Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
94. Bicara...


__ADS_3

Mata Bhumi berbaring menatap kosong langit-langit kamar dengan satu lengannya yang dijadikan bantal oleh Shavara yang tertidur lelap di sampingnya sambil memeluk pinggangnya, pikirannya berkelana pada ucapan Shavara perihal ayahnya.


Suatu hari nanti dia akan menjadi ayah, tentu hubungan mereka tidak selalu harmonis. membayangkan dirinya dibenci anaknya ulu hatinya nyeri serasa ditonjok.


Bhumi mengusap wajahnya gusar, tubuhnya menegang. Kegelisahannya dirasa oleh Shavara yang perlahan bergerak bangun.


" Kamu kenapa, A?" tanyanya bersuara serak.


Bhumi sedikit menunduk melihat Shavara yang beraut lelah, ia memeluk lalu mengusap-usap menenangkan punggung istrinya yang dibalas peluk oleh Shavara.


Ia taruh dagunya diatas kepala Shavara sesekali mengecup puncak kepalanya.


" Gak ada apa-apa." bukannya ingin merahasiakan, tapi Bhumi sungkan.


Sudah banyak kesusahan yang dia berikan pada Shavara soal Keluarganya, ia takut istri ya capek dan berakhir meninggalkannya.


Bhumi mengetatkan pelukan mereka, tubuhnya bergetar ketakutan. Kini tangan Shavara yang mengelus punggung Bhumi agar dia tenang.


" Kenapa, hmm?" tanyanya lembut, Bhumi menggeleng.


" Jangan sok rahasia kalau akhirnya aku bakalan tahu juga. Seperti kisah keluarga kamu yang rumit itu."


Bhumi tersenyum," cuma mikirin omongan kamu soal...lelaki itu." ucapnya pelan dengan napas kasar.


Ia masih tidak bisa memanggil Papa pada lelaki yang sudah mengecewakannya.


Shavara tersenyum, ia menempelkan dirinya pada Bhumi." gak mengapa, jangan dipaksakan. Cuma jangan memupuk kebencian aja dulu."


" Dulu aku sangat membanggakannya, sampai-samapi kali ditanya apa cita-citaku, aku dengan percaya dirinya bilang pengen seperti Papa.


 Jadi bisa dibayangkan gimana hancurnya hati aku saat Papa dengan pongahnya berkata kalau dia akan menikahi sekretarisnya karena tengah hamil anaknya." suaranya tertahan bergetar sembari mengencangkan pelukannya.


" Sampai tahun lalu aku masih mimpiin saat wanita itu menghina ibu, aku masih terbayang saat pa..lelaki itu menampar ibu hanya untuk membela wanita Jalank itu.


Tapi aku juga takut karma, aku gak mau kelak anak aku benci aku..."


" Husssh...gak bakalan. kamu lelaki baik, lelaki pilihan aku untuk hidup bersama."


" Sayang..."


Shavara sedikit menengadah," Hmmm?"


" Kalau nanti aku khilaf menjadi brengsek..."


" Aku bakal langsung telpon RaHasiYa untuk membumi hanguskan semua bisnis kamu, dan kebiri punya kamu." potong Shavara tajam.


Bhumi sontak tertawa kecut, area selangkangannya terasa ngilu." Hehehe..bercanda..sayang ..."


 " Bahkan untuk sekedar mikir khilaf saja jangan berani-beraninya, atau aku biarin mama menangani kamu."


" Gak..gak bakalan...pegang janji aku."


" Good."


" Aku gak bakalan kena karma kan ya kalau aku belum bisa maafin..lelaki tua itu."


" Kenapa kamu yang harus kena karma, kan Papa Edo yang kurang ajar. Ku kira sekarang beliau sedang merasakan karmanya. tapi, sayang..apa kamu gak lihat muka Papa selalu terlihat sedih, aku sering loh mergokin beliau ngelihatin kamu. Ada rasa rindu di matanya."


Bhumi terdiam, lama Bhumi hanya memandangi wajah Shavara sebelum berkata," pelan-pelan aja gak apa-apa kan, ya?"


Shavara mengangguk semangat sambil tersenyum sumringah," Senyamannya kamu aja. kalau kamu melihat, mendengar hal-hal yang tidak menyenangkan soal Papa Edo cukup berpaling, kalau ada aku peluk juga boleh." tawarnya lapang hati.


 " Sekalian Civm ya."


Plak....


Shavara menggeplak punggung Bhumi.


" Jangan ngelunjak. Konteks menghibur bukan mesum." sungutnya misuh-misuh.


Bhumi tergelak," Dikit doang mah boleh kali."


Shavara menyerang dengan cubitan kecil di punggung lebar itu." Aduh..aduh .adududuhh.. ampun...sakit sayang..."


" Makanya mesumnya dikurang-kurangi."


" Iya, tapi gak janji. Habis nikmat banget, sayang. Sekarang aja aku mau lagi." Bhumi menggoyang-goyangkan bagian bawah merek yang menempel.


 " Ya tuhan....gak..ya...aku masih capek..banget ini..." Shavara lantas berbalik badan memunggungi Bhumi.


" Sayang, aku cuma bercanda. Mana tega aku gempur kamu terus."


" Ck, kalau obrolan itu diterusin kamu bakal nyoblos juga akhirnya. Heran gak ada puas-puasnya."


Bhumi mengukung Shavara dari belakang," Puas. kamu selalu memuaskan aku. Pia banget malah.


Shavara merasakan ada gerakan makin membesar di bagian bawah mereka, dan dia tahu itu apa.


Shavara menghela jem" stop bicarain itu, punya kamu udah baper."


" Kalau sama kamu dia bakal selalu baper. Dan cuma sama kamu dia bapernya."


" Sama murid kamu dia gak baper? dia Ampe buka-bukaan gak sih." sindir Shavara.


Bhumi menghela napas lelah, belum lagi soal Arleta yang seperti labirin tidak berujung. sumpah, Bhumi kehabisan akal mengenyahkan Arleta untuk tidak meribetkan hidupnya.


Kali ini pandangan Bhumi pada Shavara tampak serius, ada kegasaran di sana. satu tangannya terulur merapihkan anak rambut yang nakal.


" Aku pernah bilang jijik, kan ya. dan itu beneran menjijikan. Sama sekali gak pernah terlintas dalam benakku melihat dia sebagai wanita, aku bahkan frustasi bagai aman bikin dia jera mendekati ku."

__ADS_1


Shavara menangkap tangan besar itu," Aku cuma bercanda, sayang."


" Syukurlah."


Setelahnya hening menghiasai kamar yang berantakan tersebut.


" Sayang, sebentar lagi kamu mulai aktif magang, aku harap kamu jangan terbawa emosi mereka?"


" Mereka? Jadi masih ad lagi selain Arleta?"


" Satu guru. Adiknya si pelakor itu. Aku takut kamu ninggalin aku karena pusing akan ulah mereka."


" Ngapain harus musingin mereka? aku gak serajin itu ya."


" Maksud aku, mereka pasti bakal ngusik kamu."


" Ya biarin, cuekin aja napa. namanya juga iri. Aku gak masalah kan yang terpenting kamu udah milih aku."


" Kalau mereka bikin gara-gara, kamu harus nelpon aku atau siapapun."


" Pasti."


" Aku gak yakin akan masih terus bersama kalau istri aku kau bukan kamu. aku cinta sama kamu, sayang. Jangan tinggalin aku."


Kemudian dari bawah ramai dengan suara-suara mereka yang saling bersahutan.


" Mereka udah pulang." ucap Bhumi.


" Aku mau lanjut tidur. ngantuk berat." timpal Shavara memperbaiki letak selimut yang sedikit melorot.


Bhumi mengecupi bahu telanjang itu," Tidur lah.nanti malam bakal begadang. Aku mau turun bantu-bantu mereka."


" Hmmm,kalau lihat Papa Edo usahakan jangan berpaling."


" Iya, demi kamu aku usahakan. Terim kasih masih bertahan demi aku."


" Gak perlu, saat memutuskan menikahi mu, aku sudah memutuskan menerima kamu apa adanya. Aku hanya bertaruh bahwa kamu gak akan menduakan aku."


" Aku gak tahu apa yang akan terjadi di d


Kemudian hari, tapi daripada aku mengkhianati mu, lebih baik aku mati."


Bhumi mengecup kepala Shavara sebelum menuruni ranjang, ia biarkan istrinya Kemabli merajut mimpi.


Brugh...


Jagar mendorong keras Arleta yang membentur tembok.


" Papa ajak kamu ke sana untuk meminta maaf, leta. bukan untuk bertingkah lancang dan murahan." hardik Jagar kesal.


Ia sungguh tidak punya muka lagi di depan Anggara , Edo dan Fathan sebagi kolega bisnis.


" Papa jangan salahin mama saja, ini juga hasil ketidakpedulian papa padaku." balas Arleta berteriak mengabaikan rasa sakit di bahunya.


" Di dunia ini bukan hanya kamu yang diabaikan orang tua, tapi mereka tidak menjual diri dengan dalih mencari kasih sayang. Memalukan!"


" Urus putrimu. Pastikan dia menjaga sikapnya sampai palu sidang perceraian diketuk."


Deby hanya bisa menangis tergugu di sofa kamar hotel yang mereka tempati. Ini cara mengakhiri tahun yang mengecewakan.


" Ma...tolong mengerti Leta, leta gak bisa kehilangan pak Dewa."


Deby langsung mengangkat wajahnya yang menyorot tajam," Kamu memang tidak tahu diri. Kasih sayang.. bullshit..." pekik Deby frustasi.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Dirinya disambut teriakan heboh sekaligus ledekan dari Adnan dan Ajis saat menuruni tangga hendak menuju teras samping tempat acara menyambut tahun baru diadakan. Ekor matanya melihat Edo yang melihat mereka dengan geli.


" Bhum, yakin Lo gak masuk angin keramas mulu di musim ujan gini." sahut Adnan.


Bhumi mendengkus," ck, iri kan loh gak bisa ***-***." jawab Bhumi songong.


" Astaga sombongnya...tolong jaga ucapan sama sikap di depan para kaum jomblo ya, pak." ucap Devgan yang sedang sibuk menyusun bara api di pemanggangan.


Pletak...


Bhumi seenak jidat menjitak kepala Devgan," Kamu jangan sok polos. Kurang-kurangi kebrengsekannya kena penyakit kelamin tahu rasa kamu."


" Ck, biarin toh gak ada yang peduli sama saya."


Bukh...


Bhumi menendang bok0nk Devgan." Jangan mengecilkan keberadaan teman-teman kamu. banyak usaha mereka untuk tetap di samping kamu, Hargai itu. Kalau gak punya alasan untuk hidup, minimal jadikan mereka alasan itu untuk kamu bertahan."


Mata Bhumi memperhatikan empat remaja yang bertanding renang di tengah cuaca dinginnya puncak.


" Apa itu yang buat bapak hidup tidak dalam kesinisan? Bang Adnan orang yang menyenangkan meski terkadang menyebalkan.


Kini matanya beralih pad Adnan yang ditugasi menusuk seafood sambil mendumel kecil karena takut pada Fena.


" Mungkin, faktanya dia lah yang membantu saya kala saya terpuruk, dan kehilangan dia saat SMP cukup mengacaukan perasaan saya."


" Aku juga...kalau gak kenal bapak mungkin kamu hanya sekelompok pemuda yang masih tersesat, kecuali dedek Adit. Makasih ya, pak." Devgan mengatakan itu sambil sedikit membungkuk karen malu.


Bhumi tersenyum kecil, lantas ia mengusak rambut Devgan. tanpa kata ia meninggalkan Devgan yang meneteskan air matanya.


Semua itu tertangkap mata Edo, ia menghirup napas dalam-dalam menikmati sesak di dadanya.


" Minum." satu uluran gelas ke hadapannya.

__ADS_1


Edo melihat gelas berisi teh hangat tersebut, terus merembet ke tangan dan sang empunya, napasnya tertahan sekaligus terhenyak kaget.


Semua orang terkejut, bahkan Bian sampai meninggalkan kolam renang, namun langkahnya terhenti atas cegahan Adnan yang menggeleng padanya.


" Gak mau?" Bhumi hendak menarik tangannya.


" Mau..." tahan Edo buru-buru.


Bhumi mental ke depan, belum bisa melihat Edo berlama-lama.


" Aku kemari bukan untuk kamu, tapi demi istriku.jadojangan besar kepala." ucapnya datar yang langsung dia menggerutuki diri.


Edo mengangguk," Papa gak berani lancang, Nak." Matanya memanas karena air matanya tiba-tiba menumpuk di pupilnya.


Bhumi terdiam, Edo memandang Bhumi lekat-lekat memuaskan diri mumpung dari dekat.


" Maafkan, Papa. Wa."


Bhumi tidak membalas, namun tangannya yang memegang gelas mengerat." Aku..bencimu...."


Edo mengangguk, hatinya teras nyeri, namun dia tidak berani membantah.


" Kenap kamu begitu tega? kurang apa ibu buat kamu?" suaranya sedikit meninggi.


Rianti bergerak mendekat, langkahnya sedikit goyah saking paniknya yang kemudian dirangkul Fathan.


" Tenang lah. Aku yakin mereka akan baik-baik saja." bisiknya lembut.


Sementara Senja, berdiri cemas tidak jauh dari sana. Ia menggigit-gigiti kukunya yang lanjutnya dijauhkan oleh Erlangga yang refleks menggenggam sela-sela jarinya.


Senja terkejut, " Nanti tangan kamu sakit." sahut Erlangga.


" Kalau mereka berantem gimana? waktu itu papa sampai ke rumah sakit."


" Gak bakal. Sekarang mas kamu berpawang. Mbak Shavara memang kalem, tapi kalau marah terpa aja ngereog."


" Tidak, ibu mu tidak kurang apapun, Papa saja yang tidak bersyukur."


" Apa kamu menyesal?"


" Setiap saat."


" Kenapa tidak pernah datang u tuk meminta maaf."


" Setelah yang papa lakukan? Iya, papa memang brengsek, tapi Papa tidak punya muka untuk meminta maaf pada mu, khususnya. papa malu sudah mengecewakan kamu."


" ibu hampir gila, aku harus mengurus Enja sekaligus mencari uang. istri baru mu melarang ku meminta uang padamu karena itulah aku membawa pakaian mu ke kantor mu."


Edo terperangah kaget," Kapan?"


" Beberapa hari setelah kau pergi. Apa harus ku ingatkan kalau kau tidak meninggalkan yang sepeserpun saat meninggalkan rumah?" sindirnya bengis.


" Maaf, maafkan Papa. mungkin ini terlalu serakah, tapi izinkan Papa menebus kesalahan Papa."


" Dengan cara?" sinis Bhumi.


" Apapun mau kamu."


" Jangan pernah beri bantuan pada wanita itu. pastikan saja dia tidak mendapatkan serupiah pun dari perceraian kalian. Sisanya bair jadi urusan ku." Bhumi lalu berlalu dari Edo yang masih mencerna ucapan putra sulungnya.


" Bagaimana dengan Bian? Bolehkah Papa memberi sedikit untuknya? Dia tidak bersalah." lanjut Edo tergesa-gesa.


Langkah Bhumi tertahan, tanpa berbalik dia menimpali, " Sangat terlambat bagiku untuk membenci satu kunyuk cilik itu."


" Terima kasih..terima kasih banyak. Dewa." Edo tersenyum lebar, hatinya berbunga senang.


" Dan berhenti memanggilku Dewa, aku benci nama itu."


Senyum itu perlahan surut, jantungnya nyeri berasa diremas, walau wajahnya yang sendu ia sembunyikan." Maafkan Papa, papa gak akan memanggil mu Dewa lagi."


Sepeninggal Bhumi dari teras samping itu, Anggara mendekati Edo yang masih menatap ke depan nun jauh." Akhirnya kita bisa menggendong cucu bersama-sama."


Edo tertawa pelan," saya akan selalu bet


terima kasih padamu, pak Anggara."


" Jangan kepada saya, tapi pada Rianti yang mendidik mereka dengan kesabaran dan cinta. dia sangat hebat melalui luka bathinnya dan masih bisa berdamai setelah pukulan hebat yang menerpanya."


" Manfaatkan kesempatan satu ini, pak Edo."


" Pasti..pastinya..pak besan."


Demi maaf putra sulungnya lah Edo selalu mengabaikam telpon dan pesan dari wanita yang sebentar lagi menjadi mantan istrinya.


Di mansion besar nan gelap bercahayakan lilin Siena menatap jemu kalanya yang tengah mengamuk gila-gilaan di ruang tengah dengan sejuta umpatan yang ditujukan untuk Edo.


" Mbak, berhenti mengamuk. itu tidak mengubah apapun untuk kita."


" Santai sekali kamu ngomong, dia tidak bisa meninggalkan mbak tanpa sepeserpun. Apa nanti yang dikatakan teman-teman mbak."


" teman mana? Sudah tidak ada orang yang mau berteman dengan mbak setelah tahu mbak adalah pelakor."


" Hati-hati mulutmu, mbak lakukan ini demi kamu. Jadi sekarang tugas kamu membalas mbak."


" Bagaimana?"


" Rendahkan diri kamu seperti yang mbak lakukan dulu."


Siena menganga, lalu menggeleng....

__ADS_1


__ADS_2