
Bhumi menatap sayu ponselnya dengan kontak my lovely ❤️ dilayar menimbang menelpon atau jangan berulang kali sekitar 30 menit yang lalu.
" Telpon tinggal telpon, susah amat ya." gumam Bhumi kesal pada dirinya yang mendadak tidak percaya diri.
" Busyet segitu berpengaruhnya omongan dia yang risih ke gue, kenapa nyali gue ciut gini."
Tok..tok...
" Bang, dipanggil ibu sarapan." teriak Bian dibalik pintu.
" IYA.. Tau ah." Bhumi menaruh ponselnya di kasur kemudian keluar kamar.
¥¥¥¥¥
Shavara menyusupkan ponselnya ke bawah bantal kemudian mengguling-gulingkan badan di atas kasur dibalik selimut," Aaarrgghh...kok gak telpon, ini udah jam setengah tujuh, biasanya jam lima juga udah tring treng kayak alarm, kok ini gak sekalipun nelpon." teriak Shavara kesal.
ia mengambil ponselnya, menyalakan, menghela napas berat untuk yang kesekian kalinya karena telpon atau pesan yang dimaksud tidak jua ada di bilah notifikasi. ketimbang kesal berkelanjutan, dan berakhir marah, Shavara memilih beranjak keluar kamar, namun dering ponsel membalikan badannya ke atas kasur kembali.
" Hallo." jawabnya terlalu bersemangat menjawab salam dari seberang.
" Sedang apa, kok kedengeran senang gitu?" curiga Bhumi.
" Gak ngapa-ngapain, aku juga biasa aja. malah lagi pusing." ucap manja Shavara.
" Oh percaya aja aku mah kalau kamu gak mau ngasih tahu."
" Emang gak ada apa-apa." sungut Shavara merutuki kepekaan Bhumi.
" Okay, kamu lagi pusing kenapa?"
" Aku pusing mikirin tempat magang, belum nemu juga." tidak ada jawaban dari Bhumi.
" Kak, kak, dengerin aku gak?"
" Denger, ini aku lagi bantuin Senja."
" Emang kakak dimana?"
" Di teras, lagi manasin mobil, Senja lewat bawa dagangnya."
" Tumben bawa mobil, mau bawa cewek ya?"
" Iya."
Shavara terduduk." Siapa?" tanya cepat penuh kecurigaan.
Bhumi terkekeh," Senja dan bawaannya siapa lagi. dia bawa banyak barang katanya pesenan temennya yang lagi ulang tahun."
" Oo..h kirain siapa?"
" siapa?"
" Siapa aja." jawab Shavara sedikit ngegas menutupi kegugupannya.
Bhumi tertawa makin jadi," masih aja khawatir aku suka yang lain, gak ngerasa aku segitu sukanya sama kamu?"
" Bukan begitu, tapi di sana banyak banget saingan aku, anak kostannya pada bening banget."
" Kalau aku ada naksir sama mereka udah lama kau pacarin, mereka penghuni lama. kamu udah makan?"
" Belum."
" Udah jam setengah tujuh ini."
" Iya tahu, siapa suruh lambat nelponnya." gerutu Shavara tidak jelas.
"apa? kenapa?"
" Apa?"
" Itu tadi kamu ngomong apa, gak kedengaran jelas."
"gak ada."
" Ya udah aku tutup telponnya, bilang sama Adit gak ada lagi terlambat gitu ya."
" Hmm."
klik...
Dingin, telponan itu terasa dingin hanya memenuhi rutinitas harian tanpa perasaan hati di dalamnya, begitu yang Shavara rasakan.
Biasanya telpon diakhiri hal random semisal ungkapan rindu atau gombalan dari bhumi, tapi hari ini itu sudah tidak ada.
" Mas, hari ini bisa jemput Enja dia kantor kak Bian gak?" tanya Senja, mereka tengah menuju sekolah.
" Ngapain kamu kesana?"
" Kata kak Bian hari ini dia akan alih nama hak aku."
" Kamu beneran mau nerima uang mereka?" Bhumi keberatan.
Senja mengangguk, " Papa udah nolak aku, si pelakor itu pasti senang. aku hanya harus membuatnya miskin untuk membalasnya."
" Terserah kamu, kalau ada apa-apa bilang Mas. jangan kamu yang maju, tapi mas. mas yang tahu betul apa yang mereka lakukan." tegas Bhumi yang diangguki Senja.
" Kenapa teh?" Aditya heran dengan kakaknya yang sudah memasang wajah sendu di pagi hari cerah.
Shavara meletakkan kepalanya di atas meja." bingung, teteh salah apa." gumamnya.
" Sama siapa?"
Shavara duduk tegap," Dek, kalau ada orang bilangannya dia gak marah, tapi sikapnya berbeda itu berarti marah atau enggak?"
" Marah." bukan Aditya yang menjawab tapi Fena.
" Kok bisa, kita gak lagi berantem, loh Ma."
" Kamu sama Bhumi lagi slek ya?" tanya Wisnu.
" Dih ngarang."
" Gak ngarang, Bhumi biasannya nanyain kamu, tapi udah dua hari ini enggak."
" Tuh kan bener, aku tuh bingung sama dia, aku tanya marah, dia bilang enggak, memang kak Bhumi masih bersikap baik, tapi aku ngerasa ada yang berbeda dari dia."
" Apa itu?"
" Dia udah gak..." Shavara beruntung bisa mengerem mulutnya sebelum dia keceplosan Bhumi sudah tidak lagi memeluknya kalau berdua atau mencuri kesempatan menyentuhnya.
"Enggak apa?" curiga Aditya.
" Beneran gak ada masalah?" tanya Anggara.
"Gak ada, aku cuma nethink aja."
"Perempuan." cibir Aditya.
" Jomblo kere." balas Shavara.
" Gimana kabarnya Aa Wisnu?" ledek Aditya.
" Dia mah jomblo antik saking tuanya usia kejombloannya." kelakar Shavara.
" Ck, kalau gak tahu apa-apa jangan gibah jatohnya fitnah." decak Wisnu bermisteri.
" Ra, Gimana rencana magang kamu?" Anggara mengalihkan pembicaraan pada yang lebih bermanfaat.
" Belum ada tempat pilihan."
" kantor papa?"
" terus aku dibully gak ada effort buat nilai bagus karena punya koneksi? no way."
" Di sekolah adek aja, lagi buka lowongan magang." ujar Aditya.
" Ada?" antusias Shavara.
" Ada, aku dapet info dari teman."
" Kok kak Bhumi gak ngasih tahu." Gumamnya, aura kesedihan lagi-lagi menyelimuti Shavara.
" Mungkin gak tahu teteh laginm nyari tempat magang." hibur Aditya.
" Tahu, dia bahkan hafal nomor mahasiswa aku. aarrggh...fix sih ini ada yang bikin ka Bhumi marah."
" Jangan nethink, tanya dulu sana." peringatan Fena.
" Ish, gini amat ya." Shavara mendumel sendiri
" Tahu tumben, dulu sama Aryo teteh gak begini perasaan." ejek Aditya.
" Karena dulu Aryo yang nentuin apa yang harus teteh lakukan dan jangan lakukan, teteh gak dikasih pilihan. kalau kak Bhumi gak nentuin apalagi merintah, kan teteh bingung jadinya harus gimana." Shavara mengucek-ucek rambutnya.
__ADS_1
" Adit, berangkat dulu, Ma, Pa. lihat teteh kok Adit yang ikutan pusing. mana Adit gak paham lagi." Aditya berdiri lalu menyalami mereka sebelum keluar rumah.
" Aa, juga berangkat." Shavara mencekal tangan Wisnu saat bersalaman.
" Gak ada yang bantuin adek ini?"
" Gimana mau bantu masalahnya aja gak tahu." ucap Wisnu.
" Payah, gak guna jadi temannya." Shavara menyudahi sarapannya lalu pergi ke kamar.
Fena dan Anggara sedikit terkejut melihat Shavara yang berani membantah kakaknya.
" Lah dia yang sok rahasiaan, dia yang sewot." gerutu Wisnu.
" Itu Vara?" Fena tidak yakin itu anak perempuannya yang kalem.
" Biasa saja ma, Vara memang suka gitu gak jelas."
" Kok ke mama gak gitu." ada sedikit kesedihan dalam hati Fena.
" Sebab mama galak, Vara kan orangnya sawanan. Aa pergi, Ma, Pa." Wisnu pergi setelah menyalami keduanya.
❤️❤️❤️❤️❤️
" WOW,..WOW..WOW....tuan CEO kita akhirnya nongol juga setelah dua hari hilang di telan curut." sambut Ajis sembari menggebuk meja yang diikuti meja saat Bian memasuki kelasnya.
" Woy, Yan. traktirlah." teriak Nuril.
" Ada apaan ni?"
" Jangan ngehindar Lo, kita udah pada tahu kalau lo sekarang CEO." tutur Yudi.
" Dari mana?"
Mereka serempak menatap ke Ajis yang tengah menggoda teman wanita.
" Bocor banget mulut tu curut." dumel Bian.
" Ayolah, Yan sekali-kali shadaqah kami duafa." bujuk Aditya.
" Gak guna. mana ada duafa hpnya apel dibelah."
" Duafa kaum Z ini." timpal yang lain.
Tok..tok...
" Apakah CEO kita sudah masuk sekolah?" Gara dan temannya memasuki kelas bertos dengan teman lelaki yang lain.
" Lo juga tahu?" tanya Bian pada Gara.
" Seluruh penghuni sekolah tahu, si Ajis banggain diri punya sahabat CEO." ungkap Gara.
"Anjir, malu-maluin bet dah."
" Terlanjur teman Lo sama dia. udah sih timbang traktir doang." ujar Mega, si cewek cetar membahana.
" Duit Lo tapi."
" Udah jangan dipaksa, itu bukti cuma gue yang baik sama kalian. Bian mana sanggup nyaingin gue yang nraktir kalian tempo hari dan gue jadi famous ngalahin die." ucap Aditya songong.
" Dih, si adek berbangga diri padahal takut kalah saing." ledek si Reno yang terkenal tukang julid.
" Hahahhaha,..sini, dek. mari teteh belai." goda si Emma, si imut. tapi bagi Aditya amit-amit.
" Cie..Ema, modus..jadian ini mah, jadian.." goda Ajis.
" Apa sih, Jis. kok jadi gini gue kan juga pengen gabung bully die." Ema sewot.
Aditya nyengir-nyengir sembari mengerlingkan mata genit pada Ema.
" Mama Emma, puk..pukin pala adek." Aditya mendekati Ema.
" Dit, jangan mulai, ini masih pagi, gue gak mau capek." Emma menjauh.
"Capek diapain emang Ma sama si Adit?" tanya Leo ambigu.
" Aaa..Adit jelek." Emma berlari menjauhi Aditya keluar kelas. tentu Aditya dengan senang hati mengejarnya
" Si Emma mulutnya bikin orang salah paham." ucap Gara.
" Tahu si polos yang bikin jantung copot tiap hari." timpal Leo.
" Lagian ini kapan dah sekolah ganti kapur pake spidol kayak sekolah lain." gerutu Devgan.
Brakh....
Pintu dipukul keras oleh sosok kecil yang menatap tajam Bian.
Kakinya yang pendek melangkah lebar ke Maja Bian.
BUGh...
" Adaw, Ra. sakit." Bian mengusap-usap lengannya yang dipukul Aira.
"Gak lebih sakit dari hati gue, kak. Lo kemana aja dua hari ini, gue telpon, chat, DM gak ada balasan. Lo tahu gak sekhawatir apa gue mikir Lo? gue takut gue nemuin Lo OD lagi. Lo kemana? Lo gak mikirin gue, dasar baji-ngan bisanya ghostingin gue, gue cari cowok lain tahu rasa Lo...hiks..gue gak bisa tidur dia hari ini...hiks..gue mikir Lo, kak. udah gak cinta lagi Lo sama gue...hiks..." cerocos Aira mengomel. airmatanya sudah membanjiri wajahnya.
Sekelas mendadak berhenti dari kegiatannya kala suara nyaring Aira menggema mengisi ruang kelas.
Bian mengulum senyum, ia berdiri lalu membawa Aira masuk ke pelukannya, kemudian mengecup puncak kepalanya." Maaf, aku kira kamu gak peduli sama aku."
" Pengennya gitu..tapi gak bisa. gue khawatir kalau sehari gak dapet kabar dari Lo...hiks .."
" Maaf."
" Jangan ulangi lagi."
"Gak, asal jangan nolak aku lagi."
kepala Aira mengangguk," aaa..gemesh..."Bian semakin mengeratkan kan pelukannya.
Yang melihat jika itu perempuan, merasa terenyuh dan iri pad Aira, tepai Gabi lelaki mereka berlagak muntah enek.
" Udah nangisnya, aku traktir kamu makan."
" Traktir...traktir...traktir..."
" Demi keadilan sosial bagi seluruh penghuni sekolah traktir kita semua...." provokasi Nuril.
" Ck, ga ada ya...kalian itu kebiasaan kalau ada apa-apa dikit minta traktiran.
" Huhuhu.... Bian tidak adil..."
" Huuhuhu Bian cosplay jadi pejabat korup..." ejek teman sekelasnya.
" Sebutin Kenapa gue musti traktir kalian?" tantang Bian.
" Gue do'ain percintaan Lo sama Aira langgeng sampe tua." Sahut Reno.
" Gak perlu, dosa Lo banyak tuhan gak bakal kabulin Lo."
"Asu." omel Reno.
" Supaya uang Lo bekerja dengan baik gak sesuram masa depan para sarjan yang baru lulus." ucap Gara
" Aish serem amat omongan Lo, Gar." ucap yang lain.
" oke dah. gue traktir kalian muka kalian kayak belum makan setahun."
tok...tok...
Guntur memasuki kelas, alisnya terangkat melihat keramaian kelas.
" Ada apa ini? Gara masuk kelas, bel masuk sudah dari tadi bunyi." Guntur menggeplak punggung lima siswa IPS tersebut dengan buku.
" Kyaaa...pak Guntur, tolongin Emaaa..."teriak Ema heboh menyembunyikan tubuh dibalik tubuh kekar Guntur.
" EMMMAA...mana mama Emma istri aku.." ucap Aditya di belakangnya.
Guntur memijit pangkal hidungnya pusing." Aira, Kenapa masih di sini?"
" Eh iya, lupa. pak bisa gak Ira loncat kelas ke kelas ini."
" Jangan ngawur, kamu matematika dapet enam ngesot juga sok-sokan loncat kelas. sana masuk kelas."
" ish, pak Guntur gak asik. siapa suruh matematika susah. coba kalau segampang ngedapetin hati kak Bian aku juga bakal jago."
" Ini si bocil masuk kelas sana. jangan bikin bapak pusing."
" Bapak, tolongin Emma, Emma rela dinikahin bapak kalau bapak bisa ngusir makhluk jadi-jadian itu." Emma menunjuk Aditya yang masih menargetinya.
" Saya yang gak mau nikahin kamu. Adit, bawa Emma-nya ke meja, cepetan." Guntur berjalan ke meja guru.
" Siap, komandan." Aditya menyeringai devil menakuti Emma yang sudah ngibrit takut.
__ADS_1
" Si Emma oon, dia ngapain lari wong dia duduk semeja sama Adit." ucap Reno yang disambut tawa teman sekelas.
" Tenang, kalau kalian masih ribut bapak adukan ke pak Dewa." ledek Ajis.
" Dih si bapak, kayak cewek tukang ngadu." kelas 12 IPA 1 hanya takut pada Bhumi selalu wali kelasnya.
♥️❤️❤️❤️❤️❤️
" Mira, kok kita makan di sini? katanya mau ke resto." tanya Shavara mengomeli Mira. mereka tengah memilih meja di warungkita untuk makan siang mereka di .
" Di sini tempat mahasiswa mempertahankan harga diri ditengah kerampingan dompet. Var, coba tanya ada kak Bhumi gak, siapa tahu dia mau nraktir kita."
" Ya tuhan malu-maluin banget. lagian ngapain kak Bhumi di sini?"
" Kakak Lo bilang ini resto dia, siapa tahu mereka joinan. cepatan tanya ada kak Bhumi gak?"
" Ogah malu."
" Ck kesejahteraan dompet gak mengenal malu. mbak.." panggil Mira pad salah satu pelayan.
"Iya, kak. bisa dibantu?"
" Ada kak Bhumi?"
" Pak Bhumi pemilik restoran ini?"
" Eh..iya kali ya..." Mira melirik Shavara yang mengedikan bahu.
" Ada, baru saja beliau datang, ada perlu apa ya, kak."
" Ini pacarnya mau ketemuan. kangen katanya." pelayan tersebut memperhatikan Shavara, kemudian tersenyum hormat.
" Mari saya antar ke ruangannya."
" Eh..." Mira mendorong Shavara untuk mengikuti pelayan tersebut ke lantai tiga.
Tok..tok...
" Masuk."
Pelayan tersebut membuka pintu." Maaf, mengganggu, pak. ada kekasih bapak ingin bertemu."
"Kekasih?" Bhumi bingung, pelayan menyamping memberi akses Shavara untuk masuk.
"Hai.." Shavara melambai tangan gugup. Shavara takut bhumi merasa terganggu.
Bhumi terkejut sesaat, namun senyuman segera menyusul di bibirnya. Bhumi berjalan menghampirinya.
Shavara merasa lega, Bhumi tidak berubah seperti yang dia kira.
" Terima kasih, kamu boleh kembali kerja." Bhumi menutup pintu di belakang mereka.
" Tumben, bilang sebagai pacar aku." Bhumi menggapai tangan Shavara untuk membawanya duduk di sofa panjang, dia menggeser sedikit berpikir Bhumi akan duduk di sampingnya seperti biasa, namun itu salah.
" Mira yang bilang, iseng aja sih dia." Shavara tertegun memerhatikan Bhumi yang memilih duduk di sofa single.
Ada rasa nyeri di sudut hatinya melihat Bhumi menjaga jarak darinya." Aku ganggu kamu?"
" Enggak, cuma lagi periksa pembukuan, bentar lagi gajian. membosankan sih."
" Jadi beneran restoran ini punya kamu?" sangsi Shavara.
" Join sama kakak kamu, Adnan, dan Elang juga sih."
" Aku gak tahu itu." Shavara berupaya membangun percakapan, ia ingin mengenal Bhumi lebih jauh.
" Kayaknya aku pernah bilang kalau aku punya bisnis bareng mereka."
" Gak bilang restoran in."
" Oh, maaf. lupa aku."
" Ternyata aku gak tahu apapun tentang kamu, dan kamu juga gak ngasih tahu aku." ada rasa ketersinggungan dalam ucapan itu yang bisa Bhumi rasakan.
" Maaf, aku gak bermaksud merahasiakan, aku hanya tidak terbiasa mengungkapkannya saja. jangan berpikir kemana-mana."
" Emang apa yang aku pikirin?"
Bhumi menghela napas." Kamu mulai meragukan aku lagi, padahal kamu yang paling tahu banyak tentang aku dari diriku aku sendiri."
Shavara memilih tangan," maaf, pasti kamu berpikir aku kekanakan. kamu capek sama aku? ini kali pertama aku menjalani hubungan yang mana aku punya andil. maaf kalau kamu merasa lelah."
Bhumi menggeleng," enggak, enggak capek atau lelah, ini juga pertama kalinya buat aku, kita belajar saling beradaptasi ya.
Shavara berharap Bhumi mendekatinya, namun sepertinya itu tidak mungkin, dia melihat tidak ada pergerakan dari Bhumi akan mendekatinya.
Bhumi sendiri menatap Shavara yang menunduk, ia sibuk dengan pikirannya, ingin ia mendekat, namun khawatir membuat Shavara tidak nyaman.
Sedari Shavara masuk ke ruangannya ia sangat ingin memeluknya, namun sekuat tenaga ia tahan. ia takut Shavara menjauh darinya. kini hanya menatapnya yang bisa dia lakukan.
" Aku bisa bantu." ucap Shavara tiba-tiba membuyarkan lamunan Bhumi. dia tidak than akan kesunyian diantara mereka.
" Apa?"
" Pembukuan itu, aku bisa bantu kamu."
" Beneran? aku paling males soalnya ngurus ini, biasanya ada orang yang ngurus tapi lagi gak masuk, istrinya lahiran."" Bhumi melangkah ke meja kerja.
" Kamu biasa pulang sekolah jam segini?"
" Kelas aku udah beres aja sih, Minggu depan anak-anak mau semesteran." setelah memberikan buku untuk diperiksa, Bhumi kembali duduk di kursi kerjanya.
Untuk kedua kalinya Shavara merasa ditolak Bhumi, tadi pagi dia hanya mengira, namun kini Shavara yakin Bhumi berubah padanya.
Menahan sesak di dada, Shavara memeriksa pembukuan Bhumi, melupakan Mira yang menunggu dirinya sendirian di meja.
Daripada bengong, Mira memutuskan memesan makanan dahulu.
Satu jam mereka bergelut dengan kesibukan masing-masing, tanpa bicara kecuali perihal pembukuan, tidak ada canda, rayuan, atau obrolan ringan diantara mereka.
Sesekali Bhumi melirik pada kekasihnya, ya.. tuhan ia sangat ingin memeluk wanita cantik itu, sedikit mengecup di pipinya, sedikit di kening, sedikit di bibirnya, eh..agak lama ding kalau di bibirnya. Bhumi menggeleng kepala berupaya menghilangkan khayalan di kepalanya.
Kesedihan meliputi hati Shavara, ia ingin segera menyelesaikan pembukaan ini. ia ingin pergi ke kostan Mira dna curhat pada sahabatnya itu.
Shavara tertegun, ada sesuatu yang dia merasa janggal tentang Mira, detik berikutnya matanya membola" astaga, kak. aku lupa ninggalin Mira." pekik Shavara panik, si segera berdiri dan berlari kecil ke pintu yang dicegat Bhumi.
Bhumi pun tertular kepanikan Shavara." Hei, calm down, ada apa?" Bhumi memegang tangan Shavara, meremasnya lembut.
" Aku kemari bersama Mira, aku ninggalin dia di bawah. aku keluar dulu mau lihat dia, alamat marah ni nenek gayung."
" Kita ke sana barengan." Bhumi membuka pintu, berdampingan mereka menuruni tangga, mengabaikan lirikan para pelayan yang terheran-heran melihat bos-nya dekat dengan perempuan.
Shavara dan Bhumi berdiri di depan meja yang sudah kosong dengan hanya peralatan bekas makan di atasnya.
" Mbak, lihat kakak duduk di sini?" Shavara menarik satu pelayan, ia menunjuk meja kosong tersebut.
" Udah pergi, kak. kakaknya nitipin surat kalau gak salah, saya ambil dulu ya."
" Iya, makasih."
" Aduh, kak. Mira pasti marah." Shavara mengambil ponsel dari dalam tas yang di simpan di atas kursi.
sebelum Shavara menelpon Mira, pelayan tersebut kembali dengan membawa notes kecil berwarna kuning.
" Ini, kak."
" Makasih ya."
Shavara membuka lipatan kertas, di sana Mira menulis,
" Gue balik, nunggu Lo pacaran keburu buluk gue. thank buat makanannya, gue belum bayar ya!!!🤭😘
Bhumi mengambil kertas tersebut, ia tersenyum geli membacanya.
" Aku ke kasir dulu bayar makan Mira, sekalian mau pulang juga."
Bhumi mencekal tangan Shavara sebelum kekasihnya itu pergi," kamu udah makan?"
" Belum sempat."
" Maaf, kita makan dulu ya. baru aku antar kamu pulang."
" Di rumah aja, lagian kamu juga lagi sibuk."
" Kamu kemari naik apa?"
" Tadi naik motor bareng Mira, pulang paling mesen ojek."
" Mana bisa aku biarin, kita makan terus aku antar kamu pulang. no debat." Bhumi memanggil pelayan untuk membersihkan meja.
Seperti janjinya setelah mereka selesai makan, Bhumi langsung mengantarnya pulang, padahal ini masih terbilang siang. satu lagi hal yang tidak biasa, kalau kemarin-kemarin Bhumi pasti akan membuat banyak alasan untuk memperlambat Shavara pulang, walau pada akhirnya alasan itu hanya modus Bhumi agar lebih lama untuk memeluknya.
Di dalam mobil keduanya diam tanpa obrolan, Shavara melihat tangannya lalu melirik tangan Bhumi yang bebas ditaruh di atas pahanya.
__ADS_1
" Kak, tangan aku kayaknya kesepian."....