Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
84. Fena Mereog


__ADS_3

Di ruang tunggu ICU, Deby marah-marah keponakannya dalam kondisi kritis, dia bersama keluarga James Purba berencana mengajukan tuntutan hukum pada keluarga Nasution.


" Deb. berhenti, mbak gak akan menuntut mereka." bujuk Wita.


" Gak bisa begitu, mbak. Aryo kritis ini." kukuh Deby.


" Sebelum kalian sibuk membuang tenaga menutut keluarga saya lebih baik kalian tahu terlebih dahulu kelakuan dua manusia itu."


Anggara berdiri di ambang pintu ditemani Bhumi, dan para pengacaranya. Ia mendatangi rumah sakit setelah mendengar cerita Shavara yang membuat kepalanya mendidih.


Bahkan dia harus menahan istrinya yang mengamuk untuk tidak ke rumah sakit atau keributan akan terjadi. Anggara berkesimpulan dia harus turun tangan langsung, ini sudah masuk ke ranah kejahatan.


Mereka yang berada di sana terdiam, Aura berwibawa yang selalu melekat di pria kalem itu seketika membuat lawannya tidak berkutik.


" Pak Angga..."


" Mana suami mu?" tanyanya pada Deby yang diam karena omongannya disela.


" Saya reka dia tidak mendukung diri anda, nyonya Deby. Maka berhati-hati lah dalam bertindak."


Anggara memasuki ruangan dengan aura mengintimidasi.


" Tapi putra anda telah melakukan tindakan kekerasan pada ponakan saya."


" Ponakan kebanggaan mu itu hampir memperkosa putri saya, beruntung dia masih hidup."


" Tapi syaraf Aryo hampir terkena gangguan."


" Baru hampir kan, belum kena di sana." kini Anggara menatap kedua orang tua Aryo.


Tentu itu hanya basa-basi, Anggara tahu persis bagaimana kondisi dua orang tersebut. Tubuh mereka tidak lagi normal ada satu atau dua bagian tubuhnya rusak parah bahkan ragu untuk kembali normal di waktu dekat atau bisa jadi mereka mengalami cacat permanen.


Ia selalu mendapat informasi dari para pengacaranya yang selalu standby.


" Demi masa lalu yang pernah terjadi di antara kita, saya tidak akan menuntut putra-putri kalian, tetapi saya tidak jamin kalau sekali lagi mereka mengganggu anak dan mantu saya."


Pandangan mereka menatap Bhumi yang berdiri sedikit di belakang Anggara yang berekspresi biasa saja tanpa rasa bersalah. Yang berhasil membuat Deby berang.


" Mas, kami memang tidak berniat mengajukan tuntutan hukum, ini semua desakan dari Deby." sahut ayah Aryo.


" Kau masih dendam pada istri dan anak bungsuku yang mempermalukan kamu dan anak mu? Instrospeksi diri, Deby.


bukan menyalahkan orang apalagi menghasut orang lain."


" Pak Angga, kata-kata anda tadi berlaku pula untuk keluarga anda." sengit Deby.


Tangan Bhumi mengepal, ia siap maju jika saja mertuanya tidak memberinya kode untuk diam di tempat.


Anggara mendengkus," Kau tahu tidak dengan istilah lo jual, gue beli? Aksi-reaksi? itu yang dilakukan keluarga saya pada keluarga anda. dan itu jelas berbeda." tegas Anggara.


Anggara menatap keluarga Purba." putri mu menjebak mantu saya, dan bekerjasama dengan Aryo mencelakai putri saya hingga dia menderita, kalau kalian terbujuk rayuan Deby, saya bersumpah, tidak ada satu pun tempat untuk kalian mengais rezeki. Itu peringatan saya setelah kami membuat mu bangkrut."


" Tapi tega sekali kalian mematahkan tubuh seorang wanita, putri ku menjadi cacat, pak Angga." ucap ibu Kinan.


" Huh, tega sekali dia merekam video wanita yang hendak diperkosa. wanita macam apa itu? bukankah dia seorang ibu?" sindir Anggara.


" Kita sudahi sampai sini saja, pak Angga. Saya menjamin keluarga saya tidak akan menuntut kalian." tukas James.


" Pa..." tolak istrinya.


" Diamlah. Ini memang salah Kinan, bukan mereka." James memang belum tahu apa yang terjadi, tapi jika Anggara turun langsung menangani masalah ini, dia yakini ini hanya akan membuat keluarganya lebih hancur.


" Bagus, tadinya kami juga hendak melaporkan mereka ke polisi, tapi istri saya berubah pikiran. Menurutnya melihat para pembenci putrinya menjadi pelacvr itu lebih menyenangkan daripada membuang uang negara untuk makan mereka." telak Anggara.


Mereka semua tersentak akan perkataan kasar itu, namun mereka tidak bisa menyangkalnya. mereka kalah telak sebelum bertempur.


" Itu terlalu kasar, pak Anggara." murka ibu Kinan.


" Tapi sejauh ini putri mu menikmati profesi barunya, terbukti saat dia merencanakan aksi jahatnya dia sedang berbuat cabul dengan Aryo. keputusan yang tepat bagi Erik menceraikan Putri mu." Bhumi yang menimpali ucapan ibu dari Kinan.


" Dewa, demi tuhan. Apa kau tidak memiliki belas kasihan pada teman lama mu?"


" Tidak, setelah apa yang dia lakukan. itu berlaku bagi siapa saja yang mengganggu istri dan keluarganya."


" Saya kira semua jelas. beritahukan kepada mereka saat mereka sadar nanti. itu pun kalau mereka bisa kembali sadar." tukas Anggara.


Sesudahnya mereka berlalu dari sana dengan lapang hati, puas melihat mereka nelangsa.


Di lobby, mereka bertemu dengan Arleta seusai membeli makanan," Pak Dewa." panggilnya bahagia.


Bukan hanya Bhumi yang berhenti melangkah namun juga Anggara, yang menghela napas jemu.


" Banyak sekali perempuan yang menyukai mu. Dia memang masih bocah, tetapi nyali tidak tahu malunya telah teruji. Saya tidak ingin Vara kembali mendapat masalah oleh siapapun itu, wanita, jika cemburu itu sangat memuakkan. Urus perempuan itu, papa tunggu kamu di mobil." Anggara pergi meninggalkan Bhumi yang ternyata mengikutinya.


Dia tidak ingin mencari kesulitan untuk pernikahannya, maka dia harus bersikap tidak peduli pada bocah tidak tahu malu itu.


" Pak Dewa, tunggu."


" Ada apa?" Suara dingin Dewa memelankan langkah Arleta, ia ragu akan keputusannya menghampiri Dewa.


" Eh..tidak ada apa-apa, saya hanya ingin menyapa anda."


" Sudah kan. Saya pergi. Lain kali bersikaplah tidak mengenal saya." Dewa langsung berbalik menyusul Anggara.


Arleta bergeming di tempat, ia memegang dadanya yang berdenyut nyeri." andai saya bisa, saya juga lelah ditolak oleh bapak. Saya juga ingin berhenti sakit hati, pak." gumamnya sendu.


¥¥¥¥


" Ck, papa kamu lama amat sih ngurus hal sepel kayak gini. kalau mama langsung libas saja mereka itu." sejak tadi Fena tidak pernah berhenti menggerutu, ia bosan menunggu kabar dari suaminya.


" Jangan disamakan sama Mama, papa mah orangnya cinta damai, beda sama Mama." sahut Aditya.


" Ck, kamu itu, kalau mama kayak Papa, kamu gak bakal brojol, mama yang grasak-grusuk ini yang bikin kamu nongol di muka bumi ini." perkataan itu disambut kekehan dari yang mendengar.


" Makin kacau kemana-mana pembahasannya." celetuk Anggara yang baru dibukakan pintu oleh Fathan.


" Bagaimana Pa? Apa mereka paham untuk tidak mengganggu Vara Lagi?" serobot Fena yang beranjak menghampiri suaminya.


Anggara mencium kening Fena," sabar ma. biarkan papa duduk dulu." Anggara merangkul pundak Fena.


" Ck, lama. Tinggal jawab."


Bhumi langsung menuju Shavara yang duduk di lantai bermain bersama yang lain yang disambut uluran tangan dari Shavara.


Bhumi duduk di samping Shavara, ia membawa istrinya ke dalam rangkulannya. Tanpa sungkan memberi ciuman di pelipisnya.


" Gimana di sana tadi?" tanyanya pelan.


" Damai. untung papa yang ke sana. Kalau gak bisa kiamat kecil. Ada tante Deby di sana." Bhumi mengecup kening Shavara.


Shavara terkikik membayangkannya, dan itu mengalihkan atensi dari yang lain. mereka sedikit lega melihat Shavara tertawa tanpa harus terpaksa.


" Bakal seru gak sih lihat ibu-ibu saling jambak, di rumah sakit lagi."


Bhumi menyentil ringan kening Shavara walau ia pun terkekeh jua." Kamu ini."


Sikap mesra Bhumi membuat iri seseorang yang duduk di pojok ruangan yang sengaja diasingkan. wajahnya mengeruh kap Bhumi mencuit cium bibir Shavara.

__ADS_1


" Tuhan itu tidak adil." geram ya dalam hati.


" Pa, jawab ih." Fena masih menuntut jawaban Anggara yang menyaksikan kasih sayang Bhumi pada putrinya itu.


Rasa ragu yang sempat meliputinya pada Bhumi menguar sudah. tatapan lembut penuh cinta itu tidak lagi dapat diragukan.


Begitu pun dengan Edo, ia betah melihat putra sulungnya beraut wajah lembut itu.


" Beres, selesai. papa pastikan mereka tidak mendekati Vara lagi." saat berbicara demikian matanya menatap Wisnu penuh arti.


" Ck, gak seru. harusnya mereka berontak, menolak. Kan aku ada kesempatan menghajar mereka." ucap Fena dengan raut wajah geram sambil memeragakan tangan memukul.


" Ma, stop. Gak capek dari pagi ngamuk melulu. Aku aja yang lihatnya engap." Anggara mengambil duduk di sofa panjang.


" Enggak. Udah lama juga ga berantem."


" Mam suka bilang supaya kita gak berantem tapi sendirinya doyan." ledek Aditya.


" Kamu mah berantemnya untuk hal-hal gak penting, mama mah demi kemanusiaan. tanya saja sama Rianti. Tadi kalau mama gak ngamuk sama Desty, pelakor itu habis dia mencaci ibumu itu."


Ucapan Fena membuat semuanya menolah padanya, sementara para lelaki paruh baya hanya menggeleng, kecuali Anggara yang menepuk jidatnya.


" Memang ibu kenapa, ma?" tanya Bhumi memandang ibunya.


" Eh...enggak..." Fena tergagap sendiri.


Di pesawat tadi mereka bersepakat untuk membunyikan kejadian tadi pagi itu dari para anak-anak.


" Kenapa?" desak Bhumi.


Fena menatap Wisnu minta pertolongan yang diacuhkan Wisnu dengan mengocok kartu yang sedang mereka mainkan.


" Isssh...punya anak laki payah." gerutu Fena.


" Ma, Kenapa dengan ibu?"


" Ibu gak apa-apa, tadi hanya ada insiden kecil." sahut Rianti.


" Kalau menyangkut wanita itu, tidak ada yang namanya perkara kecil, Bu. Apa dia juga terlibat?" dagunya menunjuk Edo.


cesss...


Sakit hati Edo diperlakukan tidak sopan begitu tetapi dia tidak bisa marah.


" Tidak, Edo gak terlibat. Tadi si Desty mendatangi rumah mu, dan marah-marah sama ibumu. itu karena Papamu menceriakan dia."


" Benar anda sudah menceritakan wanita itu?" tanya Bhumi yang diangguki cepat oleh Edo.


" Terus kenapa dia ke rumah?"


" Karena Krisis moneter." Bian yang menjawab. Dia tidak ingin Papa-nya selalu disudutkan.


" Sebenarnya beberapa kali Mama meneleponku meminta uang, tapi gak aku kasih. Kan gak dibolehin sama Abang."


" Kamu sedih?"


" Enggak." elak Bian cepat tidak menginginkan Bhumi meragukannya, meski ada sejumput kesedihan melihat ibunya yang tidak lagi bergaya cetar dan riang.


" A, tenang. Ibu juga gak apa-apa. Buktinya bisa nyusul kita ke sini." Shavara mengelus-elus lengan Bhumi.


" Tapi aku yang gak tenang. Dia sudah berani menginjakkan kaki ke rumah lagi setelah sekian tahun. kalau dia ganggu Enja atau Bian, gimana?"


Ad atasan hari yang menyelinap di hati Bian maupun Edo atas kepedulian Bhumi padanya.


" Ya..gak bakalan aku biarin, aku hajar dia."


" Berani lah. daripada diomelin mama gak bela ibu mending mukul dia."


" Heh, kamu ngomong gitu mama berasa diri ini malaikat Malik yang harus ditakuti karena nyeremin." sergah Fena.


" Emang Mama nyeremin." celetuk Aditya.


" Ck, kamu ini. Back to topic. sekarang, dia." tunjuknya pada wanita yang duduk diasingkan di pojokan yaitu Monika.


" Dia ke sini bersama siapa? Fena mengamati arah pandang Monika pun dengan yang lain. membuat Monika risih, namun dia tidak menurunkan pandangannya.


" Hah? Ke Aa wisnu?"


" Bukan, ke Bhumi." sergah Wisnu tidak nyaman, matanya melirik Berliana yang cemberut.


" Enggak ke kamu, A."


" Ck, dibilangin ke Bhumi." Bhumi melotot tajam ke Wisnu yang ditanggapi santai.


" Ke kamu ih...."


" Mata dia juling, mungkin dia lihat ke om Anggara." ucap ngawur Adnan.


" APA? beneran kamu melirik sama suami saya?" Monika menggeleng cepat. Maksud hati Fena dapat membaca kodenya melihat ke arah Bhumi hingga dia merusak kebahagiaan Shavara malah menjadi ribet begini gara-gara satu ucapan ngawur.


" Lengan, cepat balikin dia, dia punya siapa?"


" Bentar lagi bakal dibalikin ke pak Aditama." sahut Erlangga.


Monika di kursinya duduk menegang.


" Aditama? pengusaha resort ternama di bandung itu bukan sih?" tanya Fena.


" Iya, itu. Semalam aku minjem dari dia."


" Pa, sekalian kita ikut ke sana, minta lahan baut bikin resort." Fena bersemangat.


" Ma, apa pantas.."


" Pantas aja, toh kita bayar. kita cuma mint beliau untuk Carikan yang kita mau. Kalau kita sekalian ngasih hadiah dia, pasti cepat di ACC. Ayok, pa. cepetan." Fena beranjak berdiri.


" Tan..Tante...to..long..jangan kembalikan aku ke dia." Monika langsung bersujud di lantai yang mengagetkan semuanya.


Raut Fena yang semula sumringah berusaha menajam," Hampir seharian kamu bersama kami, seharusnya kamu paham penderitaan kamu adalah kesenangan saya."


Monika menggeleng dengan sarat permohonan." Ti..tidak..Tante bisa melakukan apapun padaku, tapi ku mohon jangan mengembalikan aku ke dia...please ku..mohon..."


Alis Fena naik ke atas." apapun...?" Monika mengangguk cepat.


" Saya ingin mengembalikan kamu padanya." ucapnya meledek.


" No..Tante...ku mohon...Tante..saya tahu saya sudah banyak berbuat salah pada Vara. Tapi dulu aku juga menjadi kesayangan Tante..kan ku mohon demi masa lalu..." ucapannya berhenti kala Fena tertawa nyaring.


" HAHAHHAHAHAHAHA.....masa lalu.. membosankan...akui dengan secara jujur dengan mulut mu, lalu akan saya pertimbangan. Untuk apa yang mengirim foto Ana pada Vara lalu menyerang dia?"


Tubuh Monika kaku, ia menimbang apa yang ahrus dia jawab. Jujur atau menambahkan satu dua bumbu di atasnya.


" A...aku menyayangi kak Wisnu, Ana menggodanya, dia mengambil kak Wisnu dariku..tentu aku tidak akan membiarkan kak Wisnu jatuh ke tangan wanita nakal yang suka keluar-masuk club', Tan."


Monika memasang wajah innocent manakala semua orang yang duduk di lantai memasang wajah hendak memangsanya karena ucapan bohong itu.


Monika menunduk saat dia melirik ke arah Wisnu yang sudah memperhatikannya dengan sorot membvnvh.

__ADS_1


" Darimana kamu tahu Anna suka ke club, apakah kamu juga di sana?" bingo, dia terjebak omongannya sendiri.


Monika menggeleng," ti..tidak...A..aku..."


" Apa yang kau inginkan dengan mengatakan ini padaku?"


" A..aku ingin Tante merestui kami...kami...."


" Bed3bah....jangan kau bicara seakan-akan ada sesuatu diantara kita. Kau pembohong ulung..." seru Wisnu tajam.


Monika makin ketakutan, ia tidak menyangka Wisnu akan angkat bicara. di masa lalu dirinya bersama Shavara selalu menggunakan namanya jika terlambat pulang dan Wisnu akan dia seakan mengiyakan lalu mereka terbebas dari hukuman sang ratu Fena.


" Ka...k...ku..mohon..to...long...a..."


PLAK....


Tamparan keras Fena pada Monika mengheningkan suasana kamar.


" Kamu ini mengkhianati Shavara, sekarang kmu berharap menjadi mantu ku. orang juga kudu sedikit pintar untuk bertingkah. tapi kamu..sudah tidak punya moral, tidak punya otak juga. Menjijikan."


" Dia juga menggoda Bhumi." celetuk Wisnu yang menambah bensin ke bahan bakar kayu


Tanpa kata Fena langsung menarik rambut Monika, dia yang memang ingin berantem maka memanfaatkan situasi.


Bhumi menarik Shavara ke dalam pelukannya, yang lain diam memperhatikan, toh Anggara apin dia tidak bertindak.


Situasi seperti ini hanya suaminya yang bisa menangani Fena. setelah melihat Monika yang semakin patah lukanya setelah selama diobok-obok oleh berlarian dan Mira di dalam kamar, Anggara pun beranjak berdiri.


" Ma, sudah. Kalau mama ngamuk terus, mama harus ngeluarin uang buat perawatan luka dia."


Maka terlepasnya diri monika yang sudah tidak berbentuk rupa dari cengkraman Fena. Monika dibiarkan terkapar di lantai.


" Saya bersedia membebaskan kamu dari aditama dengan syarat kamu kembalikan uang yang dikeluarkan Vara membantumu hidup dan sekolah sekarang juga."


Monika sudah tidak bisa lagi menjawab, seluruh tubuhnya nyeri dan dia rasa ada beberapa anggota tubuhnya patah.


" Bernai benar fitnah orang, kamu pikir saya tidak tahu kali mereka pacaran? Tahu! Tahu banget malah!"


Berliana membelalak, lalu menunduk malu. Pasalnya selama ini jika dia bermain ke rumah Shavara alibinya dia adalah teman Shavara bukan sedang berupaya mendekati Wisnu.


Wisnu masih memasang tampang cool-nya, meski jantungnya berdegup kencang. setelah ini pasti Mama-nya memintanya segera melamar Berliana, padahal dia sedang menikmati masa pacaran.


" Elang, telpon pa Adi. Kita ke sana sekarang.Bilang aja om Angga yang ingin ketemuan."


" Baik, Tan."


" Ma, Mama ke om Adi, kita main ya." seru Aditya.


" Iya, ajak juga teteh kamu supaya dia lebih refreshing."


" Eh...gak perlu Ma. Kita bisa nunggu di kamar saja kok." tolak Bhumi halus.


" Ngapain di kamar, liburan tuh jalan-jalan, Bhum."


" Dengerin tuh pak. Apa Kat ibu mertua."


Bhumi meringis, 'dia kan bukan liburan tapi bukan madu, ya di kamar lah ngabisin waktunya.' batinnya menyerocos tapi hanya bisa berkata-kata dalam hati.


" Tan, om Adi sudah menunggu." seru Erlangga.


Fena menarik tangan Anggara layaknya bocah." Ayo pa. Kita pergi."


" Iya..iya.." meski malas, apalah daya cinta ayang begitu besar untuk istrinya yang menuntun dia menuruti Fena.


" Kita ketemuan di villa saja ya. Nu, langsung cek out aja." seru Anggara.


Semua orang berteriak riang, kecuali Bhumi yang cemberut." Kenapa kayak gak suka gitu, hmm?" Shavara mengelus rahang Bhumi.


" Bukan gini bulan madu yang aku mau. Aku cuma pengen sama kamu, dia dalam kamar bikin debay." Bhumi mengeratkan dekapannya.


" Kan bisa lain waktu, tapi kalau jalan-jalan bareng gini kan jarang bisa. Semua keluarga Loh ini. sabar ya sayang." Shavara mengucap pipi Bhumi.


" Bibir, Civm aku di bibir, aku bakal sabar."


" Malu, banyak orang."


" Di dalam kamar ya."


" Nanti lama, kamu kan gak cukup civman aja."


" Main cepat."


" Aa..." Bhumi beranjak lalu menggendong Shavara ala bridal menuju kamar.


" Bhum, ah..elah...kita mau cek out ini."


" Bawel, kalau udah pada siap hubungi gue."


" Kayak bakal denger hp aja Lo." tutur Adnan.


" Gedor pintu kamar gue."


Ceklek..blam....


Mereka bersungut-sungut meninggalkan kamar hotel.


Di dalam kamar, Shavara terkikik mendengar gerutuan mereka. Ia membiarkan Bhumi menurunkan risleting blouse yang dibeli Wisnu.


" A, cama civman lho. Gak perlu dilepas juga kan ya."


" Sekalian yang lain, kasihan kalau dianggurin."


" Pokoknya gak nyampe masukin ya."


" Dikit boleh?" goda Bhumi sembari melapas kaos oblongnya.


" Aa...aku juga mau jalan-jalan, tapi yang segar gak kecapean." rengek Shavara manja.


" Yang, kita bukan madu loh. Ya harus ada aura cepaknya."


" Gak...hmmmmh."


Bhumi mencivmnya panas, lalu memag'ut bibir bawah atas silih berganti. Ia mendorong pelan Shavara agar berbaring.


I to Shavara berkedut geli, ia mengalungkan tangan menerima semua aksi panas bibir dan tangan Bhumi yang sudah merayap membelai sisi tubuhnya naik turun.


" Sshh...eehhh...." desahnya lolos kala bibir Bhumi turun mengecupi dagu, rahang, leher dan terus ke bawah hingga menemukan dua benda mungil favoritnya yang dia langsung hisap sepuasnya. Shavara menarik rambut Bhumi seorang nikmat yang dia rasakan.


kedua kakinya dibuka, dan Bhumi masuk diantaranya dengan tangan membelainya menyingkap blouse-nya hingga bertumpu dipinggul.


Tangan Bhumi menyelip ke karet pinggang underwear, ia menarik turun,


DOR...DOR...DOR...


" Woy, keluar. Kita udah cek out..." siapa lagi kalau hujan Adnan si tukang iri akan kemesraan orang.


Bhumi mengerang kesal, namun ia akhirnya mengecup kening Shavara. " Aku ke kamar mandi dulu." lalu ia beranjak.

__ADS_1


" Nyari penyakit sendiri, udah tahu gak tahanan orangnya." gumam Shavara beranjak duduk memperbaiki letak blouse-nya....


__ADS_2