
Para tamu yang berakhlak minus itu melenggang masuk ke dalam kamar yang mereka klaim sendiri setelah membuat dapur berantakan.
Bahkan tiga remaja yang baru bangun tidur tanpa malu dan sungkan langsung merebus mie instan tidak tanggung-tanggung enam bungkus mie langsung mereka sikat.
Bhumi melihat itu semua dari tempatnya duduk di sofa dengan Shavara duduk menyandar di kaki sofa dengan lutut ditekuk di lantai tengah kedua kakinya serta mata terpejam menikmati usapan ringan di kepala dari suaminya.
" Ck, ck. orang yang Lo bawa gak punya malu semua, rusuh!." gumam Bhumi yang didengar Wisnu yang duduk di sampingnya."
" Hmm, tapi gue gak nyesel bawa mereka semua."
Bhumi mendelik sengit," Lo ada masalah apa sama gue sampe tega ganggu bukan madu kami?"
" Salah Lo bulan madu di tengah Liburan sekolah. Kita semua pada rakus liburan."
" Ck, gak maksa banget nyari alasannya."
Wisnu terkekeh, Shavara bergerak tidak nyaman lebih menemukan kaki, dia kedinginan.
Hawa turun menajam, suasana sangat dingin mengigil, bahkan lantai berlantai kayu pun terasa sedingin es.
" Kenapa, sayang? Dingin?" tanya Bhumi menunduk melihat istirnya yang meringkuk seperti tringgiling
" Hmm."
" Sini deketan sama Aa." Wisnu menepuk ruang kosong diantara dirinya dan Bhumi.
tidak perlu diperintah dua kali Shavara langsung duduk memeluk pinggang Kakaknya yang dibalas rangkulan oleh wisnu, Bhumi membawa kaki Shavara ke atas pahanya lalu menyelonjorkannya yang kemudian memangkunya.
" Dia memang gak tahan dingin, pasti nanti sakit perut. diri ya harus tetap hangat." seru Wisnu mengusap-usap telapak tangan Shavara.
" Ooh gitu...thanks atas informasinya."
Shavara merubah posisinya menjadi tiduran dengan kepala di atas paha Wisnu menjurukan wajah ke perut kakaknya mencari kehangatan.
Bhumi menutup tubuh istrinya dengan selimut yang sejak tadi membelit tubuhnya dan memijat-pijat kakinya agar aliran darah tetap lancar.
Dia tersenyum lembut melihat istrinya tertidur, wisnu merapihkan rambut Shavara yang kemudian dia melihat beberapa hicky di lehernya.
" Busyet Bhum, Lo gak ngerasa cosplay jadi vampire, banyak banget jejaknya." dengan menggunakan rambut Shavara, ia menutup jejak-jejak itu. Ia risih sendiri.
" Nikmat, bro. Di gue juga banyak ya, Lo pikir sendiri kenapa gue pake kaos turtle neck begini, jadi jangan marah, jangan protes." ketimbang malu, Bhumi lebih takut Wisnu marah.
Ditambah mulut Wisnu yang tidak bocor tidak seperti Adnan, makanya Bhumi lebih terbuka padanya ketimbang Adnan atau Erlangga.
'aisssshhh berasa berdiri di tepi jurang gue kalau begini terus. Gak kakak, gak adik, posesifnya gak di tempat." gerutu bathin Bhumi.
" Tapi hati-hati saja, takut pembuluh darahnya kena, adik kesayangan kita ini."
" Sure, btw thanks, sudah ngasih kepercayaan ke gue buat jaga dia." Bhumi tiba-tiba serius, ia bersungguh-sungguh soal itu.
Tanpa sepengetahuan yang lain menjelang akad, Anggara membawanya ke ruang kerjanya, mereka berbicara empat mata perihal dirinya sebagai suami dari anak gadis kesayangannya, juga membuka rahasia, bahwa dirinya sempat ragu menerima Bhumi sebagai pacar Shavara, keresahannya bukan karena Anggara ragu pada Bhumi, tapi bagaimanapun latar belakang keluarganya kontan membuat Anggara sempat gelisah. Beliau hanya tidak ingin Shavara dikhianati lagi.
Wisnu lah yang meyakinkanya jika Bhumi bisa dipercaya, bisa diandalkan.
Wisnu menoleh pada Bhumi, mengerutkan kening bertanya," Papa Angga sudah cerita ke gue kalau beliau yakin ngasih Shava karena Lo yang ngomong kalau gue baik dan gue beda dari lelaki tua itu, hingga beliau berlapang hati melepas gadis kesayangannya. bukan bermaksud berburuk sangka kata beliau soal gue tapi kondisi keluarga gue ,yang sedikit banyak cukup merisaukan beliau perihal kesetiaan gue pada istri meski Mama Fena begitu kerasnya mempromosikan gue, namun tetap saja...well, you know lah apa yang disebut karma...," Bhumi tersenyum kecut.
Sembari tangannya mengusap kepala Shavara, Wisnu menimpali, " Gue cuma melihat fakta saja, Vara yang baperan akut dalam waktu singkat bisa lepas dari kesedihan akan kegagalan pertunangannya dan pengkhianatan sahabatnya, dia bahkan terlihat lebih tegar dan percaya diri saat berhadapan dengan si brengsek itu. kalau gak dekat Lo, kemungkinan besar dia akan balik ke Aryo, dia itu orangnya cepat luluh, empat tahun berhubungan gue yakin Aryo memahami kelemahan Shavara itu." dengkus Wisnu tidak menyembunyikan kebenciannya pada sosok Aryo.
" Jadi gue yang seharusnya berterima kasih sama Lo." tukas Wisnu.
Bhumi menatap wajah damai istrinya yang terlelap," Gua gak nyangka ada di titik ini, sebelum bertemu adik Lo gue sempat berpikir untuk gak nikah, sumpah gue gak bisa tertarik sama sekali sama cewek, tapi gue gak belok ya!" tekan bhumi.
Wisnu terkekeh, " Gue gak pernah mikir Lo belok, meski Anan sering ngolok-olok Lo cupu hanya karena Lo gak pernah ngedate. Lo terlalu gantle dan maskulin untuk menjadi gay."
" Kenapa gue baru kenal Shava sih." Bhumi gregetan sendiri.
Wisnu menjitak kepala Bhumi," Itu karena Lo yang jarang main ke rumah gue, sok sibuk Lo. yang main lagi-lagi Anan, lagi-lagi Elang. sampe gumoh gue lihat muka mereka berseliweran di rumah."
Bhumi tergelak," Gue kan harus cari duit, maklum, gue tulang punggung keluarga. Lagian kegigihan gue Lo juga menikmatinya."
" Tepatnya nyokap, gue sih gak dapet seperser pun. Cuma dapet capeknya doang ngurus restoran patungan nyokap Lo sama Mama."
" Serius? Yang setiap bulan gue setor bukan ke rekening lo?"
" Hmm, emang nyokap gue itu typikal tuan tanah era penjajahan. Benar-benar nguras energi tanpa gaji."
" Lo tahu gak alasannya apa?" Bhumi menggeleng.
" Karena yang disebut nyonya besar itu tidak bekerja, tapi menikmati hasil! pake tanda seru waktu nyokap mengomong gitu."
" Hahahahahaha..." Bhumi terbahak-bahak. Memang ibu mertuanya itu beda dari yang lain.
" Bhumi, beneran ini villa teman Lo?"" Adnan muncul dari teras samping.
" iya, kenapa sih Lo dari tadi nanyain pemilik villa ini."
" Emang Lo punya teman selain kita?"
" Banyak lah, Lo kali yang temennya cuma kita doang."
" Hehehe, iya..ya...trauma gue melebarkan circle pertemanan, mereka datang pas saat butuh duit dong ketimbang solidaritas, anying emang mereka itu." Adnan duduk di sofa single.
Bhumi meringis prihatin, " Lo nya aja yang keterlaluan baiknya, baru kenal udah dipinjami duit ratusan juta."
" Udah pada bayar gak mereka?" tanya Wisnu.
" Beberapa baru separuh, beberapa belum sama sekali."
" Nanti gue tagih."
" Lo buka jasa debt colector?"
" Kagak lah, Bara Atma Madina sama Akbar ngajak join membangun perusahaan keamanan finansial perusahaan. Intinya, kita bisa menagih baik individu maupun badan hukum yang pinjem duit minimal seratus juta dari uang perusahaan agar mencegah pailit dini perusahaan dengan indeks menengah dan bawah."
" Join lah gue jadi klien kalian."
" Hmm, good."
" Mas Bhumi, ayok, keliling kampung mumpung gak hujan." Senja dan para wanita sudah terlihat segar, mereka bergaung di ruang tengah.
Wisnu menatap intens Berliana yang terlihat menawan dengan wajahnya yang polos tanpa sapuan makeup.
" Dingin, dek. Besok aja ya sambil kulineran."
" Ih, besok ya besok. Sekarang ya sekarang." keukeu Senja.
__ADS_1
Satu persatu mereka keluar dari kandangnya," tul, Ja. Jauh-jauh ngendog di kamar bt dong kita gak ngapa-ngapain." keluh Aditya.
" Definisi bulan madu itu gak kemana-mana, ngabisin waktu di kamar." timpal Bhumi ngasal.
" Tapi bapak harus tenggang rasa dong ke kita-kita yang jomblo dan butuh hiburan." Aditya ngotot.
" Yang ngundang kalian liburan bareng siapa? Saya gak ngerasa ajak kamu ya."
" Ngajak gak ngajak, toh kita udah ada di sini, bapak tanggung jawab lah."
Bhumi mengusap wajahnya kesal," Astagaaa,....boleh gak sih jual adik ipar cerewet begini?"
" Aku bilangin Mama Lho kalau bapak gak suka anaknya."
" Heh, jangan playing victim ya, kayak cewek aja kamu."
" Maksud Aa apa bilang begitu?" pertanyaan itu berasal dari suara serak yang ternyata dari istrinya yang sudah bangun.
" Hah? enggak apa-apa. Adik kamu masih aja ganggu Aa."
" Bapak tukang ngadu, kayak cewek aja." balas balik Aditya dengan senyum smirk-nya.
Kontan Bhumi mendelik sengit padanya. Sedangkan yang lain santai menikmati adu mulut ipar baru jadi itu.
" Ya udah, kita jalan-jalan keliling, tapi jangan jauh-jauh."
" YEEAAAYYYY...." sorak semuanya, sebelum Bhumi berubah pikiran, mereka berkaitan bersiap-siap.
Mengelilingi kebun teh seusai hujan adlah hal yang menakjubkan, hamparan hijau di tengah kabut dengan udara yang bersih sangat membuat mereka terpukau meski udara dingin menusuk.
Rombongan dipimpin Adnan dan Erlangga yang berjalan sambil melempar gombalan dan pujian yang berlebihan.
" Neng, kok cakep banget, Ampe yang lain kelihatan Bulik." Adnan menempeli gadis pemetik teh yang mengulum senyum malu-malu padanya.
" Boong,neng. Jangan kemakan rayuan buaya tua ini, dia duda beranak tiga yang bathin ditinggal istri karena tekanan bathin." Erlangga menyelip diantara mereka.
" mending sama Abang, perjaka ting-ting." ucapnya sambil menoleh lengan sang gadis yang memang rupawan itu.
Senja yang berjalan satu melangkah di belakang Bhumi melihat itu menunduk sedih, tidak dipungkiri kedekatannya dengan sahabat kakaknya itu telah menumbuhkan benih-benih lain yang bernama sayang.
Karena yang halal barulah Bhumi dan Shavara, maka hanya mereka lah yang berjalan saling berangkulan mesra.
" Pak, please, jangan ngobral kemesraan kalau gak mau shadaqahin izin kita main sama gadis desa." gerutu Devgan.
Bhumi tidak meladeni usaha muridnya yang Playboy satu itu, dia lebih tertarik memperhatikan raut adiknya yang terlihat muram.
Bhumi berhenti, ia menarik Sebua ke sisinya," kenapa? Kok sedih? Kan adek yang mau jalan-jalan."
Senja memaksakan diri untuk tersenyum lalu menggeleng," Enggak apa-apa. Cuma dapet kedinginan aja, pengen peluk mas, takut mbak Vara marah. Hehehe."
" Apa sih, dek. Kalau mau peluk-peluk aja gak usah sungkan." ucap Shavara.
Maka Senja langsung memeluk erat lengan Bhumi menenggelamkan diri di sana guna menutupi wajahnya yang mulai menangis.
Erlangga yang berjalan di depan mereka diam mendengarkan, dirinya merasa bersalah, entah untuk apa, tapi yang pasti dia merasa kesedihan Senja berhubungan dengannya.
Erlangga mengeluarkan napas kasar, ia ingin berteriak di depan Bhumi kalau dia suka pada adiknya, tapi dia belum sanggup mempertaruhkan persahabatan merek.
Sedangkan Bian yang berjalan di balakang melihat Erlangga dan Senja, hanya menggeleng kepala, ia percepat langkahnya lalu merangkul pundak Senja.
" Sama kakak aja yang kosong, jangan ganggu bang Bhumi."
" Banget."
" Yan, jangan modus, kalian tetap saja tidak da ikatan darah." peringat Bhumi.
"Ck, gak ya, aku tulus nganggep Enja adik aku, yang ahrus Abang waspadai bukan aku tapi yang lain."
Senja buru-buru menarik Bian berjalan cepat, sebelum Obrolan ini semakin jauh.
" Panik, gak..panik, gak . panik lah..." kekeh Bian di telinga Senja.
Senja berlaga polos tidak paham," Aku cuma gak mau kalian ribut lagi."
" Hehehe, aman lah sama kakak mah. tapi Enja harus hati-hati bang Elang lelaki dewasa pasti sudah pasti jam terbangnya jauh."
Di paling belakang, Bhumi yang sengaja memelankan langkahnya kini berhenti total," Yang, kita balik aja yuk mumpung villa sepi."
" Aa, ih.. istirahat dulu, aku capek. punya aku masih agak perih." sahut Shavara pelan.
" Gak sampai main, cuma cuddle dan sedikit 18++ bukan 31+++,. Ayolah..Yang.. Sumpah aku tuh bete seja kedatang mereka. Mereka ngerusak semua hayalan kebersamaan kita selama bulan madu."
"Enggak mau, kamu mana tahan cuma pelukan, yang tadi-tadi juga cuma doang tapi apa akhirnya lama kan mandinya."
" Kali ini janji, aku gak mau egois lagi."
" Beneran?"
" Beneran demi cintaku pada mu."
" Ck, ayok. Kalau makin lama dibiarkan ucapan kamu makin bikin aku muntah."
Bhumi terkekeh senang, ia pun merangkul Shavara berbalik ke arah villa.
Sesampainya di kamar, Bhumi langsung mengunci double pintu kamar.
Ia menghampiri Shavara yang berdiri di balkon menikmati suasana sore yang tampak halaman hijau luas.
Bhumi memeluknya dari belakang, menge Cupi leher Shavara yang memiringkan kepalanya memberi akses suaminya untuk bereksplorasi.
" Hmmhh, wangi..masih wangii..."
" A,..cuma pelukan, gak usah mancing diri sendiri..aaahhhh..." desahnya saat lehernya dihi sap.
" Hmmm..." tangan Bhumi mengusap-usap perut rata Shavara.
" Aku cinta banget sama kamu. Banget pake sekali."
Shavara terkikik," Love you more..." Shavara mengelus lengan Bhumi.
" Banyakan aku tapinya."
Shavara berbalik, mereka berhadapan," tetap gak mau kalah."
Bhumi menggeleng, ia mengelus lengan istrinya" Gak mau, ucapan aku bukan saja meyakinkan dirimu, tapi juga diriku. Aku terkadang takut aku akan menjadi seperti dia, yang bisa berubah kejam pada istrinya hanya kerja godaan fatamorgana.
__ADS_1
" Ayah, semula sangat mencintai ibu, perlahan berubah begitu halus hampir tidak kentara yang pada akhirnya menjadi bom bagi kami.
" Aku ingin bertanya apa yang membuat ayah berubah, tapi apapun itu, semua sudah terjadi. Aku..." tatapan Bhumi menusuk netra Shavara.
" Aku takut, tapi kehilangan kamu, itu lebih menakutkan. Itulah mengapa aku nekat menikahimu. Meski sebenarnya aku dilanda kegelisahan takut menyakiti mu."
Shavara berjinjit mengecup kening Bhumi," aku juga takut, takut suatu hari nanti kamu berselingkuh, tapi sakit dalam pernikahan itu lebih baik, daripada sakit dalam hubungan yang rentan. Aku merasa tidak sia-sia telah berkorban untuk suamiku, bukan untuk pacarku. Aku seperti sampah yang dibuang."
Lam mereka bertatapan, lalu entah siapa yang memulai wajah mereka saling mendekat, mulanya sekedar mengecup, lalu melum'at, kemudian memag'ut dengan mata akhirnya terpejam seirama tangan yang sibuk saling membelai.
Tok...tok...
" Pak, keluar kita mau rapat." teriak Aditya dari luar pintu.
Bhumi bernapas kasar dengan kening mengadu ke kening Shavara yang terkikik padanya." ck, Yang, kita jual Adit aja yuk."
" Hahahaha...ayok ih keluar."
" Kenapa sih mereka cepat banget baliknya."
" Jalan aja udah, tapi ya jangan ke club. nikmati panorama malam." usul Kenzo.
Rapat itu ternyata mendiskusikan kemana malam ini mereka menghabiskan waktu.
" Kita abisin duit Lo, Var." timpal Bisma.
" Masih ada duitnya?" tanya Aditya bersemangat.
" Hey..hey..duit apaan yang sedang kalian omongin ini?" tanya Wisnu bingung.
" Duit penjualan cincin pertunangan Vara Aryo waktu itu." jawab Mira.
" Busyet, seriusan kalian jajanin duit itu?" Erlangga menggeleng kepala tak habis pikir.
" Jangan sok anti, bang. Abang makan juga ya waktu barbeque-an kemarin." cibir Bisma."
" Maksudnya acara makan-makan kemarin pake duit itu?"
" Heeh."
" Emang laku berapa duit?"
" Banyak, berlian sih cincinnya."
" Astagaaa,... Vara pintar sekali kamu nraktir orang pake duit mantan." sarkas Adnan heboh.
" Daripada dibuang sayang." celetuk Shavara santai.
" Bini gue ni, anak Papa Anggara sama mama Fena." Bhumi mencivm mesra pelipis Shavara tanpa malu di depan mereka.
" Bisa gak, gak bermesraan di depan jomblo."
" Jangan mancing, di sini dingin ini."
" Ah elah...gak adil bet dah, bapak..kita masih anak dibawah umur ya."
Protes demi protesan dari mereka yang berhati dengki membubarkan kumpulan orang yg di ruang tengah.
Bhumi tergelak puas, bukannya menyesal dia malah memeluk erat Shavara yang pasrah." Udah halal mah bebasss..." sombong Bhumi.
Mereka memutuskan akan pergi jalan-jalan dan kini tengah mempersiapkan diri demi acara malam nanti.
^^^^^
Wisnu menuruni tangga pendek, langkahnya terhenti kala melihat Berliana di dapur sedang membuat coklat panas. Ia yang sedari kedatangan di villa mencuri kesempatan berdekatan dengan Berliana namun tidak ada kesempatan.
Melangkah cepat," Hai..."
Berliana terhenyak kaget, ia menoleh ke kiri dan kanan khawatir ada orang lain.
" Gak ada yang lain, tapi kalau kamu takut, ikut saya."
Wisnu menarik tangan Berliana, dengan konyol ya dia membawa dirinya ke balik gorden pojok di ruang tamu.
" Saya rindu kamu, sayang." ucap bersuara s3xy nan berat. Berliana hafal suara ini, suara yang selalu menggetarkan tubuhnya karena sengatan aliran listrik bernama gair4h.
Wisnu mendekatkan tubuh mereka, satu tangan menahan pinggang mungil itu, tangan lain mengangkat dagu lancip itu agar wajah cantik itu menghadap padanya.
" So beautiful even without makeup. You, always beautiful, darling. Always!" ucap Wisnu sembari mengikis jarak wajah mereka.
Di balik gorden biru tua itu, sang dosen killer serta mahasiswi centil penggoda ya itu saling menautkan bibir mereka menghisap lalu melesakan lidah saling membelit.
Wisnu merapatkan tubuh s3xy itu padanya, saling menempel dan membelai.
Wisnu mengusap punggung Berliana naik turun, sementara Berliana mengusap dada bidang pria berkulit eksotik kegemarannya itu.
Tangan lentiknya naik mengalungi leher Wisnu merapatkan tubuh mereka guna memperdalam civman itu saling bertukar saliva, memiringkan wajah saling bertolak, dan lengkuhan itu akhirnya keluar saat tangan besar itu mengukung tubuh kekasihnya.
Cuaca dingin menusuk bagi dia pasangan itu menjadi hangat, bahkan pasangan di dalam kamar berlumur peluh.
Adnan yang duduk di teras depan melihat semuanya, ruang yang berdinding kaca menampakkan kelakuan sang dosen galak itu.
" Dosen, udah tua juga, tapi kelakuan alay kayak ABG." gumamnya.
Adnan yang kebosanan menunggu aksi mereka lelah sendiri, ia akhirnya beranjak masuk, berhenti di depan gorden yang menyembul, dia melihat dua pasang kaki yang saling berhimpitan.
Sambil menghela napas kasar dan tangan yang memegang ponsel dengan fitur kamera menyalakan video tanpa sungkan dia menyibak gorden itu berlagak kaget dengan tangan menutup mulutnya yang menganga agar lebih meyakinkan matanya membelalak sempurna melihat dua insan yang asik saling bernafsu berebut memag'ut.
Mereka sontak saling menjauh, Wisnu terlihat biasa saja, sementara wajah Berliana yang biasa putih berubah memerah.
Saking sebalnya Adnan menendang tulang kering Wisnu yang meringis sembari mengusap-usap kakinya.
" Kalau bukan karena Lo pinter, ogah gue teman sama Lo yang gak solider." ucapnya sinis.
" Kan gue juga pengen!" sentaknya meloyor pergi.
" WAHAIII...PEMUDA BANGSA KELUARLAH JALIAN DARI PERSEMBUNYIAN KALIAN, BAHWASANYA PENJAJAH TELAH PERGI. KITA TELAH MEMPROKLAMIRKAN KEMERDEKAAN LEWAT PROKLAMASIIII!!!." Teriak Adnan di ruangan tengah dengan membahana.
Sayup-sayup tidak jelas, lima remaja yang masih mendekam di kamar malah menggibah.
" Kenapa partner in mesum Lo teriak-teriak?" tanya Aditya.
" Au, lama gak hs kali." jawab ngasal Devgan.
" WOY, KELUAR, KALAU GAK, GAK JADI JALAN-JALANNYA..."
__ADS_1
Suara gedebug kaki berlarian dari pintu-pintu kamar yang dibuka, termasuk lima pemuda itu....
Kalo yang ini ditolak juga gak tahu gimana lagi!!, tahu dia hari atau tiga hari kagak lolos...lolos.... editor, tolong editin sekalian ya mana yang vulgar!!!😱ðŸ˜