
" Pagi, Bu." sapa Bhumi melenggang menghampiri ibunya, lalu mengecup pipi wanita paruh baya tersebut.
" Pagi, tumben pagi-pagi sudah rapih mau kemana?" Rianti memerhatikan penampilan Bhumi dari atas sampai bawah.
" Mau ke rumah Shava. Bu, aku pesan enam bungkus nasi uduk komplit ya." ujar Bhumi, ia duduk di meja makan, melahap sarapannya.
Rianti menganggu, ia mengambil styrofom." Buat nyogok calon mertua?"
Bhumi terkekeh, " Bukan nyogok, cuma mempermudah."
" Ck, sama saja." Bhumi terkekeh.
" Ibu senang hubungan kalian masih berlanjut, beneran kamu sial Vara? jangan mempermainkan dia, Bhum."
" Mana ada, aku beneran suka Shava, Bu. aku bukan typikal orang yang mau menghabiskan waktu dengan seseorang yang gak penting."
" Ibu senang dengernya, jangan lama-lama pacarannya gak baik."
" Iya, nunggu dia sembuh dari trauma dikhianati, Bu."
" Oh, iya,ya. dia punya kisah itu ya. sabar ya, nduk."
" Pasti, Bu."
" Ini uduknya." rianti menyerahkan dia kantong plastik ke adapun Bhumi.
" Aku bantu bawain ke depan."
" Udah pergi, sana. ada Bian yang bantu-bantu ibu."
" Ini uangnya, makasih ya." Bhumi menaruh tiga lembar seratus ribuan.
" Banyak amat, gak usah bayar padahal."
" Ini bisnis, Bu."
" Kebanyakan."
" Gak apa-apa, udah langganan ini. Bhumi pamit dulu, Bu." Bhumi mencium punggung tangan Rianti.
" Assalamualaikum."
" Wa'alaykumsalam. hati-hati, Nak."
" Enggih."
Bhumi mengeluarkan motor RX-King nya dari garasi, begitu sampai di pagar rumah, dia melihat mobil Avanza putih kelautan terbaru yang terparkir di tempat semalam yang sangat mencurigakan.
Ia turun dari motor, berjalan hendak menghampiri," Ad apa, Bhum?' tanya Rianti berdiri tidak jauh dari motor Bhumi.
" Ibu, diam di sana dulu, jangan bawa dagangannya." ujar Bhumi sebagian dikeraskan suaranya agr mendapat perhatian dari warga yang sudah menunggu di meja dagangan Rianti.
Sontak rianti berhenti melangkah, ia khawatir, namun saat Bhumi hendak sampai mobil tersebut melaju pergi melewati Bhumi seperti semalam.
Di belakanganya Bian berlari kearahnya," Lihat orangnya gak, bang." tanah Bian terengah-engah.
Bhumi menggeleng," Enggak, sengaja juga tadi saya teriak, nanti saja kalau mau jebak dia."
Bhumi berjalan kembali ke arah motor," Hari ini sampai malam saya sibuk, kamu jaga ibu, ya." Pintanya pada Bian.
" Sebenarnya hari ini mau nongkrong, ajak teman-teman kemari aja ya."
" Terserah, yang pasti ibu sama Enja aman. saya pergi dulu." Bhumi menutup kaca helm, lalu melakukan motornya.
" Gimana, Yan? siapa orangnya?" tanya Rianti.
" Keburu kabur, Bu. Bian bawain dagangan ibu dulu ya."
" Kok lama kelamaan ibu takut ya, Yan. orang itu bukan ngawasin kita kan, Yan?" tanya Rianti cemas.
" Bukan, memang ibu punya pengagum rahasia?"
" Enggak, amit-amit deh."
Bian terkekeh, sambil mengambil baskom berisi telor balado dari pegangan Rianti.
❤️❤️❤️❤️❤️
Blam....
Desty melihat ke arah pintu yang ditutup Edo," Dari mana, Mas?"
" Gak dari mana-mana." jawab Edo datar, ia mengambil duduk di kepala meja.
helaan napas terdengar diperkeras dari Desty, "Mas, kamu sedang dalam masalah? tiga hari. ini setiap ibu kamu pasti sudah keluar rumah, aku khawatir."
" Ini lagi si Bian, kemana deh, masih pagi kok sudah enggak da di kamar padahal hari Sabtu." Gerutu Desty.
Edo menjeda menyantap makanannya," Kamu gak tahu kalau hampir seminggu ini Bian tidak pulang? ngapain aja kamu di rumah? kamu sibuk apa? perasaan sejak kamu menikah dengan saya kamu tidak bekerja karena ingin mendedikasikan diri mengurus keluarga." cecar Edo dengan mata khas Italia-nya.
Desty seketika gelagapan, ia berusaha mencari alasan," Bu..bukan aku gak tahu, Mas. cuma aku bingung, kenapa ia tidak pulang."
" Itu urusan kamu, masa ngurus satu anak saja kamu tidak mampu."
" Kok, mas nyalahin aku?" protes Desty tidka terima dituduh sebagai tersalah.
" Terus aku harus minta pertanggung jawaban siapa soal Bian?" si mbak-mbak di rumah? kan kamu juga seharian di rumah. itu sudah komitmen kamu lho." tuding Edo.
" Aku gak mau tahu, kamu harus cari Bian diaman dia berada hampir seminggu ini, dia bukan anak yang tidak punya keluarga." ultimatum Edo.
" Hari ini aku ada meeting di Bandung, aku pulang, sudah ahrus ada Bian di rumah."
Desty cuma bisa mengangguk, si tidka berani membantah lagi. jelas suaminya sedang dalam mode serius.
❤️❤️❤️❤️❤️
" Selamat pagi, Tan." sapa Bhumi sambil menampilkan senyum yang terbaik.
Fena menelisik penampilan Bhumi dengan kaos polo abu-abu dipadupadankan navy," Pagi, tumben masih pagi sudah datang..aaahh, pantes Vara sabtu pagi udah cantik ternyata mau pergi sama kamu toh."
" Kan saya udah izin Sam Tante waktu itu mau ngajak Shava pergi."
" Reuninya nanti malam kan?"
"Sekarang mau beli baju baut Shava, Tan.
" Ma, ngobrol sama siapa?" tanya Anggara dari dalam rumah.
" Oh ini, Bhumi. mau jemput Vara."
" Ajak masuk orangnya, Ma. memang kalian penjaga pintu surga?" ledek Anggara.
" Ck, iya, iya."
" Ini, Tan. nasi uduk jualan ibu, enak lho, Tan." Bhumi menyodorkan dua bungkus plastik.
" Waaahh... senangnya. kalau buatan ibu kamu gak usah diragukan. itu lah Kenap saya ngajak dia bisnis dari pada galau mulu soal papa kamu."
Bhumi mengangguk," terima kasih sudah bantu ibu dari keterpurukannya, Tan." ucap Bhumi tulus.
" Jangan sungkan, kit agak udah bahas hal yang tidak menyenangkan itu, ayok masuk sebelum om Anggara kemari."
" Iya, Tan. makasih."
" Var, ini Bhumi udah datang lho bawa nasi uduk." Fena membawa Bhumi ke ruang makan.
Di sana sudah ada Wisnu yang menyesap kopinya dan Aditya yang duduk lesu di kursinya.
__ADS_1
" Kenapa kamu, Dit?" Bhumi menepuk bahu Aditya.
Bhumi berjalan ke seberang, duduk di samping kursi Shavara.
" Selamat main game sampai jam tiga pagi. si Abjan kelakuannya nyebelin, dia bilang lagi ngeronda tapi ngajak main ML."
" Kenapa kamu mau?" tanya Wisnu.
" Kan solidaritas, A."
"Cih, bullshit. aman ada solidaritas dalam game ML, bahasa yang dipake toxic semua." cibir Wisnu.
" toxic itu, ngomong kasar ya, A?" tanya Fena.
Wisnu mengangguk," Iya, kedengaran sampe ke kamar Aa, ma."
"Adek, jangan ngomong kasar." omel Rianti.
" Kok Aa jadi bawel gini siih, ishh nyebelin."
" Biarin."
"Siapa yang ngomong kasar?"tanya Anggara memasuki ruang makan.
" Adek." adu Shavara.
"Teteh tukang ngadu." tuding Aditya.
" Dih, siap yang ngadu, cuma jawab pertanyaan papa."
"Mamaaa..." rengek Aditya pada Fena.
" Gak malu sama umur, udah kelas 12 masih ngerengek sama mama." ledek Wisnu.
" Mamaaa...adek diserang dua orang." adu Aditya.
"Dih, fitnah. dia yang nyerang, dia yang adalah, dia yang merengek..huhuhuuui..." Shavara menyoraki Aditya yang semakin merengek pada Fena.
Puk...
Bhumi menepuk paha Shavara," udah, kamu belum siap-siap?" tanya Bhumi.
"Udah mandi tapinya. kamu udah sarapan?" tanya balik Shavara.
" Udah."
"Vara, batin bhumi minuman, tawarin mau kopi atau teh hangat." ucap Anggara.
"Kopi, kalau gak ngerepotin."
"Enggak kok." Shavara beranjak ke dapur membuat kopi.
Selama sarapan Bhumi lebih banyak diam memperhatikan Shavara yang kepedesan karena sambalnya. ia mencoba tenang dan terkadang menimpali obrolan Anggara dan Wisnu.
¥¥¥¥¥¥¥¥
" Kamu senang amat godain Adit." kini mereka duduk di atas motor sambil menunggu lampu merah.
" Dia semalam ngintipin kita." timpa Shavara.
" Hah?" Bhumi menoleh agak ke belakang dengan tangan memainkan jemari Shavara yang memeluk pinggangnya.
" Kata Mama, semalam Adit coba ngintipin kita, tapi kayaknya gak kelihatan." pelukan Shavara lebih mengetat karena Bhumi semakin menarik tangan Shavara.
" Memang ha kemudian satu itu, kenapa gak bilang tadi, aku ikut nimbrung goda dia."
Tin..tin...
Bhumi melepas tangan Shavara, ia melajukan motornya. tidak lama mereka tiba di mall.
" Mau nyari baju kayak gimana?" tanya Bhumi.
" Disesuaikan sama kakak aja. kakak pake baju apa?"
"Kemungkinan kemeja abu-abu sama jas hitam."
" Suram amat, Om."
" Sengaja, Om..kok aku berasa sugar Daddy ya? tapi kalau kamu yang jadi sugar baby-nya, aku sih oke." bisik Bhumi menggoda.
" Kak..geliii..." Shavara menjauhkan badan Bhumi yang merapat padanya. ia salah tingkah akan suara berat Bhumi.
" Kak, kita masuk sana dulu yuk, ada yang bagus tuh." Shavara menarik Bhumi ke salah satu toko yang menjual dress malam.
Mereka berkeliling dengan Bhumi etika membuntuti Shavara yang melihat setipa gaun yang menarik matanya.
" Sayang, yang ini aja gimana?" Bhumi memegang gaun sexy berwarna merah dengan tali spageti berleher rendah dengan belahan bawah panjang sepaha.
"Gak mau, emang gak apa-apa aku kelihatan banget gitu?"
"Gak di depan mereka tapi di depan aku aja."
" Kak, fokus. kita lagi nyari gaun buat reuni." Shavara mulai kehabisan kesabaran akan tingkah Bhumi yang sedari tadi mengambil dress sexy.
"Oh iya, reuni. aku lupa soal itu. Habis pakaian mereka bikin otak aku jalan-jalan kemana-mana. " Bhumi menepuk pelan kepalanya.
"Kita keluar dari sini." Shavara memaksa keluar dari toko.
" Kok? Kita belum lihat semua koleksi mereka, sayang." Bhumi menarik lembut Shavara, tangannya bertengger di pinggang Shavara. ia memeluk dari belakang.
"Kak..ada orang." Shavara menepuk-nepuk tangan Bhumi yang menguap perutnya.
"Gak kelihatan, kita di bagian belakang, cinta." Bhumi menghirup wangi rambut Shavara.
" Kamu wangi." Bisik Bhumi serak.
"Baru mandi." jawab Shavara membalas dengan bisikan, ia mulai terbuai akan sentuhan tangan Bhumi.
" Kak,..." suara Shavara tercekat saat tangan panjang dan besar itu berada tepat di bawah da-danya.
" Ku coba yang ini." Bhumi menarik asal gaun selutut, ia membawa Shavara ke kamar pas.
Setelah memastikan tidak ada orang yang menaruh curiga, Bhumi menyusul Shavara masuk ke bilik.
" Kak..." Kata Shavara yang dipojokkan ke dinding bilik.
Hmmphh..
Bhumi mencivm dan melu-mat dalam bibir ranum Shavara. ia megang tengkuk gadisnya mengerjakan sesuai irama gerakan bi-birnya.
Tubuhnya menghimpit tubuh kecil Shavara tanya setengah terpejam, lalau memejam menikmati sensasi penguatan dia bi'bir yang saling menghisap.
Tangan Shavara merayap menyusuri punggung tegap itu, yang semakin membuat Bhumi menggila.
Hmmmhh..hmmmh...
" Aaahhh... kakh..aaahhh..." tangan Shavara meremas kaos di balik jaket yang dikenakan Bhumi saat bibir Bhumi turun ke lehernya.
" Sayang,...kamu sangat manis...aku sangat suka...aaahhh.." Bhumi kembali mencivm bibir mungil itu.
"Kakh.."
"Sebentar lagi..aaahh..bentar lagi." ucapnya tidak jelas disela his'apan bi-birnya.
" Sayanghh..rasakan aku..." Bhumi menempelkan tubuhnya ke tubuh Shavara.
"Aaahhh...kakh.." erang Shavara saat Bhumi menggoyangkan tubuhnya.
__ADS_1
cup...cup...
Dua kecupan lembut dari Bhumi mengakhiri aksi gila mereka, kening mereka saling beradu dengan bibir terbuka kecil guna mengeluarkan napas mereka yang memburu.
"Kakh, Kenapa selalu begini?" tanya Shavara, dengan mata sayu yang memancing Bhumi ingin melahap Shavara, apalagi bibir bengkak itu.
" Itulah aku bilang sebaiknya kita menikah sayang. kita terlalu panas, daya tarik diantara kita begitu kuat." Bhumi mengusap membingkai wajah Shavara.
" Ah, kepal aku pening."
" Minta dipuaskan sayang? hmm? kita open kamar?" tawar Bhumi.
Shavara menggeleng," Aku..aaahhh..jangan ditempel ke aku." protes Shavara saat Bhumi menggoyangkan pinggulnya.
Bhumi tersenyum bangga, bukan hanya dirinya yang bergairah.
" Kit ahrus segera keluar dari sini, sebelum kita kebablasan." Shavara mendorong Bhumi.
" Kamu belum milih bajunya."
" Terserah kakak."
Mereka bergegas keluar dari bilik, Bhumi membayar gaun yang dia pegang tanpa melihat modelnya.
Satu paperbag di tangan setelah satu jam keliling toko itu," Shavara menghampiri Bhumi yang berdiri di depan toko.
" Udah bayar?"
" Udah."
" Kok gitu? aku dikasih kartu sama papa buat bayar pengeluaran aku."
" Sayang, aku gak suka kamu perhitungan." Bhumi menggenggam tangan Shavara.
"Tapi aku gak suka dibayarin."
"Kamu bisa ganti beliin aku sesuatu."
" Kakak bilang ya mau dibeliin apa?"
"Hmm. kita cari tempat buat istirahat dulu ya. tenggorokan aku seret."
"Iya."
Mereka bersantai di coffee shop depan toko aksesoris dan deretan toko lainnya.
" Kak, aku ke toko aksesoris dulu ya."
" Iya, aku nunggu di sini ya."
Ketika Shavara pergi, Bhumi pun beranjak ke toko sebelahnya." Mas saya titip table ya, mau ke sana sebentar." ucap Bhumi pada pelayan.
" Baik, Mas."
Bhumi memasuki toko perhiasan, ia memperhatikan satu persatu cincin secara seksama.
" Dewa..." panggil Kinan sumringah.
Bhumi berbalik, namun berdiam to tempat, Maka Kinan lah yang menghampirinya.
" Aku tahu itu pasti kamu. aku masih hafal bentuk tubuh kamu."
" Hmm."
" Tumben kamu nyasar ke mall, bersama siapa?"
Bhumi tidak menggubrisnya, ia terus memperhatikan perhiasan di dalam etalase. respect Bhumi pada Kinan telah hilang sejak kejadian di Warungkita.
" Dewa, aku ngomong sama kamu loh." sentak Kinan tidak suka dicueki.
" Kinan, gue di sini bukan untuk bercengkerama sama Lo, tapi memang mau beli perhiasan. Lo ganggu gue."
" Alah gaya beli perhiasan, baut siapa? ibu kamu? atau buat aku?" pemikiran itu membuat Kinan senang.
" Lo gila ya? ngelindur Lo." ucapan kasar Bhumi membuat Kinan bersemburat malu, pasalnya pelayan toko mndengar perkataan tersebut.
" Mbak, tolong bungkus dua set perhiasan ini ya." tunjuk Bhumi pada dua set perhiasan berlapis berlian berbeda warna yang diletakkan di bagian khusus etalase terpisah.
Yang satu bertahta berlian berwarna biru dengan model rumit, yang satunya berwarna pink, warna langka dari berlian dengan model simpel.
Bhumi mengeluarkan kartu hitam dari dompetnya yang tidak terlepas dari tangkapan mata Kinan dan pelayan.
Mata pelayan bersinar, memikirkan bonus yang akan dia terima dari penjualan perhiasan dengan jarah fantastis tersebut, sementara Kinan terbelalak tidak percaya.
" Wa, kamu jangan sembarang nunjuk, itu mahal banget tahu."
"Gue lihat bandrolnya, Kinan. bisa Lo pergi."
"Ini buat siapa? sampe kamu rela ngeluarin uang sebanyak itu?"
"Bukan urusan Lo."
" Itu urusan aku, aku gak mau kamu diporotin cewek matre. kamu pasti sudah payah baut nabung, aku peduli sama kamu."
" Kinan, gak semua cewek kayak Lo." tekan Bhumi tajam.
" Maksud kamu?"
"Lo pikir gue gak sadar kenal dulu Lo selingkuh, Lo beralasan gue agak perhatian, tapi gue tahu itu karena gue gak bisa beliin Lo barang mewah seperti selingkuhan Lo. Lo pikir mata gue gak bisa lihat barang branded yang Lo pake? keluarga lo memang berduit tapi gak sampe mampu beliin Lo kemewahan tersebut."
" Dari mana kesimpulan jahat kamu itu?" tanah Kinan tercekat. ia sakit hati akan tuduhan itu, perasaannya pada Bhumi saat itu sangat tulus hingga bisa menerima kekurangan Bhumi yang satu itu.
" Dari Adnan, dia kewalahan diporotin Lo." tembak Bhumi telak.
Wajah Kinan memucat, ia mundur beberapa langkah." dia cerita sama kamu?"
" Dan seharusnya Lo cukup tahu diri, Lo bukan pacar dia, Kinan. sekarang Lo pergi." ucap Bhumi tegas.
" Kasih tahu aku untuk siapa perhiasan tersebut."
"Calon istri gue."
Tiga kata itu mampu mengambil oksigen Kinan, ia menggeleng tidak percaya." Ca..calon..is..tri?" tanyanya tercekat.
" Tidak..tidka mungkin kamu punya calon istri, kamu menyukai aku, Dewa. aku satu-satunya perempuan yang bisa mengetuk hati kamu." sontak Kinan mengudang perhatian pengunjung dan pelayan lain.
Air mata mengalir di pipinya," Dewa, aku salah telah mengkhianati kami, tapi aku menyesal. aku kembali karena ingin memulai dari awal bersama kamu." Kinan mendekat, tangannya terulur ingin menjangkau Bhumi namun Bhumi mundur menolak.
" Kinan, Lo terlalu banyak nonton drama korea atau sinetron, bagi gue kisah asmara masa SMA hanya cerita cinta monyet yang gak perlu dianggap serius." tatapan Bhumi langsung ke manik Kinan.
" Gue gak pernah galau Lo selingkuhin, karena gue memang gak sakit hati. Lo lihat sendiri betapa biasanya gue setelah kita putus, karena gue gak sesuka itu sama Lo."
" Dewa, stop. kata-kata itu sangat kejam. kamu gak mungkin menapik perasaan kamu dulu ke aku."
"Enggak, gue gak menampik, tapi Lo Inget-inget kembali, apa gue pernah dalam fase galau karena pengkhianatan Lo itu? pikir sama Lo. sekarang jangan ganggu gue. pergi!"
Kinan terduduk lesu di bangku pelanggan. matanya menatap kosong lantai toko perhiasan mewah tersebut.
"Mas, maaf. ini kartunya, dan ini bukti pembayarannya ya. Segal sertifikat dan gak kepemilikan serta garansi ada di dalam masing-masing tas.
"Terima kasih, mbak."
Sebelum Bhumi berbalik keluar toko, Shavara yang berdiri di depan toko sejak lima menit yang lalu buru-buru berlari ke coffee shop yang tadi.
Awalnya Shavara berniat mengagetkan Bhumi namun langkahnya terhenti saat mendengar suara perempuan yang dia temui di Warungkita menyebut nama Dewa.
Dia duduk anteng, dengan tatapan merenung akan obrolan dua mantan tersebut.
__ADS_1
Shavara menghela napas gusar, ia tidak tega dengan air mata dari Kinan, dia bisa melihat bayangan luka di mata itu, sorot cinta dan rindu terpatri jelas di manik coklat tersebut.
" Aku harus bagaimana?" gumamnya, sebagai seseorang yang tahu pasti arti patah hati, Shavara jelas tidak ingin menjadi pihak yang menyakiti, namun hatinya yang sudah terpaut pada Bhumi sulit melepas lelaki baik tersebut...