
" Prangggg..."
Teriakan nama Senja dari semua orang yang hadir membuat Bhumi refleks membawa Senja ke dalam pelukannya secara bersamaan ekor matanya menangkap pergerakan Desty, maka lantas ia pun berputar lalu menend4ng kencang tepat di perut Desty yang membawanya terseret mundur membentur lemari yang memecah kacanya yang sudah retak tersebut.
" Kyaaa...." Desty memegang kepala bagian belakanganya yang teramat sangat sakit dan perutnya.
" Adit, bawa Senja pulang." Bhumi melepas pelukannya.
" Enggak, Enja gak mau pulang, enak gak ingin Mas terluka." senja menhan tangan Bhumi.
" Kamu sebaiknya pulang, di sini bukan tempat yang baik buat Enja. pulang ya, please." Bhumi melepas cekalan Senja yang langsung disambut Aditya yang sudah menjinjing tas ransel Senja.
" Kita pulang, biar pak dewa mengurus wanita itu,, giliran kamu nanti." Aditya memegang tangan senja dengan erat.
Mau tidak mau senja mengangguk patuh." Mas harus tetap baik-baik saja."
" Pasti."
Dengan langkah gontai Senja keluar dari ruangan, saat dirinya melewati Edo, Senja berhenti lalu menoleh pada Edo.
" Kalau kau segitu merasa marah dan menyesal, urus wanita itu agar tidak mengganggu kami lagi." ujarnya sebelum berlalu menghilang ditelan pintu yang tertutup.
Tatapan Edo dingin tak berperasaan, kala matanya melihat Bhumi menyeret Desty menggunakan kerah blousenya melewati ruangan luas ini.
" Dulu, dengan tubuh kecil ku, aku mampu menyeret mu, sekarang kau bahkan bagai sebungkus plastik kapas untuk ku hinakan.
" To..tolong..." rintih Desty yang meras anterin di punggungnya.
Tangannya menggapai celana bahan Edo saat mereka melewatinya menuju pintu.
" Maaa....sss...to ..to .long.... A..ku...ist...tri...muuu...."
Tidak ada tanggapan apapun dari Edo yang menatap langsung ke wajah Bhumi yang datar tanpa belas kasih.
" Bahkan kalau kau meminta pertolongan pada sang raja iblis sekalipun tidak akan ku biarkan kau lolos.apa u ingin menolongnya?" tanya Bhumi pada Robert.
Robert menggeleng, " Silakan, bawa kemana anda ingin mengungsikannya. saya tidak punya tanggung jawab apapun terhadap dirinya."
" Huh, bukankah anda partner in bed-nya?"
" Hanya partner, nothing else." jawab Robert santai.
" Robert, kau...tidak bisa.. memperlakukan aku begini." rintih desty dengan suara pelan.
" Bian, to..long.. Ma__ma..." Desty menatap penuh permohonan pada putranya yang selama ini dia abai bahkan peralat.
Hatinya sakit saat mendapati Bian tidak merespon apapun atas rintihannya, Bain hanya menunduk ke arah meja tanpa tahu apa yang dia lihat.
" Bi....an..."
Bhumi terus menyeret Desty, saat hendak Samapi ke pintu, toni bergegas membuka pintu tersebut.
Melewati lorong ruangan, tanpa menghentikan langkah, ia menekan lift, mengabaikan teriakan dan racauan permohonan Desty yang bagai seonggok daging hidup bergerak-gerak payah di bawah tatapan terkejut para pegawai yang melihatnya yang juga tengah menunggu lift.
" Saat lift terbuka, Bhumi lekas masuk," Apa kalian tidak mau masuk?" mereka menggeleng cepat, meringis melihat uluran tangan Desty yang meminta pertolongan.
" Saat pintu lift tersebut tertutup, barulah buan memberi instruksi pada asistennya.
" Bawa Tante Siena pergi menyusul ibunya, lalu para pegawai yang tadi melihat bang Bhumi suruh berkumpul di sini.
" Baik." Toni memanggil security dan pegawai pengontrol cctv.
" Yan, Papa tunggu kamu di ruangan Papa."
" Hmm."
" Mr, Robert, mari kita ke ruangan saya, demi hubungan profesional saya harap anda berkata jujur mengenai Bian."
" Tentu."
Di lobby, para pegawai menyingkir takut dan kalut saat melihat nyonya besar mereka yang biasa sombong diseret tidak berdaya oleh pria gagah berdarah campuran dengan banyak luka di sepanjang melintasi lobby.
" Siapa...saja..to..long..saya..." lirih Desty mencoba berteriak.
" Kalau kalian sih sayang dengan hidup kalian, lebih baik anggap kalian tidak melihat ini." seru Toni menggelegar di belakang Bhumi kepada para pegawai.
" Turunkan ponsel kalian, dan hapus baik foto maupun video yang sudah kalian ambil, atau kalian akan berurusan dengan RaHasiYa."
Orang-orang yang sudah terlanjur mengambil dua hal tersebut segera menghapusnya dan orang yang hendak melakukannya segera menurunkan ponselnya.
Pihak keamanan segera menutup akses pintu perusahaan.
Wajah datar nan dingin itu tidak menghiraukan sama sekali jeritan tertahan dari para pegawai.
Bhumi melempar tubuh Desty kala sampai di pelayan lobby, Desty terkapar bagai tak bernyawa di bawah sinar matahari," Tumpuk mereka berdua." titah Bhumi pada security yang membopong tubuh Siena.
" Aakkhhh..." lirih keduanya saat terdengar suara benturan karena tumpukan tubuh mereka.
" Pak Dewa,..to..long sa..ya..." Siena mengangkat satu tangannya yang tidak dihiraukan Bhumi.
Para pegawai yang menjerit memelankan suaranya tertahan akal ta Bhumi menatap tajam mereka dengan aura penuh amarah, tidak ada yang berani bergerak, mereka berkumpul bergerombolan.
Namun semua itu lolos dari pandangan wanita cantik yang tertidur lelah lama menunggu dengan ponsel menyala yang menayangkan kartun Ipin-Upin yang tergeletak di atas pangkuannya diantara dua tangannya yang pegangannya mengendur dalam mobil Pajero hitam.
" Tuan."
" Bawa mereka ke kandang mereka, minta Bian untuk memastikan mereka tidak mendekati Senja."
Baik, tuan."
" Jangan panggil saya Tuan, saya bukan majikan kamu." tukas Bhumi yang selanjutnya langsung melangkah ke arah mobilnya.
" Baik, Dewa." Toni membungkukkan badan 90 derajat sempurna seraya berucap memelan dengan suara tercekat.
" Maaf, maafkan saya yang tidak da bersama anda di saat anda terluka." tambahnya disertai tetesan air mata jatuh mengenai lantai mewah itu.
Bhumi berjalan cepat dan melangkah lebar tidak sabar ingin menemui istrinya yang selalu mampu menenangkannya, hatinya bergemuruh penuh dengan amarah menghabisi, hanya karena ingin menjaga wibawa Senja-lah Bhumi menahannya.
Bhumi membuka pintu mobil penumpang yang mengejutkan Shavara terbangun gelagapan dari tidurnya," Ada apa? Ada maling."
Grep...
Bhumi memeluknya erat, mengukung tubuh istrinya k dalam dekapan lengan besarnya hingga terasa mencekik.
Ia menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Shavara, lalu menghirup wangi istrinya yang menjadi favoritnya.
Tangan itu kian mengerat menyesakkan Shavara, namun ia tahan karena tubuh Bhumi yang bergetar hebat.
Meski tubuhnya berasa remuk, namun tak ayal Shavara membalas pelukan itu, menepuk-nepuk punggung Bhumi lembut.
Di sela mengusap-usap penggung lebar yang terlihat lelah.
" Semuanya bisa kita tangani, sayang. kita bersama-sama melaluinya, Hmm?"
Bhumi mengangguk cepat," Aku lihat kembali wanita itu, aku hampir ingin membunuhnya kalau saja tidak mengingat Bian."
" Terima kasih untuk menahan diri dari kejahatan itu, kamu hebat. Suami kebanggaan ku, Aku cinta kamu dengan segala luka hati kamu yang terus kau coba obati."
" Aku lebih..lebih cinta kamu, jangan tinggalkan aku kayak Papa meninggalkan aku, please... Aku gak akan pernah sanggup kamu khianati, enggak akan pernah sanggup." Bhumi kemudian lebih memeluk Shavara.
" Enggak akan, cinta aku sudah habis untuk di kamu."
Lam mereka Delam posisi berpelukan melupakan keberadaan para pegawai perusahaan, mata Toni menatap pedih dia insan tersebut.
__ADS_1
" Berbahagia lah tuan, aku selalu mendo'akan mu." lirihnya sebelum memerintah sopir mobil hendak mengantar Desty dan juga Siena ke tempatnya.
¥¥¥¥¥¥¥
Setelah memberi arahan, perintah, dan ancaman pada pegawai yang melihat perbuatan Bhumi, Bian masih terpekur di tempatnya.
Ia memijat-pijat pelipisnya yang terasa pening, hari ini termasuk hari yang berat untuk emosinya.
Melihat ibu kandungnya dipermalukan melalui tingkah masa lalunya serta dianiayai sedemikian rupa oleh seseorang yang ia harap kasihnya, Ida mulai mempertanyakan kebenaran keputusannya memilih berpihak pada keluarga ibu Rianti.
" Tuhan, semoga aku tidak salah memilih, semoga Kau tidak menjadikan aku anak durhaka dengan membiarkan ibuku menderita." erangnya sambil mengusap kasar wajahnya.
Tok..tok..
Ceklek...
" Tuan, tuan besar menunggu anda di ruangannya." seru Toni.
Bian beranjak ke arah pintu," Bang, berapa kali aku bilang jangan memanggilku tuan, aku tahu kau ingin mengabdikan diri pada keluarga ini, dan menebus penyesalan mu pada abang ku, tapi jangan memanggilku dengan menyaksikan aku rendah, ini bukan lagi jaman penjajahan." kesal Bian pada Toni.
" Tapi Tuan...aaawwss." Toni mem gang tulang keringnya yang ditendang Bian.
" Sekali panggilan tuan, sekali tendangan. kau teman kakak ku, demi tuhan itu tidak membuat aku nyaman sama sekali." sontak Bian sebelum berlalu.
Gerakan Bian membuka pintu ruangan ayahnya terhenti, saat Robert mengatakan sesuatu soal ibunya.
" Dia mulai mendekati saya sejak awal-awal kita menjalin kerja sama delapan belas tahun lalu, tentu saya tolak godaan Dia karena menghargai anda, sampai di tahun berikutnya kita bertemu di penggalangan dana di New York, dia mendatangi kamar hotel saya dengan dengan lingerie merah di balik jubah kamarnya sambil membawa sebotol wine merah di tangannya."
" Benarkah, anda tidak berbohong?"
" Untuk apa saya berbohong, tidak da untungnya."
" Hahahaha..." Tawa hambar Edo menyakiti hati Bian.
" Saat itu kami sedang bertengkar, dan dia mengatakan akan tidur dengan staf wanita kantor yang lain. Shitt, padahal kami sudah merencanakan malam panas saat itu."
Bisa saja ucapan itu terdengar santtai dan masa bodo yang membuat Robert lega, tapi kedua tangan di balik kedua saku celananya mengepal erat menahan emosi.
Begitu pun dengan Bian yang berada di handle pintu," Napasnya sesak menyadari suara ayahnya yang terdengar bergetar.
" Maafkan saya, saya tidak tahu kalau kalian saat itu sudah berhubungan. Andai saya tahu..."
" Dua tahun, kami sudah berhubungan saat dia tahun saat itu."
" Kapan dia memberitahu tentang Bian pad anda?"
" Sepuluh tahun yang lalu, lewat email yang kemudian tanpa sepengetahuan anda saya memastikannya ke jakarta, tanpa hasil tes DNA, melihat visual Bian bagai duplikasi masa mida saya, saya tahu dia putra saya."
Edo memejamkan matanya, dadanya terasa sesak, bagai dihimpit batu besar. Dia merasa tol0l.
Bayangan Rianti yang mengandung anaknya, tangisannya saat ia menolak kehamilan itu, bahkan dia tidak sekali pun menjenguk putrinya tersebut. Desty benar-benar sudah membodohinya.
" Papa tujuan mu kemari selain alasan konyol menjadi mentor bisnisnya."
" Awalnya aku berhak bisa membawa Bian ke Amerika, tetapi penegasan dia tadi membuat ku berpikir ulang."
" Mr, Robert, terlepas dari masa lalu saya yang menjadi ayah yang bruk baginya, saya ngin memperbaiki diri, Keluarga yang dulu saya khianati bisa merangkulnya memposisikan aku bagai makhluk terburik di dunia, jadi maaf saya tidak bisa melepas dia untuk anda."
" Selain saya menyesal, saya juga sangat menyayanginya."
Suara bergetar Edo membuncah perasaan Bian, tak ayal air mata yang jatuh tidak bisa dia tahan saking hebatnya terpaan emosi yang menerpa jiwanya.
Kata-kata yang sudah lama dia harapkan akhirnya terdengar jua." Papa, aku juga sayang Papa." bisik Bian di balik pintu yang tentu tidak terdengar Edo.
" Meski dia anak dari wanita yang sudah memporak-poranda hidup anda?"
Edo mengangguk mantap," Desty dan Bian dua hal yang berbeda. apapun yang melatarbelakangi kehadirannya, dia tetap putra kebanggaan ku."ucapnya penuh kebanggaan diri.
" Tapi tetap saja, jika Bian sudah berkompromi dengan keadaan, saya berharap Bian mengenal keluarganya yang di Amerika, mereka sudah tidak sabar ingin mengenal Bian."
Robert mengangguk, " Awalnya terkejut, tapi setelah mendengar cerita saya lambat laun dia menerimanya."
" Wanita sebaik itu,asih juga kau khianati. Saya melihat tanda merah di leher mu."
Robert terkekeh," dia tidak mempermasalahkannya selama saya tidak main hati. ini hanya bersenang-senang. Desty sendiri yang menawarkan." ucap Robert tanpa sungkan, bahkan terkesan merendahkan.
Tok..tok...
Bian memasuki ruangan dengan mimik biasa saja meski hatinya panas mendengar kalimat terakhir Robert.
" Pa..."
" Yes, Boy..."
" Iya, anakku."
Ucap mereka berdua hampir bersamaan.
Bian dengan berat menghela napas." Aku ingin kalian menyudahi mengenai kisah yang berkenaan dengan Mama akhiri hari ini, soal aku,.. biar waktu yang mengobatinya."
" Baiklah jika itu keinginan mu." sahut Edo.
^^^^
Bian menghabiskan sisa waktu hari itu di ruang kerjanya, ponselnya sudah lama terus berdering dari para sahabatnya tidak Bian angkat.
Ini salah satunya mengapa dia tidak mau kembali frustasi soal keluarganya, meski dia tidak memiliki keluarga yang mengkhawatirkannya, dia memiliki para sahabat yang mencemaskannya.
Ceklek...
" Kak Bian..." Aira berlari melintasi ruangan ke arah mejanya dengan derai air mata, mata Bian terus menatapnya lekat, seakan ingin memastikan sesuatu.
" Kak Bian..." Aira merentangkan tangannya, wajahnya menyiratkan kesedihan yang besar seakan dia yang mengalami hari buruk itu.
Bian terkekeh, ia beranjak juga dengan tangan yang terbuka siap menerima Aira.
Hupp...
Bian menerima Aira yang masuk ke dalam dekapannya, mengangkat tubuh mungil Aira dan menghirup wangi bayi khas miliknya.
" Aira,...Aira ku..." lirih Bian di balik ceruk leher Aira.
Aira mengangguk," Iya..aku...Aira mu..."
Aira menjauhkan wajahnya, mental Bian sebal," Kenap gak jawab telpon aku, pesan aku? bikin khawatir aja." Aira memukul bahu Bian.
" Maaf, aku belum belum angkat ponsel dari tadi. Kamu begitu ketakutannya kehilangan aku ya.." ada sedikit godaan dalam kalimat itu.
" Ck, iya lah. walau cuma dikit, kan kalau gak da kak Bian dari ad ayang aku ceng-in." elak Aira karena gengsi.
" Hehehe, terusin aja gengsinya, terusin, Ra. Aku berpaling nanti nangis..."
"Oooh, jadi mau pindah hati toh. Awas lepas gak?" Aira menggeliat mencoba melepas dirinya.
" Enggak, ck, kayak gak kenal aku aja, jauh-dekat, depan-belakang, aku cuma mau kamu."
Bersamaan itu para sahabatnya masuk kecuali Aditya." Jangan dipercaya, Ra. gombalan buaya tuwir itu..." celetuk Ajis.
Mereka duduk di sofa, buan mengajak Aira untuk bergabung.
Bian melepas pelukannya, diakhiri kecupan di kening Aira." kalian masih di sini?"
" Cih, belagu,sok enggak peduli kita. Kit senggak ada nanti nangis berasa sendiri da yang sudah peduli." cibir Devgan.
__ADS_1
" Hehehe, enggaklah. Kalian tuh part of my life dah pokoknya."
" Semua oke?" tanya Leo.
Bian mengangguk, " Lumayan gue punya dua bokap."
" Gimana rasanya diakui?"
" Not bad lah. Berasa gue ini berharga aja sih."
" Adit telpon, Lo disuruh balik, ibu Rianti nangis pengen ketemu Lo."
Bian tertegun, lalu ia menyugar rambutnya." beliau tahu?"
" Dari Senja, dia nyampe rumah nangis kejer dia meracau bakal bikin nyokap Lo payah kalau berani nyakitin Lo." terang Devgan.
" Sok kaut banget gak tu bocah satu." ucap Ajis.
" Kakak lihat, sekarang banyak yang sayang kakak. Jangan bikin aneh-aneh lagi ya." Aira yang duduk di sebelah Bian merangkul lengannya.
" Kamu tahi dari mana?"
" Dari Kaka Ajis. dia kalau ngomong kesannya besok amu kiamat gitu, nyebelin banget. Makanya tadi aku nangis.
" Emang dia ngomong apa?"
" Hmmpph.." para sahabat menahan tawa, yang berhasil tertangkap oleh Bian.
Aira gelagapan, wajahnya memerah karena malu," Wwaah, aku lupa, ini apatis karena perutku laper..." Aira berjalan ke meja kerja Bian hendak memesan makanan.
" Kenapa gak mau jawab?" cecar Bian menghampiri Aira.
" Bukannya gak mau jawab Tepu emang lupa beneran."
" Kalau kalian ad ayang mau jawab, kit amalan sea food." iming-iming Bian yang disambut antusias oleh para sahabatnya.
" Gue yang jawab...awwwwsss.." Ajis bersemangat, tapi belum itu ada satu benda benda yang mengenai kepalanya.
" AIRA..." kaget mereka.
Sang pelaku hanya tertawa garing," Kaku kalian berani ngomong, aku gak bakal kasih telpon primadona kelas 10." Ancam Aira.
" Aku gak ya, Ra." protes Devgan yang hampir saja dia lupakan janji itu.
" Aku juga diem aja." timpal Leo.
Bian menarik air kedalam dekapannya," Segitu gak maunya dikasih tahu, pasti malu-maluin banget ya buat kamu."
" Mana ada, aku beneran lupa."
Aira gak mungkin mengatakan kalau dia tadi panik sekaligus ketakutan soal Bian gara-gara Ajis yang berani mengatakan Bian nangis kejer karena disakiti ibunya.
Hal yang selalu menjadi bahan sensitif bagi Aira. bayangan Bian terjebak obat-obatan terlarang selalu menghantuinya.
¥¥¥¥
Brakhh....
Edo membuka pintu rumah dengan kasar, matanya mengerjap-kerjap menyesuaikan diri dengan pencahayaan.
Terlihat Desty yang berbaring di atas sofa besar, dan Siena di bawahnya.
" Mas,...akhirnya kamu datang juga, Mas. kita harus bicara."
" Diam lah, Desty. Saya kemari hanya ingin mengumumkan kalau saya menjatuhkan talak untuk kamu."
Dengan susah payah, Desty beranjak duduk. " Mas, tidak...jangan....mas. Aku bersalah, tapi semua yang aku lakukan karena aku sangat mencintai kamu, Mas. Maafkan aku. Aku gak mau kita berpisah...Mas. kita saling mencintai, kita saling melengkapi, kau tidak bisa mengajukan kisah belasan tahun kita dengan dengan satu kesalahanku, itu tidak adil!"
" Terserah kamu mau bilang apa, yang pasti saya tidak mau kalian merengek minta pertanggungjawaban ku, aku pergi."
Edo berbalik langsung menutup pintu rumah mewah tersebut.
" MAS, TIDAK...KAMU TIDAK BISA MENINGGALKAN KU BEGINIII..." teriak Desty.
" Ini semua salah mbak, kalau saja mbak tidak merusak rumah tangga masa Edo, kita tidak aka begini, menjadi simpanan lebih uan Robert lebih baik daripada kita kini jadi gembel...Kya.. aaarrrgghhh..." kesal Siena.
" Bagai mana dengan masa depan ku, pak Dewa, aku berharap kamu tidak membenciku..." saat mengatakan itu, mata Siena menerawang jauh.
❤️❤️❤️❤️
" Papa bilang apa tadi pas telpon?" tanya Bhumi beberapa saat lalu saat ayah mertuanya menelpon Shavara.
Kini mereka duduk dalam mobil di Danu sejuk pinggiran Jakarta, tempat yang cocok untuk menenangkan jiwa yang lelah.
" Minta aku pulang ke rumah, Aa kan udah sembuh. Jadi aku pulang lagi ke rumah sampai aku wisuda.
" Ooohh..noooo..." erang Bhumi memeluk Shavara.
" Aku udah biasa tidur bareng kamu, sayang."
" Kan gak ada larangan kita tidur bareng, cuma aku-nya belum bisa tinggal bareng dir yang Aa, ini sesuai perjanjian kalian loh, jangan bikin Papa kecewa, ya." Shavara mengusap rahang Bhumi.
" Tapi kan..tetap aja...sayang..aku...cup..cup...," Bhumi mengecup kening Shavara.
" A, masih betah berpelukan begini?" Shavara mengusap surai hitam bhumi.
" Hmm, kalau di rumah banyak banget yang ganggu kita, sayang." Bhumi menekankan wajahnya ke leher Shavara.
Bhumi mengusap punggung istrinya, mereka duduk di bangku belakang saling berpelukan dengan pemandangan danau di tengah cahaya sinar orange sore.
Bhumi memilih danau ini, untuk melepas segala kegundahan hatinya.
" Kamu sudah tenang?"
" Hmm, lumayan."
Cup...
Bhumi mengecup bibir Shavara.
" Apa kamu musti pulang?"
Cup...
" Hmm, Aa tidur di rumah aku aja ya malam ini." Shavara kewalahan menerima serangan kecupan dari Bhumi.
Cup..
"Belum bisa, di rumah belum tenang."
Cup...
" Kalau begitu..hmmphmmmh..."
Lagi, dan lagi kecupan itu dilabuhkan, yang semakin lama kecupan ini berubah lum'atan dan decapan saling menghisap bibir atas dan bawah dengan tangan bergerilya ke sembarang tempat mencari objek kesukaannya.
" Aahhhh...." desah Shavara saat tangan Bhumi mengenai benda kenyal favoritnya di bagian depan Shavara.
" Hmmmhh..." Shavara mengacak tidak beraturan rambut Bhumi saat lum'atan itu semakin dalam dan intens.
Geray4ngan tangan Bhumi makin membaut Shavara mabvk dengan lenguhan.
Lama pag'utan itu berlangsung hingga kedua pakaian atas mereka terlepas di tengah sore menjelang...
__ADS_1
Entah lah dieditnya lama amat, ini dipublish sejak tgl 9 kemarin....
Yuk baca juga cerita aku yang lain...jangan lupa komen, like, hadiah, dan vote....❤️❤️🥰🥰