Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
30. Pelindung.


__ADS_3

" Pak Dewa." panggil Ratna, guru BK dari kubikel meja kerjanya saat Bhumi memasuki kantor guru.


" Ada apa, Bu." Bhumi menghampirinya.


" Berdasarkan rapat kemarin kan bapak ditugasi menyebarkan pamflet lowongan magang, kan. ini pamflet sudah selesai dicetak, tolong disebar ya." Ratna memberi sebundel kertas padanya.


" Tapi kan yang bertugas bukan hanya saya, masa saya semua, saya takut keteteran dengan tugas kelas 12, Bu."


" Atur saja dengan pak Agam dan pak Guntur." ujar Ratna.


" Bapak kepala sekolah pintar ya yang nyebar pamflet guru ganteng dan muda semua." seloroh Dewi, guru sejarah.


" Ya sudah saya ke ruangan saya dulu, Bu."


Di saat bersamaan masuk Agam, guru biologi." Pak, ke ruangan saay, kita mulai nyebar pamflet."


" Oh, pak Dewa, tadi Bian gak masuk sekolah padahal ulangan harian, tolong kasih soal ini buat dia, nilai dia di biologi kurang beberapa poin dari KKM."


" Nanti saya kasih. lihat pak Guntur gak?"


" Saya hadir." Guntur berdiri di ambang pintu.


" Rencananya kapan mulai nyebar?"


" sebisa kita saja, seperti biasa kita bagi ke masing-masing sudut Jakarta."


" Seperti biasa Lewat kocokan ya." guntur melinting kertas kecil-kecil Yangs udah ada nama ketiganya.


" Katanya bu Siena bersedia bantu." ucap Agam.


" Saya mah sendiri aja mampu." tolak Bhumi tegas yang disambut kekehan Guntur dan Agam. pasalnya keduanya tahu jika Siena hanya ingin membantu Bhumi saja, modus pdkt.


" Udah dibagi. Wa, murid Lo Bian cs gak masuk pelajaran gue tadi."


" lah tadi mereka masih ada di kelas gue." ucap Agam.


" Ck, mereka ini kapan sih persahabatan mereka rusak."


" jangan begitulah kayak gak pernah putih-abu saja."Bhumi keberatan.


" Maksud gue solidaritas bolosnya itu, Wa. belum lagi alasan konyol yang biasa mereka pake. gue belum laporin ke Bu Ratna karena mereka udah kelas 12, khawatir point mereka menurun."


" Thank, nanti gue gibeg mereka." Agam dan Guntur mengakhiri perbincangan untuk pulang.


" Pak Dewa." Bhumi berbalik dan melihat aira dengan tubuh kecilnya belati menghampirinya.


" Tahu di mana kak Bian gak?" tanya Aira dengan napas ngos-ngosan.


" Enggak. kan kamu pacarnya kenapa nanya saya?"


" Kan bapak walasnya, masa walas gak tahu dimana muridnya gak bertanggungjawab banget."


Puk...


" Aduh..." Aira mengusap kepalanya yang dipukul dengan pamflet.


" Itu apa?"


Bhumi memberikan beberapa kertas pada Aira." tolong tempelin di tempat strategis. ini lowongan magang."


" Kalau bantu bapak saya dapat apa?"


" Ya tuhan, pamrih sekali anda."


" Jakarta ini pak."


" Satu kali makan gratis di angkringan."


" Nope, kalau di sana saya mampu bayar, di warungkita aja gimana, saya janji ini kertas habis disebar."


" Oke."


" Saya bentuk tim ya supaya cepat, mereka ditraktir bapak semua."


" Heh, ajimumpung sekali. kalau gitu aturannya berarti semuanya ya." Bhumi menyerahkan pamflet yang dia bawa, dia hanya mengambil beberapa lembar yang akan dia lakukan sendiri sebagai bentuk kalau dia sudah bekerja.


" Ck, gak mau rugi bet dah."


" Jakarta ini, mbak." balas balik Bhumi, lalu ia tertawa puas sembari berjalan menuju parkiran meninggalkan Aira yang merengut.


❤️❤️❤️❤️❤️


" Woy bos, Bolos gak bilang-bilang Lo." Devgan menepuk bahu Bian yang duduk santai di restoran cepat saji.


" Kenapa Lo? mukanya kelihatan ruwet amat." ucap Leo sembari mencomot kentang.


" Gue jadi CEO sekarang."


" CEO apa? togel? siapa orang bodoh yang ngasih kepercayaan jabatan tinggi gitu?" tanya Ajis beruntun.


"Orang bodoh itu bonyok gue."


" HAH? SERIUS?" mereka semua ternganga, Bian hanya mengangguk.


" Anjir lah bukannya bilang dari tadi, Lo traktir gue ya." Ajis mengambil kartu debit yang tergeletak di atas meja.


" Jis, sekalian gue?"


" Gue juga."


" Jangan ketinggalan gue juga."


" Kalian mau apaan?"


" Apa aja, pokoknya yang paling mahal gabungan antara nasi dan burger." Devgan, leo, dan Aditya tidak segan-segan menguras isi kartu Bian.


" Si ganteng ketimpa tiang si-alan, gue pikir kalian pada berkabung buat gue, ternyata..."


" Lha kenapa Lo sedih? bro, diluaran sana banyak orang susah nyari kerja, Lo tinggal duduk, dapat cuan." ucap Devgan.


" Ck, Lo pikir bokap Lo gak punya waktu buat Lo kerena pekerjaan beliau yang sesimpel itu?" dengkus Bian pada Devgan.


" Bukan, tapi selingkuh sama sekretarisnya." jawaban Devgan membuat suasana meja hening seketika.


" Serius?" tanya Aditya, yang diangguki Devgan.


" Bunda gue tahu, makanya beberapa hari kemarin gue gak bisa gabung sama kalian, gue harus ngurus bunda.


" Terus Lo gimana?"


" Bunda mau cerai, tapi gue bilang jangan dulu, kita abisin dulu duit papa baru bunda sama papa pisah kalau memang bunda pengen tetap pisah."


" Lo yakin mau pisah? gue gak mau cerita ibu Rianti terjadi sama bunda Lo." ucap Aditya.


" Maka dari itu, gue minta bunda buat pending gugat cerai, gue ingin kita mempersiapkan bathin dulu. gue sama adik gue harus membiasakan diri tanpa papa, bunda harus siap jadi single mom, yang terpenting uang papa harus diselamatkan."


" Gimana caranya?"


" Gue belum tahu, kalian ada yang punya ide?"


" Porotin selingkuhan bokap Lo, maksud gue dia pasti punya kelemahan, kita cari, lewat itu Lo peras dia." ide Leo.


" Gue setuju apa kata Bian dan Leo, apapun persiapannya, itu hanya sekedar meringankan sakit hati, bukan menghilangkan. tetap aja nyokap Lo pasti tertekan." ucap Aditya.


" Jadi gue kudu gimana?"


" Lakuin apa yang Leo katakan, tapi jangan kendor perhatian sama nyokap Lo. gimana pun Lo anak pertama, akan jadi kepala kepala keluarga, Lo udah siap itu belum. lihat gue, gue anak tunggal diusia remaja harus dibebankan tanggung jawab besar." ucap Bian.


" Gue bakal makin jarang main sama kalian." sendu Devgan.


" Kita yang main ke rumah Lo, lah. gitu aja ribet."


" Oke, fix tempat tongkrongan kita sekarang rumah lo. kita udah berteman dari kelas 10 udah banyak cerita termasuk dengan nyokap Lo, kebahagiaan nyokap Lo, prioritas kita sekarang." ujar Leo yang membuat hati Devgan terenyuh.


Andai Devgan sekarang di ruangan yang lebih privat ingin dia merangkul par teman laknatnya ini, namun ahrus dia tahan mengingat ini tempat umum.


" Jadi, untuk sementara Lo berhenti jadi fuckboy?" tanya Bian, Devgan mengangguk.


"Hooh, break dulu gue. anjir ternyata bang-satnya gue turunan dari bokap." gerutu Devgan.


" Seenggaknya ada yang nurun ke Lo." seloroh Leo.

__ADS_1


" Terus kok Lo bisa jadi CEO, bokap Lo udah sembuh?" tanya Ajis yang baru datang dibantu satu pramusaji membawakan pesanan mereka.


" Nyokap gue, Dakjal kan dia. laki masih baringan di rumah sakit dia mikirin duit." jawab Bian setelah pramusaji pergi.


" Anjir total banget nyokap Lo jadi cewek durja."


" Gue awalnya cuma mau tanda tangan, tapi di sini gue udah janji sama Senja buat jaga hak dia sampai saat dia mempunyai kewenangan menerimanya, ya..jadi gue putusin buat turun langsung ngurus perusahaan."


" Anjir, gak ada waktu main lagi Lo? gak asik amat hidup Lo masa remaja diisi kerja." ledek Leo.


" Masih punya, gue udah siasatin waktu sama asisten bokap."


" Aira makin jauh ya, bro."


" Ck, jangan singgung itu, itu yang bikin gue mumet. lagian dia gengsinya gede amat."


" Tadi dia uring-uringan nyariin Lo, Ampe gue digeplak gara-gara dia mikir gue boong." ucap Ajis.


" cewek Lo badan kecil jiwa bar-bar."


Bian tersenyum kecil, " kalau gak gitu mungkin gue udah metong, terus gak ketemu kalian. kalian tahu kan gimana hidup gue waktu SD dan SMP. cuma dia yang nangisin sekaligus marahin gue saat gue overdosis selain bi Iteng dan mang Ujang."


Drrt....


" Hallo." Bian mengangkat sambungan yang masuk dari Bhumi.


"......"


" Di mekdi bareng temen. kenapa?"


" ......"


" Okey, gak pulang malem. dah."


" siapa?" tanya Leo.


" Bang Bhumi. kalian ditanyain pak Guntur."


" Pak guntur kayak cewek bet pake acara ngadu, lagian ngapain pak Guntur nanyain kita?"


tuk...


Bian menjitak kepala Ajis" kalian bolos ye."


" Kan Lo bolos, masa Lo doang yang bolos nanti Lo kesepian gimana? kita mah solider sama Lo, Yan." alibi Devgan baik di tempat dan waktu yang salah.


"Sekarep Lo lah. pusing gue punya temen kayak Lo. nyesel gue ngasih tahu Lo gue di sini, gak guna juga kalian buat gue."


" Apalagi kita.."


" HAHHAHAHAHA." mereka tanpa merasa bersalah bahagia sudah merepotkan para guru.


" Btw, udah ngerasa punya keluarga?" tanya Aditya.


Bian mengangguk teringat kecerewetan Senja perihal kamarnya yang berantakan, Ibu yang memasak makanan, Bhumi yang mengomeli kemalasannya karena dia belum terbiasa membantu pekerjaan rumah.


" Gimana rasanya punya keluarga?" tanya Devgan.


" Amazing. ngerasa jadi orang gue." ucap Bian menerawang, ia merasa dianggap sebagai seseorang bukan benda sebagai pemanis hidup guna pencitraan semata.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


"Assalamualaikum."


" wa'alaykumsalam."


Bhumi berjalan ke arah banyak suara di area ruang makan dan dapur. di sana dia melihat Shavara dan Mira tengah membantu ibu dan bi Sumi.


" lho di sini?"


" Kenapa emang?" tanya Rianti sembari menerima uluran tangan Bhumi untuk manyalaminya.


Bhumi menaruh pamflet itu di atas meja." ini apa?" tanya Rianti membaca pamflet.


" Lowongan magang di bagian administrasi sekolah."


" Ooh, masih mereka ngirit dana?" Bhumi terkekeh mendengar ras apatis ibunya.


" Udah balik, cuma satu matkul. ke sini di panggil ibu tadi pas lewat depan rumah mau ke kostan Mira."


" Ternyata yang penghuni baru itu temannya Vara, Bhum."


" Oh si paling sibuk ngurus proposal." sindir Bhumi, Mira mendelik padanya sementara Shavara terkikik-kikik.


" Kamu bersihin badan dulu, baru makan. udah makan belum?"


" Belum Bu, Bhumi ke kamar dulu ya."


Saat Bhumi berjalan hendak ke luar dia menarik pelan kemeja Shavara memberi kode keluar dengan kepalanya agar mengikutinya.


Hal itu disadari Mira," Tan, ada yang Mira dan Vara bantu lagi gak?" sengaja Mira memanasi Bhumi yang menurutnya menyebalkan.


" Udah gak ada, tinggal diikat tali." jawab rianti dari dapur.


" Shava sini." bisik Bhumi dari balik pintu.


Shavara menggeleng, ia takut rianti keberatan, namun tingkah mereka tertinjau oleh ekor mata rianti, ia mengulum senyum.


putranya yang biasa datar ada perempuan ternyata bisa bersikap kekanakan juga.


" Sshhtt, Shava. hei, Shava." Mira celingukan mencari suara bisikan itu. Mira tidak menggubrisnya.


Bhumi yang paham Mira tidak berniat membantu, menyipitkan mata, " Shava...Shava."


" Ada ibu."


" Sini."


" Apa?" tanpa suara Shavara bertanya balik.


" Sini."


" Gak mau."


" Neng Vara." panggil Rianti.


" Iya Bu." jawab cepat Shavara karena kaget, Bhumi bersembunyi di balik tembok


ingin Rianti tertawa namun dia menahannya, lagian ada-ada saja kelakuan pro dewasa itu." Tolong ambilkan buku catatan ibu di ruang tamu."


" Eh iya Bu." Bhumi dibalik persembunyiannya mengulum senyum senang.


Shavara berjalan ke ruang tamu, dibuntuti Bhumi dia mencari di sekelilingnya namun tidak menemukannya.


" Kakak, awas ih. ini biasanya bukunya dimana kok gak ada?"


di bawah meja." bisik Bhumi sedikit menempelkan bibirnya pada Shavara.


" Kak, geli." Bhumi dari belakang malah merangkul pinggangnya.


" Astagaaa... nanti di lihat ibu."


" Bentaran doang, pengen ngelepas kangen."


" Jangan alay, kita baru ketemu tadi pagi." Shavara sedikit meninggikan suara karena risih.


Di situ Bhumi tertegun, ia melepas rangkulannya, menatap Shavara yang berwajah biasa padanya tidak seperti dirinya yang selalu bahagia jika bertemu Shavara. ada sedikit keresahan di dirinya, apakah Shavara belum mencintainya, atau memang dia terlalu berlebihan seperti apa kata Shavara.


Tapi apa yang dia lakukan itu apa yang dirasakan, entahlah apa yang Shavara miliki, tetapi Bhumi selalu tidak bisa menahan gemuruh jiwanya untuk bersentuhan dengan Shavara.


Shavara masih belum engeh perubahan sikap Bhumi, ia terus mencari buku tersebut tanpa menggubris Bhumi.


" Sorry, kalau aku bikin kamu gak nyaman. aku bakal lebih merhatiin suasana hati kamu." ucap sedih Bhumi, dia merasa tertolak. Bhumi berjalan menjauh ke arah tangga.


Shavara berhenti mencari, dia menatap Bhumi yang sudah memasang raut berbeda, di sana terlihat kesedihan. Shavara bingung harus bagaimana.


" Kak, maaf, bukan begitu...aku...hanya..."


Bhumi tersenyum, memaksakan diri." Its okay, bagus kamu mengungkap perasaan kamu supaya aku tahu keadaan hati kamu, aku yang minta maaf."


Shavara mendekatinya." Kak.."

__ADS_1


" Hmm?"


" Jangan marah."


" Enggak, gak marah." Bhumi mengelus kepal Shavara sebelum menaiki anak tangga. Shavara masih berdiri dibawahnya dengan tatapan sendu.


" Ada apa?" tanya Rianti di belakangnya.


Shavara berbalik, " eh Tante, maaf lama ya, tapi bukunya gak ada, Tan."


" Udah ketemu, ada di dapur ternyata."


" Kenapa muka Vara sedih begitu?"


" Ah, eh..enggak. biasa saja Bu. gak ada apa-apa." Rianti memerhatikan Shavara yang gugup."


" Berantem sama Bhumi?"


Shavara menggeleng." enggak Bu."


" bisa kita ngobrol sebentar?"


"Iya."


Mereka duduk di ruang tamu dengan Rianti duduk di sofa tinggal, Shavara di sofa panjang di samping Rianti.


" Tante Riska bermaksud ikut campur tapi tadi Tante lihat muka Bhumi sedikit muram, Vara tahu kenapa?"


Shavara menunduk, dia bingung mau menjawab apa, tidak mungkin kan dia menjawab yang sebenarnya.


" Cuma salah paham, Tan."


" Syukurlah kalau cuma begitu. Tante pikir kamu tidak nyama dekat dengan Bhumi."


" Kok Tante mikir kayak gitu?"


Rianti tersenyum," Tante bisa lihat bagaiman dia kalau ada kamu, kemarin kamu yang berhasil meredam amarahnya Tante cukup kaget."


" Sejujurnya itu kali pertama Tante lihat dia emosi, Bhumi selama ini hanya menunjukan raut tenang dan bahagia, tapi tidak dengan matanya yang datar."


" Sepanjang hidupnya bahkan Tante gak pernah mendengar dia bercerita tentang teman atau sekolahnya kalau tidak ditanya, ditanya pun hanya menjawab sekedarnya. sampai akhirnya Adnan dan elang main ke sini, dari mereka Tante tahu kalau mereka bersahabat sejak SMA, bahkan dengan adnan sewaktu SD mereka bersahabat."


" Tapi dengan kamu Tante bisa dia lebih hidup, padahal Tante khawatir dia menolak kembali perjodohan itu."


Shavara tersenyum" jadi beneran pertemuan itu memang untuk menjodohkan kami?"


Rianti tertawa kecil seraya mengangguk." tidak dipungkiri Tante punya kecemasan tersendiri tentang Bhumi. masa 27 dia gak pernah ngenalin pacar, itu mencurigakan gak? kalau Anan dan elang bukan playboy Tante pikir mereka punya hubungan khusus, kan itu horor, Ra "


Shavara tertawa, "iya juga ya."


" Tante sempat menanyakan tentang bhumi ke konsuler Tante, bisa jadi Bhumi mengalami trauma dengan apa yang terjadi pada Tante, di situ Tante merasa bersalah, Tante menyalahkan diri sendiri mengapa tidak bisa menahan semua luka batin Tante, mengapa Tante menjadi orang lemah."


Shavara teringat akan ucapan bumi yang dia merasa tidak percaya diri bisa menjadi lelaki baik untuk pasangannya kelak.


" Ra, tolong jangan mudah mundur sam Bhumi, Tante yakin Bhumi tidak akan sebejat Aryo."


" Enggak, tan. kak Bhumi jangan disamakan dengan Aryo, Aryo diluar level kak Bhumi. dari kak Bhumi aku tidak lagi menjadi diriku yang lemah, aku sadar putusnya pertunangan, bukan akhir dari hidup."


" Lihat kalian itu cocok, saling membutuhkan satu sama lain. Tante tahu itu dari sikap Bhumi yang beda sama kamu."


" Tapi masa dia nolak semua anak teman Tante?"


" Ra, anak teman Tante gak perlu diminta, ibunya sendiri yang minta Bhumi padahal Tante udah bilang anak Tante itu kere, kerjaannya cuma guru, tapi mereka bersikukuh tetap pengen, tapi apa mau dikata Bhumi-nya gak pernah merespon."


" Kurang pendekatan aja kali, Tan."


" Modus pertemuan Tante itu, hampir sama dengan kamu, kami meninggalkan kalian sendiri, kamu tahu apa yang dilakukan Bhumi, dia memesan taksi untuk mengantar perempuan itu pulang tidak lama kami pergi. No telpon yang dikasih perempuan tidak pernah di save bahkan diblokir, Tante sendiri lihat di hp-nya.


" Hah? serius?"


" Bhumi itu ramah, tapi dia males basa basi atau menajam hati orang. pernah Tante ngadain pertemuan itu malam, eh dia malah pamer jadi anak berbakti yang tidak mungkin embairkan Tante pulang sendiri atau diantar teman karena udah malam."


" Bukannya malam itu kak Bhumi membiarkan Tante pulang bareng mama?"


" Nah itu, disitu Tante punya firasat kalau Bhumi suka kamu, sumpah, itu pertama kali dia merespon atau melihat orang yang dikenalkan padanya. biasanya dikenalin, salam, udah gitu gak ada lagi omongan."


" Coba yang lain?"


" Ra, banyak dari mereka datang kemari setelah pertemuan itu dengan berbagai alasan, bahkan ada ang nekat pake taksi, supaya pulangnya dianter, tapi dengan entengnya Bhumi pergi dengan alasan ada urusan, itu weekend loh, Ra. biasanya juga weekend dia habisin ngusilin Enja."


" Ra, sabar dengan Bhumi, bisa? mungkin ini tidak mudah bagi kamu, tapi Tante senang lihat muka dia yang lebih hidup."


" Kami belum sedekat itu, Tan. Tante jangan terlalu banyak berharap sama aku, aku juga gak sebaik itu."


" Tante gak bisa ngikut kedekatan kalin, Tante gak mungkin ngenalin anak Tante pada wanita yang menurut Tante gak baik buat Bhumi, tapi Tante gak berharap kamu sempurna, nanti kamu gak butuh Bhumi, kan gawat."


" Kalian lagi ngobrolin apa?" Bhumi sudah berdiri dari antara mereka.


" Eh anak ibu udah ganteng dan fresh." Bhumi menaikan alisnya mendengar guyonan ibunya .


" Lagi gibahin aku ya?"


" Ck, PD, makan dulu yuk, baru nganterin pesenan." Rianti beranjak dari dapur.


" Ibu ngehindar gitu kelihatan banget kegep ngomongin aku." Bhumi mengikuti ibunya tanpa menyapa Shavara. Shavara menghela napas berat.


" Mana ada, apa juga yang mau diomongin tentang kamu?"


" Banyak."


" Ck, cepat makan, nanti kesorean." Rianti menyiapkan makanan untuk Bhumi.


" Aku nganterinnya sama siapa, Bu? ini banyak banget lho."


" Enja mana?"


" Tidur."


" Coba telpon Bian, dia kok belum pulang jam segini gurunya aja udah cakep lagi."


Bhumi menelpon Bian, namun tidak lama." dia lagi sama temennya."


" Kok gak langsung pulang."


" Nanti sore katanya, gak main sampe malem kok. biarin aja Bu. hari ini dia dari rumah sakit, tadi aja bolos." ucap Bhumi meminta pengertian ibunya.


" Tan, aku sama Mira pamit pulang ya?" ucap Shavara memasuki ruang makan.


" Makan dulu. baru pulang. pulang ke kost Mira kan?"


" Enggak, aku langsung pulang."


" Mira jangan pulang dulu, tunggu Tante bikin bekal kamu di kost." Rianti membuat banyak bekal untuk Mira.


" Ini kebanyakan, Tan."


" Bareng sama yang lain, gak enak kalau enak kalau Tante cuma ngasih kamu."


" Makasih, Tan.".


" Mir, Kali ada teman kamu yang nyari kostan tolong promosiin kostan Tante ya, kan masih ada yang kosong."


" Beres, Tan. aku pamit dulu ya."


Saat Shavara hendak keluar bareng Mira tangannya dicekal Bhumi." Makan dulu, nanti pulangnya aku anter."


" Iya, Vara makan dulu. gak apa-apa kan, Mir."


"Gak apa-apa, Tan. itu lebih bagus, jatah makin banyak." seloroh Mira, lalu dia melanjutkan langkahnya.


" Kamu udahan marahnya?" bisik Shavara.


" Aku gak marah." Bhumi menyiapkan makanan untuk Shavara ke atas piring.


" Beneran! suer..." tekannya, saat Shavara memperhatikan dirinya karena ragu.


" Syukurlah, dari tadi aku gak enak hati mikirin kamu yang cemberut sama aku."


Bhumi terkekeh, " Siapa yang cemberut? udah kita bahas itu di jalan, sekarang makan." Bhumi mengelus surai panjang Shavara.


" Jangan berubah sama aku."

__ADS_1


Bhumi tersenyum." Sayang aku ke kamu masih sama, itu yang harus kamu yakini."


__ADS_2