
Baru saja pulang dari urusan kantor, Adgar kembali berjibaku dengan jalanan, bukan dengan mobil Ferarri kesayangannya, melainkan menunggangi motor sport hitamnya.
" Kita depan lokasi, menunggu perintah." lapor Andromeda di seberang saluran parallel earphone produksi RaHasiYa.
" Amankan pelaku dan korban, lakukan tanpa cedera. kalian tahu di mana tepatnya mereka berada?" tanya Adgar di balik helm full face-nya.
" parkiran basement paling timur, mobil Audi warna abu-abu dengan plat..."
" Oke, serbu langsung."
" Ada segerombolan pemotor membuntuti kita."
" Itu teman kita. Genk the Gabuts pimpinan Leo." terang Adgar.
" Ooh anak SMA sebelah." sahut salah satu anak buah Genk DaboRibo ( dahulu dikenal dengan Genk BIBA. red, Terikat Mumtaz).
" Sekarang kalian masuk parkiran, tembus sistem keamanan gedung dan temukan unit si pelaku. karena hanya penghuni dan tamu yang telah terkonfirmasi yang bisa parkir kendaraan di sana."
" Sip, gue kerja."
Kinan tidak jua jera setelah sekian kalinya Bhumi menolak dia, kaki Bhumi sedaya upaya masih berusaha memecah kaca jendela dengan tendangan.
" Dewa, please jangan tolak aku, aku gak tega lihat kamu kesakitan. aku sayang kamu, Dewa. kenapa kamu gak ngerti juga!" sentak Kinan kesal, tubuhnya sakit ditendang berulang kali oleh Bhumi.
" Lo jangan kemari, pel4cur." bentak Bhumi, kepalanya pusing. hasratnya kian menggila.
" Itu nyakitin aku banget, Wa. aku beneran cinta kamu, segila ini cinta aku sama kamu."
Kinan membuka tanktopnya, kini hanya underwear warna hitam yang dikenakan Kinan yang kian lebih menggoda iman Bhumi yang setipis tissue dibelah tipis-tipis.
" Pakai kembali pakaianmu, b4ngsat." bentak Bhumi.
" No, aku harus mendapatkan kamu. iya, kan Shavara."
Bhumi berhenti karena nama itu, ia mencari-cari dimana kekasihnya berada."
" Huhuhu...hiks..tolong lepaskan kak Bhumi...hiks..." ucap Shavara dari seberang kamera.
Bhumi terhenyak, ia bangun dari baringannya." Sa.yang....eeerrggghhj..."
" Kamu ikhlas kan calon kamu buat aku, aku taksir kamu masih virgin, bisa mendapatkan perjaka lain, karena Bhumi setelah malam ini dia milik ku."
Wisnu mengendarai mobil mengebut gila di tengah malam, di belakanganya mobil Berliana yang berpenumpang Mira dan Shavara yang berhasil kabur dari rumah.
Mata Shavara tidak pernah lepas dari siaran langsung Kinan, bibir bawahnya digigit karena kasihan melihat tunangannya dilecehkan.
" Anjir, baru lihat gue ada cewek yang gil4 karena cowok. Var, kalau tu orang berhasil kita tangkap, kita bully dia sampe dia lupa jenis kelamin dia apa" sewot Mira.
" Wisnu, Aa. tenang, jangan ngebuuuttt..kita sampai enggak, masuk ruang sakit iya." pekik Fena memegang pegangan tangan di pintu.
" Ma, kita memang kudu buru-buru, kalau enggak si Kinan itu bisa lepas."
" Tapi kita juga harus selamat, Aa."
Di depan Hartadraja royal residance. Andromeda dan kawan-kawan berhasil masuk area gedung dengan identitas penghuni yang mereka curi dari database Hartadraja's Property.
Satpam meski merasa janggal karena banyaknya yang hendak masuk namun tak urung membuka protal.
" Terima kasih, pak."
Brum..brummm....
Andromeda dan penggawa DaboRibo melepaskan beberapa bola dari titanium yang setelah di atas berubah menjadi burung kecil, mereka terbang sesuai perintah dari Andromeda.
Kinan menurunkan tali br4-nya. sembulan bulatan kian menyiksa Bhumi.
" KAKAK, TUTUP MATANYA. ku mohon bertahan lah. besok kau akan menikmati milikku. ku mohon.." pedih, sangat pedih melihat kekasihnya memohon untuknya sementara dirinya tidak berdaya melawan.
" Dewa, kau tidak perlu menunggu esok, saat ini juga kamu bisa menikmatinya."
Tak...
Kaitan br4 terlepas, napas Bhumi memburu,dia menutup mata rapat-rapat, segala doa, ayat, surat dari kitab suci dia rafalkan.
" KAK BHUMI JANGAN TERGODA. MILIK JANDA ITU VISUALNYA DONG BAGUS, DALEMANNYA UDAH LONGGAR GAK MANTEP, TERLALU BANYAK DICA4B4K ORANG." Teriak Mira dari dalam ponsel.
" PUNYA VARA LEBIH SEKE`L LEBIH MONTOQQQ PUNYA DIA MAH KALAH TELAK!!!"
" DIAM KAU." Kinan mematikan video call.
Burung-burung kecil itu hinggap di mobil dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh Andromeda, tepatnya di jendela pengemudi, jendela depan serta jendela penumpang belakang.
Tik..
Mereka sudah di posisi sempurna sesuai instruksi
" Bos, siap eksekusi." lapor Andromeda.
Empat sahabat beserta anak buahnya sedari tadi hanya menatap takjub aksi DaboRibo. mereka tidak lama menemukan ciri-ciri mobil berdasarkan informasi dari Nando.
" Meledak." teriakan napas dari remaja SMA itu kian nyata saat perintah itu terlontar dari suara bass milik Adgar.
Kini Kinan berkosentrasi mendapatkan Bhumi yang terlihat sudah lemah. ia menyalipkan tangan di pinggang celana dengan bagian atas polos hingga bergerak-gerak menggoda disentuh.
PRANG...PRANG...PRANG...
Kinan dan bhumi terkesiap kaget, Kinan berbalik disertai jeritan karena syok, ia menunduk menutupi kepala dengan kedua tangannya mengabaikan ketel4njangannya.
BRAK...PRANG...
" Kyaaaa..." jerit Kinan saat satu tonjokan di jendela jok belakang yang sudah pecah dihajar seseorang berbalut jaket.
"Tidak...jangan...siapa kalian...." kalut Kinan.
Pintu dibuka, Bhumi ditarik. tubuh Bhumi yang sudah tidak bisa diam menyulitkan eksekutor mengamankan dia.
" Boleh, gue yang bawa? dia abang gue." pinta Bian.
Para anak buah meminta pendapat ketua, Andromeda yang akhirnya mengangguk.
Didampingi anak DaboRibo, para murid Bhumi membopong Bhumi masuk ke dalam lift yang sudah disiapkan untuk aksi ini." Lift nomor 3." seru Nando.
" Nomor tiga." seru Andromeda.
Di sisi lain, Kinan diseret keluar dari mobil, ia terjerembab terlentang.
Blazer, dan rok mini dipaksa dikenakan pada Kinan oleh anak DaboRibo.
" Kalian siapa? saya akan lapor polisi." gertak Kinan.
" Bosen diancem kayak gitu tapi gak ada tuh satupun yang ngelapor." ucap yang lain.
" Menyiksa amat tugas kali ini, ada ang gratis dianggurin." ucap salah satunya.
" Gue udah pegang rekaman aksi dia sebelum kalian datang, mau bayar berapa?" sahut Nando di seberang saluran.
" Oke, guys. kalian transaksi b0kep, gue lapor ke para ketua." sela Adgar.
" Angkut, ikuti korban." Titah Andromeda.
Bertepatan dengan tenggelamnya mereka dalam kotak lift, Wisnu dan orang tuanya memasuki area gedung tidak lama mobil Berliana mengikuti.
Mereka bisa masuk area setelah para penjaga mendapat konfirmasi langsung dari Akbar Hartadraja.
Lift berhenti di lantai tujuh, selama menyusuri lorong menuju unitnya Kinan diseret, mulut Kinan menganga kaget dengan mata membulat kala mereka berhenti lalu membuka passcode pintu unitnya.
" Kalian tahu dari mana tempat tinggal ku." Kinan ketakutan.
Brakh....
Kinan dilempar ke sofa, lalu tangan dan kakinya diikat tanpa diberi kesempatan untuk membela diri.
" Aaarrrgghhh..." teriakan Bhumi dari dalam kamar tidur yang dikunci menyiksa hati Bian yang sedari tadi mondar-mandir di depan pintu kamar itu.
Tok...tok ..
" Siapa lagi itu?" Kinan cemas.
Cklek...
Wisnu dan rombongan masuk ke dalam apartemen. saat pintu hendak di tutup Adnan, Edo, dan Erlangga masuk.
Shavara langsung berlari ke kamar dimana Bhumi berteriak-teriak di dalamnya. Berliana dan Mira setia membuntutinya.
Bahkan Wisnu tidak punya waktu untuk memarahi tiga gadis yang kabur dari penjagaan orang rumah, pikirannya saat ini dipenuhi dengan nasib Bhumi.
__ADS_1
" Kak,...kak Bhumi..ini Shava, kak."
Bhumi melangkah lebar mendekati pintu," Sayang,...aku...aaaarrghhh..." Bhumi tidak sanggup lagi bicara desakan dalam tubuhnya sangat menyiksanya.
" Kak, buka bisa menolongmu."
" Ya..tuhan..tidak, pergi, sayang jauhi pintu ini..." Bhumi kini berguling-guling di lantai kamar.
Kepalanya kian pening karena ingin dipuaskan.
" Kak.."
" JAUHI PINTU INI, SHAVA..." napas Bhumi memburu.
" Var, turuti keinginan kak Bhumi, kasihan gue dengarnya." Mira menarik Shavara ke ruang tamu.
" Aaaarkkkghhhhhh....."
BRAK...PRANG ..PRANG ..BRAK....
Wajah Kinan tegang, dia baru menyadari sosok anggara dan Edo ada diantara mereka. namun otaknya cepat berputar apa hubungan Edo Mahendra dengan Dewa.
" Apa kita biarkan Shavara masuk ke sana saja, Pa. kan cuma Vara yang bisa meredam emosi Bhumi." ucap Fena yang belum tahu kondis Bhumi berteriak karena apa.
" Ma, Bhumi bukan marah, dia dalam pengaruh obat perangsang yang diberi cewek ini. kalau mama nyodorin Vara ke dia sekarang habis Vara di unboxing."
" APA?" Para orang tua kaget bukan main, mata mereka menatap Kinan.
" Terus gimana doang, kasihan calon mantu Mama."
" Gimana kalau kita ijab Qabul sekarang?"
" Memang ijab Qabul orang mabuk sah, Tante? Bhumi lagi gak sadar ini " ucap Adnan
" Ini juga salah Lo, berapa kali gue bilang jangan adain pesta ini, ngeyel sih Lo, ini yang gue takuti temen Lo kan kebanyakan gak bener kalau udah terkena alkohol." hardik Wisnu kepalang marah.
" Sorry, gue gak tahu dia bakal datang."
" Kalau Lo gak undang dari siapa dia tahu Lo ngadain pesta?"
" Gue undang mereka lewat sosmed, dia juga udah gue blokir. jadi pasti dari orang lain. sumpah gue gak undang dia."
" Tapi Lo pasti terlibat." tuding Wisnu.
" Demi tuhan, enggak. dia mutusin pertemanan kami karena gue gak ngasih dia jalan buat deketin Bhumi padahal dia sudah memohon-mohon sama gue. gue masih punya hati nurani
buat jeblosin Bhumi ke dia." kukuh Adnan frustasi bagaimana menjelaskan pada sahabatnya kalau dia tidak bersalah.
" Gak lucu, Tan. Vara di unboxing padahal kurang dari 12 jam mereka halal." cetus Mira.
" Terus gimana, Tante gak tega dengarnya."
Edo, sejak tadi tidak lepas menatap Kinan." Dia anak dari James Purba, kan."
" Iya, Om." jawab Erlangga.
Fena menoleh ke arah Kinan, sontak amarahnya meluap.
Plak....
Satu tamparan keras Fena labuhkan ke pipi kanan Kinan. lalu menj4mbak rambut dan menengadahkan wajahnya ke arahnya?
Kinan meringis karena sakit.
" Kau...karena orang sepertimu wanita dicap kaum murahan, dia sudah mau menikah dan kau tidak tahu malu masih ingin merebutnya. kau itu tidak dia ingin, bod0h!!" bentak Fena
" Tapi .aku..mencintainya Tante.Tante dengar kan kalau Dewa kesakitan, dia ingin dipuaskan, Tante. kasian dia. aku rela menjadi korban dia, Tante."
BUGh...
" Aaaaawwsss ..."
Semua orang meringis saat satu t0njokan mengenai tepat di hidungnya yang mengakibatkan patah dan kini darah mengalir darinya.
Dua anak DaboRibo bergegas mengurus Kinan.
" Saya benci wanita egois macam kamu. dunia tidak hanya berputar disekitar mu, penj4hat kelamin."
Cklek..
Namun bagi yang lain mereka merasa lega, " sorry telat, harus bawa ketua RaHasiYa dulu." ucap Adgar pada yang lain.
" Om, Tante, para Abang, dan eneng-eneng geulis apa kabarnya?" sapa Alfaska santai.
Mereka bertiga duduk sofa yang tersedia.
" Saya tidak mengira kalau kamu sendiri yang turun tangan." kata Anggara.
" Cuma mau mengecek latihan mereka, RaHasiYa memutuskan melatih dari dini, supaya mudah membaca situasi pada situasi nyata,"
" Padahal itu gak perlu, Adgar gak akan mengecewakan. ini cuma protokol saja, Om. saya gak mau diejek sama Mumtaz, Ibnu, dan Daniel karena males, Om." seloroh Alfaska yang membawa suasana santai di tengah ketegangan.
" Siapa didalam yang terus berteriak? Alfaska berubah berwibawa.
" Korban, Mahadewa Bhumi Mahendra. diberi obat perangsang dalam minumannya pada pesta bujang party atas nama Adnan Syahputra." lapor Andromeda.
" Pelaku?"
" Kinan Purba, anak dari ..."
Alfaska menatap Kinan yang berdarah-darah." Saya tahu, James Purba dari Purba corp. yang sebentar lagi bangkrut."
" Bar, ini pernah kan ya kejadian di Lo, makan apa Lo waktu itu?" tanya Alfaska ke Akbar.
" Kalau gak salah kalian kasih gue obat panas atau pereda nyeri gitu, gue lupa."
" Anak DaboRibo lekas berpencar mencari di setiap sudut, dari arah dapur lah mereka menemukan wadah obat-obatan.
" Ini, Bos." Andromeda memberikan obat pada Alfaska.
" Tapi sepertinya dosisnya tinggi, jarak tempat kejadian dari sini tidak begitu jauh, tapi korban sudah kena efeknya."
" Beri dua atau empat."
" Kalau OD?"
" Bawa ke rumah sakit, gampang kan, daripada dia kesusahan." sahut Alfaska enteng.
" Biar saya yang jadi obatnya, dia menderita karena saya." Kinan memberanikan diri.
" Jangan, saya gak mau." protes Shavara.
" Saya calon istrinya, saya yang lebih berhak." terang Shavara cepat.
" Memang dia harus jadi milik gue." sentak Kinan.
" Kenapa?" suara dingin Alfaska menghentikan arogansi Kinan, dia bungkam sejuta kata.
" Kenapa dia harus jadi milik Lo? wanita jelek, dan saya tidak menyinggung cuma soal fisik."
Kinan yang tidak terbiasa diintimidasi, seketika mereog.
" Karena gue tidak terima dia tidak tergila-gila sama gue, semua pria yang bisa gue dapetin seharusnya frustasi kalau gue putusin tapi dia malah biasa saja, itu yang saya tidak terima, itu menghina saya!"
BUGH...
" Kyaaaa.."
Para wanita menjerit, para lelaki terbelalak tidak percaya saat Alfaska dengan entengnya menghajar tulang pipi Kinan hingga satu gigi copot. kecuali Adgar dan Akbar.
Kina meraung kesakitan, dia terjatuh tengkurap.
" Saya paling benci orang yang tidak tahu diri, kau pikir hanya karena kau perempuan, saya tidak bisa bertindak kekerasan padamu? CUIH, lupakan teori perempuan itu makhluk lemah. dalam kejahatan, tidak ada gender yang dimaklumi, camkan itu!" tegas Alfaska membubuhi meludah padanya tanpa memperdulikan tangisan Kinan.
" Dia gak nerima Lo, karena Lo cewek yang tidak bervalue, sekilas gue lihat Lo gue tahu betapa rendahnya Lo. syukur bang Erik menceraikan Lo, kalau tidak, bisa ikut habis perusahaan dia."
Kinan dengan susah payah menoleh pada Alfaska, dia membelalak terkejut," Kaget gue tahu soal itu, bahkan gue tahu nomor daleman yang Lo pakai, *****." tambah Alfaska.
Suasana pun berubah menegang kembali menyesuaikan mood Alfaska.
Ia kembali duduk di sofa dengan raut yang masih serius.
" Beri bang Bhumi obatnya. Ceburkan dia ke bak berisi air hangat kalau mengamuk."
" Bo...boleh saya yang ke..sana?" Shavara bertanya takut-takut.
__ADS_1
" Silakan, asal kamu siap dengan resiko dimakan dia." Shavara mengangguk mantap.
terbirit-birit tiga gadis itu berlari menuju kamar, dengan mudah anak DaboRibo membuka kunci kamar.
" Kak,.." panggil Shavara lembut.
" Bhumi yang berbaring di kaki tempat tidur lekas menoleh, " Tidak, sayang..pergilah....aaarhh....ku mohon." Bhumi berangsur menjauh, meski hatinya menyuruhnya untuk menangkap Shavara.
" Aku ke sini membawa obat buat kakak."
" Ti..." tidak kuat lagi menahan gejolak, Bhumi menarik Shavara, ia langsung mencivmnya dengan buas, tangannya bergerilya menyentuh Shavara.
Mira bersama Berliana segera menjauhkan mereka berdua namun tidak berhasil.
" Tolong...TOLONG .."
Aditya bersama yang lain yang sejak tadi bengong bercampur takjub sejak kedatangan Alfaska, buru-buru lari masuk ke dalam kamar, mereka melotot melihat Shavara sudah ditindih Bhumi yang bernafsu mencivminya mengabaikan Shavara yang menangis di bawahnya.
Bergegas Aditya dan yang lain memegangi Bhumi, Devgan berinisiatif menyalakan air dalam bathtub sesuai saran.
Mereka menahan Bhumi, namun kewalahan karena tubuh Bhumi yang tinggi dan besar.
Ajis berlari meminta pertolongan, Wisnu dan para sahabat berlari, mereka bersama mengangkut Bhumi yang terus berteriak sambil menggeliat.
BYUR....
Mereka melempar Bhumi ke dalam bak yang penuh air, semuanya kebasahan. mereka menenggelamkan seluruh tubuh Bhumi masuk ke dalam bak sampai Bhumi sedikit tenang.
Suasana menjadi kacau, Shavara berdiri lalu berlari ke kamar mandi," Obatnya."
" Dek, kamu keluar."
" Enggak, aku gak mau ninggalin kak Bhumi."
Wisnu mengenal napas kasar," Dek.."
" Kalian aja yang tinggalin kami, aku bisa menanganinya."
" Teh, tadi aja teteh ditindih loh." ucap Aditya.
" Itu tadi, kalian keluar cepatan." usir Shavara.
Mau tidak mau mereka keluar lalu menutup pintu, namun tidak meninggalkan kamar.
" Na, duduk sini." Wisnu menepuk kasur di sampingnya pada Berliana.
" Kita beneran cuma nunggu, pak?"
Wisnu mengambil tangan Berliana untuk duduk di sampingnya mengabaikan Mira yang memperhatikan mereka.
" Gimana lagi itu maunya dia, dia kalau punya mau, keras kepalanya."
Shavara mendekati bak sambil mencari akal agar obat itu dimakan Bhumi, satu ide terbesar di kepalanya." Kak..."
Bhumi menyembul dari dalam air, ia menggeleng," hmmmhh..."
Shavara berjongkok di samping bak, mencivm Bhumi dengan menyalurkan tiga obat yang berada dalam mulutnya ke dalam mulut Bhumi.
Desakan civman Shavara memaksa Bhumi menekan obatnya. Bhumi memegang leher berputar ke tengkuk memperdalam civman tersebut.
Tangan bumi memeluk Shavara lalu menariknya untuk bergabung bersamanya dalam air hangat.
Lama p4gutan itu berlangsung dengan tangan Bhumi menjam4h seluruh tubuh Shavara yang pasrah dengan apa yang akan terjadi, namun tak ayal bening kristal meluruh dari matanya.
Meski pasrah, tetapi tetap saja bukan situasi ini yang dia inginkan. rasa asing dari bibir Shavara yang berasal dari air matanya.
Bhumi menjauh, napasnya mulai stabil, tatapan mereka bertemu, " Seharusnya kamu gak kesini." ucap Bhumi serak.
" Kamu mau Kinan yang kemari?"
Bhumi menggeleng, ia merapihkan rambut Shavara, membelai wajah wanita yang sangat dia Sakai." Aku gak mau kamu rusak."
" Apa kamu bisa bertahan?"
" Bisa kamu puaskan aku sekali saja? tidak dengan penyatuan kita. kamu paham kan!?"
Shavara mengangguk, tangannya turun ke bawah menangkap inti Bhumi yang memancing er'angan Bhumi serta mengigit bibir bawahnya.
Ia lantas mencivm kembali Shavara yang tangannya tengah memanjakan milik Bhumi.
" Soal, James aku serahkan ke om Angga dan om Edo. mudah bagi kami menghancurkan doa, tapi kami sangat menghargai sebuah hubungan. jadi kalian lah yang harus menuntaskannya." ucap Alfaska.
" Ja..jangan..papa..tidak.. bersalah."
" Ini hukumannya kalau kau arogan." sahut Adgar.
" Saya pikir kita tidak perlu melakukan pembalasan, cukup menghalangi usaha dia berkembang, toh mereka sudah diujung tanduk dengan sendirinya mereka mati." ucap Anggara.
" Apa kalian mengizinkan kami kalau kalian bermusuhan dengan Purba corp. hanya untuk mempersingkat waktu." tawar Alfaska.
" Terima kasih kalau kalian bersedia. tadinya om mau minta itu pada RaHasiYa." ucap Edo.
" Soal dia? apa kalian akan melapor pada polisi?" Alfaska melirik Kinan.
" Biar aku yang urus, aku sudah minta tiga temanku menunggu di hotel, sesuai peringatan aku yang dia abaikan." ucap Erlangga.
Erlangga dan yang keluar dari kamar setelah tidak tahan dengan erangan yang dikeluarkan Bhumi membuat pikiran mereka traveling. kemana-mana.
" Tidak, jangan serahkan saya ke dia. bawa saja saya ke kantor polisi." pinta Kinan memohon.
" Makin gak mau Lo, makin gue ngebet bawa Lo."ucap Erlangga.
" Bagaimana keadaan Bhumi?" tanya Fena.
" Vara sedang mengobatinya." jawab Wisnu.
" Apa tidak apa-apa?" Edo khawatir.
Wisnu mengedikan bahu," Bar ayang maksa, om. toh besok mereka akan sah juga."
" Aku penasaran tahu bersama siapa dia bekerja sama? apa kalian tidak penasaran?" tanya Alfaska.
Semuanya memandang Adnan yang menggeleng keras.
" Jawab saya, siapa partner kamu? kalau kamu jujur saya akan bujuk Erlangga untuk tidak bawa kamu." tawar Alfaska.
Semua mata tertuju pada Kinan yang sudah kembali di dudukan oleh anak DaboRibo, ia memindai semuanya yang berakhir pada Adnan.
" Dia... Adnan..."
BUGH...
Darah muncrat dari mulut Kinan, dia jatuh pingsan di tempat, bukan Adnan yang melakukannya, tapi Adgar.
Semua orang mematung di tempat, tubu Fena bergetar ketakutan dalam rangkulan Anggara begitu pun dengan Berliana dna Mira yang ditenangkan Wisnu dan Bian.
" Sadarkan dia." titah Adgar.
Dalam lima menit Kinan tersadar dengan wajah yang sudah tidak berupa.
" Aryo, itu partner Lo. berbohong pada RaHasiYa adalah kematian Lo." Alfaska berucap sambil berdiri merapihkan pakaiannya.
" Ini kartu nama Nathan Wilson, dia tahu keman sampah akan dibuang." Erlangga menerima kartu nama tersebut.
" Saya permisi, say selalu muak dengan orang yang gagal paham tentang hidup."
" Maaf, maaf..to..tolong beri saya satu kesempatan....lagi.." pekik Kinan ke punggung Alfaska dan Akbar yang keluar dari unit.
" Maaf...to..long bebaskan saya..."
" Bisa kalian bawa dia ke hotel hijau?" pinta Erlangga pad anak DaboRibo.
Adgar mengangguk, " Pastika kalian tahu nomor kamarnya.
" Nomornya..
" Mereka sedang latihan, bang." sela Adgar.
Tanpa dua kata mereka mengangkut Kinan yang meronta berteriak menolak.
" Aryo... tamat riwayatmu." desis Wisnu.
" Kabari kalau butuh bantuan." Adgar permisi lalu meninggalkan lokasi.
" Kebuktikan bukan gue." tekan Adnan tersenyum.
__ADS_1