Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
39. Panas di tengah Dingin.


__ADS_3

Ting....


Pintu lift terbuka, tubuh mereka menjauh berdiri berdampingan


namun masih menempel dengan napas tersengal-sengal.


" Kakh..." suara berat Shavara yang terkesan mendesah membuat tubuh Bhumi menggelenyar ingin merasakan kenikmatan yang belum seharusnya.


Ia genggam tangan gadisnya dengan erat mencoba menetralkan napasnya, berusaha melenyapkan bayang nikmat tubuh mungil itu.


Saat pintu lift hendak menutup kembali, Bhumi menekan tombol buka, menarik lembut Shavara untuk keluar.


Kaki Bhumi melangkah lebar membuat shavara berjalan tertinggal beberapa langkah dan harus setengah berlari mengikutinya." Kakh..."


Suara itu membuatnya menggila, ia mengeraskan rahangnya." Kakh, jalannya jangan cepat-cepat."


Bhumi berhenti, berbalik, lalu menggendong Shavara ala bridal.


" Aaa....kak..." Shavara membelalak kaget, celingak-celinguk takut ada orang orang yang lihat, namun ternyata hanya ada mereka berdua di lorong ini.


"Hup...." Bhumi kesulitan menempelkan kartu akses.


" Turunin, aku berat...kyaaa...."


Mata Shavara makin melebar, saat merasa belahan dadanya dikecup bibir Bhumi.


Bhumi merubah gendongannya menjadi ala koala.


" Kakh..."


Cup.....


Shavara menutup bibirnya yang dikecup cepat Bhumi.


Ceklek...


Bhumi mendorong pintu sembari menekan tubuh Shavara masuk.


Klik....


Bhumi langsung menyerobot mencivm Shavara membibuta mendesak tubuh mereka ke tembok.


" Aakkh....aaakmhh...hmmmm... aahhhhh...."


Shavara menjambak dan mengacak-acak rambut Bhumi seiring permainan bibir Bhumi di lehernya begitu melepas bibirnya.


" Aaaakkk..hhh..kakhh....aaahh..."


Shavara mengalungkan kaki di pinggang Bhumi menekan kepadanya, satu kaki Bhumi menyangga bo-kong Shavara aga tangannya bisa leluasa menggerayangi punggung dan sisi tubuh gadisnya.


" Shava...aaakkhhh...Shava...rasakan ini..."


Bhumi menekan bagian bawahnya ke bagian intim Shavara.


" Aah...kakh..." kedua tangan Shavara menekan kepala Bhumi agar tetap memanjakan lehernya ketika rasa menggelenyar menyerang tubuhnya.


tanya Bhumi berpindah ke depan, mengelus perut rata, merambat naik ke belahan da-da menekan bagian kenyal yang tersentuh.


merangsang bukit indah itu yang disusul bibirnya yang menyentuh bagian itu.


"Kakh...."


PRAKHH....


Semua kancing kemeja Shavara terlepas dari lobangnya karena tangan besar itu merobek dan menyingkirkannya.


Kepala Shavara oleng karena pening, apalagi saat bibir basah itu mengantikan tangan menelusup di belahan da-danya.


Kini tangan itu sibuk mere-mas bok0ng, Shavara makin tidak karuan, Bhumi makin tidak terkontrol.

__ADS_1


" Saa...yanghh...aaahhhh... hmmphmmhh" Bhumi mengigit bibir bawahnya kala menghentakkan bagian bawahnya ke vital Shavara.


" Aaaaah..."


Bhumi mencivm rakut bibir yang sedari tadi mengeluarkan suara indah itu, melepas sepatu shavara dan sepatunya mengangkat bo-kong itu membawanya melintasi ruang tamu menuju kamar.


menjatuhkan kedua tubuh mereka dengan tangan menyangga tubuh Shavara tanpa melepaskan pagu-tannya yang dengan lidah saling beradu dan melilit.


Tangan Shavara mencengkram kuat kepala Bhumi, tangan Bhumi berabai seluruh tubuh itu kecuali da-da yang terkadang sesekali disenggolnya.


namun akhirnya tangan itu sudah tidak bisa lagi menahan, akhirnya ia re'mas juga bukit lembut nan kenyal itu melahirkan ******* gairah dari keduanya.


" Aaahhh.... Eeehkhh..sshhh." desah Shavara dengan bibir setengah terbuka saat tangan itu semakin berani untuk menyentuh puncak bukit itu.


Matanya sudah buram sayu, ia sangat menikmati hal baru ini. Bhumi menjauhkan wajah saat tangannya mengusap-usap pucuk bukit itu di balik pembungkusnya yang menyembulkan daging kenyal itu, ia memperhatikan wajah bergairah itu dengan bangga.


Bhumi berdiri di atas kedua lutut, membuka kasar kemeja dan kaos oblongnya melemparnya ke sembarang tempat, melepas gesper yang senasib sama dengan pakaiannya, membuka pengait celana, memegang pegangan resleting, menatap bimbang gadisnya yang bernapas terangah-engah, kemudian membatalkan niatnya.


Ia menurunkan tubuhnya, menyentuhkan dua kulit tanpa penghalang itu. menggesek tubuh keras miliknya dengan tubuh lembut itu. Bhumi mengigit bibir bawahnya saat gairahnya menahan kembali.


Mendekatkan dan memiringkan wajahnya ke wajah Shavara, mengecup, menjilat, mecvm lalu memagutnya, menyedot, menghisap dan meluncurkan lifahnay bermain silat dengan lidah Shavara yang telah menunggunya.


" Hmmphh...sshh..... hhhmmmhhhh..."


Tubuh mereka bergerak seirama mencari kepuasan melepas bira'hinya saling menarik menekan, dan memuaskan.


Himpitan kaki Shavara yang emngkung pinggangnya merangsang Bhumi menekan vitalnya yang mengeras ke vital Shavara.


Shavara merasakan gelenyar hangat di pusat selang'kangan, benda keras itu semakin menekan miliknya yang dibalik pembungkus rendanya telah terbuka.


" Aaakh....hmmmhh..ssshhh....aaaahhhh..."


Gelegar...Duuuaaarrrrr.....


Suara petir menghentikan kegilaan mereka, wajah mereka menjauh sejengkal, melihat ke luar jendela yang masih terbuka.


Kesadaran menghampiri Shavara terlebih dahulu, ia terkejut dengan posisi Bhumi yang begitu dekat di atasnya memandangnya dengan sorot gairah menyala-nyala.


Sambil saling menatap Bhumi menekan dan menggoyangkan miliknya yang keras ke milik Shavara dengan diirnaud yang mengigit bibir bawahnya, Shavara membelalak tubuhnya bergetar antara gelenyar hangat dan takut, ia mendorong tubuh yang malah semakin menekan padanya.


" Aahhh, sayanghh..."


"Kakh...ayah...kakhh...."


" Aaaaaaaahhhhh...Shavaaaa...." erangnyanay saat ia mencapai kenikmatan yang menggelora.


Bhumi menjauh lalu menjatuhkan diri di samping Shavara dengan napas terengah-engah.


Ia lantas bangun, dan pergi ke kamar mandi. di sana Shavara mendengar de'sahan yang disusul er'angan panjang sambil memanggil namanya penuh pujaan," Shavaaa....sayanghh..ya.....aaaaahhhhhh...cantikhh.."


Shavara yang mendengar seluruh tubuhnya terang'sang bergairah, ia menutup kakinya rapat karena desiran aneh dari cairan hangat di vitalnya yang basah, dan barulah dia tahu akali diirnaud bertelanjang dada, semakin syok lah dia. tubuhnya berkeringat di tengah hujan deras dari luar jendela.


Shavara menutup tubuh dan dirinya dengan dengan bantal karena malu, matanya terpajang merutuki diri yang tidak bisa menjaga kehormatan.


Cklek...


Bhumi keluar dengan handuk putih melilit pinggang, badan yang masih tersisa air, dan rambut basah yang dikeringkan handuk kecil. siapapun yang melihat pasti menafsirkan bahwa dirinya sehabis olahraga malam.


" Sayang,... bersih-bersih yuk." kata Bhumi memperhatikan dirinya yang tenggelam di kasur.


Tidak mendapat respons Ari kekasihnya, Bhumi mendekat, duduk di pinggiran kasur," Sayang..bangun bersih-bersih dulu baru tidur."


" Jauh..jauh.. sana." ucap Shavara teredam bantal.


" Kenapa? jangan mulai menjauh setelah apa yang kita lakukan, Shava."


Bantal disingkirkan Shavara," memang kita udah ngelakuin apa? kita gak ngelakuin apa-apa ya."


alis Bhumi terangkat satu," kamu gak pake baju lho, sayang. kamu tahu dimana baju kamu?" sindir Bhumi.

__ADS_1


Sontak wajah Shavara memerah, ia nekat bangun dan berlari ke kamar mandi.


" Wow, so sexy..." goda Bhumi sambil menyeringai.


" KAKAK..."


Brakh...


" Astaga.. tenaganya..." Bhumi mengusap dadanya.


Bhumi melirik ke ponsel lalu ke pintu kamar mandi, 20 menit sudah Shavara di dalam sana.


Khawatir dengan kekasihnya, Bhumi beranjak ke pintu.


tok...tok....


" Sayang, lama amat."


" Gak ada baju." balas Shavara.


" Emang bajunya kemana?"


" Kakak..."


Bhumi terkekeh dengan nada jengkel Shavara.


" Maaf, aku beli dulu ke bawah ya."


" Sayang..."


" Apa?"


" Berapa nomor daleman kamu?"


Hening,...


" Sayang..."


" Kakak, berhenti ngomong itu. cepetan beliin."


" Iya ini aku mau beliin, kamu gak agnti Daleman?"


" Kakak..."


" Sayang, aku gak maksud apa-apa,tapi Daleman kamu pasti basah kan, aku ngerasain Lo kamu tadi udah basah."


" Ya tuhan."


Pintu dibuka sedikit, Shavara melempar br'a-nya yang cukup membuat Bhumi syok, namun sedetik berikutnya dia tersenyum geli.


" Sayang aku abwa ke dukun ya supaya kamu gak pergi."


" Kakak, aku kedinginan ini."


" Yang bawahannya mana? kan yang basah yang bawahannya bukan atasannya, sayang."


Dari dalam gerutuan Shavara yang disengaja diperbesar suaranya yang satunya tertuju untuk Bhumi yang mesum.


Bhumi tergelak, dia hanya mengenakan kaos oblong hitam dan celana bahan yang dikenakan sedari pagi turun ke lobby menuju pertokoan yang ujar 24 jam.


Shavara mengenakan bathrobe berdiri di depan dinding kaca terhanyut memperhatikan hujan yang masih turun dera.


Tidak menyadari Bhumi yang masuk, menyimpan paper bag yang berisi pakaian di atas sofa, membuka kaos dan mendekatinya.


Shavara terlonjak ada yang memeluknya dan mencium bahunya yang telanjang dari belakang." Lagi mikirin apa, hemm?"


Shavara berputar menghadapnya, ia berdecak mendapati Bhumi yang bertelanjang dada." kak, kita harus bicara." ucapnya, seraya tangannya mengusap lengan atas Bhumi yang berotot...


Mimik serius Shavara, memaksa Bhumi untuk waspada." Ya tuhan, kenapa satu makhluk cantik ini sangat mempengaruhi moodku." batin Bhumi tidak mengerti...

__ADS_1


__ADS_2