
" Ka...kamu mau ngapain?" Arleta mundur ketakutan.
" Mir...udah..." Shavara menarik pelan Arleta masuk ke dalam salah satu bilik toilet.
" Ah Lo gak seru." ptotes Mira setelah pintu bilik tertutup rapat.
" Seenggaknya kasih dia waktu buat bebersih diri."
" Selanjutnya?"
" Terserah anda."
Mira terkekeh, ia menatap Shavara yang membilas rambut dan bajunya yang terkena air jeruk.
" Apa rencana Lo?" tanya Mira.
" Gak ada, kita udah lewati masa labil SMA, dan cara dulu ternyata g mempan kan. Maka harus menggunakan cara baru."
" Yaitu?"
" Gak tahu. Lihat aja nanti."
Mira menghembuskan napas berat," Kenapa Lo gak kayak nyokap Lo? Malah halus kayak keraton gini."
Shavara terkekeh," Mana ada, gue sunda ya."
" Habis ini kita balik atau gimana?"
" Awalnya gue mau ke kampus dulu, tapi...terserah Lo mau gimana mood gue juga udah ancur."
Brak...
takut-takut Arleta keluar dari bilik, namun dia sembunyikan, dia tidak boleh merasa terintimidasi oleh dua pemagang tersebut. matanya menatap lama Shavara." Gak ada baju salin apa?"
" Kita bukan babu Lo." jawab Mira sewot.
" Kalian jangan banyak tingkah, kalian di sini cuma magang, gue bisa bikin kalian dipecat."
" Oh ya? coba aja." tantang Mira yang membuat Arleta kesal.
" Bokap gue pak Jagar, salah satu donatur terbesar sekolah ini."
" HAHAHHAHAHAHAHA...cuih..gaya selangit ternyata masih make privilage ortu. berenang Lo di kali cari emas."
" DIAMMM...berani kalian ngetawain gue...gue laporin..."
" Lo gak amnesia atau lagi ngobat kan. Harus gue ingetin kalau orang yang Lo panggil bokap udah lepas tangan soal Lo?" perkataan Shavara menghentikan kelanjutan perkataan Arleta.
Arleta menatap sengit Shavara," Diam, bacot Lo. semua ini karena Lo nikahi pacar gue."
" Lo tahu, di circle gue level terendah dari wanita selain jadi pelakor, adalah memperebutkan lelaki, makanya ketika kakak sepupu Lo selingkuh, gue langsung lepas. apalagi gue rebut cowok orang, gak level.
Perihal pacar, soal Lo, Aa Bhumi sudah menceritakan semua tentang Lo dan dia, yang kenyataannya tidak pernah ada kalian dalam konteks asmara. Berhenti sampai sini, Arleta."
Geram karena Dewa terbuka pada Shavara, hal yang sulit dia dapatkan di masa kedekatan mereka, Arleta merasa tersinggung maka dia pun lantas mengangkat tangan guna menampar Shavara.
PLAK....
Sudut bibir Arleta berdarah karena kerasnya tamparan itu, wajahnya jelasnya menunjukan kekagetan saat tangannya ditepis dan bahkan dibalikkan tamparan itu padanya dalam gerakan cepat.
Shavara melangkah ke hadapan Arleta, yang refleks mundur hingga membentur tembok bilik.
" Sebelum Lo mulai main fisik sama gue, punya modal apa Lo buat duel sama gue?" tatapan yang biasanya lembut kini berubah dingin nan datar.
" Aa...apa sih sok galak banget. Lo sendiri bisa apa?" Arleta mendorong Shavara yang ternyata tidak ampuh.
Kaki Shavara bahkan tidak terangkat barang sejengkal pun. tangan Arleta yang masih di depannya yang dia pelintir 180 derajat ke punggungnya.
" Belum cukup tamparan itu, bahkan kekagetan Lo itu pun belum juga membuat Lo sadar."
" Aa...aaa...aaaw....wwss....lepas ..sakit ..." teriak Arleta.
Luka yang di tangan Arleta, Shavara tekanan sedemikan rupa sembari menekan wajah Arleta ke dinding bilik.
" Var.. Vara..sudah..lepas..woy..dia kesakitan... Var, ini sekolah." Mira panik sendiri melihat Shavara yang tidak bergeming akan kesakitan.
" Jauhi gue, atau hidup Lo sama hancurnya dengan kakak sepupu Lo. Lo yang merasa lebih kenal suami gue, jadi seharusnya Lo tahu gimana suami gue kalau sedang marah."
Arleta menoleh ke samping." Lo yang harus jauhi pak Dewa, dia milik gue...aaaawwwwwss...." perih dan sakit saat tangannya diremas.
Mata mereka saling pandang dalam ke sinisan, namun Shavara melihat jelas manik Arleta yang bergoyang tidak yakin dan ketakutan, serta berpendar sayu.
Melihat itu Shavara mengendurkan remasannya, sinar matanya berubah teduh. Remaja, dengan segala sok kekuasaan mereka, menjadikan kekerasan Guan menutupi keresahan hati.
Arleta tidak menyukai perubahan raut wajah saingannya itu, dia terus mencoba membangkitkan emosi Shavara." Kenapa Lo gak terus nyakitin gue?"
" Ga ada juga gue niat nyakitin Lo. Sorry, kalau gue lepas kendali."
" Apa sih gak jelas. Tadi marah, sekarang sok asik situ keren." Arleta sangat tidak nyaman dengan hal ini.
__ADS_1
" Hei, bisa gak lambe Lo jaga, sekolah tapi kayak gak pernah disekolahin." kesal Mira.
" Bukan urusan Lo juga gue musti gimana, keluar dari sini habis kalian berdua." Arleta menuju wastafel untuk menyiram tangannya yang perih.
" Kalau cuma ngancem gak ngaruh buat kita. Modelan bocah tengik macem Lo udah kita bantai di jaman SMA kita. modus Lo juga yang tadi norak abis. Kalau mau bully cari yang lebih kreatif lagi gak copy-paste mulu."
" Gue dengan senang hati akan tunjukin siapa gue?"
" Gak perlu, kita sudah tahu siapa Lo, Lo Jalank junior yang harus belaian lelaki. freak Lo, jadi pelakor aja bangga. Gak tahu diri, murahan, upss, Lo kan gratisan." cerca Mira habis-habisan.
Mata Arleta memerah marah, ia berbalik dan hendak menampar namun keburu dihalau oleh Shavara.
Shavara menurunkan tangan itu, lalu menyiraminya dengan santai.
" Stop kekerasan, gak keren dan gak ngaruh buat Mira. Terakhir ada yang nyoba mukul dia ja seminggu tu orang terdampar di rumah sakit."
selanjutnya meniup-tiup luka di tangan itu," kalau Lo gak ngerasa dengan apa yang Mira omongin, buktiin bukannya marah-marah gak jelas. tapi kalau itu fakta soal Lo, rubah kalau Lo gak suka akan kenyataan tersebut."
Dua orang di depannya terdiam melongo, mereka bingung dengan perubahan sikap Shavara yang semula sama marahnya dengan mereka kini menjadi orang yang banyak kasih.
" Lo apa-apaan sih, gak waras." Arleta menarik tangannya, dia risih dengan sikap Shavara.
Shavara hanya menatapnya, tiba-tiba dia memeluk Arleta. Tentu Arleta berontak menolak, namun pelukan Shavara mengencang dia bahkan menepuk-nepuk punggung Arleta.
Mendapat pelukan yang tidak pernah dia kira tubuh Arleta menjadi kaku seketika, dari semua hal yang dia pikirkan balasan berupa pelukan tidak pernah dia duga.
Ada desiran hangat di satu pojokan relung hatinya, ingin ia tampik getaran itu, tapi dia menikmatinya. Rasa yang selalu ingin dia alami.
" Gue gak benci Lo, setelah apa yang lo dan kakak sepupu Lo lakukan sama gue. tapi gue peringatin gue punya ban tertinggi di pencak silat, jadi kalau Lo mau berurusan sama gue pastiin Lo punya bela diri minimal satu.
Soal privilage, nama belakang gue Nasution, terakhir gue dengar apa yang terjadi dengan Aryo ada campur tangan RaHasiYa, sebagai mantan keluarga konglomerat Lo pasti pernah dengar siapa mereka."
Shavara mengurai pelukannya," soal bully membully, kita semua sudah khatam dengan segala modus operandi perundungan, dan Lo bukan lawan dari Mira." Tukas Shavara ia berlagak merapihkan penampilan Arleta sebelum menjauh lalu mencuci tangan.
" Udah yuk kita keluar, udah terlalu lama di sini. Toilet memang tempat sakral perundungan." sarkasnya menatap arleta yang masih tertegun di tempat.
Mira membuka pintu toilet, para lelaki yang sudah menunggu di depan langsung masuk memeriksa Shavara.
" Teteh gak apa-apa?" Aditya terlihat jelas cemasnya.
jangan dikata dengan Bhumi, dia langsung memerhatikan secara detil dari atas sampai bawah kondisi Shavara.
" Aku gak apa-apa, sayang." Shavara memegang tangan Bhumi.
" Benaran, teh?"
" Benar. Relax. Sekarang boleh Pulang gak sih?"
" Pak, pak Dewa. Aku disini. Aku yang teriak oleh mereka." kata Arleta mengeraskan suaranya.
Hatinya sakit dan belum bisa menerima tentang kenyataan Dewa dan Shavara.
Bhumi menatap Arleta, Shavara menggenggam tangan Bhumi erat. Ia lantas menghembuskan napas.
" Ke UKS gih, obati luka kamu."
" Aku ingin dianter bapak."
" Ngelunjak Lo." caci Devgan.
" Sayang, kita pulang." mengabaikan atlet, Bhumi malah menarik Shavara keluar dari toilet.
" Mir, Lo gimana?"
" Kenzo ada di depan. Entah siap yang ngabarin."
" Gue, kak." ucap Leo.
" Ooohh..makasih ya."
Sepeninggal mereka Mata Arleta meneteskan air matanya," ya tuhan ini sakit.. benar-benar sakit." lirihnya memegang dadanya.
Di parkiran, Shavara bertanya soal kejadian hari ini," Kalau diketahui yayasan, gimana nasib magang aku?"
" Guntur sama Agam sudah memberesi Sola ini sama para murid, mereka sepakat untuk gak ributin ini." Bhumi membantu memasang helm Shavara.
" Emang bisa? Tadi ribut banget loh."
" Percaya deh, mereka punya solidaritas tinggi, apalagi ada Gara, beres semuanya."
" Maaf ya bikin kamu malu."
" Enggak, sayang. Aku yang minta maaf kalau masa lalu ku bikin kamu kesusahan."
Shavara menggeleng," Kamu kenapa sih. ganteng banget. Kan jadi banyak yang suka."
" Darah spanyol memang meresahkan ya, mbak." seloroh Bhumi.
"Jadi ke kampus?"
__ADS_1
" Jadi lah."
Di UKS, Leo dengan telaten merawat luka Arleta, ini sedikit mengejutkan baginya.
Dia pikir Leo sudah tidak lagi berminat padanya, mengingat solidaritas yang tinggi diantara persahabatan mereka.
" Gue pikir Lo udah gak peduli sama gue, tapi ternyata Lo masih demen gue." sarkas Arleta.
" Gue rawat Lo bukan karena masih suka, tapi memang asas kemanusiaan. Yang lain udah pada pulang." Leo menutup perbannya dengan rapih.
" Bullshit, modelan kayak Lo ngomongin kemanusiaan. Apa mau Lo sebagai imbalan?"
" Gak ada, gak percayaan banget dah."
" Emang gak percaya, buaya cap garuk modelan Lo."
" Kalau begitu, tidur sama gue. Gimana?"
Ada kepanikan dalam netra Arleta." Gue gak semurah itu ya." sembur Arleta.
Leo terkekeh, ia mengusak rambut Arleta," Civm aja udah."
Tanpa buang waktu Arleta mentik kerah seragam Leo, dan melum'at bibirnya yang tentu dibalas Leo setelah sadar dari keterkejutannya yang cuma sebentar saja.
Civman itu berlangsung lama, keduanya terhanyut akan kebutuhan masing-masing.
Brak...
" Astagaaaa... Leo. Lo disuruh ngobatin dia bukan ******* sama dia. Adit tahu lenyap Otong Lo disunat Adit." cerocos Devgan yang mengakhiri pag'utan keduanya karena kaget.
" Cepetan kita pulang, disuruh ke rumah Adit sama Tante Fena."
Tatapan Leo dan Arleta saling beradu, tubuh Arleta sendiri dengan refleks menggigil ketakutan. Hal itu terlihat oleh Devgan, ia tertawa sinis.
" Makanya jangan berulah sama sembarang orang, ribet kan hidup Lo selanjutnya."
" Gak usah ngejar pak Dewa lagi, pikiran aja nasib Lo kedepannya setelqh dibuang bapak Lo."
" Dev,..."
" Diem, Yo. Lo mau l mah selama soal Leta. tapi kalau Lo sayang sama dia jangan cuma bisa ******* doang, kasih paham sama dia soal merelakan pergi yang tidak mau sama dia, masa depan dia masih panjang konyol sekali gagal hanya karena seorang laki-laki." ceramah Devgan.
" Lo sudah dibuang keluarga Lo, minimal hidup Lo jangan jadi hina setelahnya hanya dengan jadi pelakor. Leo cinta mati sama Lo, meski dia sekarang udah mulai sadar kalau Lo bukan cewek yang pantas dipertaruhkan walau hanya untuk sekedar pertemanan. Serendah itu value Lo sebagai cewek."
Leo yang melihat wajah Arleta pias, dia memilih membawa pergi Devgan dengan omongannya yang cukup menohok itu.
Di UKS, Arleta masih berdiam di sana. Perkataan Devgan menyentuh egonya yang terdalam, lantas ia menangis tergugu di sana dengan lirihan yang menyayat hati bagus setiap yang mendengarnya.
Devgan dan Leo yang belum pergi dari depan UKS hanya mendengarkan saja tangisan pilu tersebut tanpa mereka ketahui Aditya dan Ajis pun mendengarnya dari belang mereka.
" Gue pernah dengar, selalu ada sebab dibalik kenakalan remaja, tapi apapun itu, sesungguhnya itu karena mentalnya yang sudah rusak. Menurut Lo siap la yang paling berjasa dibalik kerusakan jiwa para remaja?" ucap Ajis yang mendapat atensi dari para sahabatnya.
" Yang pasti bukan tukang cilok." jawab Devgan asal. Mereka berlalu dari sana.
" Yo, bisa Lo tahan rasa Lo, gue gak mau ada di tengah-tengah harus memilih antara keluarga dan sahabat." ucap Aditya.
Leo melihat Aditya." Sans, aja. Gue gak sebego itu kok."
" Tapi Lo yang paling gercep soal Leta." sindir Devgan menyinggung sikap Leo yang langsung membawa Arleta dari toilet.
" Kalau bukan gue, kalian juga pasti bakal bantu dia." elak Leo malas.
" Enggak tuh. " sanggah Devgan.
" Gue B aja liat dia." diikuti Ajis.
" Gue apalagi, najis banget." aku Aditya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Di pelataran g udang fakultas Shavara ditodong Berliana dan Bisma yang ternyata di sana sudah ada Mira dan juga Kenzo.
" Apa yang diceritain Mira beneran?
" Hooh."
" Ck, anak sekarang. nilai aja dulu yang dibenerin sok-sokan ngebully senior putih-abu abu." dengkus Berliana.
" Gue ke ruang dosen pembimbing dulu ya. kalau mau gosip terserah dah.
Aa, tunggu di sini atau cafe?"
" Aku ke ruangan Wisnu aja, dan kamu Mira dipanggil Wisnu ke ruangannya.
" Gue udah di sini." di belakang Berliana sudah ada Wisnu dengan tas kerjanya.
" Aa udah mau pulang?" tanya Shavara..
" Iya, ditelpon mama. Kamu juga disuruh balik sekarang." mata Wisnu memindai diri Shavara.
__ADS_1
" Mira juga disuruh ke rumah sama mama."
" Panjang kan Loh urusannya." celetuk Bisma yang mendapat erangan cemas dari Mira.....