kapan? cantik banget sih kamu." Bhumi membelai wajah Shavara.


" Itu, waktu bilang kamu mesen dua kamar." Shavara menahan tangan di dada Bhumi karena terus meneteskan tubuh mereka lebih menempel.


" Enggak, kalau mau aku memang mampu mesen dua kamar, aku gak bilang aku mesen dua kamar."


Shavara berdecih," terus kenapa gak ngelakuin?"


" Gak lah. mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan tidur bareng kamu, kalau aku mesen dia kamar, masalah kita gak akan terselesaikan, atau saku gak bakalan bisa meluk kamu. Mubadzir dong."


Shavar mumbul dada Bhumi. " Dasar modus."


" Berdekatan sama kamu? wajib itu." Bhumi terkekeh, Shavara mendelik sebal.


Bhumi memperhatikan situasi sekitar," Jangan cemberut, mending sini, aku kangen kamu."


" Apa sih gak jelas. dari tadi kita bersamaan terus ya"


" Aku kangen civm kamu...hmmmhh." setelah mengatakan itu, Bhumi langsung mengecup dan ******* bibir kekasihnya.


Pohon besar dari pekarangan tetangga menyembunyikan diri mereka penglihatan orang jahil.

__ADS_1


Shavara yang semula mengingat situasi namun tidak lama terbuai oleh gerakan lembut dan usapan tangan Bhumi di punggungnya, ia mengalungkan tangan di leher Bhumi.


Mereka memiringkan kepala saling bertolak, Bhumi menarik tubuh itu lebih menempel dari dada hingga bawah mer meja, tangan Shavara lebih mengetat mengalung dilanjut menyusup ke rambut Bhumi.


" Eeemmmhkkh..." gerakan kelapa saling berirama memberi akses pag'utan, lumayan, serta hisapan, tangan Bhumi mengusap punggung Shavara.


Shavara menghentikan civman panas itu, Bhumi dengan mengusap bibir bawah Shavara melepas pag'utan mereka.


Napas mereka saling terengah-engah dengan mata sayu berga'irah." Selalu begini, kalau bersama kamu aku selalu begini. sedari kamu mengakui aku pacar kamu di depan si brengs'ek itu aku sudah ingin ******* habis bibir indah ini." Bhumi mengelus Saliva di bibir Shavara.


" Kakh, pulang. udah malem." bisik Shavara.


" Hmm." Bhumi melepas tubuh Shavara dengan tidak rela.


" Soal tadi maaf ya."


" Ya?"


" Aryo."


" Gak ada masalah." Bhumi menaiki motornya.


" Ku pulang, jangan mikirin soal yang tadi sore."


Shavara mengangguk," masuk gih, udah malem. kamu masuk kau pergi." ujar Bhumi.


" Hati-hati." tukas Shavara seraya berjalan masuk ke dalam rumah.


" Hmm." Bhumi mengangguk di balik helmnya.


Fena keluar dari kamar, ia melihat Aditya berjinjit mencari penglihatan jelas ke arah luar di balik jendela panjang ruang tamu.


" Ngapain, Dek?"


" Ngawasin teteh. tapi gak kelihatan." jawab refleks Aditya yang berhasil membuat bola mata Fena melebar.


" Apa? kamu ngintipin mereka?"


" Enggak, mam. ngawasin." tekan Aditya.


" Ya Rabb,..Papa..anak mu ni kepo bengt jadi orang." adu Fena.


" Shhhh, Mama ih jangan berisik, urusan panjang nantinya." bisik Aditya.


" Bodo.. Papaaa..."


" Ada apa sih, Ma."


" Ini si adek ngintipin tetehnya yang lagi nganter Bhumi pulang."


Aditya tergagap, memutar bola mata gugup." I...itu..."


" Ma, ambil daster mama yang sobek-sobek itu, pakein ke dia, besok suruh dia yang beli sayur supaya bisa ngegibah sama mbak-mbak tetangga." sindir Anggara gemas dengan kelakuan anak bungsunya.


ceklek...


" Ada apa ini ngumpul diruang tamu?" tanah Shavara yang cukup kaget ada papa dan mamanya serta Aditya berdiri memutar di ruang tamu."


" Dia Adek ngintipin kamu, teh." adu Fena.


Shavara menoleh ambil melotot," Gak kelihatan tapi nya." timpal Aditya cepat.


" Aduuhh..pa, mending hukum adek, dia udah ngelanggar peraturan Papa soal aku, aku gak ngerti kenapa dia jadi kepoan begini." Shavara berjalan ke arah tangga meninggalkan Aditya di bawah tatapan sangar Anggara.


" Pa..tenang..Pa..adek bisa jelasin..."


" Kamu cuci mobil-mobil orang rumah selam seminggu." ujar Anggara yang kemudian masuk ke dalam kamar.


" Maaa..." rengek Aditya yang mendapat kedikkan bahu dari Fena.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


" Dek, udah ada kabar dari mas-mu akan mau pulang?" tanah Rianti.


" Udah, tapi aku mampir ke angkringan dulu katanya. kita bilang aja ya, Bu. supaya mas cepat pulang." tawar senja Yaang sedari tadi mengintip ke luar rumah lewat jendela.


" Mobilnya masih ada?"


" Gak kelihatan, Bu. tapi kayaknya masih."


" Tahu dari mana?"


" Mbak-mbak tetangga masih mengintai." sejak nunjuk dengan dagunya mbak tetangga mengintip seperti dirinya.


" Lama kelamaan ibu takut, dek."


" Enja telpon om Fathan aja kali ya, Bu?"


" Jangan, om-mu capek bulak balik Bandung-Jakarta."


" Terus gimana dong, Bu?"


" Telpon Bian, suruh dia cepat pulang. sekolah kok pulangnya malem mulu." dumel Rianti.


" Oke, lah." dengan semangat senja menelpon Bian.


" Hallo?"

__ADS_1


" Kak Bian, disuruh ibu cepat pulang, mobil yang kemarin ada lagi, ibu jadi ketakutan." lapor Senja to the point.


ada jeda di sana untuk waktu yang lama, sampai Senja melihat apa sambungannya putus, tapi ternyata tidak.


" Halo, ka?"


" Iya, ini langsung pulang. kunci semua pintu, jangan dibuka kalau bukan aku atau bang Bhumi." ucap Bian tergesa-gesa


" Iya, cepetan."


" Iya, bawel ini juga udah aktif ke motor. kamu tutup semua akses masuk rumah. aku tutup ya."


Setelah menutup telpon, Senja bergegas melakukan perintah Bian. saat menutup pintu depan, senja bisa melihat mobil mewah metalik.


" Masih ada, Bu." bisik Senja.


Tok...tok...


Mer KA berdua saling pandang sebelum mendekati pintu, jantung berdetak kencang.


" Siapa?"


" Bian."


Senja buru-buru membuka pintu, bukan langsung kena cecar Rianti kenapa pulang malem.


" Giliran aku jaga angkringan, Bu. ini juga aku pulang duluan." ternag Bian.


" Cepat kamu bersih-bersih." titah Rianti.


¥¥¥¥¥¥¥


" Pak, tadi tuan muda..."


" Shhtt,... jangan berisik. saya masih punya mata yang bisa lihat sendiri." potong si penumpang.


Dari samping mereka bisa melihat Bhumi yang pulang, tatapan sang sopir bertemu dengan tatapan dingin Bhumi, sangsi opor langsung membuang muka dan langsung sibuk dengan ponselnya.


" Ja... buka. ini mas." Bhumi mengetok pintu yang dikunci dari dalam.


Senja membuka pintu, dia langsung menarik Bhumi masuk.


" Masuk, mas. ada pengintai, mas." jelas Senja.


" Maksudnya?" Bhumi mencium tangan ibunya.


" Kata tetangga udah dua hari ini ada mobil mewah yang dicurigai sebagai penguntit, mas."


" Kok gak bilang Bhumi, Bu." Bhumi duduk di sofa ruang tamu.


" Kamu lagi sibuk nyari Vara. ibu tadi udah maksa Bian suruh pulang." jelas Rianti.


" Bagus, itu gunanya punya anak lelaki dua."


" Baru pulang, bang." soal Bian menyalami dirinya.


" Hmm, kamu sendiri kenapa baru pulang?"


" Giliran aku jaga angkringan. bang, kita samperin mobil yang katanya penguntit itu, yuk." ajak Bian.


" Jangan ngada-ngada, kalau dia bawa senjata tajam gimana?" tolak Senja.


" Ya kita jaga-jaga pake senjata juga, Ja. dari pada kalian dibawah ketakutan terus." kukuh Bian.


" Ya udah, kamu ambil pisau dapur."


" Hah? kok pisau dapur?" elak Bian.


" Terus apa? tombak, cerulit? yang ada kita yang diusir, Bian."


" Tahu kak Bian, udah Baisa tawuran sih. murid apaan itu." cemooh Senja.


" Cepat ambil, sana."


dengan ogah-ogahan Bian mengambil pisau dari dapur, bersama Bhumi mereka berdua keluar rumah.


" Kamu di sini, aja. jangan keluar rumah." peringatan Bhumi.


"Iya." jawab Senja cemberut, kan dia juga pengen lihat gelut.


Dari dalam rumah, sambil mengigit kuku, Senja mengintip ke luar, dimana Bhumi dan Bian membuka pintu pagar.


Mereka berjalan ke arah mobil sesuai petunjuk Senja yang terparkir berjarak dua rumah dari rumah Rianti.


" Tuan, mereka kemari." beritahu sang sopir.


" Jalan."


berjarak beberapa langkah, mobil tersebut melaju di depan mereka, " Woy, jangan pergi, Lo, Penguntit." teriak Bian.


" Sudah, jangan teriak. tetangga nanti pada keluar." ucap Bhumi.


" Kita kalah cepat." gerutu Bian.


" Enggak, memang mereka gak mau disamperin. kamu tahu siapa mereka?" tanya Bhumi.


Bian menggeleng," Kita minta cctv tetangga, terus cari siap pemilik mobil mercy itu." ucap Bhumi sambil merenung...

__ADS_1


__ADS_2