
" Assalamualaikum." Biyan membuka pintu rumahnya, hanya ada Siena yang duduk di ruang tamu sibuk dengan ponselnya.
" Yan, sini. Tante mau ngomong sebentar." Siena nunjuk ke sofa di sebelahnya.
"Ngapain tante duduk di sini, kayak jadi pawang WiFi aja."
" Ck, mulutmu itu, Yan. Tante mau nanya, memang benar pak Dewa sudah punya calon istri?" Siena mencondongkan badan ke Biyan.
" Gak tahu, ngapain nanya ke aku, tanya lah sama orangnya."
Siena berdecak sebal," Kalau bisa ngorek dari dia, tante gak bakalan nanya ke kamu, Yan."
" Lagian Tante gak malu apa udah ditolak mulu, dipermalukan. masih aja ngejar, harga diri, Tan." ejek Bian.
" Ini namanya perjuangan cinta, Yan. kamu mana ngerti soal itu. kalau Tante berhasil, nanti kamu juga yang diuntungin."
Bian tertawa meremehkan," Tan, gak semua lelaki mau modelan kayak Tante, jadi jangan ngehalu, nanti pas gak terealisasi jatohnya gila."
" Memang Tante mu ini modelan kayak gimana Yan, sampe gak pantes dengan pak Dewa mu itu?" tantang Siena percaya diri.
" Tante tahu pak Dewa udah punya calon istri tapi masih aja ngejar, itu namanya penggoda. seumur hidup Tante numpang di rumah aku, makan minum bahkan bermewah-mewahan dengan fasilitas Papa, berkerja hanya untuk mengisi waktu bukan passion, itu namanya males. Selian body, Tante punya modal apa bersanding dengan pak Dewa yang cerdas itu?" tantang balik Biyan.
" Kamu itu kalau ngomong kenapa gak pernah menyenangkan, punya dendam apa kamu sama Tante."
Biyan berdiri," dendam sih nggak, cuma gak ada satu pun dari Tante yang bikin aku respect. jangan sampe Tante kayak si Arleta, itu aja sih peringatan dari aku."
Dirasa sudah tidak ada yang penting, Biyan berjalan ke dalam rumah.
" Bian, darimana saja kamu gak pulang-pulang?" todong Desty yang sedang membaca majalah fashion di ruang keluarga begitu Biyan melewati ruangan itu.
" Tumben Mama peduli. biasanya Biyan gak pulang sebulan saja Mama gak ada nyari." sindir Biyan duduk di seberang Desty, bersandar memejamkan mata, ia selalu merasa lelah jika harus pulang ke rumah mewah ini.
" Ck, tinggal jawab, ribet amat." decak Desty.
" Ada apa Mama telpon aku mulu?" Biyan memperbaiki duduknya lebih tegak.
" Kamu ditanyain Papa."
Biyan mengernyitkan alis," Karena Papa Mama gangguin aku, Mama tinggal bilang kalau aku main seperti biasa."
" Papa kamu gak bisa dikelabui. beliau tahu kamu gak pulang-pulang. btw, kenapa kamu kurangi jatah bulanan Mama?" Desty menutup majalahnya.
Sejak Biyan memegang tampuk kepemimpinan, Biyan memotong jatah bulan Desty hingga 35 %, Edo 30% dari keuntungan bersih perusahaan diluar gaji Edo sebagai dewan direksi perusahaan.
"Mama gak punya andil apapun dalam hidup papa atau aku maupun perusahaan, jadi ngapain dikasih banyak." jawab Bian enteng.
" Gak bisa gitu dong, kamu sejak megambil alih perusahaan, kok jadi kurang ajar ya, Mama lho yang ngusahain kamu di posisi sekarang, seharusnya kamu kasih Mama jatah lebih banyak dibanding Papa kamu sebagai bentuk terima kasih."
" Aku gak pernah minta, apalagi ngemis. seingat ku, aku pernah menolak posisi ini mama saja yang terus maksa aku."
"Ini demi masa depan kamu, Biyan. kamu terlalu banyak buang-buang waktu untuk bermain dengan teman mu yang tidak berguna itu."
" Aku masih 17 tahun, wajar saja kali aku banyak main."
" Minggu depan kamu 18, saatnya kamu harus lebih serius menata hidup kamu."
" Untukku atau untuk Mama?"
" Apa maksudmu, tentu saja untuk kamu, kamu ahli waris tinggal papa kamu, wajar kalau harus mempersiapkan dini sebagai pemimpin.
Biyan tidak membalas perkataan Mama-nya, dia memilih beranjak ke kamarnya.
" Mau kemana kamu?" tanya Desty kala Biyan sampI di anak tangga ke tiga.
" Kamar."
" Duduk, Mama belum selesai bicara gak sopan banget jadi orang."
Biyan berbalik, menatap Desty." Ma, apa tujuan Mama jadiin aku petinggi perusahaan diusia aku yang masih muda? kalau demi aku, kit atau itu omong kosong, Mama tidak pernah memperdulikan aku." tekan Biyan tegas.
Wajah Biyan yang serius mampu membuat Desty menelan salivanya karena gugup.
" Jelas, supaya kamu mempelajari perusahaan Papa, mama udah bilang, bagaimana pun kamu ahli warisnya, kamu harus belajar dini soal perusahaan."
" Masih ada bang Dewa, Ma."
"Jangan sebut anak durhaka itu." sentak Desty marah.
" Lusa Mama akan ke kantor kamu bawa asisten buat kamu."
"Jangan, Minggu besok aku semesteran, aku gak nerima keribetan apapun."
"Kalau begitu minggu lusa lagi."
"Ma, Mama ga dengar, aku menolak apapun intervensi dari Mama. kalau mama nekat, aku potong setengah jatah bulanan Mama." ancam Biyan kesal.
" Songong kamu main ngancem Mama. Mama usir kamu dari sini jadi gembel kamu. apapun yang kamu miliki saat ini itu hasil dari usaha Mama, gak bisa kamu seenak udel bersikap sewenang-wenang sama Mama." murka Desty.
Biyan tersenyum kecut, "beberapa hari ini aku gak pulang, dan aku masih baik-baik saja. tapi kalau aku yang usir Mama dari rumah ini, Mama jadi apa? cuma ngingetin aja sih, rumah ini sudah jadi milikku."
__ADS_1
" BIYAAANNN..." teriak Desty yang diacuhkan Biyan.
Seseorang yang berdiri di balik pintu berwarna coklat mengkilat tersenyum bangga akan jawaban Biyan, ia membuka pintu," Yan, bisa ke ruangan Papa? ada yang mau Papa bicarakan."
" Baik, tapi gak lama kan?"
" Enggak, cuma bentaran."
Biyan kembali turun, ia mendekati papa-nya.
Desty berdiri" Kalian mau bica apa? kok Mama gak diajak diskusi."
" Perusahaan, apalagi. Kamu bukan lagi bagian dari perusahaan, jadi ngapain ikut pembicaraan kami." seru Edo sebelum masuk ke dalam ruangan.
Biyan menyeringai devil menertawai wajah Desty yang memerah menahan marah sebelum menutup pintu.
Edo mengamati Biyan yang khusu' mempelajari dokumen peralihan perusahaan Edo yang lain.
" Jadi, kekayaan Papa gak semua dalam satu dokumen? dan diserahkan ke aku?" Biyan menaruh dokumen yang telah selesai dia baca ke atas meja.
Edo menggeleng, " Papa menyiapkan ini untuk kakak mu, Dewa. Papa pernah menawarinya saat dia kuliah, namun ditolak."
" Pastinya. mana bagian Senja? Papa sudah melihatnya, dan dia begitu mirip dengan mu. tentu Papa tidak lagi berpikir kalau dia bukan anak mu, pah." todong Biyan.
Edo terdiam, tidak tahu harus menjawab apa, kenyataan soal Senja masih mengejutkan dirinya.
Bertahun-tahun dia meyakini Rianti berselingkuh, dan bayi yang ada dalam kandungan mantannya itu bukan bayinya, tentu tidak mudah baginya menerima kenyataan kalau Senja kemungkinan anaknya.
" Papa masih harus menelusuri kebenarannya, Yan."
Biyan tertawa miris, " Dia bagai pinang dibelah dua sama Papa, bang Dewa hanya mendapatkan wajah tegas dan kulit putih dari Papa, beda dengan Senja yang begitu plek keteplek mirip Papa."
" Yan, Papa butuh waktu." elak Edo.
" Gak perlu berusaha, mereka juga gak memerlukan pengakuan Papa, Bang Dewa sangat memastikan kalau Senja tidak kekurangan kasih sayang ayah."
Edo tidak menyukai kalimat itu, dia tidak ingin perannya diambil oleh orang lain, egois memang.
" Sepertinya kamu tahu banyak soal mereka." Sindir Edo.
Biyan mengedikkan bahu," Senja satu sekolah dengan ku, aku melihat sendiri bagaimana bang Dewa menyayangi Senja."
" Bagaimana hubungan kamu sama abangmu di sekolah?" Edo menelisik raut terkendali Biyan, dia berharap dapat menebak isi hati putranya ini.
Biyan mengedikkan bahu seolah hal ini bukan hal penting," Biasa saja layaknya murid sama guru."
" Dia tahu kamu adiknya?"
Edo lama mencermati jawaban Biyan, disusul senyum kecut dari bibirnya. dadanya terasa sesak kala mengetahui kebohongan yang nyata di depan mata.
" Jangan ngaco, jelas alami bule kayak Papa."
"Bule iya, tapi bule-nya aku bukan khas Eropa Italia, lebih ke Amerika, aenggaks sih. Papa amati saja aku."
" Jangan ngawur, kamu anak Papa."
" Cuma ngingetin aja, Pa. segala sesuatu kemungkinan terjadi. sepeti Senja ya g kemungkinan besar anak Papa." sarkas bi
ayan sinis.
" Kamu sendiri, bagaimana?"
" Apa?"
" Soal ini semua."
" Biasa saja, walau awalnya kecewa. tapi setelah mengetahui semuanya aku cuma bisa menerima."
" Tahu soal apa?" tanya Edo cemas.
Biyan menatap tegas pada manik Edo," Soal Papa dan Mama berselingkuh, bukannya berpoligami. kalian pisah bukan karena tidak damai dengan istri pertama Papa seperti cerita Mama."
Edo sontak menegang, ia duduk tegak di kursinya." sejak kapan?" tanyanya bersuara tercekat.
" SMP, aku tahu lebih banyak dari yang Papa kita. itu menghancurkan diriku, itulah mengapa aku terjerumus dalam lembah narkob4, aku butuh pelampiasan dari kekecewaan ku." ucap Biyan dengan suara berat.
" Darimana kamu tahu?"
" Tidak penting dari mana, pertanyaan aku, mengapa Papa tidak menyayangiku kalau papa memilih kami ketimbang ibu Rianti." tanya Biyan dengan dada yang terasa sesak menyakitkan.
" Maaf."
" Bukan jawaban itu yang aku mau." jawab cepat Biyan sedikit meninggikan suara.
" Aku masih kecil, aku tidak punya andil apapun, aku juga tidak bersalah, aku tidak bisa memilih siapa yang menjadi orang tua ku, kalian begitu kejam menempatkan ku dalam dunia gelap tanpa kasih sayang. melepas ku sebelum aku sendiri mampu berjalan."
" Apa maksudmu? kamu ada Mama."
Biyan tertawa, namun dari matanya mengalir buliran kristal bening," segitu gak dianggapnya aku oleh Papa sampai papa tidak tahu kalau Mama selama tidak memperdulikan aku. ketika Papa keluar dari rumah sejak itu mama sibuk dengan dirinya sendiri meninggalkan aku di tengah kemewahan yang membingungkan apa yang harus aku lakukan. andai tidak ada bi Iteng, mungkin aku akan tersesat selamanya dalam kegelapan tersebut." lirih Biyan di penghujung kalimatnya
__ADS_1
Edo tersentak akan kesakitan jiwa yang dialami putranya, ia mengutuk dirinya yang lagi-lagi membuat putranya yang lain kecewa.
" Papa bisa meninggalkan kami, dan kembali pada ibu Rianti jika memang itu membuat papa merasa bersalah, tapi ini gak adil buat aku yang dianggap tidak penting oleh papa karena ini bukan kesalahan ku, Pa. kalian egois, kalian pengecut." ucap tajam Biyan tanpa memikirkan etika.
Edo mengusap tengkuk dan dadanya mengusir sakit di hatinya yang kian teramat nyeri." Maaf, maafkan Papa, Yan."
Biyan menggeleng, ia menyeka cepat air mata yang tidak bisa berhenti, menampilkan senyum pedih," terlambat, Pa. aku udah mati rasa mengenai keluarga ini." Biyan beranjak meninggalkan ruangan dengan Edo yang tertegun kaku di tempat.
" Ya tuhan, kekacauan apa yang sudah aku lakukan." Edo mengusap wajahnya kasar, menyembunyikan wajah dibalik kedua tangannya.
BRAKH....
Edo menatap nanar pintu saat mendengar pintu utama ditutup kasar.
Ceklek...
" Pa, ada apa? kenapa Biyan ngamuk?" Desty berjalan mendekat ke meja Edo.
Edo mendongak, matanya tidak lepas dari gerakan wanita yang masih terlihat cantik dan sexy diusianya yang kepala empat.
" Ma, apa benar Senja bukan anak aku?" tanya Edo merenungi ucapan Biyan.
Langkah Desty terhenti akibat pertanyaan itu, dirinya membeku di tempat.
Kegugupan terpampang jelas di wajah yang selalu dihiasi makeup itu walau hanya sesaat," Papa lihat sendiri buktinya, mana berani aku menipu mu, saat itu aku masih sekretaris mu, jadi tidak mungkin kan aku menipumu." ucap Desty disertai senyum kaku.
Edo mengangguk," sebaiknya memang begitu adanya, atau ku balas perbuatanmu melebihi apa yang kau kira. sebagai bawahan ku kau pasti pernah melihat bagaimana aku membalas para musuhku."
Desty merasakan tubuhnya merinding ketakutan, iya, dia tahu kesadisan pria berdarah Italia tersebut kala ada orang yang menipunya.
Korban terakhir, dia kehilangan seluruh anggota keluarga dan perusahaannya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Biyan melakukan motornya mengebut menyalip gila-gilaan hingga mendapat hardikan dari pengguna jalan lain.
" Aaaaaaa....Aaarrgghh...." jerit Biyan sekuat tenaga.
kilasan masa kecilnya yang kesepian kembali memenuhi otaknya, ia sungguh membenci masa lalunya, itu sangat membuatnya sesak.
"Bangs'at, baji'ngan...ma'tiii...kalian semua..." teriaknya frustasi.
Ia terus berteriak meracau mengumpat hingga bayangan Aira muncul menggantikan bayang masa lalu yang penuh luka itu.
Kontan ia memberhentikan mendadak motornya yang mendapat protesan dari motor di belakangnya.
Biyan merogoh saku jaket kulitnya, ia m ngambil ponsel guna menelpon Aira.
" Hallo..."
" Sayang, aku butuh kamu....hiks...ini terlalu menyakitkan." lirih Biyan memegangi dadanya
" Kamu di mana? share loc." ucap tegang Aira di seberang.
" Kakak jangan kemana-mana, diem anteng sana saja, aku ke sana." tambah Aira panik.
Aira yang sudah berpiyama hendak tidur, beranjak keluar kamar berlari kecil terburu-buru menuruni tangga sambil menelpon para sahabat Biyan, termasuk Senja.
Aira menelpon Senja supaya dia tahu penderitaan yang Biyan alami selama ini.
Satu-satunya hal yang selalu membuat Biyan putus asa dan kepayahan secara bathin hanya soal keluarganya yang selalu berhasil membuat dirinya ingin menjitak ibu dari kekasihnya itu.
BERMM....BREEMMM...
Suara keras dari knalpot yang sudah akrab memancing Biyan yang duduk di bangku panjang warung kopi menoleh ke belakangnya.
Ketiga para sahabatnya turun dari motor dengan pakaian rumah karena mereka tidak sempat berganti pakaian saking gemasnya, Devgan malah hanya mengenakan kolor kuning Spongebob kebanggannya dibalik jaket kulit mahalnya.
" Gercep amat." sindir Biyan emngkung senyum, rasa haru tak ayal selalu dirasakannya saat para sahabatnya itu selalu datang di saat dia membutuhkannya.
" Ck, kalau bukan demi Lo, mana mau kita. sekarang Lo tahu akan kalau kita saling bucin." kesal Devgan.
" Ngapain sih Lo balik?" kesal Leo.
" Dipanggil Mama, katanya ada hal penting tahunya cuma dicari papa."
" Tumbenan." Aditya membawa empat gelas kopi.
" Tumben anak Mama boleh keluar di jam segini?" Sindir Leo, menunjuk jam tangannya yang sudah pukul sepuluh.
" Lo nelpon gue pas gue masih nonton tv sama nyokap bokap. Gue panik, mama juga ikut panik pas gue kasih tahu, beliau malah yang nyuruh gue pergi. Lo disuruh nyokap nginep di rumah gue." ujar Aditya.
" Kenapa Lo sampai kolaps lagi? Lo udah dapet keluarga baru yang nyayangin Lo." seru Devgan.
Biyan menyugar rambutnya," gue kasih tahu Papa soal kebejatan dia, dan juga soal yang lain mengenai penipuan nyokap.
Ketiganya menyimak seksama cerita Biyan tanpa menyela, hanya mendengarkan curahan hati sahabat seperti biasa jika diantar mereka ada yang kesusahan.
" Nyokap Lo emang definisi wanita cantik fisik busuk hati, anjir, si'alan banget dia."
__ADS_1
" Jadi nyokap Lo yang fitnah ibu berselingkuh, sampai papa meninggalkan kami hanya demi hidup nyaman." ucap Senja terluka sarat kemarahan.
Mereka berbalik, dma terbelalak melihat senja dan Aira berdiri tidak jauh dari mereka....