
Diamnya Desty menambah geram Edo, Cekalan di dagunya semakin mengerat." Mas ...sa..kittt..." rintih Desty.
" Jawab, Desty."
Tubuh Desty sudah mulai melepas karena lemahnya pasokan oksigen." a..aku....su...Lit ber..Na..pas..."
" Beri aku kode, dengan jarin mu, satu untuk Bian, dua untuk Senja. siapa anak kandung ku? Bian atau Senja?"
Tubuh Desty kini gemetar hebat, selain dia kekurangan oksigen, ketakutan pun memicu melemah dirinya.
"Ma..mas...a...ku...istri..mu..."
Tangan lain Edo memegang tengkuk hanya untuk memudahkan tangan satunya mencekik leher Desty." Ternyata suka kau bermain-main denganku."
Ceklek...
Edo dan ekor mata Desty mengalih ke pintu yang dibuka, di sana Bian berdiri tertegun dengan tangan masih memegang handel pintu.
" Ma, Pa. kalian sedang apa?"
" Bi..bi..an..to...long.. Ma..ma..." netra Desty binar senang.
" Papa sudah membaca laporan tentang kamu dan Senja." ucap Edo menahan emosi.
Edo tidak ingin Bian membencinya karena sikap kasarnya, namun c3kikan masih terpaku di leher Desty.
" Oooohhh..." Bain mengangguk-angguk pelan.
" Bi..aannn..?." bingung Desty.
" Apa?"
Edo memperhatikan raut datar Bian yang tidak menyimpan empati sama sekali pada keadaan ibunya, hatinya sakit. sudah sebobrok dia merusak mental remaja yang selama ini berstatus puteranya.
" To...long...ma..ma...cegah papa mu."
" Papa." gumam Bian ironi dari satu kata yang diucap pelan itu.
"Ma...s...di..a...pu..tera..mu..."
" Aaaaakkkhhh...." rintih Shavara tercekat saat c3kikan itu memutus aliran oksigen ke tubuhnya.
" Beri aku kode." desis Edo..
Tidak punya pilihan, dengan lemah telunjuk Desty memberi angka satu. amarah Edo kian membuncah tidak bisa ditahan,
PRANG!!!...BUGh..BUGh ...
Dengan entengnya Edo melempar tubuh Desty dan mengenai kaca lemari pajangan, lalu mengh4jarnya tanpa ampun berkali-kali hingga rahangnya bergeser dan wajahnya bengap serta darah mengalir dari hampir diseluruh wajah Desty.
Desty terkapar setengah badan menyandar di lemari dengan mata sayu hampir tertutup namun rasa syok yang menghinggapinya masih terlihat.
Edo berjalan pelan mendekatinya," Ku angkat kau dari jalanan, ku jadikan aku sekretaris, dan gundik. seharusnya kau cukup sampai di situ. namun jiwa serakah mu dengan memfitnah istri tercinta menghancurkan keluarga bahagia ku. dasar bin4tang busuk."
" Saat kau tertabrak di malam itu, seharusnya aku membiarkan mu m4ti. seharusnya bvnvh juga adik mu yang benalu itu, tapi kau memanfaatkan rasa kemanusiaan mud negri menjual deritamu yang berakhir ku jadikan kau gundik ku."
" SEHARUSNYA KAU STOP DI SANA, DESTY. BUKAN MEMBERIKAN AKU LAPORAN PALSU MENGENAI KEHAMILAN ISTRIKU."
Prang...
dengan satu dorongan Edo ke retakan kaca bagian bawah lemari kepala Desty berdarah akibat benturannya.
Edo menj4mbak kepala Desty, dan hendak membenturkannya kembali ke lemari namun Bian mencegahnya.
" Papa berhenti."
Bian melapas jamb4kan Edo di rambut yang sudah lengket karena darah." Stop, Pa. aku gak ingin Papa masuk penjara. apa Papa tidak mau melihat anak mu menikah?" ucap Bian menatap manik Edo yang melebar karena nafsu marah.
" Benar, mas...meski dia tidak membutuhkan wali, namun kehadiran kamu dia butuhkan." sengal Desty dengan dada naik turun.
Perkataan itu Bian tujukan pada pernikahan Bhumi yang sebentar lagi, namun Desty menyalahartikan pada pernikahan Bian.
" Dia menipuku, Yan. SELAMA INI DIA MENIPUKU!!" sentak Edo penuh kemarahan bercampur kesedihan. sehingga teriakan itu terdengar memilukan.
" Bian yang urus dia, Papa redam emosi. tunggu aku di ruang kerja, please." menghentakkan tangan Bian, Edo meninggalkan ruangan.
Bian berbalik, kemudian menunduk memperhatikan Desty yang terlihat memilukan, namun Bian tidak sedikitpun merasa sedih melihat apa yang dipandanginya.
Dia menggendong Desty ke sofa panjang, membaringkannya di sana, lalu duduk di sisinya." sudah seharusnya kau menolongku, dan membalaskan derita ibu mu padanya." rintih Desty.
" Kunci mulut mu, Mama. kalau kau tak ingin ku hentikan dana penunjang hidup mu." desisnya.
" Aku ibu mu, yang mengandung mu, melahirkan mu, memberimu hidup. kau tidak bisa melakukan itu itu padaku." Desty menahan sakit.
" Aku tidak bisa memilih di perut mana aku bersemayam, tapi perihal hidup, jelas bukan kau yang memberikannya. kalau aku bisa memilih, aku memilih dilahirkan oleh pelacur daripada oleh mu."
Mata Desty membesar" Bian, kau..."
" berhenti bertingkah, atau kau sengsara. sebagai CEO Mahendra corp. aku bisa membuatmu menjadi gelandangan." Bian menepik-nepuk pipi Desty sebagai peringatan.
Syok, satu kata yang kini menyerayap hati Desty. Matanya mendelik wajah Bian yang datar tanpa berempati padanya.
" Den, ini obatnya." bi Iteng menyodorkan kotak p3k.
Bian berdiri" Bibi aja yang obati, Terus bawa dia ke rumah sakit. aku mau ke Papa, tolong buatkan dua teh hangat."
" Baik, Den."
^^^^^
" Pa..diminum dulu tehnya." teh yang sudah mendingin itu tidak disentuh selama 10menit sejak dihidangkan. Bian duduk diseberang meja menatap prihatin ayahnya yang terlihat menderita.
Beberapa hari ke belakang Edo habiskan membaca semua laporan dari detektif, banyak hal yang mengejutkannya.
" Dia orang pertama yang ku ijinkan mendekatiku secara pribadi karena aku mempercayainya." Edo merenung ke masa lalu.
" Dia ku jadikan sekretaris ku agar bisa terbebas dari rentenir karena hutang-hutang almarhum orang tuanya yang ternyata sudah meninggal dan bersih dari hutang piutang." Edo menumbuk keras tumpukan amplop coklat dihadapannya.
" Kami dekat karena aku bersimpati dan berakhir melakukan kekhilafan karena dia menjual kisah penderitaannya ternyata semuanya bohong." Edo mengusap wajahnya kasar.
" Dia hamil, ibu mu Rianti, menolak dimadu, sedangkan papa tidak tega menelantarkannya karena dia sebatang kara."
" Papa tidak bisa menjalaninya tanpa izin ibu, papa tidak mau kehilangan ibu mu, wanita yang Papa nikahi karena cinta."
" Papa tidak mencintai Mama?" suara Bian tertahan.
" Awalnya tidak, raut sedih atas penolakan ibu terhadapnya yang membius papa dengan rasa bersalah. papa terus membujuk ibu mu, namun berkahir ibu mu meminta talak." Edo bersandar ke sandaran kursi.
Ia memejamkan mata, " Sakit, sakit sekali mendengar kata perceraian dari ibu mu, tapi Papa tidak bisa melepas tanggung jawab atas kehamilan Mama mau."
" Wajah polos penuh ketulusan yang dipancarkan ibu mu akhirnya menggoyah perasaan papa dari simpati menjadi cinta."
" Cinta Papa terbagi, papa serakah ingin mempertahankan satunya di samping Papa. sampai akhirnya adanya laporan pengkhianatan ibu mu." cicit Edo meremas kemeja bagian dadanya, nyeri itu Kemabli muncul.
" Papa diberikan foto ibu dengan paman Fathan, sahabat baiknya yang duduk berpelukan di taman." Edo bergerak membuka laci terbawah, ia melempar foto-foto tua ke hadapan Bian.
" Pantas saja papa percaya padanya." gumam Bian.
Bian memperhatikan foto-foto itu, dari angle-nya foto itu terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berpelukan mesra.
" Mama kamu menyerahkan foto itu bersama hasil USG dan kehamilan ibu mu dengan raut sedih dan segan yang tulus, bagaiman Papa tidak mempercayainya." erang Edo terdengar tersiksa.
Sekelebat ingatan masa lalu saat dia pulang dengan kemarahan yang membabi buta yang mengakibatkan penuduhan zina dan jatuh talak darinya.
Hal terakhir yang diingat saat hari dia pergi dari rumah itu adalah amukan pengusiran disertai tatapan kemarahan bercampur kekecewaan dari Dewa putra yang selama ini membanggakannya.
__ADS_1
Tamparan dan jajaran yang ditujukan kepadanya serta Desty dari tangan mungil anaknya lah yang pada akhirnya sangat melukai dirinya, tepatnya jiwanya.
Luka hati yang disebabkan kata-kata dewa padanya yang menyebabkan dia enggan berdekatan dengan bayi lelaki yang dilahirkan Desty.
Cintanya pada Desty tidak mampu menggerakkan hatiku berdekatan dengan anak lelakiku, rasa bersalah dan penyesalan terlanjur menguasai dirinya.
" Ya tuhannnn...maafkan aku..."rintihan Edo bersama airmata yang mengaliri di wajahnya.
Bian terdiam dengan kedua tangan meremas kuat, dan mata yang memerah karena linangan air mata menyaksikan kesakitan ayahnya.
" Papa, apa pernah kau mencintai ku?" lirihnya tercekat.
Edo yang tertunduk mengangkat wajahnya, menatap sayu padanya.
" Papa mencintai mu, tapi rasanya tidak adil saat papa mendekat dengan mu di sisi lain Papa meninggalkan putra papa yang lain. maaf..maafkan Papa...nak..." suara bergetar itu meruntuhkan pertahanan Bian.
Bian menggigit bibirnya menahan isakan yang hampir terlontar, " Aku...ingin dipeluk Papa. aku selalu iri dengan Adit yang setiap hari menggerutu dicium pipinya oleh ibu dan ayahnya setipa kali dia berangkat sekolah."
" Bahkan kepada Devgan yang hampir tiap hari bersitegang dengan papanya karena membela ibunya, aku iri padanya. diabaikan dan dianggap tidak ada itu lebih menyakitkan, Pa."
" Kamu punya Mama mu, dia sangat menyayangi mu,kan." ucap Edo.
Bian tertawa miris," aku lebih senang menjadi Dev, walau orang tua berpisah ketimbang punya Mama."
Mata Edo memicing," walau kita tidak dekat, Papa selalu bertanya mengenai kondisi kamu, dia selalu bilang kau baik-baik saja."
" Pa, aku gak akan main narkob4 apalagi Ampe OD kalau semua baik-baik saja."
" Mama mu bilang karena kamu salah pergaulan, dan dia sudah memberesinya." Suara Edo meninggi.
" Aira, dia yang nyelamatin aku. Omelan dan kecerewetannya yang bikin aku berasa gak sendiri, bikin. aku berasa kalau ada yang menginginkan ku."
BRAK...
Edo menggebrak meja, " Bedeb4h, si4lan."
" Pa." Bian terjengkit.
" Yaaa...tuhannnn..ku, selama ini aku memelihara rubah licik." erang Edo.
" Dia mengatakan kalau kau nakal, karena bergabung dengan sebuah Genk, namun dia menyelesaikannya sampai akhirnya kamu bertaubat itu semua karena dia."
HAHAHHAHAHAHAHA....
" Papa tahu apa yang dikatakan saat aku OD, dia bilang aku anak menyusahkan, anak si4lan yang mengganggu hidupnya." Bian tercekat menahan nyeri di dadanya.
" Hanya dukungan pengasuh, dan Aira lah aku bertahan. aku memang punya teman, tapi mereka baik, dengan cara mereka aku bisa merasakan keluarga, Bahakan demi ingin merasakan kehangatan keluarga aku nekat menemui bang Bhumi."
" Syukurlah dia mengakui mu."
" Butuh perjuangan, keluar-masuk rumah sakit, tapi aku mendapatkan ending yang indah." Bian tersenyum.
" Bagaimana kabarnya Dewa?"
" Jangan memanggilnya Dewa, dia tidak suka."
" Papa selalu memanggilnya itu."
" Maka rubah lah."
" Mereka baik padamu?"
" Hmm, setelah mereka tahu aku bukan anak mu."
Mata Edo membeliak," mereka tahu?"
" Hmm."
" Kau memberitahu ain keluarga mu?"
tubuhnya maju," mereka lah keluarga ku, Pa. dan kita tidak membicarakan darah daging.
Edo beranjak berjalan keluar disusul, Edo melihat Desty yang tengah ditandu petugas medis menuju ambulance.
Tanpa tedeng aling-aling Edo menyingkirkan petugas medis itu, hingga tandu itu jatuh. ia raih kerah blus Desty.
" Sejak hari ini kau pastikan kau menderita." desisnya.
" Masss ..masss ..." Desty bergidik takut.
" Joko, rawat Dia biasa saja, di ruang inap paling rendah."
" Baik, tuan."
Bian menatap semuanya hanya dengan respon menghela napas lalu berbalik ke kamarnya dengan tujuan asal dia pulang ke rumah megah itu yaitu mengambil pakaian bersih salin.
❤️❤️❤️❤️
Bhumi berbaring miring menatap Shavara yang masih tertidur dibalik selimut yang tertutup sebahu sedangkan Bhumi bertelanjang dada.
Merak pindah ke kamar dari sofa saat satu pelepasan sudah di dapat Bhumi di kamar mandi.
" Gak sabar lihat kamu bangun tidur setiap hari." Bhumi membelai pipi Shavara, terkadang melabuhkan kecupan ringan di kening dan pipi kekasih cantiknya itu.
Cup...
Bhumi mencivm pipi Shavara gemas saat mengingat apa yang mereka lakukan di sofa tadi yang hampir saja bablas jika saja Shavara tidak mengigit bahunya yang kesal tidak menggubris protesan dia saat kecupan panas Bhumi turun ke arah dad4nya.
Shavara menggeliat menyebabkan kan selimut turun mempertontonkan sembulan benda kenyal di balik tank top.
Mata Shavara mengerjap-kerjap kaget bercampur bingung melihat Bhumi tersenyum dengan mata melihat ke bawah.
" Jangan salahkan aku." Bhumi membenamkan wajahnya diantara belahan kenyal itu.
" kakhhhh..." Shavara meremas rambut Bhumi saat dia merasakan civman panas Bhumi.
"Kakh, please jangan rusak kepercayaan kuuhhh..hmmmmhhmmmhhh..."
Bhumi melum'at panas bibir yang sudah bengkak itu dengan tangan bergerilya di atas selimut.
" Hmmmhhh.." Bhumi menghi'sap lidah Shavara saat tangannya meremas selimut tepat di atas benda empuk itu.
cup...
Bhumi menjauhkan wajahnya, memperbaiki letak selimut sampai bawah dagu kekasihnya, memandang Shavara yang menatapnya sayu.
" Aku selama ini hanya melihat penasaran ingin merasakannya."
Shavara mengusir ringan rambut yang jatuh menghalangi penglihatan kekasihnya.
" Sabar ya..gak seru malam pertama unboxing gak tersegel gara-gara gak bisa nunggu dua hari lagi."
" Aaaa..makin cinta kamu." Bhumi mendekap gemas Shavara.
" Kak, engap."
Cup.."
Bhumi mengecup bibir Shavara." gak sabar aku jadi suami kamu."
" Sampai akhir hidup kita ya." ucap Shavara.
" Aku pengennya kalau bisa nanti kita dikubur dalam satu lobang."
" Ya tuhann...lebay banget."
__ADS_1
" Dih, gak lebay lah. jangan salah lahan kuburan itu mahal loh sayang, kita bisa hemat." Bhumi mencium hidung Shavara.
" Terserah lah, sekarang anter aku pulang, udah gelap deh kayaknya."
" Oke, tapi makan dulu ya." Bhumi beranjak dari ranjangnya
" Hmm."
" Kamu gak rapih-rapih?" tanya Bhumi melihat Shavara tidak beranjak dari pembaringannya.
" Kakak aja dulu ke kamar mandi." Shavara memegang ujung selimutnya.
" Ck, aku udah lihat ya."
" Issh..sana masuk."
^^^^^
Di lantai bawah, Kinan berjalan bolak balik di depan kasir menunggu cemas kedatangan Bhumi.
sebenarnya Kinan datang saat Aryo dan Bhumi beradu argumentasi namun demi mengelabui Dewa, dia duduk satu meja dengan pengunjung lainnya.
" Ck, lama amat."
Tak..tak....
Kinan berlari kecil menghampiri Bhumi yang berjalan menggenggam tangan Shavara.
Pak...
Genggaman tangan itu terlepas, mereka yang terkejut menoleh ke belakang mencari pelaku yang menghalau genggaman mereka.
" Kinannn..." greget Bhumi.
Kinan menggelayut manai di lengan yang tadi memegang Shavara.
" Dewa, bisa kita bicara?"
" Kamu belum juga jera ya." sinis Bhumi.
" Demi kamu gak ada yang namanya lelah berjuang."
Malas meladeni wanita, Bhumi menepis tangan Kinan dari lengannya. Bhumi menarik tangan Shavara dan melanjutkan langkahnya menuju mobilnya.
" DEWAAAA...."
" Itu gak apa-apa ditinggal?" tanya Shavara.
" Gak masalah."
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Pukul sepuluh malam Bhumi memasuki rumah yang suasananya sepi. ia dengan langkah ringan menaiki anak tangga.
Saat hendak membuat pintu, Bhumi melihat pintu Bian yang terbuka sedikit.
Tok..tok...tok...
" Yan, saya masuk ya."
Bhumi hanya mampu melihat punggung Bian. yang bergetar.
" Ada masalah apa?"Bhumi duduk di kursi forum belajar gitu."
Bian mengangkat kepalanya, matanya nanar memandangi Bhumi.
" Bang, Papa tahu perihal aku."
Rahang Bhumi mengeras, tangannya mengepal kuat.imik yang sual senang kini berubah tegang, " bukan urusan ku."
Bian mengangguk," iya, bukan urusan."
" Dia itu jahat, amat jahat. tapi tetap saja kala dia menderita aku tidak tega padanya."
" Kalau begitu, kau harus keluar dari rumah ini ."
Brak...
Bhumi menutup kasar daun pintu agar tertutup rapat.
Bian tercengang, setelah lima menit berlalu Bian mengejar Dewa.
" Bang,...bang...tunggu." Bian berhasil memegang tangan Bhumi.
Mata mereka saling pandang dan menilai satu sama lain." Dia ibuku." tekan Bian.
" Wanita yang dalam otakku sudah ribuan kali mati di tangan ku."
Bian menegang," abang gak boleh demikian,."
Bhumi tertawa sinis, dia lebih mendekat ke Bian yang kini keduanya adu lihat.
" Meski dia telah mengecewakan kan mu, tapi karena ada darahnya di tubuhmu, kau lebih menyayanginya, hmm?"
" Bang, bukan begitu...." Bian menjilat bibirnya yang terasa kering.
" Aku membencinya,...kalau kau mengasihaninya, pergi dari sini. Kami tidak menerima pengkhianat." tegasnya.
" Bang, itu masa lalu yang sudah belasan tahun..."
" Itu tidak menyembuhkan luka ku." potong Bhumi.
" Kau tidak memperdulikan penderitaan kami karena bukan ibu mu yang dikhianati, bukan ibu mu yang dihinakan. bukan ibu mu yang frustasi hampir gila dan bvnvh diri." sentak Bhumi.
" Bian terdiam kaku," Bang, maafkan akuuu ...."
" Besok pagi kau harus keluar dari rumah ini."
Blam...
Bian berdiri memandangi pintu yang tertutup rapat itu, ia memegangi dadanya yang terasa sakit.
" Bang, maafkan aku. ku mohon jangan dari sini." ucap Bian sambil menangis pad pintu yang berwarna coklat tersebut.
Pagi buta rumah bhumi sudah ramai dikunjungi para tetangga yang hendak membantu pernikahan Bhumi yang akan dilakukan esok hari.
Tok...tok...
" Mas, tolong buat pintu ada tamu. kalau enggak, pintunya dibiarkan terbuka saja." pinta Rianti yang sibuk mengadoni bahan kue baut besok pada Fathan yang sedang duduk lesehan di ruang tamu mengelap daun pisang.
Ceklek....
Fathan terkejut mendapati siapa yang berdiri di depan pintu dengan penampilan yang berantakan.
" Mas, siapa?" suruh masuk aja paling-paling tetangga mau bantu-bantu.
Tak kunjung mendapat respond dari Fathan, Rianti berjalan ke arah pintu.
Orang...
Nampan beserta baskom yang dipegangnya jatuh terlepas dari tangan.
" Mau apa kau kemari?"raut Rianti yang biasa lembut kini menampilkan kesinisan.
" RI...maafkan aku...."...
__ADS_1