Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
70.


__ADS_3

" Sayang, kamu datang juga. aku sudah nunggu kamu lama." rengek Desty saat seorang pria bule memasuki ruang tamu yang berantakan.


" Say punya bisnis yang harus saya urus. ini kenapa berantakan sekali?"


" Aku sudah pecat para pembantu,aku gak punya uang buat bayar mereka."


Alis pria tersebut terangkat," Maksudnya? saya kira Mahendra corp. masih gagah tidak bangkrut."


" Tapi mas Edo sudah tidak kasih aku uang, dia juga sudah tidak pulang-pulang lagi entah kemana orang itu. apa kami bercerai saja, terus Kita menikah." ujar Desty riang.


" Jangan mengada-ada, saya sudah punya istri dan anak, kami hidup berbahagia, dulu kamu itu hanya selingan saja itupun tujuh belas tahun yang lalu, saat saya masih muda. hanya kegilaan sesat saja." ucap pria tanpa beban.


" Mana putra saya?"


Desty cemberut sok imut." dia juga gak pulang-pulang."


" Kenapa?"


" Ini udah biasa kok."


" Berarti uang yang selam ini saya kirim tidak kamu gunakan untuk kepentingan dia?" selidik pria itu.


" Untuk dia, ad ayang namanya transfer ya." elak Desty menutupi kenyataan.


" Kamu pasti ibu yang tidak baik, dengan menjebak pak Edo saja menunjukkan kamu wanita ambisius yang tidak mau susah, kamu bukan type saya."


" Kamu kenapa sih kalau bicara tidak menyenangkan."


Pria tersebut menghela napas berat," saya kemari karena putra saya, kamu minta saya bimbing dia walaupun itu sangat janggal mengingat dia dibawah asuhan pak Edo yang terkenal sepak terjang bisnisnya."


Gerakan Desty yang sepintas mencurigakan bagi pria tersebut membuatnya membaca seksama raut Desty.


" Aku ingin kamu yang mengatur keuangan perusahaan, Bian sudah tidak lagi mentransfer uang bulanan aku." akhirnya Desty mengungkap niat sebenarnya.


" Kamu ingin menguasai perusahaan itu?"


Desty gelagapan," Bu..bukan begitu..."


" Kamu menelantarkan anak saya, dan sekarang kamu mau memanfaatkan saya untuk merampas perusahaan itu, anak saya kan menjadi miskin."


" Itu tidak akan terjadi, ini semua aku lakukan demi putra kita. Mas Edo kemungkinan sudah bertemu dengan putrinya, anak kita akan kehilangan haknya sebagai ahli waris dari Mahendra."


" Dia bisa menjadi ahli waris Mcgregory."


" Tidak, Bian harus juga menjadi ahli waris Mahendra."


Pria tersebut memasukkan kedua tangannya ke saku celana," memang kamu serakah, untungnya buat saya apa?"


Desty terbelalak tidak percaya akan pertanyaan itu," Ini demi anak mu, dan kau masih menginginkan untung? kau sudah kaya raya."


" Ck, tidak ada manusia yang puas akan harta. aku pergi."


" Tunggu." Desty menahan lengan pria tersebut.


" Nanti siang datanglah ke perusahaan, hari ini jadwal dia ngantor, aku ingin memperkenalkan dia padamu."


" Oke, kita bertemu di sana saja."


" Tunggu_" lagi-lagi Desty menahan pria tersebut.


" Apa kau sibuk?"


Pria itu melirik ke lengannya yang tengah dielus sensual oleh Desty, ia tersenyum smirk," Tergantung apa yang kau tawarkan."


" Kasur ranjang ku sudah lama dingin..hmmpmhh..."


Pria itu langsung menerjang Desty dengan menyatukan bibir mereka." di mana kamar mu." ucap pria tersebut sambil mende sah


❤️❤️❤️❤️


Dalam mobil Pajero yang di parkir di pelataran gedung fakultas, Bhumi yang sepanjang jalan duduk menempeli Shavara dengan memainkan jemari lentik itu," Pulangnya aku jemput, tunggu aku jangan pulang duluan."


" Hmm."


Bhumi mengecup kening serta bibir Shavara sebelum dengan berat hati membiarkan Shavara keluar dari mobil setelah Shavara mencium tangannya.


Dari jauh Monika melihat Shavara keluar dari Pajero hitam, menggeram kesal, tangannya mengepal kuat.


" Kenapa dia selalu beruntung, seharusnya hidupnya menderita setelah pertunangannya batal, dan hubungan mereka bubar setelah gue kirim rekaman itu, seharusnya keluarganya membuangnya karena mempermalukan nama baik mereka, ini tidak adil." desisnya tajam.


Ia meratapi hubungannya dengan Aryo yang ternyata tidak seindah yang dia kira. ia pikir ia Kana bahagia setelah berhasil merebut Aryo, ternyata hidupnya semakin menderita.


Aryo yang memiliki sorot lembut, serta wajah rupawan yang menenangkan ternyata pandai menyembunyikan dirinya yang egois, kasar menjurus kriminal.


Monika mengambil ponsel dari Sling bag-nya mencari kontak Bern Dewa dengan emot love.


Di depan, duduk di kursi kemudi Bian yang berperan sebagai sopir dipaksa menutup matanya.


" Udah, belum?" kesal Bian.


" Sudah, jalan." ujar Bhumi dari kursi penumpang belakang.


" Berasa sopir."


" Belajar jadi sopir, roda kehidupan itu berputar anak muda." seru Bhumi enteng


" Hmm, kayaknya sebentar lagi aku bakal kismin." Bian melajukan mobilnya keluar dari kampus.


" Kenapa? Mahendra corp. bangkrut?"


Bian menggeleng, tadi pengacara kasih kabar soal efektifitas pengalihan aset pada Senja yang membuahkan tanda tangan kedua belah pihak. sepulang sekolah aku izin bawa Senja ke perusahaan."


Bhumi ingat Senja pernah cerita kalau dia bisa memiliki aset dari pria yang telah meninggalkan keluarganya, setelah ulang tahun Bian " Memang kapan ulang tahun kamu?"


" Kemarin lusa." jawab Bian sendu. sepeti biasa hanya Aira, dan sahabatnya yang mengucapkan selamat hari lahirnya, sepi dari keluarganya.


Bhumi menatap kepala Bian, menimbang sesuatu, ia menghela napas gusar.


" Pastikan saja wanita itu tidak menyakiti adikku." ucap Bhumi penuh kebencian.


Bian mengangguk, tangannya yang di stir mengerat, ini salahnya pernah menyinggung soal Mama-nya pada abangnya.


Sisa perjalannya mereka lalu dengan diam, Bian memarkirkan mobilnya di parkiran mobil sekolah,


" Selamat ulang tahun. all the best buat kamu." ucap Bhumi sebelum menutup pintu dan berjalan memasuki area sekolah.


Blam.


Bian tertegun, tangannya yang masih memegang stir meremat kuat, ia lantas menunduk menyembunyikan air mata harinya, bahunya terguncang karena tangisan itu," Makasih, terima kasih, Abang. yang terbaik untuk mu juga." lirihnya.


^^^^


" SELAMAT DATANG PENGANTIN BARRRUUUU...." sorak sorai dengan pita berwarna warni berhamburan membahana di ruang kelas 12 IPA 1 saat Bhumi membuka pintu.


Ia menyingkirkan remahan pita yang mengenai wajah, rambut serta bajunya." segabut itu kalian di waktu kosong ini." sindir Bhumi.


" Sebaiknya bapak berterima kasih karena sambutan kami walau kami kecewa bapak tidak mengundang kami." ucap Nuril.

__ADS_1


" Kalian pasti bakal ngabisin prasmanan saya, makanya saya tidak undang kalian."alibi Bhumi.


" Sekarang bersihkan sampah-sampah ini." perintah Bhumi.


ruang kelasnya sudah berserakan sampah disertai hiasan kelas yang absurd tidak jelas faedahnya yang berupa balon-balon di langit-langit kelas serta kertas besar berbentuk tulisan Happy wedding, Pak Dewa!!"


" Yaaa...pak. nanti aja lah, kan nanti juga berantakan lagi." tolak yang lain.


" Memang kalian mau ngapain lagi?"


" Kami sudah pesan makanan, bapak yang bayar ya, itung-itung traktiran." ungkap Mega.


" Jangan ngelunjak."


" Ini inisiatif dari Adit, pak."


Bhumi menatap Aditya yang tengah menjahili Emma, yang ditatap nyengir lebar." habis saya pusing pak mereka ribut melulu soal pernikahan bapak."


" Kalian tahu dari mana saya sudah melangsungkan pernikahan?"


" Dari instastory-nya Adit, pak. bapak pilih kasih dia diundang kita enggak." protes yang lain.


" Dia gak diundang, tapi jadi tukang cuci piring di sana." kesal Bhumi yang mengundang gelak tawa dari teman sekelasnya, terlebih para sahabatnya.


" Jadi yang kemarin bapak udah nikah itu padahal lagi otw nikah, Pak?" tanya yang lain.


" Iya, kalian kepo banget tentang hidup saya."


Tok...tok...


Rudi membuka pintu yang diluar sudah ada lelaki berseragam hijau.


" Permisi, pesanan atas nama Aditya."


Bhumi menghampirinya," Berapa total semuanya, pak?'


" 975 Ribu, pak."


Bhumi menatap para muridnya yang tumben masa kosong ini berformasi lengkap," Buset, niat sekali kalian ini." Bhumi mengeluarkan sepuluh lembar seratus ribuannya.


" Kembaliannya ambil saja, pak.terima kasih." terpaksa dia membayar ulah dari adik iparnya ini.


Beberapa murid lelaki membantu mengeluarkan makanan pesanan mereka," Niat dari hati paling dalam, Pak. ikhlas kami tuh."


" Pak, niat cari sugar baby gak? saya mau, pak." ucapan teman perempuan sekelasnya itu membuat mata Aditya mendelik tajam.


" Terima kasih, tapi saya tidak berminat sama sekali, istri saya sudah paket komplit. kalian tidak akan bisa menandinginya."


" WAAAAAAAA__BUCIIIINNNN____" Kelas seketika ribut dengan menggebug meja dan sorakan.


" Setelah makan yang remedial harus ke ruangan saya."


" Yaaaaaa.."


" Kalian ini IPA 1, masa kimia dan biologi dapet delapan. malu-maluin."


" Fisika, pak?"


" Aman, paling kecil 8,5."


" Kalian habis makanannya, nama-nama,yang terdaftar dalam kertas diharap segera ke ruangan saya." Bhumi menaruh selembar kertas, kemudian keluar dari ruangan yang gaduh berebut makan itu.


Tak..tak .tak..


" Pak Dewa." panggil Arleta sambil berlari di koridor kosong.


" Pak Dewaaa..." ia memegang dadanya yang bernapas Arleta ngos-ngosan.


Teriakan Arleta mengundang para murid dalam kelas, mereka mengintip dari dalam lewat jendela kelas.


" Ada apa?" tanya Guntur.


namun Arleta Diak menanggapi guntur, tatapannya masih tertuju pada Bhumi yang malah tidak melirik ya sama sekali.


" Mari pak Guntur sekalian sama saya kalau mau ke kantor." seru Bhumi.


" Pak, " Arleta menahan tangan Bhumi yang ditepis Bhumi.


" tidak sopan." ucapnya dingin.


" Bapak beneran nikah?" lirih Arleta dengan dada terasa sesak.


" Iya." setelahnya Bhumi meninggalkan dia.


" Pak, kenapa bapak tega pada saya, saya mencintai bapak."


" Leta, kamu yang aku tidak punya hati nurani, saya bosan akan tingkah kamu yang tidak tahu diri terus mengejar saya padahal kamus udah dipermalukan sedemikan rupa. kalau kamu tidak punya malu, jangan ajak-ajak saya untuk mempermalukan diri. saya masih punya martabat yang harus saya jaga."


Ucapan menyakitkan itu menohok Arleta, ia berdiri gemetar saking merasa sakit hatinya." Saya hanya cinta bapak saja." lirihnya dengan derai air mata.


" Berapa kali saya bilang saya tidak cinta kamu, bahkan saya jijik sama kamu." Guntur memegang tangan Bhumi agar lebih menahan emosi.


" Sudah, Wa. dilihatin anak-anak." seru Guntur.


" Leta, tidak hanya murid yang punya payung hukum, tapi juga guru. hormati kami, atau kami akan melaporkan kamu dengan aduan pelecehan. cukup kemarin kamu mempermalukan nama sekolah disebabkan ulah ibu kamu." ujar Guntur. menusuk Dewa yang terlebih dahulu pergi.


" Tidak jera juga kamu mengejar pak Dewa setalah mempermalukan nama sekolah." ucap Siena yang berdiri di ambang pintu kelas tidak jauh dari Arleta.


Bun setelah ia berucap demikian, Siena berlari menyusul Bhumi dan Guntur, menghadang mereka berdua di depan pintu. para guru mengedikkan bahu saat Bhumi melirik mereka meminta keterangan.


" Bapak sudah menikah sungguhan?" lirih Siena yang diangguki Bhumi tanpa beban.


" Kenapa? tidak sama saya? bapak pasti faham dari tindak tanduk saya kalau saya suka bapak." para guru menggeleng kepala tidak habis pikir.


" Saya tidak suka ibu." jawab Bhumi telak. yang diacungi jempol oleh beberapa guru yang jemu dengan tingkah polah Siena mencari perhatian Bhumi.


" Bapak kejam, bapak tega nyakitin perasaan tulus saya."


" Ck, ribet. perasaan ibu bukan urusan saya, dari tidak tanduk saya pasti ibu faham kalau saya tidak punya perasaan spesial sama sekali pada ibu. ibu-nya saja yang ngeyel."


" Pak, tidak adakah..."


" Tidak ada, sekarang ibu sudah tahu saya menikah, jadi jangan dekat-dekat saya lagi, saya gak suka wanita penggoda, menjijikan!" tekan Bhumi tegas yang kemudian menyingkirkan Siena dari hadapannya.


" Pak, selamat ya, jadi bisa dong kita di.."


" Kan kemarin saya sudah mentraktir kalian, masa lagi." seloroh Bhumi memotong ucapan guru senior.


" Baru sekali, siapa tahu dengan mentraktir kita lagi pernikahan bapak langgeng dan bahagia."


" Amminnn. kapan kalian mau datang, telpon saja saya."


" Waaaahhh..ini baru bestie..kami akan melindungi bapak dai para bibit pelakor..." seru Guntur yang diamini oleh semua guru kecuali Siena.


drrt...drrt...


Siena keluar dari kantor karena Desty menghubunginya.

__ADS_1


" Ada apa, mbak?"


"........"


" Aku bisanya sepulang dari sekolah."


❤️❤️❤️❤️❤️


Masih dengan berseragam sekolah Bian dan para sahabatnya, Senja, Edo, serta kuasa hukum hadir di ruang kerja Bian dalam pengesahan pengalihan aset Mahendra kepada Senja.


Tidak ada keraguan dalam raut Bian, malah Bian ingin semuanya segera tuntas.


Ruben memberesi semua berkas setelah ditanda tangani, lalu memasukkannya ke dalam tas kerjanya.


" Mulai hari ini seluruh harta tuan Mahendra berpindah tangan kepada nona Senja." ucapnya.


' Selamat nona Senja, anda pemilik sah dari Mahendra corp." ucap Bian mengulurkan tangan.


" Terima kasih atas kerjasamanya, tuan Bian, saya harap ke depannya anda melakukan kerja yang baik demi meningkatkan perusahaan ini." ucap Senja tersenyum puas menjabat tangan Bian.


Semua orang yang hadir menahan tawa dengan ucapan sok pro mereka.


Para tim kuasa hukum meninggalkan ruangan, " jadi kalian sudah merencanakan ini?" tanya Edo.


Bian mengangguk, " ini hak mereka, Pa."


" Kakak mu Dewa?"


" Beliau menolak semua kaitan dengan Mahendra." Edo terdiam dengan mimik sedih, matanya menatap Senja.


" Terima kasih sudah mau menerima hasil kerja keras Papa."


" Bukan demi anda, tapi saya ingin melihat wanita itu kejang kala tahu dia tidak memiliki apapun." suara senja memang merdu, namun mematikan.


" Apapun alasan mu, Papa menghargainya." Edo beranjak melangkah masuk ke toilet, tidak mungkin bukan dia menangis di hadapan para remaja itu.


Ceklek....


Desty dengan pakaian glamournya memasuki ruangan diikuti seorang lelaki tampan nan gagah di belakanganya.


" Bian, ya tuhan..kamu dari mana saja, Mama lelah mencari kamu, telpon tidak diangkat, pesan di read doang. Selama Mama di rumah sakit tidak sekali pun kamu jenguk Mama, mau jadi anak durhaka kamu, hah?" cerocos Desty belum menyadari banyak orang di dalam ruangan itu.


Langkahnya terhenti, kala menyadari banyak pasang mata di sana." Eeehh...maaf. ini kalian sedang apa?"


Senja kontan meremas rok sekolahnya, jantungnya berdetak kencang kala matanya menatap wanita paruh baya yang menghancurkan keluarganya.


" Aku yang seharusnya bertanya, untuk apa Mama kemari." ucap Bian datar.


" Bian tidak sopan kamu berkata demikian sama Mama. oh iya, mama akan memperkenalkan teman Mama yang akan membimbing kamu memimpin perusahaan ini."


Desty berjalan mendekati pria bule itu." kenalkan namanya..."


" Robert, itu kah kau? Robert Mcgregory? tanya Edo di depan toilet. memastikan bahwa itu tekan bisnisnya beberapa tahun lalu.


Desty terkejut dengan keberadaan Edo di sana, dia tidak mengharapkan Ama sekali kehadirannya.


Sementara Robert, sejak masuk ruangan matanya sudah menangkap keberadaan pemuda yang sangat mirip dengannya, tidak butuh penjelasan tes DNA yang ditunjukkan Desty sepuluh tahun yang lalu untuk mengakui kalau dia memang berasal dari gennya karena remaja itu adalah dia versi mudanya.


Sejak saat itu Robert setiap tahunnya mengunjungi Indonesia demi melihat putranya tanpa sepengetahuan mereka yang ada di Indonesia.


Sejak saat itu Robert memberikan sejumlah uang pada Desty sebagai nafkah untuk Bian yang Robert pastikan tidak pernah dienyam oleh putranya.


Robert mengetahui lebih dari apa yang Desty tahu, dia menyanggupi keinginan Desty bukan untuk menguasai perusahaan Mahendra, tapi dia sangat tahu bagaimana putranya krisis kasih sayang keluarga.


Semua pasang mata beralih memperhatikan pria bule itu, yang ditatap tersenyum teduh pada mereka.


Pria yang di panggil Robert tersebut tersenyum seraya mengangguk." Hallo pak Mahendra, senang bertemu lagi dengan anda." Robert mengulurkan tangannya pada Edo.


Kontan Desty gugup, ia bergerak gusar." Papa? kamu di sini?"


" Iya, saya di sini. ini masih perusahaan saya walau Bian yang memegang tampuk kepemimpinan." jawab Edo dengan mata sambil melirik pria yang berdiri di belakang Desty.


" Anda sendiri sedang apa di perusahan saya, kita tidak ada janji temu."


Desty semakin gugup, dia mendekati Edo, kemudian bergelendotan di depan lengan Edo yang menatapnya datar.


" Mas, aku minta Pak Robert untuk melatih Bian menjadi CEO." ucapnya lembut.


" Itu tidak perlu, saya bisa membimbing Bian dengan tangan saya sendiri." Edo masih dengan mimik datarnya.


" Mas, kamu sudah berjanji akan pensiun dini, dan menikmati hari-hari bersama ku, kalau kamu membimbing dia kapan kamu pensiunnya." elak Desty lancar.


" Kenapa om bule itu mirip Bian ya!?" celetuk Ajis di tengah jeda adu debat antar Edo dan Desty.


Ptak...


Kontan Leo menjitak kepala Ajis karena mulut bocornya.


" Diam kamu orang miskin." hardik Desty karena panik.


" Aku? miskin?" Ajis menunjukan dirinya sendiri.


Ajis melihat berkeliling satu-persatu yang ada di ruangan itu, lalu dia mengangguk." dibanding kalian aku memang miskin sih, tapi apa hubungannya kemiskinan ku dengan mata jeli ku. om itu memang mirip Bian. orang akan menyangka dia ayahnya Bian ketimbang om Edo yang tidak da mirip-miripnya sama sekali. coba kalian perhatikan wajah om itu sama Bian mirip banget."


" Saya bilang diam," Desty menelisik satu-persatu teman Bian yang tidak dia sukai itu.


" Sedang apa kalian di sini? kalian hanya remaja yang menjadi beban orang tua, beda dengan Bian ku, dia sudah menjadi CEO, jangan kalian ganggu jam kerjanya."


" Santai dong, Tante. gak perlu ngegas begitu. atau jangan-jangan om itu memang ayahnya Bian, bukan om Edo?" Ajis makin berani, dia kesal keluarganya dihina.


Desty melotot, " fitnah kamu."


Mata Desty menangkap sosok gadis yang duduk di sebelah Aditya, matanya melotot memancarkan kebencian.


" Saya gak fitnah, mental miskin saya lebih peka daripada orang kaya macam Tante, memang begitu kelihatannya, om itu persis sama Bian, sepeti om Edo persis dengan Senja. coba saja Tante tanya sama orang lain, pasti mereka akan mengatakan hal yang sama." cerocos Ajis menggebu-gebu.


Suasana makin memanas seiring Ajis melontarkan fakta satu persatu dari visual Bian yang sangat mirip dengan pria bernama Robert tersebut.


Sementara Bian dan Edo terlihat santai dan tenang, hal yang membuat Robert bertanya-tanya.


Wajah Desty memerah, ia mengambil langkah lebar menghampiri Senja, ia hendak menarik tangan Senja yang langsung dihalangi Aditya.


Aditya mengajak Senja untuk berdiri, dia maju selangkah ke depan untuk menyembunyikan Senja, Leo dan Bian Bian merapat mengelilingi Senja.


" Minggir kalian, akan saya jambak dia, apa dia pel4cur cilik yang kalian gilir?"


" MAMAAAA...JAGA BICARA MU"


" DESTY..TUTUP MULUT MU."


Edo dan Bian berucap berbarengan.


Bian bisa merasakan gemetarnya Senja dari pegangan tangannya yang menarik baju seragamnya.


Dengan tangan bergetar, Senja mengambil ponselnya dari saku kemejanya, lalu menelpon kakaknya.


" Ma..Mass...tolong A..ku..."

__ADS_1


__ADS_2