Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
45. Masa Lalu...


__ADS_3

Kaki jenjang milik Kinan melangkah tergesa-gesa menyusuri lantai teratas dari gedung perusahaan berlantai 30 milik keluarga Adnan.


Brak...


Adnan yang berjengkit kaget saat pintu ruang kerjanya dibuka kasar oleh Kinan, ia melotot pada Kinan yang mengabaikan marahnya tersebut.


" Kenapa Lo gak bilang kalau Dewa sudah punya calon istri? sampe gue punya harapan sama dia." tuding Kinan to the point.


" Wow, siapa Lo yang bisa berhak bersikap gak sopan dia kantor gue."


"Jawab Adnan."


"Jaga sikap Lo, Kinan. ingat, cuma gue, orang yang masih mau temenan sama Lo di circle kita." peringat tajam Adnan.


" Gue bukan budak Lo yang harus kasih laporan apapun terkait Dewa. lagian Lo siapanya Dewa sampe gue harus ngomong segala sesuatu soal dia."


" Adnan, Lo jangan banyak intrik ke gue, Lo gak mau temenan lagi sama gue? gue gak rugi."


" Ya udah pergi Lo sana, makin tua kok Lo makin menyebalkan."


" Gak bisa, Lo harus tuntaskan dulu soal Dewa dan gue."


"Gak ada persoalan apapun antara Lo sama dia. berapa kali gue musti bilang, dia bahkan gak pernah nanyain apalagi ngomongin Lo sejak dulu."


" Itu gak mungkin."


" Tapi itu faktanya, sorry kalau ini nyenggol ego princess Lo, Kin."


" Lo, dan Elang tahu, cuma gue yang bisa membuka hati dia. gak sebel dan sesudah gue." tekan Kinan.


" Belum aja kali, itu gak membuktikan kalau dia gak move on sama Lo. lagian Lo ngapain sih ngurusin dia. Lo udah nikah."


"Gue bercerai dari laki gue karena dia, Nan."


" Maksud Lo? perasaan dia gak tahu Lo rimbanya dimana? pas nikahan Lo dia juga santai aja."


"Gue masih suka dia."


" Hah? gimana bisa? woy, sadar. Lo udah punya laki, baik pula orangnya."


" Gue gak bisa ngelupain Dewa. gue males ngelayanin laki gue lagi, makanya gue ajukan gugatan cerai."


" Astaga, Kinan. Lo gak pernah berubah.lo masih seegois itu. Erik, orang baik, Nan. Lo jangan sampe nyesel lagi." Adnan meraup wajahnya kesal tidak habis pikir akan pola pikir temannya itu.


" Lo bukan teman gue lagi, jadi jangan sok peduli." Kinan mengolok Adnan dengan perkataannya beberapa saat lalu.


" Fine, syukurlah gue bisa terbebas dari benalu ngerepotin macam Lo." ucap Adnan tidak berbelas kasih.


" Tapi Lo punya utang soal Dewa ke gue, Lo yang ngenalin dia ke gue, nyomblangin kita, sampe akhirnya kita pacaran. sekarang gue gak bisa move on, Lo harus tanggung jawab."


"Dih, ogah. ngenalin Lo sama dia, itu penyesalan gue, perihal perasaan Lo ke dia bukan tanggung jawab gue. lagian kalian akan udah berakhir sejak jalan purba dulu kala. urusan gue selesai sejak Lo khianati dia dan kalian putus."


" Lo gak bisa lari begitu saja, sekarang kasih tahu gue apa benar dia sudah punya calon istri?"


" Gue gak pernah dengar, dia gak pernah cerita soal pribadinya kalau gue gak menangkap tangan dia."


"Bullshit, Lo tahu, tapi lo gak mau kasih tahu gue."


" terserah Lo mau mikir apa, gak penting juga bagi gue. lagian kita kan bukan teman lagi, kalau pun gue tahu, gue gak bakal bocor ke Lo." balas balik Adnan dengan seringai culasnya.


Kinan menggeram kesal, ia mengepalkan tangan karena kesal." Lo bakal nyesel gak nolongin gue."


"Iyouh, enggak tuh. saran gue sebagai mantan teman Lo, Lupain dia, dia gak pernah peduli sama Lo balikan lagi sama Erik, gak ada orang yang mencintai Lo kayak dia."


" Tapi gue maunya Dewa, dan gue pasti bisa mendapatkannya. cuma gue yang berhasil menerobos hatinya."


" Gue meragukannya, Lo gak tahu apapun soal dia, Kinan. manggil dia Dewa, itu nunjukin Lo tidka pernah menjadi siapa-siapanya Bhumi."


" Lihat saja, nanti. siapkan black card Lo buat bayar tas Hermes pesanan gue."


" Ngehayal aja terus, Lo tahu letak pintu dimana, Lo bis keliar lewat sana. sekarang, gue ada janji." pengusiran Adnan menyebalkan bagi Kinan.


Kinan menutup kasar pintu mahal tersebut, Adnan mengusap dadanya." Dosa apa gue punya mantan temen kayak dia."


♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Bhumi melirik Shavara yang menjawab singkat setiap pertanyaannya, hal yang cukup janggal bagi gadisnya itu.


Shavara memang bukan tergolong wanita cerewet, tapi jika ditanya dia akan menjawab dengan excited sebagai bentuk penghormatan.


Kala sampai di pintu mall hendak keluar berbarengan ada orang yang hendak masuk, entah karena shavara tidak engeh, atau memang dia melamun mereka hampir bertabrakan kalau saja Bhumi tidak menarik Shavara agar menggeser memberi ruang jalan.


" Ehh...?" kaget Shavara menatap Bhumi.


" Kamu hampir mau nabrak orang, jangan ngelamun."


Seperti orang bingung, Shavara menyeringai kosong." eh, maaf. gak sengaja."


" Ada masalah?"


" Eng..enggak." jawaban yang meragukan karena terdengar tidak yakin.


Bhumi mengajak Shavara ke tempat parkir, " ini." Bhumi memberinya helm.


" Makasih."


" Tolong pegangin belanjaannya ya."


" Iya."setelahnya shavara anteng di boncengan tanpa ada lagi obrolan sepanjang jalan.


" Turun, udah sampe." ujar bhumi setelah melepas helmnya.


Shavara menjauhkan badannya dari Bhumi, ia menetap heran Bhumi saat menyadari dimana mereka kini.


" Kok, ke rumah kamu?" tanya Shavara, saat Bhumi mengambil tas belanjaan.


" jelas l ada hal yang harus kita bicarakan yang menyebabkan kamu resah."


" Aku? resah? gak ada tuh."


" Turun, Shava. atau kamu mau aku gendong."


" Iya, iya." Shavara turun dibawah tatapan datar Bhumi.


Bhumi menggenggam tangan Shavara saat melintasi pekarangan rumah.


" Apa aku ada salah?" tanya Shavara.


" Justru itu yang pengen aku tanyain." Bhumi memutar kunci pintu, lalu membukanya.


" Tante, kemana, kok rumah sepi."


" Diajak Bian main kali, tadi tadi minta dia jagain ibu, belakangan disinyalir ada orang asing yang selalu ngintai warga."

__ADS_1


Bhumi mengajak Shavara ke lantai dua, ke kamarnya.


" Ih, serem amat nakutin banget. kamu harus lapor polisi."


" Belum ada alasannya, itu baru praduga." Bhumi menaruh belanjaan di atas meja sofa.


" Masa harus ada kejadian dulu baru, lapor."


" Hmm, sekarang kita berisi dulu permasalahan di antara kita."


Bhumi mengajak Shavara untuk duduk di atas kasur, sedang dia sendiri berdiri di depannya.


" Emang ada masalah?" Shavara menengadah menatap Bhumi.


Bhumi berjongkok, memegang kedua tangan Shavara." Itu yang akan kita ketahui, sayang." ucapnya lembut.


" Kamu kenap diam aja? ada hal yang mengganggu kamu? kit Audah komit akan terbuka lho."


Shavara melihat kdua tangan mereka yang saling mengait,, memainkan jemari Bhumi.


" Tadi kamu kemana, pas aku balik ke coffee shop kamu enggak ada."


" Ke toko perhiasan yang di seberangnya. itu hasilnya." tunjuknya ke atas meja.


" Tapi ketemu Kinan, niat gak lama jadi lama." ternag Bhumi tanpa dimintai, yang tanpa sepengetahuannya keterusterangan dia berhasil mengurai kegelisahan Shavara.


" Ketemu kangen yaaa.." ledek Shavara sudah bisa bercanda.


" Mana ada, yang terjadi malah berantem."


" Kenapa?"


" Biasa, dia mulai ngungkit masa lalu yang bikin aku gak senang."


" Kamu masih suka dia?"


Bhumi tidak langsung menjawab, dia menatap lembut Shavara." kita sudah bahas ini, dan jawabannya sama."


" Tapi aku keganggu dengan apa yang dia ucapkan."


" Kamu ada di sana?" Shavara mengangguk.


" Kenap gak masuk."


"Kalian pas seru-serunya."


"Ck, apaan sih, dikira film. bagian aman yang bikin kamu keganggu." Bhumi mengusap halus pergelangan Shavara.


" Waktu dia bilang kalau dia yang buka hati kamu, dan dia penghuni satu-satunya."


Bhumi mengulum senyum, ia senang Shavara merasa terganggu akan kehadiran Kinan,wali sebenarnya itu tidak perlu." Kamu dengar semua pertengkaran kami?" Shavara menggeleng.


Bhumi duduk di samping Shavara, kemudian merangkul lalu mengusap lengan atas Shavara.


" Aku akan cerita awal mula kedekatan kami."


" Aku gak minta kamu jelasin ya, aku gak Ami disebut pacar kepo." Shavara bersungut-sungut.


Bhumi terkekeh, perempuan dengan segala gengsinya." iya, enggak. aku yang ingin bercerita." tekan Bhumi.


" Dia anak IPS, populer karena pembawaannya yang humble, tapi aku gak tahu dia Samali suatu hari Adnan membawanya ke tongkrongan kami."


Bhumi melirik Shavara, dirasa aman, dia melanjutkan kisahnya.


setiap pulang dia selalu meminta aku agar sekalian mengantarnya, berhubung Kamis satu arah, aku tidak keberatan hingga lambat laun kami dekat, dekat dalam artian kami mengobrol random." tekan Bhumi.


" Suatu hari selepas aku mengantarnya pulang dia menembak ku, aku yang ngerasa tidak keberatan, dan berpikir menyukainya menerima dia, mamun aku bukan orang berduit. setiap harinya selepas melepas penat dengan berkumpul aku harus kerja nyambi hingga gak punya waktu buat kencan, atau jajanin dia. semula dia mencoba memahaminya, namun seperti pacar yang alim, dia merasa lelah dan menunjukan kemarahan sekaligus tuntutannya."


" Dia ingin kami berkencan, mengobrol, bercanda, memanjakannya, dan memenuhi keinginannya. aku berusaha melakukannya, kami kencan ke mall masuk dari satu toko ke toko yang lain,akan di resto seleranya, tapi saat dia ingin aku membayar apa yang dia pilih, aku tidak mampu. saat itu uang yang aku hasilkan hanya cukup membayar biaya sekolah dan sisanya aku beri ke ibu untuk kebutuhan rumah. dia marah, kecewa dan mengatakan kalau aku kekasih yang tidak berguna. sejak saat itu kami tidak lagi berkencan, namun anehnya aku merasa tidak harus membujuknya, aku malah tidak memikirkannya."


" Sampai suatu hari, ada teman yang menelpon ku mengatakan kalau dia melihat Kinan bersama dengan pria di sebuah club. kami pergi ke sana, dan benar adanya, dia sedang bercumbv dengan seorang pria, aku menghampirinya, menyapanya. dia kaget, alih-alih merasa menyesal, dia malah malah menghardik dan melimpahkan kesalahan sebab dia berselingkuh padaku yang tidak bisa menjadi kekasih yang baik dan romantis. aku tidak banyak kata selain langsung memutuskannya. dan kisah kami selesai, end, finish!"


Setelahnya dia keduanya terdiam saling mencerna situasi." cuma itu?" tanya Shavara akhirnya memecah kesunyian.


" Iya, cuma itu. aku ini anak broken home dari pengkhianatan seorang ayah karena perempuan lain, aku sedikit susah berteman dengan perempuan walau tidak mengasingkan diri dari mereka."


"Gak ada perlawanan marah gitu?"


" Gak ada. karena memang gak merasakan itu. sejak kencan itu aku bisa dibilang gak suka lagi berdekatan dengannya. bagiku dia seperti wanita matre lainnya. dan aku cukup terganggu dengan wanita seperti itu."


" Apa setelah itu kamu gak sama sekali pacaran?"


Bhumi menggeleng," Enggak. males. gak bisa memahami konsep pacaran ala sekarang, kalau lelaki berkewajiban membiayai perempuan."


Sontak Shavara menoleh adanya dengan raut keruh, " Kok aku tersinggung ya. kamu beberapa kali bayarin aku."


Bhumi terkekeh, ia mengecup pelipis Shavara, merangkul gadisnya seraya menariknya agar lebih mendekat." Itu karena memang aku yang mau, aku cinta banget sama kamu, Shava. andai kamu mau porotin aku, kayaknya aku rela-rela aja, syukurnya kamu gak begitu." bisiknya di cuping telinga Shavara.


Blush...


wajahnya putih Shavara kontan memerah jambu tersipu-sipu, Bhumi tersenyum melihatnya.


Bhumi memegang dagu lalu memutar wajah Shavara menghadapnya, tanpa kata dia mencivmnya, memejamkan mata meresapi setiap rasa bongkahan senang yang menghampiri hatinya.


Ia melu-mat, memag'ut, mencecap lalu menghisap bibir atas dan bawah silih berganti, Shavara seperti biasa selalu terbius akan gerakan lembut berirama memabukkan.


Respon baik dari Shavara dimanfaat Bhumi memperdalam his'apan hingga lidahnya menerobos membelit lidah kekasihnya.


" Hmmhhh...hmmhhh.." de'sahan saling menyahut, Bhumi mendorong tubuh mereka berbaring di atas kasur, memposisikan dirinya di atas Shavara yang mengalungkan tangan ke leher Bhumi, menyusupkan ke rambut Bhumi, mereka dikungkung kabut gairah.


" Aaahhh...,kakh... aaaahhhh..." desah Shavara seraya meremas rambut Bhumi saat kec'upan Bhumi turun ke lehernya.


" Kakh..., thanganhh, no..." mohonnya lemah karena tidak yakin dalam gairah saat tangan Bhumi menyusup masuk ke dalam kaosnya yang sudah terangkat memperlihatkan perut ratanya.


" Shayang, please..." gumam tidka jelas Bhumi sambil menge'cupi leher Shavara.


" Kakh..." godaan belaian sulit ia halau.


Bhumi menjauhkan diri, ia menatap Shavara sesaat sebelum berucap, " Sayang,maaf. tapi aku gak tahan." dengan gerak cepat Bhumi menarik duduk Shavara, melepas kaosnya, Shavara membeliak, ia menutup dadanya yang tinggal berbalut br'a, disusul kaos polonya. Kini mereka bertelanjang atas.


" Aku janji, kit agama sampai atas saja." ucapnya bersuara berat dengan mata menatap minat pada sembulan dibalik br*.


Bhumi menurunkan Shavara dengan lembut di kasur, membelai rambut dan wajah kekasih tercintanya." ini kali pertama aku dikuasai tidak berdaya oleh wanita. kamu tidak hanya mengetik hatiku, tapi telah menetap di sana, sayang."


Selanjutnya Bhumi aktif mengekploitasi area atas tubuh mereka, ia pun mengajarkan Shavara menyentuh tubuhnya. de'sahan dan er'angan menjadi satu-satunya suara yang memenuhi kamar bernuansa lelaki itu.


" Kyyaaaaa..." Shavara dibuat terkejut selepas membersihkan diri di kamar mandi karena Bhumi dengan santai berbaring di kasur hanya berbalut boxer ketatnya.


Bhumi terkekeh geli, padahal gadisnya itu tidak secara secara langsung sudah merasakan miliknya dari kegiatan panas setelah tadi, namun masih saja malu-malu.


"Kak, paling malu Napa?" sungut Shavara.


" Udah terlambat, sayang. kalau aku minta lihat langsung bakal aku kasih juga."

__ADS_1


"Ishh, gampangan banget. aku langsung pulang ya."


" Aku antar." Bhumi beranjak ke lemari.


" Gak usah, nanti kakak bolak balik, makan waktu tau."


" Aku bawa sekalian baju salin buat reuni, mau ganti di kamar Wisnu."


" Ooh begitu." Bhumi mengambil paperbag belanjaan dan yang berisi pakaiannya.


Mereka berjalan menuruni tangga saling canda." lho ada mbak Vara." ucap senja dari arah dapur, Shavara tersenyum.


" Kamu udah pulang? ibu mana?"


" Di taman." Bhumi duduk di ruang tamu, mengajak Shavara duduk di sampingnya.


"Bian mana?"


" pulang ke rumahnya, katanya ibunya nelpon dia mulu." sungut Senja.


"Kenapa cemberut gitu?"


" Ganggu kita aja mama-nya itu, padahal tadi kita lagi seru-serunya."


" Emang kalian darimana?"


" Kebun strawberry, puncak. tadi metik banyak. mas mau?"


" Nanti aja, mas mau pergi."


" Kamu ada di rumah, Bhum." Rianti masuk dan duduk di sofa single.


" Ini mau pergi lagi nganter Vara pulang, tapi gak tenang ninggalin kalian sendirian."


" Pergi aja, tadi Bian udah minta Leo dan yang lain main ke sini. mereka katanya mau belajar bareng, kan Senin udah semesteran."


" Bu, ini buat ibu." Bhumi menaruh papperbag berlogo toko perhiasan di depan Rianti.


" Bhum, kamu jangan keseringan beliin ibu dan Enja ini itu, kalau punya uang lebih lebih baik kamu tabung buat nikahan kamu." Rianti melirik Shavara.


" Kalau buat nikah Alhamdulillah udah siap, tinggal nunggu pengantin wanitanya siap."


" Mbak, bolak mas aku?" tanya Senja tidak percaya.


" Bukan nolak, tapi terllau cepat saja, Ja."


"Daebak, di sini mas Bhumi digilai, tapi mbak ngegantungin, hebat." Senja bertepuk tangan, Bhumi mendengkus sebal.


Rianti mengambilkan paperbag itu, dia mengambil sebuah kartu yang terselip di dalamnya, membacanya, melirik Shavara yang menunduk malu kemudian sebersit senyum sumringah menghiasi bibir Ranti.


" Kenapa Bu? kok senyum-senyum gitu." tanya Senja.


"Ini, kamu baca sendiri." Rianti memberi kartu tersebut.


Kemudian senyum itu menular ke Senja, matanya berbinar senang." Semoga lancar dan sukses." ucapnya tanpa suara.


Bhumi mengangguk, "Kalau begitu Bhumi pergi dulu, Bu. takut gak keburu."


" Assalamualaikum."


" Wa'alaykumsalam."


❤️❤️❤️❤️❤️


" Kalian ngapain di sini? keciri banget jomblonya." ucap Shavara saat melihat tiga pria tampan duduk mengitari meja teman.


" Sombong, mentang-mentang udah sold out." cibir Adnan.


" Lo ngapain di sini, bukannya jadi tuan rumah reuni? Lo kan panitia." Bhumi duduk di kursi kosong.


" Udah beres mah soal itu. ya udah gue cabut dulu." Adnan beranjak masuk ke dalam rumah.


"Aku mau bersih-bersih dulu." Shavara berlari kecil masuk ke dalam rumah.


" Kak Anan, bisa kita ngobrol dulu?" pinta Shavara menyusul Adnan di teras.


"Soal apa?"


" Masa lalu Kak Bhumi sama Kinan."


Adnan bergeming sejenak sebelum mengangguk," Dimana?"


"Kalau gak keberatan di mobil kakak aja."


" Ayok, masuk." Adnan membual pintu penumpang depan.


¥¥¥¥¥¥¥


" Kalian masih betah di sini? gak ada satupun bawa perempuan? ck,..ck...kasiannya kalian ini." Sindir Fena dari arah dalam rumah.


mereka menoleh, " Eh Bhumi, Tante kira di Adnan."


" Dia udah pulang, Tan."


"Ngapain kamu gabung sama para jomblo tua?"


" Ya Allah, Tan. 27, belum tua, Tan." protes Erlangga.


"Tapi gak lagi muda kan."


" Vara mana?"


" Tadi udah masuk mau bebersih katanya." jawab Wisnu.


Bhumi terkekeh," Tan, om ada?"


" Ada, mau apa?"


" Aku mau ngomong sesuatu sama kalian, Lo juga Nu."


"Gue?" tanah Erlangga.


" Terserah sih kalau mau nguping."


" Sekarang?" tanya Fena.


"Iya."


" Kali gitu Tante panggil om Angga dulu, kalian masuk udah sore."


" Iya." jawab Bhumi sedikit berteriak kerena tegang, ia mendadak dilanda kegugupan akut.


Wisnu dan Erlangga saling lempar lirik, tertarik akan raut tegang Bhumi yang terbiasa terkendali tenang.....

__ADS_1


__ADS_2