
Shavara duduk tegak bersimpuh dengan tangan saling menumpu di tas pangkuan berhadapan dengan Bhumi yang duduk tegap dengan tangan bersedekap dada yang hanya dihalangi meja sofa.
Jantung Shavara bertalu-talu, sekujur tubuhnya berkeringat, ia menyeka keringat di pelipisnya setelah mengelap tangan ke pahanya.
" Jendelanya buka ya, panas."
Alis Bhumi terangkat dengan sedikit senyum tipis," Ini dingin banget lho, nanti kamu masuk angin."
" Eng..enggak kok... Lihat aku keringatan banget tuh." Shavara memperlihatkan keringat yang dia usap dari lehernya.
" Pake sweater." Bhumi beranjak hendak membuka pintu teras dorong itu, ada senyum kecil dan gelengan kepala darinya menikmati salah tingkah istrinya.
Benar saja, begitu pintu dibuka setengah udara pagi hasil perpaduan gunung dan hujan menghembus sejuk ke dalam kamar, awalnya namun lambat lain dingin menyerang ruangan.
" Kapan kita bicara, dari tadi kamu banyak alasan nunda pembicaraan." Bhumi kembali duduk di tempat semula.
" Si..siapa yang nunda, memang aku sedari tadi biasa saja."
Sudah satu jam setengah Shavara berupaya extra setiap Bhumi membual mulut bicara ke intinya.
Enggan menanggapi alibi Shavara, " Baiklah kita bicara, saat ini juga." Shavara mengangguk mantap, jantungnya semakin kencang berdetak.
" Aku dan Arleta..."
" Tunggu, aku ambil coklat panas dulu, kamu benar, di sini dingin." Shavara beranjak ke arah pintu.
" Berhenti." perintah Bhumi tegas, maka langkah Shavara terhenti di tempat.
" Duduk."
" A..aku mau..."
" Duduk, dan berhenti cari alasan untuk menunda pembicaraan ini."
Shavara mengurungkan niatnya dan kembali duduk di tempatnya.
" Aku pribadi enggan membicarakan hal yang menurutku tidak penting ini, tapi kalau ini membuat mu selalu berpikir jelek soal aku dan apalagi memintaku berbuat baik padanya walau sedikit, aku dengan berat hati akan membicarakan, tapi ternyata kamu sendiri yang mempersulitnya. Dan terus terang aku mulai bosan dengan dengannya."
Deg....
Nyeri, itu yang dirasa sakit oleh hati Shavara kini. Kata-kata kejam yang diucapkan datar dan terkesan malas-malasan menyentil egonya.
" Jadi menurut mu aku membosankan?"
Bhumi menatap intens Shavara, ingin sekali ia terkam dan makan Shavara dengan segala pemikirannya yang diluar nalar itu.
" Aku sendiri tidak paham apa hal yang kamu maksud membosankan? Kalau dari aku yg membosankan itu tingkah kamu yang terus-menerus menghalangiku bicara, tapi hati dan pikiran kamu terus memikirkan aku dan Arleta, Shavara."
" Terus terang aku bukan orang yang sabaran, aku typikal orang yang satset. Kamu bisa tahu bagaiman cara ku mendekati dan menikahi mu, jadi sebelum kesabaran ku habis mati kita bicara. Apa yang sebenarnya kau takutkan dari pembicaraan ini, Shavara?"
Shavara tertunduk diam, kini ia benar-benar merasa takut setakut-takutnya pada Bhumi yang menampilkan wajah menegangkan.
" Aku akan memuai dari..."
" STOP.."
Bhumi menghela napas kasar, Shavara..."
" Stop aku bilang, terserah kamu mau marah atau tidak yang pasti ku gak mau dengar soal kamu yang menghabiskan malam dengannya." Shavara sedikit meninggi suara ngegas.
" Aku tahu aku yang salah memintamu bersimpati padanya , tapi kau tentu tidak bisa langsung bersamanya Sem..
" Yang bersama dia siapa?"
" Kamu."
" Ada buktinya?" tanya Bhumi tidak suka.
" Kamu yang bilang mau bersama dia."
" Aku lagi emosi dan kamu terus mancing-mancing aku, dan untuk membungkam kamu ya aku iyain."
" Aku sakit hati."
" Begitu pun dengan ku, saat kamu memintaku bersimpati padanya itu membuatku sangat sakit hati."
" Aku hanya memintamu untuk tidak terlalu kasar padanya, apa sesusah itu?" Shavara menatap langsung netra Bhumi.
" Bukan hanya susah, itu hal yang mustahil aku lakukan padanya."
Mereka saling lihat, saling menilai yang diputus Bhumi yang mengusap wajahnya kasar.
" Aku bertemu dengannya beberapa tahun lalu, kalau tidak salah di pertengahan dia kelas 1 SMP. Saat itu dia berdiri di atas pagar jembatan hendak terjun ke sungai, dengan kata lain dia mau bunuh diri."
Shavara terbelalak, ia menahan napas kaget," Ke...kenapa?"
Bhumi mengedikan bahu," persoalan keluarga, sebagai orang yang dari broken home aku jelas berempati padanya, dari sana kami berteman niat aku hanya sebagai support system' saja buat dia, tapi makin lama dia makin ketergantungan padaku."
" Apa seberat itu permasalahannya?" Bhumi tidak menyukai raut lemah dengan mimik kasihan dari Shavara untuk Arleta.
" Dia ternyata bukan anak kandung pak Jagar."
" A..apa?"
" Maksudnya dia anak adopsi?"
" tidak ada yang buruk dari itu."
" Kamu kalau ngomong jangan setengah-setengah." omel Shavara gregetan.
" Dia ternyata anak hasil selingkuhan istri pak Jagar."
__ADS_1
" HAH? bohong."
Bhumi menggeleng, " dia sendiri yang cerita bersama beberapa bukti termasuk tes DNA yang dia lakukan tanpa sepengetahuan orang tuanya. Dia syok, jelas. Papanya yang selama ini dia puja ternyata bukan ayah kandungnya. Itulah mengapa pak Jagar tidak terlalu antusias membela kelakuan dia."
" Terus setelah kamu tahu itu, kamu masih tidak bisa mengasihaninya?"
" Tentu aku kasihan, saking kasihannya dia memilik rasa yang lebih padaku, dia mengutarakannya dan memintaku jadi pacarnya."
" Hah?"
" Yup, kaget, itu yang aku rasakan, tapi aku menolak dia langsung aku bilang padanya kalau kita hanya bisa berteman karena punya permalasahan yang sama yaitu keluarga."
" Kamu menceritakan tentang kamu padanya?" ada sedikit rasa tidak rela dalam diri Shavara mendapati suaminya berbagi kisah dengan yang lain.
Shavara merutuki dirinya yang mudah sekali cemburu, ini seperti bukan dirinya.
" Tidak, beberapa saat setelah itu kami masih berhubung, tapi saat dia kelas 2 dia dengan lancang mencium pipiku."
Shavara menutup mulutnya yang menganga kaget.
" Kamu yakin dia masih SMP?"
" Yakin banget, wong kita ketemuan keseringannya setelah dia pulang sekolah."
" Wow, berani banget dia."
Bhumi mengangguk," Terlalu berani, sejak itu dia makin menunjukan sikap agresifnya padaku, aku yang punya kisah pahit dengan sikap wanita menjauhinya sampai akhirnya kita gak pernah lagi bertemu."
" Tapi di suatu malam kami kembali bertemu tidak sengaja di sebuah club' dewasa saat itu aku, Wisnu dan Elang menemani Anan yang tengah patah hati, di sana aku melihat dia yang berpakaian minim bergelayut manja di lengan pria yang pantas untuk menjadi kakek dia sambil dicivmi mesum" ucap Bhumi sinis bercampur benci.
" Dia masih di bawah umur."
" Badan dia termasuk tinggi, sedikit suap tutup mulut bisa meloloskannya."
" Dia mendatangi ku, menggerayangi ku. Bahkan hampir membuatku terkena masalah hukum saat dia berteriak meminta tolong karena dilecehkan oleh ku. Beruntung ada rekaman cctv yang membantah semua tuduhan itu, sejak saat itu aku membencinya."
Raut Shavara berubah keras, ia menahan gejolak panas di hatinya." Jadi skandal itu bukan yang pertama? Maksudmu kemesvmannya."
Bhumi menggeleng, " Kami bertemu kembali di SMA, tiada yang ganjil dari dia dan aku bersikap Baisa saja layaknya orang asing. tapi lambat laun dia bersikap layaknya murid biasa yang naksir guru, hanya cari perhatian dan pengutaraan cinta dengan gimmick lawak.
Sampai kelas 11, dia mulai lagi bersikap agresif kali ini tidak segan menggunakan tubuhnya, perlahan tapi pasti. puncaknya skandal yang lalu. Aku merasa dilecehkan, direndahkan sedemikan rupa. Jadi jangan memintaku untuk berbuat baik padanya, Shava."
" Maaf, aku gak tahu kalau dia bisa bersikap setidak malu begitu." wajah Shavara berubah muram.
" Hmm, jadi berhenti bersimpati padanya." Shavara mengangguk.
" Maafkan aku. Aku hanya tidak tega saat melihat dia menangisi kamu."
" Itu bukan kali pertama dia menggunakan airmatanya untuk mengurangi belas kasihan, aku udah kebal." sahutan Bhumi terkesan tidak peduli.
" Kalau bukan bersama dia, kamu ke mana semalam? tidur di mana?"
Tanpa kata Shavara langsung pindah ke pangkuan Bhumi. Bhumi membelai wajah bengkak Shavara, menelisiknya baik-baik. lalu mengecup bibirnya sekilas.
" Aku semalam berkeliling yang berakhir di parkiran salah satu autlet di puncak. Di sanalah aku tidur, di dalam mobil dalam cuaca dingin mana hujan lebat lebat lagi padahal aku sedang bulan madu tapi naas sekali karena istriku yang cantik overthingking aku harus tertidur kedinginan."
" Dis ini juga aku gak tidur nyenyak ya." balas Shavara sewot.
" Kenapa? padahal kasurnya empuk, selimutnya tebal."
" Ka...karena..." Shavara kontan malu dan gengsi mau mengakui kegalauannya semalam.
" Mikirin aku bersama dia, hmm?"
" Engg..gak..." jelas itu bohong, dan itu tercetak jelas di wajah istrinya.
" Kamu nangis mikirin aku beradu kasih dengannya."
" Enggak ya..." Tepat, Shavara gelapagapan.
Bhumi mengulum senyum geli." kamu berkhayal aku mencivmnya, mencumbvnya... mendesah..hmmmpph."
Shavara membungkam mulut Bhumi yang terus menggodanya. Bhumi menarik tangan itu, tersenyum jahil padanya.
" Cemburuan, tapi sok-sokan nyuruh aku baik hati sama dia." Bhumi menjawil hidung Shavara yang kemudian dia kecup.
Shavara menunduk menyembunyikan wajahnya, Bhumi merapihkan rambut istrinya, menyelipkannya di balik telinga yang menghalangi wajahnya.
" Udah ya berantemnya. gak enak banget berantem sama kamu nguras tenaga aku banget." Bhumi memeluk pinggang Shavara.
" Maafin aku."
" Lain kali tanya dulu baru nethink." sindir Bhumi.
Shavara manyun, namun tiba-tiba wajahnya terlihat gusar." kenapa lagi?" Bhumi mengusoa kerutan kening Shavara.
" Tiba-tiba ku kepikiran omongan si adek."
" Ngomong apa si manusia sok dewasa itu?"
" Dia bilang kalau kita kecepatan nikah, jadi hal sepele bisa jadi runyem begini. Mungkin itu benar,, kali sedikit lagi kita bersabar mengenal satu sama lain mungkin kita..."
" Kamu bisa jadi bunting duluan." potong Bhumi yang membuat Shavara terdiam.
" Kita mungkin gak akan berantem kayak gini, tapi jelas kamu juga gak akan tahu sifat aku yang kayak kemarin, aku typikal menyepelekan hubungan pacaran, maksud ku, kamu cuma pacar aku, yang gak punya hak apa-apa mengatur ku. dan aku akan bersikap diam lalu mengabaikan ucapan kamu yang ku anggap ngawur.
Karena kita menikah, aku tunjukkan karakterku sama kamu, aku terbuka sama kamu, sebab kamu istri aku yang berhak atas baik dan buruknya aku pun sebaliknya, sayang."
" Jadi karena itu kamu kemarin marah-marah?"
" Hmm, apalagi memang." Bhumi mencivm Shavara sedikit melum'atnya sebelum melepaskan tautan bibir mereka.
__ADS_1
Wajah mereka begitu dekat, sangat dekat dengan hembusan napas yang terasa dari keduanya.
" Aku minta kmu jangan dekat-dekat dengan lelaki tua itu."
Shavara sedikit berpikir yang kemudian dia memahami siapa orang yang dimaksudkan Bhumi.
" Beliau ayahmu, tentu aku harus menghormati beliau."
" Tidak dengan memeluknya."
" Beliau bersimpati padaku karena kamu marah."
" Tetap saja dia tidak perlu memelukmu hanya untuk sekedar menenangkan mu."
Shavara sedikit menjauh, ia memperhatikan Bhumi." Kamu lagi gak cemburu Sam ayah kamu sendiri, kan?!" Shavara merasa konyol bertanya demikian.
" Kalau iya, kenapa? Gak terima?"
" ya tuhaaannnn....sayang, beliau ayah kamu."
" ini jaman sudah gila, banyak yang selingkuh Sam mertuanya."
" Itu mah gila namanya."
" Ck, pokonya aku gak mau kamu dekat-dekat dia."
" Gak bisa, maaf. Ku gak bisa mematuhi itu."
" Kenapa?" muka Bhumi seketika keruh.
" Kerena beliau ayahmu, bakal jadi kakek dari anak mu, sayang."
" Aku gak akan biarin anak aku bertemu dia."
" Sayang, berhenti. di sana. Aku siap berkompromi kamu kamu tidak menyukai beliau, tapi menolak akan permintaan kamu yang satu ini."
" Kenapa?"
" Apakah kamu bisa membenci selamanya pada anak mu kalau dia berbuat nakal yang parah?" Shavara mengusap lembut wajah Bhumi.
Bhumi menimbang, dan dengan berat hati dia menggeleng," Lantas kenapa kamu tidak bisa memaafkan beliau? Memang apa yang beliau lakukan itu keterlaluan, tapi aku bisa melihat ibu mampu berdamai, kenapa kamu tidak? Apa kasih anak benar-benar sepanjang jala?"
" aku belum bisa..." ada ketidaknyamanan dalam nadanya bicaranya.
" Tidak sekarang, its okay. tapi usahakan berdamai. bayangkan posisi kamu sebagai orang tua, dan kamu melakukan apa yang dilakukan ayah kamu, apa kamu mampu memaafkan atau akan membuang putramu."
sesaat mereka saling pandang sebelum Bhumi menjatuhkan kepalanya di bahu Shavara.
" Kenangan itu sangat menyakitkan, sayang. sangat." lirih Bhumi.
Shavara mendekap kepala Bhumi." Pelan-pelan saja ya, tapi hidup ini ad akhirnya. aku hanya berharap kita tidak merasakan penyesalan di akhir, sayang." Shavara mengecup kepal Bhumi.
Lama mereka di posisi saling memeluk," Sayang, kita jalan-jalan yuk." ajak Shavara.
Bhumi mengurai pelukan mereka," Kamu gak risih sama muka kamu yang bengkak itu?'
" Pak kaca mata hitam, beres."
Bhumi terkekeh pelan," Di cuaca mending yang bahkan sinar matahari pun tidak ada? Gak malu diketawain?"
buk..
Shavara memukul gemas pundak suaminya." Bilang aja kamu malu."
" Hmm, tepat. Di sini saja. Ranjang memanggil untuk minta digoyang, cinta."
" Ck, bisa gak Oso kepala kamu gak melulu mesum?"
" Gak bisa, cuaca dingin, ada wanita cantik dan halal, gas aja gak sih?" Bhumi mengedip sebelah matanya genit.
" Gak mau, aku mau jalan-jalan." Shavara berdiri dan langsung melangkah ke luar kamar.
" Aku tunggu lima menit, kalau lewat aku tinggal." teriakan Shavara dari luar kamar.
Bhumi terkekeh," ck, tinggal-tinggal. Memang dia tahu daerah sini." gumam Bhumi seraya menyusul Shavara.
" Kalian mau kemana?" tanya Fena saat melihat pengantin baru itu melewati teras.
" Jalan-jalan, Ma."
" Udah baikan?"
" Udah."
" Segitu doang? Kamu nangis semalaman dan baikannya cuma dalam hitungan menit? Alay banget kamu, teh. Minimal dua hari gitu lho supaya airmatanya gak malu." ledek Fena.
" Apa sih Mama, orang mah pengen rumah tangga anaknya damai, ini malah disuruh ribut mulu."
"Bukan nyuruh ribut, tapi ngapain berantem pake acara nangis pake mata bengkak kalau cuma sebentar."
" Ma, udah sih jangan terus ngeledek, anaknya nangis kamu yang senewen juga." sahut Anggara.
" Udah lah, kami mau pergi dulu. Bye..bye..."
" Kamu ikutttt...." Teriak Mira dan yang lain.
Bhumi mendelik, namun diabaikan oleh yang lain.
" Pak....pleasee...tolong aku..."
Kaki mereka terhenti saking terkejut, gadis cantik itu terlihat mengenaskan...
__ADS_1