Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
86. Hama.


__ADS_3

Di kamar gelap bercahaya kan sinar bulan dari jendela yang tidak tertutup penuh, Shavara berdiri berbalut selimut di depan jendela yang tidak tertutup memandang kosong hamparan rumput di halaman samping villa, namun raut wajahnya terlihat muram.


Ia memikirkan banyak hal yang terjadi begitu cepat sejak mereka keluar dari villa, bahkan pikirannya melalang buana jauh ke belakang, tepatnya awal kisahnya dengan Aryo dan persahabatannya dengan Monika.


" Empat tahun, ternyata tidak cukup bagiku mengenal dia, memang benar jika itu watak, itu tidak akan bisa diubah, tapi ini gila, dia ingin memperkosa ku." monolognya dengan suara bergetar.


"Kalau kau tidak bisa ku miliki, setidaknya bisa ku cicipi. empat tahun aku terbuang percuma bersamamu dan tidak pernah mencicipi mu, itu sangat merugikan ku." omongan Aryo yang melecehkannya sambil menggerayangi tubuhnya tiba-tiba terpatri diingatannya.


Ia memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar, rasa kotor itu masih menghantuinya. Meksi Bhumi memperlakukannya dengan Manisa dan selalu tidak puas dengan dirinya, tapi membiarkan orang lain menyentuhnya, itu menjijikan.


Shavara menggelengkan kepala menghalau ingatan kejadian naas itu.


" Kenapa dia membenciku, padahal apapun yang ku punya, aku beri padanya." gumamnya kini soal Monika yang menatapnya penuh kebencian.


Di saat pikirannya masih menerawang, tiba-tiba,


Cup...


Satu kecupan hinggap di pundaknya yang polos disusul pelukan dari belakangnya menambah hangat dirinya disertai ciuman di pelipisnya.


Refleks Shavara menyandarkan diri ke tubuh bidang itu mencari kenyamanan dari kegusaran hatinya." Kenapa, hmm?" bisik Bhumi lembut dengan suara beratnya.


" Heemmm." Shavara menggeleng.


" Ini tengah malam, dan kamu berdiri sendiri menatap luar, sayang." Bhumi mengeratkan pelukannya.


Shavara menggesekkan kepalanya ke rahang pria-nya agar lebih santai, ia menoleh ke samping guna melihat Bhumi." Kamu gak pake baju, dingin ini."


Bhumi sedikit menunduk melihat Shavara, namun tangannya bergerak ke ujung kaitan selimut.


" Kyaaa....hmmmphh..." Bhumi menutup jeritan Shavara yang terkejut manakala selimut itu ditarik diantara tubuh mereka dengan bibirnya yang memag'ut penuh nafsu.


Saat civman itu terlepas, bibir Shavara masih menganga mencerna apa yang terjadi sampai akhirnya dirasa Bhumi merapatkan tubuh mereka dan menyelimutinya dengan selimut tersebut.


" Supaya sat set. Kalau untuk menghangatkan diri kan ada kamu." Bhumi menyentuhkan hidungnya ke hidung Shavara.


" Sat set buat?"


Tangan yang dibalik selimut meremas sebelah dad4 Shavara yang kontan digeplak Shavara.


" Gak bosan? Gak capek? Aku lemas lho ini."


Faktanya setibanya mereka di villa, hanya makan malam yang terlambat saja mereka mengobrol dengan tenang, selebihnya bercint4, dan terus bercint4.


Bhumi benar-benar berniat mewujudkan fantasinya bercint4 selain di tempat tidur, meja makan sebagi permulaan yang setelahnya di ruang tengah di depan televisi menyala yang menonton aksi panas mereka. Setiap sesinya hanya diberi Istirahat sejenak.


" Gak akan. Aku rela nunggu hampir 28 tahun surga dunia yang selalu digembar-gemborkan Anan dan Elang, dan aku gak nyesel. Dis aat udah halal yang gas aja sih." diakhir perkataanya Bhumi mengecup kepal Shavara yang mendengkus mendengar alibinya.


Bhumi membalik tubuh Shavara menghadapnya, " Lagi mikir apa?"


Shavara memandanginya sejenak sebelum tangannya memeluk pinggang Bhumi, menyandarkan diri ke tubuh suaminya." dia menendang ku meski gagal karena aku bisa menghindarinya..." suara Shavara bergetar, pelukannya di pinggang Bhumi mengerat.


Bhumi bergeming mencoba memahami," dia menjambak ku, menarik rambutku kencang, memegang vagin4 ku hanya untuk dia lecehkan selanjutnya. Dia menertawaiku karena aku tidak berpengalaman, dia mencibirku karena ketidakmampuanku melayaninya, dia mencium leherku, dia...." Isak tangis kembali terlahir.


" Sshhhttt..." tangan Bhumi mengepal, membawa Shavara menempel ke tubuhnya dalam pelukannya, tubuhnya menegang menahan emosi.


" Kenapa gak cerita tadi?"


Shavara bercerita sesimpel mungkin dengan bahasa yang sederhana, hingga mereka mengira belum terjadi hal yang sedemikan jauh.


" I .itu... sangat mengerikan. Bagaimana aku bso mengajak bahwa dia meremas dad4ku, menggerayangi tubuhku, Kinan menertawaiku dengan omongannya bawah kamu akan jijik padaku jika melihat itu.


Aryo dan Kinan benar-benar sedang membaut video panas dan aku yang menjadi perna utamanya. Dia bahkan menyebutku pelacvr karma membiarkan Aryo mencicipi tubuhku, demi tuhan aku melawannya..."


" itu yang selalu bikin kamu tidak percaya padaku?" potong Bhumi yang enggan mendengar kelanjutannya.


Bhumi sudah tahu apa yang terjadi, Isi rekaman yang diambil dari ponsel Kinan memperlihatkan segalanya, bagaimana Shavara bertubi-tubi melayangkan tendangan dan pukulan, bahkan dia menggunakan kepalanya ke kepala Aryo yang berakhir dia di tampar sebelum rekaman itu dihapus.


" Bukan, tapi aku yang tidak percaya diri pantas untuk mu."


" Padahal sedari tadi kita bercint4, dan kamu pasti merasakannya kaalua aku memujamu, Bahakan setelah aku melihat dia berada di atasmu aku masih menginginkan mu."


Shavara memberi jarak, menatap Bhumi." di luar banyak wanita yang menyukaimu..."


" Jangan mulai ngelantur ke mana-mana, faktanya aku hanya menginginkan mu."


Bhumi melepas pegangannya di selimut, membingaki wajah Shavara dengan ibu jari mengusap pipinya." ini bukan soal hubungan badan, sayang. Aku memang tidak pernah menginginkan wanita-wanita yang mendekati ku, aku jijik ke mereka, makanya ketika aku begitu menginginkan mu dari pertama jumpa, bukan hanya kamu yang kaget, tapi aku lebih syok.


Untuk pertama kalinya ada perempuan yang menyita pikiranku, untuk pertama kalinya detak jantungku bertalu cepat hanya dengan mendengar namanya, untuk pertama kalinya aku selalu ingin mencivmi perempuan itu, untuk pertma kalinya aku terpikirkan ingin bercint4, dan dalam khayalanku itu hanya dengan kamu.


Bagiku kamu anugerah, perbuatan Aryo tidak mengubah itu, aku hanya menyesal terlambat menolong mu. Yakin lah akan hal itu."


Shavara tidak bisa berkata-kata, ia berjinjit hendak mencivm kekasih hatinya.


Shavara melum'atnya, mengalungkan tangan ke leher Bhumi, membawa kepala Bhumi agar menunduk menyambut civman itu.


Tentu Bhumi menyambut aksi itu, dia elus punggung Shavara mengukung tubuh itu ke dalam pelukannya, memiringkan kepala saat bibirnya menghisap bibir Cherry itu.

__ADS_1


Lama mereka bercivman mengabaikan haw dingin dan tubuh polos mereka yang tercetak dari sinar bulan yang mengintip dengan tubuh benar-benar menempel.


" Eeuuughhhh...." lengkuh keduanya.


Bhumi mengangkat Shavara ala koala membawa Shavara ke jendela, dia sana dia posisikan tubuhnya tepat dengan tubuh Shavara. Melepaskan civman itu hanya untuk berkata," kita belum mencoba gaya berdiri di bawah sinar bulan, sayang." mata Bhumi menatap sayu dibalut gair4h.


Shavara tersenyum, tangannya bermain di tengkuk Bhumi," Yakinkan aku kalau gaya gini sama nikmatnya dengan gaya yang lain."


" Tentu, dan yakin kan dirimu kalau aku masih tergila-gila padamu, dia memang menyentuhmu, tapi aku yang paling tahu betapa liarnya kamu, Frigid, bullshit." Bhumi langsung melahap bibir ranum itu, menunjukan gairahnya yang tidak bisa pudar jika itu berkaitan dengan Shavara.


memasukkan tubuhnya ke dalam diri Shavara yang melengkuh sambil meremas rambut Bhumi.


" Aah...nikmatnya... pelan-pelan, sayang. Hilangkan jejak tangannya untukku, please."


" Tentu, bilang apa yang kamu mau, aku pasti melakukannya." Bhumi menggerakkan pinggulnya perlahan menikmati sensasinya yang kian memabukkannya.


" Sayang, aku pengen cepat." Bhumi mempercepat volume gerakan pinggulnya.


" Eeeuuhhhh...lebih cepat, beb. Aaah..." Shavara menggigit bahu Bhumi seiring rasa nikmat yang kian menggila.


Selalu, selalu seperti ini, Bhumi selalu bisa membuatnya tenggelam dalam bir4hinya hanya dengan sentuhannya. Melupakan sekiranya, menulikan pendengarannya dari ponsel Bhumi yang berdering menampilkan unknown sebagai id caller di sana.


Ponsel itu terus berdenting dengan akhir sebuah pesan yang masuk.


" Dewa, ini Mama Kinan, saya berharap kamu melihat hasil perbuatan kamu pada putri saya yang terus mengigau nama kamu."


❤️❤️❤️❤️❤️


Pukul sembilan pagi Bhumi dan Shavara di rumah sakit, tentu atas desakan istri tercintanya, Bhumi yang merencanakan menghabiskan waktu hanya untuk bermesraan dan makan dengan istrinya di villa dan esok barulah jalan-jalan sesi bulan madunya yang tenang untuk pertama kalinya sebelum lusa bergabung dengan mereka di puncak untuk menyambut tahun baru enggan menanggapi permintaan wanita paruh tua itu.


Tapi di sinilah dia, berdiri didepan ranjang Kinan, melihatnya berbalut perban dan alat medis di sekujur tubuhnya dengan tatapan malasnya, tidak bersimpati sama sekali.


Shavara menunggu di depan, belum mampu berhadapan dengan Kinan. Masih terbayang tawa jahat kian untuknya dan itu masih menakutinya.


Kinan tersenyum kecil padanya, karena memang hanya itu yang bisa dia lakukan.


" Beberapa tubuhnya retak, tulang rusuknya ada yang patah, tangannya patah. Tante ingin kamu bertanggung jawab padanya."


" Dengan apa?" tanya Bhumi santai tidak merasa bersalah.


" Menikahinya." Bhumi tertawa sinis mendengarnya, namun Kinan tersenyum sumringah dengan mata berbinar.


" Dia tidak kan kembali normal, Dewa." hardik Mama Kinan.


" Menikahi pelacvr? Yang benar saja, Tante. Lebih baik saya mati jomblo daripada harus menikahi dia."


" Telpon mantan suaminya minta dia balikan."


" Erik menolaknya."


" Apalagi saya. Saya jijik sama dia, jadi saya juga menolaknya."


" Dia mencintaimu."


" Membosankan."


James Purba mengepal tangan yang bertengger di pahanya," Dewa...gunakan sedikit rasa kemanusiaan mu."


" Dia memberiku obat perangsang di malam H-1 pernikahanku, dia ingin menjebak ku dan menggagalkan perbulan saya, itu lah mengapa Erlangga mengirimnya pada germo. Wisnu menghancurkan perusahaan anda, tuan. Putri mu tidak tertolong lagi."


" Maafkan dia, dia melakukan itu karena begitu besarnya cinta dia padamu. Demi masa lalu kalian, Tante memohon terima lah dia."


" Bicara masa lalu, dulu saya ingat, anda tidak merestui kami karena Tante tahu kalau miskin, saya yakin sekarang yang sedang Tante lakukan hanya untuk memperbaiki taraf hidup kalian bukan karena perbuatan saya." sinis Bhumi telak.


wajah mama Kinan gugup, ia gelagapan." Bu...bukan demikian..Tante minta..."


" Lupakan masa lalu toh saya juga dulu dan sekarang tidak pernah mencintai putrimu. Tante, ini pertama dan terakhir Tante meminta saya bertanggung jawab tentang Kinan, atas Aya beritahukan soal ini pada mertua saya."


" Dewa, kamu tidak bisa..."


" Bisa, saya dengan senang hati membuat kalian merana agar tidak mendekati kami lagi. Kalau kalian mengabaikan peringatan ini, saya juga pastinya akan laporkan Kinan ke polisi. saya permisi."


Bhumi dengan santainya meninggalkan ruang rawat Kinan, kala dia membuka pintu bertepatan lelaki bertubuh besar dan bertato memasuki ruangan.


Bhumi mengangguk sebagai span santun yang dibalas pri tersebut. Saat pintu di tutup,


" Saya ingin menjemput Kinan, tuan dan nyonya." ucap pria kekar itu.


" Ti.. tidak, dia sedang sakit..."


Mama Kinan menggeleng, wajahnya panik dan dia menoleh pada suaminya yang terduduk pasrah di tempat.


" Dia akan kami rawat, ini sebagai hukuman karena melanggar aturan kami. Tuan Erlangga akan mengirimnya ke the Flawless milik tuan Nathan Wilson.


Kinan pun menggeleng, ingin dia protes, namun tidak mampu." Ti..tidak...." jerit wanita paruh baya itu.


Kinan berurai air mata, nasibnya kian terlihat jelas untuk ke depannya, ia hanya akan menjadi wanita bayaran.

__ADS_1


^^^^^


" Sudah?" Shavara berdiri dari bangku tunggu.


" Hmm."


" Bagaimana?"


" Sesuai tebakan aku di jalan tadi, mereka ingin aku bertanggung jawab dengan menikahinya."


" Terus?" ada nada cemas di dalam pertanyaan itu.


Bhumi tersenyum, ia membawa istrinya ke dalam pelukannya," Tentu saja aku menolaknya."


" Memang separah apa lukanya"


" Cukup bagi dia untuk tidak lagi mengganggu mu." Bhumi merangkul pundak Shavara membawanya pergi dari rumah sakit ini.


" Pak Dewa..." Dari arah belakang ad ayang memanggilnya.


Bhumi memejamkan mata karena kesal, ia menarik Shavara agar tetap lanjutkan langkahnya, mengabaikan panggilan itu, tapi Shavara menolak, ia malah berhenti dan nunggu Arleta menghampiri mereka.


" Pak Dewa..."


Bhumi berbalik," Leta, kamu punya dua kuping yang berfungsi kan? sudah saya bilang bertingkah lah tidak mengenal saya." bentak Bhumi sudah kehabisan sabarnya.


" Tapi saya terlalu mengenal bapak, bahkan mencintai bapak, jadi saya tidak mau." Arleta bersikukuh.


Sial, seharusnya pak Dewa memahaminya, aklau ia tidak bisa menghilangkan perasaannya, terbiasa hidup mendapatkan apapun yang dia mau, susah baginya mundur, meski rasa sakit selalu dia rasakan atas penolakan Dewa.


" Kamu siapanya suami saya?"


Tatapan Arleta beralih pada Shavara," Kakak lupa saya? saya Arleta, adik sepupunya mas Aryo, tunangan kakak."


" Mantan." celetuk Bhumi.


" Kakak enak ya bahagia, sementara tunangan kakak menderita akibat ulah Aa kakak, sungguh mengecewakan."


" Hati-hati bicara mu."


" Saya tidak salah, Kakak seharusnya memahami mas Aryo yang ingin kembali pada Kakak bukannya meninggalkannya, bukannya kalian pernikahan kalian terbilang cepat mengingat Kakak belum lama putus."


Shavara diam, dia enggan meluruskan, dia hanya mendengarkan." Terus?" Bhumi yang menanggapi.


" Jelas banget sih siap yang selingkuh di sini..."


" Mau kamu apa?" tanya Shavara.


" Tidak ada. Hanya memperjelas saja siapa yang salah. Kasian pak Dewa diperdaya kakak."


" Arleta, kamu sudah kelewat batas."


" Bullshit, kamu jelas masih anak-anak untuk tahu perihal orang dewasa, kamu di sini bukan mengasihani sepupu mu, tapi ingin memprovokasi suami saya agar dia meninggalkan saya."


Arleta tersenyum culas," yaaah..ketauan...kalau begitu saya minta langsung aja ya...bisa Kakak tinggalkan pak Dewa buat saya?"


Shavara mengangkat alisnya, heran akan sikap tidak tahu malunya Arleta," Ayang, mau sama pelakor cilik ini?" tanya Shavara pada Bhumi dengan suara mendayu sambil bergelayut manja di lengan Bhumi.


" Najis. Kalau aku suka bocah, lebih baik sama anak kelas saya, mereka lebih terhormat dibanding dia yang bersedia membuka selangkangannya secara gratis sama aku."


Shavara menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sok kaget." Gimana ini, cil. Suami tercinta aku gak doyan pick me?"


Wajah arleta memutih pucat, lagi, dan lagi, hanya perkataan pedas yang menyayat hati yang dia terima." tidak bisakah bapak menghargai perasaan saya? Saya mencintai bapak melebihi cinta dia." tunjuknya pada Shavara dengan air mata meluruh di pipinya.


Jelas tertampak rasa kecewa itu dari sport mata jernih itu, namun apa daya memang itu kenyataannya, bumi tidak ingin memberinya peluang.


" Kak, ku mohon kembali lah pada mas Aryo, beri pak Dewa padaku. Aku tidak bisa hidup tanpanya aku bisa gila jual terus-terusan begini."


" Kalau begitu jadi lah gila."


" Aa..."


" Pak Dewa."


Kedua wanita itu terkejut dengan ucapan kasar Dewa.


" pastikan dirimu menjadi penghuni rumah sakit jiwa agar tidak terus menganggu ku."


Bhumi mengambil tangan Shavara menariknya mendekat," Ayok, kita nikmati bulan madu kita, singkirkan para hama ini."


Di belakang punggung mereka Arleta menangis sambil menatap kepergian mereka saling bergandengan tangan," pak, aku sungguh-sungguh mencintai mu. Lihat aku, pleaseee...." ucapnya disela tangisannya.


" Aku sungguh-sungguh mencintai mu, pak Dewa." lirih Arleta dari jiwanya.


Pikirannya kembali ke dua tahun yang lalu awal perjumpaan mereka, awal kegilaannya pada gurunya itu.


" Kenapa bapak menolongku kalau akhirnya aku selalu ditemani sakit hati begini, seharusnya bapak biarkan aku matiiii...hiks...hiks...mati...." Arleta bersimpuh di lantai koridor rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2