
" Sakit banget ya?" Bhumi melihat Shavara meringis manakala dia diangkat untuk digendong ala bridal untuk mandi besar
Shavara mengangguk, " sakit, perih, ngilu."
" Tapi nikmat kan. inget banget aku kamu mendesah nikmat tapi sekaligus meracau, aku bingung mau berhenti atau lanjut."
" Ck, keciri banget bohongnya, aku gak lihat kamu ragu, terus bergerak gitu." sungut Shavara.
Bhumi terkekeh," dia cium bibir yang merengut itu."
" Aarrrkkhhh..." Erangnya saat bagian bawahnya bereaksi atas Obrolan random itu.
" Kenapa?"
" Kepikiran semalam, jadi pengen lagi." Bhumi menatap intens Shavara.
Pisat bawah Shavara meremang merespon cepat ucapan pelan dengan suara serak itu.
" Masih sakit, A."
" Tahu. Pake cara lain ya."
Shavara tahu cara apa yang dimaksud Bhumi," Gak ah, lemes aku tuh. pegang punya kamu pegel tahu."
" Kan tangan aku yang gerakin.."
" Tetap aja tangan aku juga ikut main."
" Buka pintunya,sayang." saat mereka sudah di depan pintu kamar mandi.
" Kamu duduk di sini dulu, aku isi air hangat dulu di bak." Bhumi mendudukan Shavara di atas kloset.
Shavara memegang erat ikatan selimut di dadanya m," Aa..." sentak Shavara kesal kala Bhumi sengaja menarik ujung selimut hingga ikatan itu hampir lepas.
Bhumi terkekeh," Namanya juga usaha, sayang." Bhumi berjalan ke bak, memutar keran air, dan mengisinya penuh.
" Aahh...Nikmat." lengkuh shavara merasakan air hangat yang dipenuhi gelembung sabun cair.
" Nikmat, sayang." Bhumi duduk di pinggiran bak.
" Hmm, banget." mata Shavara terpejam hingga dia tidak melihat gerakan jakun Bhumi yang menelan salivanya melihat sembulan dad4 berkulit putih itu.
" Hmm indah."
" Nikmat, sayang. Bukan indah." sahut Shavara malas. Ia bergerak meliuk-liuk akan hangatnya air itu tanpa memperbanyak akibat dari tingkahnya.
" Indah dan nikmat."hasratnya yang kembali timbul.
Goyangan dari tubuh istrinya memicu tubuh Bhumi menghangat oleh sebab merangsang karena dorongan hasrat birahinya.
Kepalang tahu rasa lezatnya tubuh istrinya itu, Bhumi tidak bisa menahan dorongan ingin menyentuhnya.
Ia berdiri, membuka boxer pas body yang mencetak jelas pantulan bentuk keras dan besar, dan panjang dibaliknya.
Miliknya sudah mengeluarkan cairan pelumas, ' ck, ck..pantesan banyak banget yang gak mau berhenti hs di luar nikah, emang secandu gini.'bathinnya.
Kaki panjangnya melangkahi pinggiran bak, lalu duduk menghadap Shavara dengan kaki berselonjor sedikit menekuk, menempatkan kaki Shavara di atas kakinya.
Shavara membuka matanya terkejut, tubuhnya refleks menggeliat, intinya berkedut geli kala ada tangan besar dengan jari-jarinya yang panjang mengusap lembut kaki jenjangnya perlahan-lahan terus naik hingga mentok di ujung pangkal pahanya, mengusap, meremasnya menggoda dengan ujung ibu jari bergeser ke dalam ************ menyentuh pinggiran bibir bawahnya.
" Hakksss..." tangan dan napas shavara menahan tertahan, menutup pahanya.
" A... Aa..." Napasnya tercekat, ia meremat kuat tangan besar yang terus memainkan miliknya, ia menggeleng ragu, antara membiarkan suaminya meneruskan kala mengingat kenikmatannya atau mengehentikannya kaal mengingat sakitnya.
Netra mereka saling pandang, yang satu kaku tapi mau, yang lainnya menggelap dilahap gairah. Bhumi tersenyum, badannya maju mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya sembari membawa tubuhnya bergeser mengikis jarak diantara mereka.
Membuka kedua kaki Shavara lalu melesak masuk diantara keduanya, Terus mendekat yang mana satu tangannya terangkat mengelus rahang, merayap turun ke lehernya, Shavara kembali memejam menikmati sensasi hangat mendesak dalam tubuhnya.
Shavara membuka lebar selangk4ngannya memberi akses penuh tangan yang sejak tadi bergerak menggodanya untuk bergerilya di dindingnya.
" Eeeehhh...hmmmhhh..." kontan Shavara menjilat bibirnya, ia tahu dirinya sudah lembab dan basah.
Menambah nafsu Bhumi untuk menjamahnya, wajah yang tampak bergairah itu adalah pemandangan yang paling cantik, dan sensual yang menaikkan cepat libidonya, kepalanya pening, tubuhnya menegang. Ia sudah tidak bisa lagi menahan intinya yang ingin memasukinya lagi.
Hup...
Bhumi melahap bibir itu, memag'utnya cepat dan penuh dengan tidak sabaran, apalagi saat jari lentik itu membelai naik turun dadanya, 'ya tuhan....ia harus segera merasakan kembali surga dunia itu.'
Ia mempercepat mempertemukan kedua tubuh itu, sampai akhirnya bertemu rapat tiada berjarak.
Mata Shavara terbuka kala benda tumpul besar itu menyentuh dirinya, Bhumi melepas civmannya, wajah mereka sangat dekat saling pandang, hawa di sekitarnya panas membara.
Shavara merasakan milik suaminya sedikit masuk padanya dalam satu hentakan dia yakin suaminya bisa memasukinya secara penuh.
Kini kedua tangan Bhumi turun memegangi bok*ng Shavara, mengusap lembut, meremasnya lalu sembari saling menatap Bhumi mengangkatnya sedikit kemudian dalam satu hentakan ia memasukan dirinya secara penuh dalam diri istrinya.
" Aaaaakkhhhh..." kontan Shavara mengalungi leher suaminya, merapatkan diri mereka dari dada sampai bawah saat benda asing masuk mentok ke dalam dirinya.
Mereka duduk berhadapan dengan Shavara dipangkuan suaminya.
" Kakhh..." Shavara merasakan intinya diisi penuh, sungguh Bhumi begitu besar dan panjang. ini... sangat nikmat...
" Hmmm."
Bhumi menenangkan Shavara mengelus punggungnya naik turun, wajahnya dibenamkan di ceruk leher jenjang itu, menikmati wangi sabun yang menyeruak dari sana.
Bibinya tidak mau menganggur hanya menempel, ia pun bergerak mencivmi, berputar dari kanan ke kiri, kemudian naik sampai ke rahang, mengecup dagu oval tersebut lalu tun kembali yang kini juga menghisap setiap kulit halus yang dilewatinya.
" Sshhh..aahhhh..." Shavara menengadah, mengacak-acak rambut Bhumi yang lalu diremat kuat, saat hisapan itu begitu kuat, nyeri tapi nikmat.
Bhumi menjauh, menatap Shavara, detik berikutnya melihat ke bawah, dimana dad4 mereka saling menghimpit.
' Aahhh...sembulan benda kenyal itu begitu indah.."
" Aku gerakin ya."
" Aku gak bisa."
" Kamu cukup memudahkan aku. angkat sedikit kamu nya."
Tangan yang memegang pinggul Shavara itu bergerak mundur lalu maju, Shavara kontan mengangkat sedikit tubuhnya.
" Aaahh....ssshhh....eeehhh..."
" Hmmmh..aaahhh..."
hanya sahutan desah dari keduanya yang selanjutnya mengisi ruang kamar mandi itu seorang gerak ju mundur cantik itu.
Lengkuhan itu kian meninggi karena gerakan itu kian memacu cepat memompa semua kekuatan yang ada menghamburkan air yang mengelilingi mereka.
" Aah...aaahh..hah..hah..."
" Oh..yesss...ini great...nikmat banget sayang...ahh...sayang....aahhh...cintaku..." raungan Bhumi meracau ditengah kecipakan peraduan milik mereka, air tumpah karena besarnya goyangan ombak stunami kecil itu.
" Mas...kakh... Aa..A..." Shavara bingung, kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan, ia linglung, kenikmatan ini di luar nalarnya.
" Barengan sayang.." Bhumi merasakan dirinya berkedut hebat, dia pun merasakan istrinya makin menjepit dengan tangan lentik ya mencakar punggungnya dan kemudian naik ke rambut lalu menarik lalu menjebak kuat rambutnya manakala mendekati puncaknya
"EEHHH...AAAAHHHH....AAAAAAAHHHHHHHH......" Sahut keduanya panjang serempak berbeda detik.
Suasana hening, mereka saling mendekap, Shavara menaruh kepalnya di bahu Bhumi, Bhumi menyembunyikan kepalanya di leher Shavara, memuaskan dirinya mencivm aroma wangi sabun itu untuk menenangkan detak jantungnya yang bertalu-talu kuat begitupun dengan jantung istrinya.
" heh..heh...heh..."
Srrt.....srrt....
Engahan Napas, dibarengi aliran air yang diserap mengosongkan bak akhirnya menghentikan kesunyian itu.
__ADS_1
Shavara mengurai pelukan itu," Kenapa airnya dikuras?" tanya Shavara.
Bhumi mengelus punggung Shavara. " Aku gak mau kamu mandi sperm4 ku."
" Hah?"
" Aku sadar, tadi aku keluar banyak banget. Aku gak yakin kamu bisa menampung semuanya belum lagi milik kamu."
Kini bak itu kosong, Shavara bisa melihat tubuh polos keduanya. Kontan dia menutupi dad4nya dengan kedua tangan menyilang
" KYAAA...."
Bhumi terbahak-bahak, lucu sekali istrinya panik yang sangat terlambat.
Shavara merah menyadari mereka masih saling mengisi.
" Diem ih, ini kita gimana terusnya?"
" Gimana apanya?" Bhumi mode polos.
Shavara melirik ke bawah." i..ini..." gugupnya yang bercampur malu.
" Apa?" bertanya seperti tidak mengerti, tapi tangannya yang masih bertengger betah di belakang bawah istrinya menekan mendekatkan mereka.
" Aahh..Aaa.."
Bhumi tergelak, ia sangat menikmati mimik wajah Shavara yang cepat berubah-ubah.
" A,...serius ih..."
Saking kesalnya dipermainkan suaminya terus menerus, tanpa aba-aba Shavara melepaskan diri, " Sshh..aaah .." desah mereka berdua.
" Sayang ih...pelan-pelan..."
Shavara menyandarkan tubuhnya ke bak, dadanya naik turun, ia sangat lelah. Mengabaikan tubuh polosny.
" Ya tuhann....godaan apalagi ini..." erang Bhumi, ia mengusak rambutnya kesal.
Shavara menahan. senyum, karena tubuh mereka masih dekat walau sudah pisah, ia bisa merasakan suaminya kembali berdiri.
" Aa, awas ih...aku mau mandi. sshhh..." Shavara beranjak berdiri sembari meringis ngilu, namun Bhumi memegang tangan istrinya.
Matanya terbelalak besar, di depannya pas matanya pusat lembah hutan kegemarannya." sayang, jangan siksa aku."
" Tahu ah ..aku pegel, linu, lelah, letih, lebay..." cerocos Shavara yang terus keluar dari bak dengan tubuh basah masih menempel bisa yang membuat dirinya terlihat shining.
Ia masuk ke kotak shower di bawah tatapan lapar Bhumi.
mengatur air hangat, lalu dibawah guyuran air Shavara mengusap dirinya membersihkan diri, ia menutup matanya menghindari cipratan air saat membasuh wajahnya.
Saat itulah Bhumi yang kepalanya kembali dihantam kepentingan, dan desakan ingin dipuaskan, beranjak menyusul istrinya ke kotak shower.
Shavara sedikit terjengkit ada tangan memeluknya dari belakang." A...sudah dulu ya..." Shavara menyandarkan dir ke tubuh Bhumi.
Bhumi mencivmi pundak putih mulus tersebut," Hmm..."
Dengan tubuhnya yang terus membuai, hingga Shavara menghadap dinding keramik mahal tersebut, civman itu terus turun sepanjang punggung, refleks secara naluriah Shavara sedikit menungg1ng.
Bhum tersenyum kecil, memanfaatkan istrinya yang setengah tidak sadar, ia memasukkan dirinya menyatu kembali.
Detik berikutnya kembali lengkuhan dan ******* saling bersahutan seirama pompaan keluar-masuk Bhumi menghujamkan diri.
Kaca kamar mandi buram karena hawa panas yang mengitari mereka.
¥¥¥¥
Menjelang makan siang baru lah mereka memasak untuk cacing perut mereka yang berteriak minta diisi setelah melewatkan sarapan, Bhumi yang sebenarnya memasak.
Shavara duduk terkulai lemas tak berdaya di atas sofa panjang tidak jauh dari dapur, bahkan ia tidak menghiraukan suara denting pintu pertanda ada tamu yang bertandang.
" Gak mau, aku beneran lemas gak bertenaga." Tolak Shavara ketus
Ia kesal dengan suaminya yang nafsunya tiada habisnya padahal dia sudah meminta berhenti, walau dengan suar pelan karena dia pun menikmati apa yang di lakukan suaminya, ingat itu dia pun kesal dengan dirinya yang mudah dirayu.
Bukannya marah, Bhumi terkekeh, ia mengusak sayang kepala istrinya saat melewati ruang tengah menuju pintu.
Ceklek...
Bhumi terkejut ada tangan yang mendorong dirinya hingga dia sedikit terhuyung mundur," TETEH..."
Aditya berlari menerobos masuk mencari kakaknya.
" Kalian ngapain ke sini?" Bhumi ternganga tidak percaya dengan banyak orang yang berdiri di depan villa yang dipinjamkan temannya untuk bukan madunya.
Mata tajamnya melirik sinis aora muridnya yang nyengir kikuk padanya.
Wisnu cs, Aditya cs, serta Berliana cs, kini melangkah masuk tanpa menunggu dipersiapkan oleh tuan rumah yang terlihat enggan menawari mereka untuk memasuki villa.
Bhumi mendengkus, ia menutup pintu sadar dia tidak bisa protes pada mereka.
" Teteh..." Aditya menubruk pinggang Shavara yang kaget bukan main.
" Adek,..lagi ngapain di sini? sama siapa?"
Sebelum Aditya menjawab, segerombolan orang tersebut muncul dari arah ruang tamu.
" Hah, kalian?"
" Kami kemari atas rengekan si bungsu yang berteriak heboh karena tetehnya hilang." ucap Wisnu yang menjatuhkan diri di sofa single di depan Shavara.
" Ck, lebay. Adik Lo sama gue, suaminya!"
Protes Bhumi.
" Kasih paham murid Lo yang ngeyel banget itu noh. Gue ampe berbusa buat dia ngerti kalau kalian itu sedang berbulan madu, tapi dia terus ngotot kalau Vara diculik." sewot Adnan.
" Kok, kalian bisa barengan kemari?"
" Adek ngajak Enja siapa tahu pak Dewa marah, kan kalau di depan Enja beliau gak bisa nonjok." jawab Aditya yang sudah tiduran, meletakkan kepalanya di atas paha Shavara.
Mata Bhumi menatap malas pada Bian, Bian yang takut pada Bhumi nyerocos panjang lebar menjelaskan.
" Adit tiba-tiba datang ngajak, terus dari rumah dia nelpon Ajis dan yang lain. Ibu ngizinin kok."
Shavara terkikik sembari mengusap kepala adiknya.
" Siapa suruh ninggalin adek. pake acara bohong lagi." sungut Aditya setengah monyong.
Bhumi mengusap wajahnya kasar, dia benar-benar sudah tidak bisa lagi mentolerir sikap adik iparnya itu. Dia harus bicara empat mata dengan murid absurdnya itu.
" Tahu dari mana Lo kita di sini?"
" Rahasia." jawab Wisnu.
" Ck, sampe segitunya Lo mau ganggu kita sampe minta ke mereka."
Wisnu tergelak, kodenya dibaca Bhumi dengan baik apa yang dimaksudkan ' rahasia adalah RaHasiYa.'
" Btw, udaranya segar ya, kayaknya habis hujan ya, Bhum?" tanya Erlangga.
" Iya, kali. belum lihat-lihat keliling gue." Bhumi duduk di tangan sofa samping Shavara Karen sofa sudah terisi penuh.
" Bhumi, laper ni masak dong. kita tamu lho ini." Adnan memegang perutnya yang berbunyi cukup terdengar oleh yang lain.
" Ogah. Gak ngundang Lo pada ya gue."
" A, bukannya kamu lagi masak? Aku juga laper lho ini belum kamu kasih nafkah lahiriah." rungut Shavara.
__ADS_1
" Oh iya, lupa. Kamu gak perlu sedramatisir gitu dong ngomongnya kesannya aku suami durja banget gitu."
Cup___
Namun tak ayal Bhumi masih sempat melabuhkan kecupan di kening istrinya saat hendak menuju dapur.
" Bhum, sekalian lah buat kita." teriak Erlangga.
" GAK MAU! KEWAJIBAN GUE HANYA PADA SHAVARA DAN SENJA. TANDA SERU."
" Busyet, masih aja tega tu orang."
" Masih amu lo iparan sama dia?" bisik Adnan yang duduk bersebelahan dengan Erlangga.
" Diem Lo."
" Nu, tadi Lo beli apa aja sama Berliana selagi kita nunggu tiga bocil itu?" tunjuk Adnan pada Ajis, Devgan dan Leo Yangs udah tidur terkapar di atas lantai.
" Banyak, beras juga da tadi dikasih Tante Rianti. Mie banyak buat Lo jual lagi."
" Telor ada?"
" Ada di kulkas, selam sempat belanja di supermarket waktu sih di kota-nya." jawab Shavara.
Bhumi membawa nampan berisi dua piring nasi dan dua mangkuk sop ayam.
" Sayang, kita makan berdua aja ya, satunya buat Enja. Tadi aku masak pas buat kita berdua."
Bhumi menyodorkan makanan ke Senja, lalu duduk di atas karpet di bawah kaki Shavara.
" Iya, gak apa-apa."
Aditya beranjak duduk, karena Shavara pindah ke bawah." Beneran gak ada lagi?"
" Gak ada. Enja makan aja gak perlu sungkan sama yang lain." tawar Bhumi yang mendapat dengkusan dari yang lain.
" Ini, makan, gak sungkan juga sama mereka mah." sahut Senja.
" Bagus."
" Makan mie aja dulu bisa kan ya?" tawar Mira. Ia beranjak ke dapur. Dia sendiri ingin segera makan.
Aku sih apa aja yang penting perut diisi." timpal Adnan.
" Aku bantu." berliana, Kenzo dan Bisma menyusul Mira ke dapur.
Wisnu yang sedari tadi tidak banyak bicara, ternyata tengah memperhatikan Shavara dan Bhumi.
" Kalian baru mandi? itu rambutnya masih basah."
Semuanya memperhatikan mereka berdua, kontan Shavara menunduk dalam.
" Dit, periksa leher teteh kamu." celetuk Adnan sambil tersenyum smirk.
Merah sudah wajah Shavara, itu tertangkap oleh Mira yang dengan usilnya karena didorong rasa penasaran dia masuk ke kamar yang pintunya sedikit terbuka.
" ASTAGANAGA_____ OMG_____YA LORD___ ini kamar habis ada gempa atau benda stunami, berantakan banget..." pekik Mira.
" Yang lain karena penasaran juga berlarian ke kamar tidur tersebut hingga saling dorong.
"WOWWWW.... Dahsyatnya..yang habis pecah telor... hahahahahaha..." gelak Adnan puas memegang perutnya.
Shavara makin menyeruduk ke dada bidang Bhumi, ia sangat malu.ia ingin ditenggelamkan saja sekarang.
Sementara Wisnu terkekeh geli melihatnya," Udah gede ya adik Aa." ledeknya.
" Jangan bikin ulah, habis makan kalian langsung pulang atau kemana cari penginapan, pokoknya jangan ganggu kita." kesal Bhumi.
Ia merengkuh Shavara yang menyembunyikan wajahnya ke perutnya dengan tubuh meringkuk. Mengusap-usap punggungnya guna menenangkan dia.
" Dih, ngambek. Kayak cewek aja Lo." Wisnu memprovokasi.
" Orang kita mau nginep di sini." tambahnya.
" WOY, ADA BERCAK MERAH YANG UDAH KERING NI." teriak Adnan.
" Astagaaa....woy, keluar lah kalian. Itu privasi, paham kan yang namanya privasi." marah Bhumi, dia kasihan pada istrinya yang pastinya tidak akan berani menatap mereka lagi.
" Hahahaha...wajib sih ini mah kita pesta melepas kesucian keduanya." imbuh Erlangga.
" Akhirnya perjaka tua kita belah apel juga." tambah Adnan yang hadiahi dengkusan dari Bhumi.
" Ini ni definisi bulan madu, hati pertama goollll." Bisma tidak mau ketinggalan.
" Lo ngomong lagi, gak ada traktiran ya, Bisma.," ucap Shavara dengan suara redamnya dari pelukan Bhumi.
" Peace...gue becanda doang. serem amat ancamannya."
" Gak mau tahu, kalian habis makan pulang."
" Ck, kita mau liburan, terlanjur ngambil cuti gue." ucap Wisnu.
" Idem."
" Idem." ucap serempak Erlangga dan Adnan.
" Kita-kita mah lagi libur kuliah, jadi nganggur." timpal Kenzo.
Shavara beranjak duduk meski sih memepet Bhumi," Kok kalian bisa ikut?"
" Gue diajak Ana yang diajak bang Wisnu."
" Jiaaa...pak Wisnu gercep ya..gak mau ketinggalan ama adiknya, di sini dingin-dingin semriwing sih butuh selimut hidup gak sih kita." heboh Adnan.
" Gak ada zina di sini ya, Nan." peringat Bhumi yang paham kode Adnan.
" Lagian mana ad ayang namanya bukan madu berjamaah."
" Ada, kita yang cetusin sekarang."
" Ck, ngeyel, kalau kalian gak mau diusir ikut peraturan kami, gak ada yang namanya zina. Titik!" tegas Bhumi.
Semuanya mengangguk kecuali Adnan yang cemberut besar, namun tidak ada yang memperdulikannya.
Masing-masing mereka lebih tertarik memasak makanan demi cacing-cacing manja mereka.
" Ini tiga orang kebo atau mati suri, orang mah udah ribut mereka masih aja tidur." dengan ujung kakinya Adnan mengganggu mereka yang ternyata tidak terusik sama sekali.
" Kayaknya kita bakal honeymoon berjamaah deh, Yang." keluh Bhumi yang dijawab tawa geli oleh Shavara.
" Mukanya komuk banget."
" ishhh..kamu mah..."
" A, suapi lagi, toh kamu cemberut Ampe dower juga mulut kamu mereka gak bakal pergi, nikmati aja kebersamaan kita buat cerita di masa tua kita."
" Hmm, masa tua ya..." Bhumi merengkuh erat istrinya," aku makasih banget sama Allah yang udah kasih kamu ke aku."
" Jaga baik-baik adik gue." serobot Wisnu yang datang dengan semangkuk mie rebus bertoping sayuran dan telor ditambah cabe rawit.
" Iya, pasti. sudah ini nyarinya harus nunggu 27 tahun."
Mereka pun datang satu persatu dengan hidangan tidak jauh beda dengan Wisnu.
Sambil menikmati hawa dingin mereka bersenda gurau minus tiga remaja yang masih terlelap tidur efek habis begadang semalaman....
See..you..tinggalin jejak ya... terima kasih masih setia membaca novel ini...
__ADS_1