
" Selain aku, Mas punya adik lain, kan? Anak yang diakui ayah, anak yang dicintai ayah." lirih Senja dengan mata basah berurai buliran bening walau wajahnya datar dan tatapan matanya kosong.
Dari bahasa tubuhnya yang menegang Senja paham jika kakaknya itu kaget dirinya tahu perihal Bian.
Bian menatap sendu bercampur bingung darimana Senja tahu perihal dirinya. Tatapan menerawang nan pilu Senja menyayat hati Bian.
" Ja..."
" Kita bicarakan di tempat yang lebih privat gimana?" sela Adnan memotong perkataan Biyan.
¥¥¥¥¥¥¥¥
Di sinilah mereka, di ruang pribadi Bhumi. Senja dan Bian didudukan di sofa panjang, di hadapan Bhumi yang duduk di sofa single sedangkan yang lain duduk berpencar, Bahkan Aditya dan para sahabat lesehan di lantai.
" Sejak kapan Adek tahu?" Tanya Bhumi hati-hati.
" Semalam ada yang ngasih video Mas marah, di dalamnya ada pengakuan kak Bian sebagai adik Mas ke teman-temannya."
Dalam hati Bian mengerang merutuki kecerobohannya, dia lupa banyak pengunjung saat peristiwa itu terjadi.
" Kenapa gak telpon Mas?"
" Takut, syok, kaget. Bercampurlah. Jangan interogasi Enja, justru Enja yang harusnya minta penjelasan." Protes Senja sedikit meninggikan intonasi suaranya.
" Itu benar, gue adik pak Dewa. Anak dari pelakor itu." ungkap Bian frontal menghina ibunya yang dia benci.
"Bian, jaga ucapan kamu." Peringat Bhumi.
" Apa yang aku ucapkan gak salah, ibuku memang pelakor, dan aku benci fakta itu. Maaf, secara pribadi aku minta maaf udah bikin Senja sedih."
" Sejak kapan Mas tahu kak Bian adik Mas?"
Bian menahan sesak ketika Senja mengabaikan perkataannya.
" Sejak awal aku masuk sini, aku masuk sini setelah aku jelasin status aku dan mendapat maaf pak Dewa." Bian yang menjawab mendahului Bhumi.
Bian tidak ingin suasana tidak nyaman semakin berlarut, dia tidak siap harus menjaga jarak dari keluarga yang menyambutnya hangat.
" Bian, Senja bertanya pada saya bukan ke kamu." Bhumi tidak suka arah pembicaraan lanjutan Bian.
" Kenapa Mas mau memaafkan kamu? Mas ku sangat membenci ayah dan ibumu mengapa Mas bisa memaafkan kamu yang seharusnya juga Mas benci?"
" Dek..."
" Karena aku bukan anak biologis ayah, aku anak pria lain." Bhumi memejamkan matanya, ia memijit pelipisnya karena mumet akan keterusterangan Bian.
Perkataan Biyan mengagetkan semuanya, para sahabatnya menatapnya bingung, pasalnya hal ini bukan yang Biyan katakan semalam.
Adnan menatap prihatin Bhumi yang terlihat muram dan serba salah.
Yang paling syok adalah Senja, Belum juga keterkejutan mengetahui Bian sebagai kakaknya hilang, dia yang baru tahu jika salah satu murid kakaknya adalah kakak sambungnya namun kini kenyataan hal lain menambah syok mentalnya.
Bhumi meringis pilu melihat tatapan bengong adiknya, Bhumi berpindah tempat ke sisi Senja, ia mengusap sayang punggung tangan Senja.
" Dek, jangan begini, pelan-pelan saja. Mas akan kasih tahu apa yang ingin Adek tahu."
Mata Senja kembali menangis, namun," Hahahhahahaha... hahahhahahaha..." Ini karma ayah, ayah yang menuduh Adek bukan anaknya tapi dia mengasuh anak pria lain,.. HaHAHAHAHHAHA...hiks..." Senja menutup wajahnya dengan kedua tangannya guna meredam isakan pilunya.
" Aku anak kandungnya, tapi dia abai, namun dia sayang sama anak yang bukan dari benihnya, Mas. Aku sakit hati, aku iri dengan temanku yang mendapat kasih sayang ayah, aku punya ayah tapi aku gak bisa merasakan kasih sayangnya. Mas tahu kecewanya aku? Mas tahu aku selalu bertanya kenapa ini terjadi padaku? Aku selalu berkata tuhan gak adil, aku gak tahu apa-apa, tapi aku yang sakit hati, sakit mas, aku sakit hati."
Bhumi memeluk erat Senja yang dalam rengkuhannya badannya bergetar hebat seraya memukul dada Bhumi.
" Ada Mas, kan dek. Apa kasih sayang mas kurang? Belum lagi kasih sayang dari bang Adnan, dan bang Elang. Apa masih juga kurang buat Adek?"
Senja menggeleng," tapi tetap aja beda Mas, aku juga pengen mendapat peran sosok ayah. Kenapa ayah gak mau ngakuin Enja tapi dia bisa menyayangi Kak Bian."
" Ayah gak tahu aku bukan anaknya, ibuku menyembunyikan fakta ini dari ayah." Ucap serak Bian.
Senja melepas pelukan Bhumi," Apa tujuan kamu mendekati Mas-ku? Apa kamu juga mau rebut dia dariku?"
Biyan menggeleng cepat," enggak sama sekali, aku justru merasa bersalah. Aku ingin menebus kesalahan ibuku, aku ingin menyayangi kamu sebagai adikku."
" Bullshit, ibu kamu bisa punya anak lagi."
" Gak bisa, rahim ibuku bermasalah dan harus diangkat."
" Syukurin, itu balasan pelakor." Hujat Senja, Bian mengangguk menyetujuinya.
" Dek... Jangan begitu."
" Gak apa-apa pak Dewa, memang benar itu adanya. Aku setuju dengan Ucapan Senja."
" Kak Bian jangan main ke rumah lagi."
" Gak bisa, Ja. Aku ingin mengabdi pada ibu."
" Kamu punya ibu sendiri, Kenapa harus ibuku?"
"........."
" Karena rasa bersalah?" Bian menggeleng.
" Karena dari ibu Rianti aku mendapatkan kasih sayang ibu. Kalau kamu merindukan kasih sayang ayah, aku merindukan kasih sayang keduanya. Kamu salah kalau kamu berpikir aku mendapatkan kasih sayang ayah, dari masa kecilku ayah selalu menjaga jarak dariku, mungkin beliau merasa bersalah padamu? Entahlah. Intinya aku ingin merajut kekeluargaan dengan mu dan pak Dewa karena aku belum pernah mendapatkannya dari keluargaku." Ucapan sedih Biyan menular pada yang lain, mereka bisa merasakan kesepiannya Biyan.
Devgan menatap intens Bian, saat Bian menatapnya ia membalas dengan senyuman menyemangati.
" Dek, bisa terima kak Bian?" Tanya Bhumi pelan.
Senja menggeleng, raut Biyman merengut muram.
" Apa yang terjadi bukan kesalahan kak Bian, dia juga sayang kamu, kamu pasti merasakan hal itu, dia kan sering bela kamu kalau ada yang ganggu kamu."
Senja terkaget," Mas tahu itu?"
"Mas selalu mengawasi kamu, Mas selalu mengawasi para adik, Mas."
Bian seketika menangis tersedu-sedu, ia merasa terharu, ia tidak lagi bisa menahan tangisnya yang sudah dia tahan sejak di kantin tadi.
" Huhuhu....hiks..Ja, maafin aku...jangan benci aku...hiks..." Rengek Biyan terkesan manja dan merayu.
Para sahabatnya Bahkan melihatnya dengan mimik geli menjurus ke jijik.
" Napa kakak yang nangis, seharusnya kan aku. Dasar cengeng." Senja beranjak sambil menghentakkan kaki keluar dari ruangan Bhumi.
Bhumi ingin menyusul, namun ditahan Erlangga, " biar gue sama Adnan aja yang ngurusin dia, Lo diemin si cengeng satu ini."
" Thanks bro."
" Kayak sama siapa saja." Adnan menepuk bahu Bhumi sebelum keduanya menyusul Senja.
Lima menit sudah Bian masih menangis, kini para sahabatnya menatap jemu padanya.
" Yan, udah dong nangisnya. Kayak cewek Lo, ga malu sama rambut gondrong Lo." Ucap Leo.
" Lo gak tau kesedihan gue."
" Gue tahu, tapi jangan nangis alay begini juga kali." Kini Devgan yang mencemooh.
" Kalau Enja benci gue gimana?".
" Gak gimana-gimana, kita bujuklah. Dia mah disogok Sempol 20 ribu juga baikan."
Pletok...
" Aduh... Sakit ini pak."
Bhumi melempar pulpen tepat ke kening Ajis.
" Kamu pikir adik saya anak SD?"
" Dih si bapak gak tahu aja selera jajan adiknya lebih dari bocah TK."
" Udah sih biar aja Bian nangis sepuas dia, gue lagi ngerekam, terus gue posting si jawara tawuran ternyata berhati hello Kitty." Ucap Aditya yang tengah mengarahkan kamera ponselnya pada Aditya.
__ADS_1
Bian langsung berhenti menangis, dia melihat ke arah Aditya yang fokus merekam dirinya.
" S3tan, si Panjul. Berhenti gak ngerekam gue." Bentak Bian.
"Enggak, gue jual tampang cengeng Lo auto sultan gue."
" Adek ..." Tegur Shavara.
" Tenang, teh. Kalau dapet cuan banyak aku kasih setengah buat teteh."
" Anj...."
" Bian." Tegur Bhumi.
" Maaf, tapi dia ngeselin bang." Bian menggapai-gapai tangannya hendak merebut ponsel namun Aditya menjauhkannya.
Aditya berdiri lalu berlari keluar," mau gue sebarin ke yang lain." Ucapnya sebelum menutup pintu.
" Memang ya bocah satu ini...." Bian menyusul Aditya yang diikuti Devgan dan Leo.
Tinggal mereka bertiga di dalam ruangan yang sekarang sepi," gue mau ke kampus, bro. Lo gak apa-apa gue tinggal?" Tanya Wisnu.
" Gak apa-apa, sorry Lo lihat yang gak ngenakin."
" Santai, gue gak merasa terganggu. Kalau Lo mau, Lo bisa ngomong sama gue."
Bhumi mengangguk," thank atas tawarannya, gue pake suatu hari nanti."
" Dek, mau ke kampus bereng gak?".
Shavara menggeleng," enggak, Adek bawa motor."
" Kalau gitu Aa pergi duluan ya."
" Iya."
Saat Wisnu membuka pintu Bhumi menyela," Nu, gue pinjem Shavara dulu ya?" Wisnu melihat kebutuhan teman di mata Bhumi.
Wisnu mengangguk." Jangan dibawa nginep lagi." Sindirnya.
Bhumi tersenyum kikuk akan hal itu," enggak akan, semalam gue butuh Shava banget."
" Lelaki selalu butuh perempuan, Bhum." Wisnu menatap dalam Bhumi.
" Dan gue butuh adik Lo." Balas Bhumi tak gentar.
" Lo cinta dia?"
" Gue sayang dia."
" Sejak?"
" Gue tertarik sama dia sejak pandangan pertama."
" Janji gak akan nyakitin dia?"
" Gak bikin dia nangis gak janji, cewek kan senjatanya nangis kalau udah marah, tapi gue pastiin gue gak bakalan selingkuhi atau curangi dia. Pegang kata-kata gue." Balas Bhumi yang tahu kerisauan Wisnu.
" Jaga dia, dia sangat berharga bagi kami."
" Dia juga sangat berharga bagi gue, gue sayang banget dia."
Shavara yang menjadi objek perbicangan mereka kesal dianggap tidak ada." Hello, hei, aku di sini. Yang lagi kalian omongin di sini" Shavara melambai-lambai tangannya.
Keduanya terkekeh-kekeh melihat kekesalan Shavara.
" Gue cabut." Wisnu menutup pintu tanpa menunggu jawaban Bhumi.
" Aku juga pergi ya. Semuanya udah beres deh kayaknya."
Bhumi beranjak menuju pintu, ia mengunci pintu lalu memasukan kuncinya ke saku celananya.
" Jangan dulu, aku mau peluk kamu dulu." Bhumi menarik Shavara yang duduk di kursi pojok ke arah sofa panjang.
Shavara menekan dada Bhumi menjaga dirinya terjatuh di dada bidang itu.
" Ini hari beratku, sayang." Bhumi memajukan wajahnya ke sela leher Shavara.
" Aku perihatin tentang itu. Kenapa gak cerita. Kak, geli." Shavara menjauhkan lehernya yang ditahan Bhumi dengan memegang tengkuknya.
" Hmm, gak sempat. Pagi tadi kacau banget pokoknya." Bhumi menarik Shavara agar lebih menempel padanya.
Shavara terkikik dengan tangan masih menahan di dada Bhumi, tangan lain Bhumi sudah mengelus punggung Shavara.
" Udah kebayang sih, secara Mama yang turun gunung."
Bhumi terkekeh," damage Tante Fena memang gak tertandingi. Sayang, jangan nahan melulu ih." Bhumi mengambil tangan Shavara dari dadanya dan meletakkannya di atas pahanya.
" Pegang yang ini aja."
" Entar kamu merang-sang lagi." Bhumi mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Shavara, dia memasang wajah kaget di sana.
" Kamu tahu usapan paha bisa bikin merang-sang?"
Shavara tahu dia sedang diledek, maka dia pukul paha Bhumi lumayan kencang.
" Walau aku belum pernah lakuin, tapi aku bukan anak polos ya." Dumelnya.
Bhumi terkekeh dan mengecup telapak tangan itu sedikit menjilatnya secara sensual, Shavara melotot," Jadi teorinya udah tahu tinggal dipraktekin aja gitu. Mau praktik langsung gak?" Tangan yang semula memegang tangan Shavara kini sudah kembali di punggungnya, mengusap halus bagian bawah dekat pinggul.
Shavara gelagapan, ia kewalahan tidak tahu harus bagaimana menanggapinya karena ini hal baru baginya."kak..heuhh." suara berat dengan sedikit erangan memancing birahi Bhumi.
Bhumi semakin menempel tubuh Shavara pada dirinya, sampai pinggir pahanya Shavara naik ke tengah pangkuannya." Sayang..jangan mengerang, aku mau kamu jadinya." Ucapnya dimana bibirnya sudah menyentuh kulit bibir Shavara.
" Kakh...ta..tapi inih...hmmph..." Bibir Bhumi mencivm bibir Shavara.
Pagutan itu lembut, Bhumi ingin menyalurkan perasaannya sayang pada gadisnya. Bibir Shavara dengan setengah hati membalasnya.
" Hemmmph, jangan nahan untuk balas aku sayang. Di sini aman. Sekarang balas aku kayak semalam." Bisik Bhumi disela luma-tannya.
Shavara pun meresponnya dengan meletakkan kdua tangannya merengkuh kepala Bhumi, ia meremas rambut Bhumi seiring intensnya ******* itu.
" Hmmph..hmmph..." Lenguhan dari dua insan yang makin merapatkan tubuh mereka bagai menyatu. Bahkan Shavara sudah duduk di pangkuan Bhumi yang memperbaiki duduknya menghadap depan karena mengangkat tubuh Shavara ke atas pahanya.
" Ehmmm..." Suara cecapan dan erangan saling menyahut, takut kebablasan Shavara menyudahi ci-uman itu dengan napas terengah-engah.
Bhumi mengusap jejak suliva disekitar bibir Shavara dibawah tatapan sayunya." Padahal setiap jauh dari kamu aku punya tekad buat nahan diri supaya kamu gak berpikiran buruk lagi sama aku, tapi semuanya hilang kalau kamu di dekat aku."
Shavara beringsut turun duduk di samping Bhumi berjarak sedikit." Kok jauhan?" protes Bhumi.
" Jangan lebay. Aku juga bingung sendiri kenapa mau aja digituin sama kamu. Empat tahun sama Aryo boro-boro mau dicivm dipeluk aja juga aku udah risih."
Bhumi merasa dadanya melambung tinggi," aku merasa bangga dengernya."
" Kita kayaknya memang gak boleh berduaan dalam satu ruangan."
" Libidonya langsung ngambil alih ya." Goda Bhumi.
Semburat merah muncul cidi pipi Shavara." Ck, gak perlu diomongin juga kan."
" Bhumi senang melihatnya." Hehehehe..boleh lagi?"
Plak...
Shavara memukul lengan atas Bhumi.
" Sakit Yang."
" Bisa enggak jangan mengarah ke sana mulu?"
" Susah, beneran aku udah berusaha gak ke sana tapi maunya ke sana mulu."
" Kamu beneran baru pacaran sama aku?"
__ADS_1
" Kalau masa SMA itu gak dihitung, karena jadian juga gak pake feel. Iya ini baru pertama."
" Tapi kamu kayak udah pro, kan aku jadi sangsi sama kamu."
" Aku juga gak paham kenapa suka banget nyentuh kamu. Dulu kalau ada cewek deketin baik yang terang-terangan maupun ngode gitu aku gak pernah minat, pas lihat kamu aku...kayak magnet aja gitu, rasa ini benar-benar menerjang aku banget. Bhumi memainkan jari Shavara sedikit meremas.
Shavara sontak berdiri dan mengambil tas di kursi yang semula." Aku ngeri, aku pergi dulu ya?
" Ngeri gimana?"
" Ya kamu keliatan pengen makan aku banget gitu. Aku ngeri lah."
" Maaf, tapi memang itu gak bisa disangkal."
" Ya udah aku pergi."
Bhumi pun beranjak ke mejanya, mengenakan jaket kulitnya.
" Ke kampus?" Shavara menggeleng.
" Ke warungkita, aku janjian sama Mira dan yang lain mereka pengen tahu apa yang terjadi. Dan sedari tadi aku di sini aku gak tahu apapun cuma ngelihat drama aja dari tadi." Rungut Shavara.
" Aku anter."
" Aku bawa motor."
" Biar Adit yang bawa pulang aja, aku kirim pesan sama dia dulu." Bhumi sibuk dengan ponselnya.
" Kamu gak ngajar?"
" Dibebasin, suasana hari ini gak kondusif buat ***. Para murid gak langsung pulang karena ditraktir Adit."
" Ooh gitu."
Bhumi menyangklok ranselnya," Btw, kamu udah bisa deket sama mereka?"
" Aku sama Mira memang waktu sama pernah dekat gak nyadar kalau Monika menjauhkan kami."
" Perasaan kamu sama Monika gimana?"
Shavara menghela napas berat." Huh, kecewa banget pastinya, kalau memang dia suka banget sama Aryo kenapa gak bilang, aku rela ngalah. Dulu dia duluan yang ngajak bersaing padahal aku mau mundur."
Bhumi menatap raut Shavara, bersyukur gadisnya sudah tidak lagi murung kala membicarakan hal sensitif ini.
Mereka keluar dari kantor guru dilirik beberapa guru yang masih tersisa." Pak Dewa." Siena menghalangi jalan mereka.
" Shitt." Gerutu Bhumi.
" Ada apa Bu?"
" Bisa nebeng pulang gak?"
" Maaf, gak bisa."
" Ke..."
Tok..tok...
Di ambang pintu Aditya dan Ajis berdiri.
" Kak, kunci motornya mana?"
" Eeeh..kayaknya teteh..." Shavara melirik ragu pada Bhumi.
Bhumi mengambil Sling bag Shavara lalu tidak segan merogoh mencari kunci motor, dia tidak rela Shavara membatalkan pulang bareng bersamanya hanya karena Siena.
" Ini." Bhumi memberikan kunci berbandul kepala angry bird pada Aditya.
" Ta..tapi..."
" Kenapa?" Tanya Aditya.
"Ini Bu Siena ngapain ngalangin jalan?" Aditya sedikit menggeser tubuh Siena untuk mengambil kunci.
" Maaf Bu, kita gak bisa pulang bareng saya mau nganter perempuan cantik ini."
" Ibu gak kapok minta nebeng padahal ditolak tiap hari juga."
" Adit..." Shavara kaget adiknya bisa tidak sesopan itu.
" Memang kamu gak punya sopan santun." sentak Siena.
" Dih, playing victim. Ibu yang gak punya sopan santun. Udah tahu pak Dewa gak suka ibu deketin, tapi ibu tiap hari ngeribetin pak Dewa mulu. Itu mengganggu tahu gak Bu."
" Adit..."
" kamu siapanya pak Dewa?" Tanya Siena sinis pada Shavara.
" Eh...saya...."
" Ayo, kita pergi takut keburu macet pas makan siang ini." Bhumi mendorong pelan punggung Shavara meninggalkan kantor.
" Pak Dewa ..." panggil Siena kencang yang tidak dihiraukan oleh Bhumi.
Beberapa guru bertepuk tangan menyemangati Bhumi, tidak sedikit dari mereka tidak menyukai sikap terang-terangan Siena dalam mengejar Bhumi, risih, ini lingkungan sekolah.
" Kak..."
" Jangan mulai buat ngalah, dia perempuan yang aku ceritain guru yang suka sama aku. Aku gak suka dia, aku sukanya kamu."
Pluk..
Demi menyembunyikan salah tingkahnya Shavara memukul perut.
" Kenapa mukul?"
" Tapi gak perlu sejelas itu nolaknya kan kasian."
" Dia sendiri mempermalukan diri. Tiap hari, tiap hari loh Yang dia nguber aku."
Di parkiran motor banyak murid bersiap pulang" pak, itu calon ibu fisika?" Tanya satu siswa yang duduk di atas motor bersama para temannya
" InsyaAllah, do'akan ya .yang Kenceng do'anya supaya di kabulkan."
" AMIINNNN." Jawab mereka bersemangat.
" Ck, kamu itu..." Shavara meloyor ke arah gerbang.
" Sayang, mau kemana? Tungguin." Teriak Bhumi disengaja yang mengundang beberapa murid berhenti memperhatikannya
" Nunggu di depan." Ketus Shavara.
" Cie .cie ..ayang..."
" Mbeb, tungguin Abang. Abang beli sempol dulu."
" Yea..yea...."
Godaan makin menjadi, Shavara mempercepat langkahnya sambil menunduk sedangkan Bhumi terkekeh menikmatinya seraya mengeluarkan motornya dari baris parkiran.
¥¥¥¥¥¥¥
Dengan menggunakan telpon rumah Rianti berkali-kali menelpon Senja yang tidak jua diangkat sampau akhirnya operator yang menjawab.
Entah mengapa di saat ia menonton televisi Senja mendadak meminjam ponselnya dengan alasan tidak punya kuota yang hingga kini belum dikembalikan.
Saat pagi tadi bahkan Senja tidak menyempatkan sarapan, menelpon Bhumi, anak sulungnya bilang menginap di apartemen.
Tidak mau berpikiran kemana-mana Rianti memutuskan mengurus tanaman yang selama ini ia jadikan healingnya semenjak cobaan terberat yang menghancurkan biduk rumah tangganya.
Rianti sesekali mencabut rumput liar disekitar bunga yang merusak keindahan taman. Terlalu fokus pada tanaman Rianti tidak menyadari saat pagar rumah dibuka seseorang.
" Rianti." Mendengar suara berat yang sudah lama hilang dari peredaran hidupnya tangan Rianti yang memegang gunting tanaman berhenti bergerak di atas dahan kering yang hendak dipotong...
__ADS_1