
Sepanjang menuju kantin Aditya digoda habis-habisan oleh para teman sekolahnya karena menggandeng Shavara yang speknya menurut para temannya timpang dengannya.
" Woy, Dit. Sabi lah kenalin sama yang Lo gandeng?"
" Kagak, awas Lo ngedeketin dia." Aditya mengacungkan kepalan tangan pada temannya yang dibalas tawa ngakak dari semuanya.
" Dit, kayak mau jalan di shirathal Mustaqim aja Lo gandengan."
" Iyalah takut bara apinya makan ni cewek cantik kan bahan apinya Lo, ahli Naar." jawabnya makin sewot.
" Siaul Lo, kita kan barengan nyebutnya, Dit."
" Dih, halu. gue mah ngedadahin Lo di surga bareng bidadari." cibir Adit.
" Ngapain juga Lo ladeni mereka, Dit." dengkus Bian.
" Kesel gue sama mereka."
" Yaelah, tahu dirilah, Dit. Dia sama lo kayak putri sama kurcacinya kalau sama gue pas kayak pangerannya."
" Najong sama Lo, pangeran cabul gitu."
" Hahahaha..kan Lo partner gue, ya." kata Nuril.
" Di kelas, abis Lo sama gue."
" Dek, makasih ya traktirannya." seru yang lain.
" Duuuhh,, dedek emesh. Sini Aa puk-pukin."
Aditya memejamkan matanya menahan tengsin, sedangkan para sahabatnya terkikik puas menertawainya mengabaikan tatapan tajam sok mengancam dari Aditya.
Hanya jari tengah yang bisa sebagai responnya untuk para temannya yang ditanggapi tawa terbahak puas.
Ini semua ulah mamanya yang manggil dia Adek saat memintanya maju sewaktu demontrasi berlangsung tadi.
" Bayar sendiri jajanan kalian."
" Atutututu...Adek ngambek, ni permen kaki Betmen buat Adek."
" ASU KALIAN PADA ..."Shavara yang sedari tadi menahan tawa khawatir Aditya marah akhirnya tergelak juga.
" Ini lagi si kakak bukannya simpati sama adiknya malah nertawain." Gerutunya.
" Jangan marah-marah, ih. nanti cepat tua Lo.
" Lha emang segini belum bangkotan, kak." Celetuk Ajis.
" Hahahhahahaha...." semuanya tergelak.
" Terus aja Jis, terus. Gue gak kasih contekan matematika berubah jadi abu Lo."
" Dih masih ada Leo gue mah."
" Misih isi lii gini mih. Lo pikir dia dari siapa, sis." cebik Aditya.
Memasuki kantin banyak orang yang mengucapkan terima kasih dengan diiringi godaan padanya.
" Woy, Dek. Makasih ya traktirannya. Sering-sering." teriak Bara.
" OGAH." Sewot Aditya.
"Adek, cari Aa dulu katanya tadi mau ke sini...nah itu mereka." Menempatkan Shavara berjalan di depannya Aditya mendekati meja yang berisi lima pria tampan karena para temannya sudah melihat Shavara seperti baru nemu perempuan kinclong, norak banget dah.
" Aa.." panggil Shavara.
Lima pria dewa itu menoleh padanya,
Wisnu dan Bhumi berdiri melihat Shavara bersama Aditya. Wisnu melangkah kecil dua langkah mengulurkan tangan pada Shavara.
" Loh, Dek. Kok di sini?"
" Aku langsung kemari pas lihat hp, kok gak ada yang ngasih tahu aku." tanya Shavara Melihat silih berganti pada Wisnu dan Aditya.
" Gimana mau ngasih tahu teteh aja semalam gak pulang, terus hp dimatiin." Sindir Aditya yang ekor matanya melirik Bhumi.
" Santai, Dit. Lo dari tadi sewot mulu kayak nenek komplek kehabisan sirih Lo." Devgan mengambil duduk di meja samping para lelaki setelah mengusir enam orang siswi yang belum beranjak meski makanannya sudah habis sejak tadi demi mencari perhatian para lelaki ganteng itu padahal cuma Erlangga dan Adnan yang meladeni mereka.
" Ganggu kesenangan orang aja Lo, Dev." omel Erlangga saat Terget rayuannya ngibrit pergi.
" Ingat umur, bang. Jangan cari sugar baby aja, cari bini sono." Ujar Ajis.
Enggan memperhatikan keributan unfaedah itu Wisnu menarik Shavara duduk diantara dirinya dan Bhumi ketimbang disamping Erlangga yang duduk di sebelah kanannya yang oastinya akan banyak drama lagi.
" Gak kuliah?" tanya Wisnu.
" Bolos, wong dosennya aja di sini."
" Aa udah ngasih tugas."
" Tugas mulu, kalau mau bolos ngajar yang bolos aja gak usah pake ngasih tugas segala." Dumel Shavara.
" Ini bukan bolos ngajar ya cuma lebih prioritas aja buat hari ini, kamu mau adek kamu jadi cibiran terus."
" Enggaklah, lagian siapa sih yang berani lakuin cara murahan itu?"
" Tantenya mantan Lo, teh."
" Siapa?" Mengingat Aryo punya tiga paman dan bibi.
" Deby."
" Oooh beliau."
Ajis berdiri yang bertugas memesan makanan dan sedang menghafal menu pesanan para sahabatnya yang rese karena makanannya tidka mau disamakan, mumpung sedang ditraktir.
" Kenal?" Tanya Bhumi. tenaganya dengan sendirinya membawa tangan Shavara ke atas pahanya untuk dimainkan jemarinya.
" Gak begitu, cuma beberapa kali ketemuan pas acara keluarga."
__ADS_1
" Kamu kesini sama siapa, Ra?" Tanya Adnan.
" Sendiri. tadi buka hp udah rame soal Adit sampe banyak spam telpon dari teman kampus, aku panik jadi cus...langsung ke sini."
" Ampe gak nyisir kayaknya." Erlangga menunjuk rambutnya yang lumayan berantakan dengan dagunya.
" Gak sempat, awut-awutan banget ya?" Shavara menggunakan jarinya menyisir rambutnya dibantu Bhumi yang dengan senang hati membantunya tanpa diminta.
Bhumi tidak menyadari perbuatannya itu mendapat perhatian penghuni kampus, bahkan ada seseorang yang mengeratkan pegangan pada sendoknya dengan atasan cemburu.
" Mama, papa mana?"
" Langsung ke kantor papa." jawab Wisnu.
" Mau makan, kak? Adit yang traktir." Tawar Leo.
" Mau, mie ayam bakso ya."
" Jangan, masih terlalu pagi. Makan nasi aja ya?" Bujuk Bhumi sambil sibuk merapihkan rambut Shavara.
" Enggak mau, pengen ngemil aja."
" Mana ada mie ngemil."
" Pesenin cilok, cilor...atau apalah yang ci ci itu." ujar Wisnu pada Ajis yang selanjutnya melenggang pergi memesan pesanan para sahabatnya."
" Aa di sini sampe kapan?"
" Sebenarnya tadi Aa mau langsung ke kampus, tapi ni duo curut maksa ke sini, paling bantaran lagi."
Melihat perlakuan lembut Bhumi tidak biasa pada Shavara membuat Guntur gatal ingin bertanya.
" Wa, siapa?" Dengan gerakan wajahnya Guntur menunjukkan Shavara.
" Hah? Ooh, calon bini. Jangan Lo targetin, udah taken." tekan Bhumi.
" Kakak." Shavara menepuk paha Bhumi yang langsung digenggamnya.
" Hah? Serius lo?"
" Kenapa? kecewa Lo?" Guntur mengangguk yang langsung dianulir dengan menggeleng mata Bhumi melotot tajam padanya.
Bukan Bhumi tidak tahu Guntur tertarik pada Shavara, dia tahu sekali sejak Guntur melihat Shavara matanya berbinar cerah, itulah mengapa Bhumi langsung mengultimatum.
" Kemarin aja nolak, sekarang bucinnya minta ampun." Ledek Adnan yang diacuhkan Bhumi.
" Jangan godain Nan, akhirnya temen kita baligh juga doyan cewek." Erlangga menimpali.
" Gue waras, gue gak ladeni kalian."
" Anj..."
" Pak Dewa." ucapan Erlangga terpotong suara Siena yang menghampiri meja Bhumi dengan percaya diri ditonton para muridnya, beberapa ada yang mencemoohnya.
"Namun bagi erlangga yang disuguhi body goal dengan wajah rupawan cantik membahana dia langsung duduk tegak siap melancarkan rayuan gombalnya.
" Iya kenapa?" Bhumi bertanya dengan datar.
" Saya kenapa?"
" Tadi bapak mendapat banyak perhatian yang membuat bapak tidak nyaman."
" Bisa saja, rumah beres juga. udah kan?" tanyanya menyimpan pengusiran.
pengusiran tak kasat mata itu membuat Siena sedikit malu, tapi ini Siena segini doang mah bukan apa-apa.
" Boleh saya gabung? saya belum dapet tempat."
" Bo..."
" Enggak, ini tempat saya, Bu." lagi, ucapan Erlangga terpotong, Aditya duduk di bangku kosong antara Erlangga dan Adnan.
" Bukannya ibu bareng sama guru yang lain di meja dekat tukang bakso? tadi saya lihat ibu di sana lagi makan nasi sama soto." ucap Ajis yang datang membawa senampan mangkok dibantu mamang mie ayam.
perkataan Ajis berhasil membuat siena berbalik badan dan langsung kabur dari sana.
" Tiap hari perasaan kerjaannya caper doang dah sama bapak, ngajar jadi kerja sambilan dia mah." cibir Devgan.
" Pacar kamu?" bisik Shavara pada Bhumi.
" kamu? iya."
blush....ucapan Bhumi jadi buah simalakama baginya, Shavara menyesal.
Bhumi terkekeh," salting ya..,ngeblish gitu pipinya."
" Enggak ya."
" Jangan mancing kalau gak amu salting. aku udah ngomong tentang dia kan?"
" Oooh guru yang naksir berat kamu itu. heh, berat juga saya saingan aku."
" Gak ada persaingan, kamu udah jadi pacar aku. cuma kamu."
" Boleh cium tangan kamu di sini gak?"
" Enggaklah, malu."
" Tapi pengen cium banget, bibir aku udah gregetan pengen nyium tangan kamu."
" Jangan ngada-ngada."
" Kak, jangan bikin iri, di sini pada jomblo semua." misuh Ajis menyodorkan sepiring menu beraci.
" Ajis kayaknya sedang mode kangen matematika, Tur. bisalah kasih dia tugas tambahan. atau fisika aja Jis? pilih yang mana?" kata Bhumi dengan seringai mengancam.
" Dih bapak, fitnah. saya sama istri pertama bernama matematika dan istri kedua, fisika udah talak tiga bandel kabur mulu."
" Jadi ..." Bhumi menggantungkan kalimatnya.
__ADS_1
" Jadi saya minta maaf, teruskan diskusi kalian. silakan." sesudahnya Ajis langsung ngibrit ke mejanya.
Sedang asik bercanda, mereka kedatangan orang yang tidak diinginkan." Pak Dewa.."
Arleta tanpa tahu malu berlari kecil ke arah dimana Bhumi berada, berjarak semeja langkahnya terhenti saat Aditya menghadangnya. Shavara yang tengah menikmati makanannya bingung melihat adiknya terlihat mendadak marah.
" Sumpah ya, baru selesai masalah Lo, dan Lo mau cari masalah baru."
" Minggir, Adit. Gue gak punya urusan sama Lo."
" Setiap Lo usik pak Dewa, gue jadiin itu urusan gue, nyokap Lo yang membuat performa itu."
" Dan urusan kita bersama." Timpal murid berambut agak gondrong yang bernama Gara yang berdiri tidak jauh bersama teman-temannya yang dikenal si bengal level 1 yang tadi menggoda Aditya.
" Kalian apa-apaan sih."
" Lo yang apa-apaan. Gak tahu malu banget ngedeketin pak Dewa setelah buat malu sekolah, supaya apa coba." Ucap siswi kelas 11.
" Gue cuma mau minta maaf."
" Udahkan tadi. Modus Lo." Ucap yang lain.
" Minimal nunggu barang dua hari ke depan lah buat caper lagi."
" Kalian bisa diem gak.."
" Kalau gak bisa Lo mau apa?" Ngancem buat ngeluarin kita lewat bokap Lo? Kayak mereka ngancem ngeluarin pak Dewa? Gak laku lagi, Sis." Ucap siswi yang lain.
" Atau Lo mau ngegoda pak Dewa terang-terangan setelah Lo gak berhasil menggodanya sembunyi-sembunyi?" Ejek Aira.
" Kenapa bini Lo ikut campur?" Bisik Devgan.
" Au, capek gue dari tadi nyegah dia jangan ngereog." Balas bisik Bian.
" Jangan ngejudge sendiri, kalian gak tahu apapun tentang gue sama pak Dewa."
" Pak, memang ada kisah tentang bapak sama dia secara pribadi?" Tanya Aditya yang menyiratkan peringatan dari ucapannya.
Dibawah meja tangan Bhumi menggenggam erat tangan Shavara.
" Tidak ada sama sekali." ucapnya dingin.
" Pak ..." Lirih Arleta merasa terluka akan sikap dingin Bhumi.
" Let, Lo hilangain obsesi Lo sama pak Dewa sebelum kita bertindak jauh sejauh Lo mempermalukan beliau." Ucap Bian.
" Diem Lo, berandalan."
" Lebih mending disebut berandalan daripada Lo..pe-rek." seru Senja yang memang sudah geram sejak berita Aditya itu tersebar, dan dia sangat marah ketika tahu Arleta biang keroknya karena kaitannya dengan kakaknya
Semua penghuni kantin kaget akan ucapan kasar Senja yang dikenal mereka santun dan ceria.
Arleta menyeringai culas." Jangan munafik Lo, jangan sok suci. gue tahu Lo juga naksir pak Dewa. Gue sering liat Lo flirting dan minta duit sama beliau, udah ngasih apa Lo sama pak Dewa."
"ARLETA...JAGA UCAPAN KAMU PADANYA." Suara amarah menggelegar pak Dewa yang terkenal irit bicara namun santai terhadap muridnya cukup membuat mereka terkejut terlebih Arleta yang syok dirinya dibentak demi siswi lain di depan umum.
Begitupun dengan Shavara di tempatnya sampai badannya terjengkit kaget. Ingin ia melepaskan genggaman tangannya karena takut namun ditahan Bhumi.
Merasakan tangan Bhumi gemetar menahan emosi, refleks Shavara mengusap punggung tangannya. Usapan lembut itulah yang menurunkan tensi emosi Bhumi.
" Kenapa? Kenapa bapak bela dia? Apa kelebihan dia dibanding aku?"
" Banyaklah, Lo bukan levelnya dia." Ajis yang menjawab.
Arleta menoleh pada Ajis, " Udah dikasih apa Lo bela dia? Selain pak Dewa, apa Lo juga open BO sama dia."
PLAK...
Tamparan Senja membuat yang lain terperangah," gue adiknya pak Dewa, adik kandung beliau, seibu dan seayah, mau apa Lo?" Kata-kata itu bagi Adnan dan Erlangga yang tahu kisah Keluarga Bhumi terdengar menyayat hati.
Pengakuan Senja cukup mengagetkan pasalnya di sekolah selain kelas 12 lelaki dan Aira yang sering main untuk belajar tambahan hampir tidak ada yang tahu hubungan Mereka.
Berangkat sekolah pun Senja memaksa diturunkan di halte agar tidak diketahui penghuni sekolah.
Bian mengigit bibir dalamnya menahan gejolak emosi yang menyesakkan dadanya, ia menunduk menyembunyikan kesedihan di wajahnya. Leo hanya mampu mengusap punggungnya untuk menghiburnya.
" Lo bohong, gue gak tahu..."
" Lo gak musti tahu, siapa Lo yang harus tahu soal pribadi pak Dewa? Berhenti gangguin kakak gue, Berani bertinhkah dari modal orang tua aja belagu Lo. Mulai hari ini Lo gangguin pak Dewa Lo habis di tangan gue."
" Di tangan gue juga." Timpal Aira.
" Bocah cebol gitu mau lawan Arleta yang tinggi." Bisik Ajis meledek Aira di telinga Bian.
" Bisa apa Lo sama gue?"
" Bukan mereka yang bertindak tapi gue, dan mereka." tunjuk Devgan pada siswa yang lain.
" Sekarang jelas posisi Lo? Cuma Lo yang mikir imbalan body setiap orang ngebela yang lain, karena Lo mungkin yang sering open BO, bukan Senja. Pergi! Ingat jarak Lo dengan pak Dewa tidak boleh melewati 2 meter."
Aditya mengingatkan kesepakatan antara pihak sekolah dan orang tua Arleta sebagai bentuk pencegahan orang tua Aditya melaporkan Arleta dan Deby ke pihak berwajib.
Arleta berbalik badan dan pergi dari kantin yang langsung disoraki oleh penghuni sekolah sepanjang dia berjalan di koridor menuju kelasnya.
" Itu cewek yang Lo taksir lama, Yo." cibir Ajis.
" Orang pernah khilaf, Jis." sahut Leo santai.
" Ilfeel Lo sekarang?"
" Bego aja gue kalau masih suka setelah apa yang terjadi, secara cewek masih banyak."
" Sudah, sudah...Kembali Nikmati makanan kalian, makan sepuasnya mumpung ada yang nraktir." Seru Guntur melerai ketegangan.
Suasana kantin tidak lama kembali kondusif santai namun tidak dengan Bhumi yang masih diam menegang, matanya melirik Senja yang masih diam terpaku meski sudah duduk di meja atas paksaan Devgan.
Bhumi melepas genggaman tangannya, lalu menghampiri Senja, berjongkok di depannya." Dek, kenapa?"
Bukannya menjawab pertanyaan Bhumi, Senja malah menatap Bian yang memperhatikannya dengan tatapan sendu.
__ADS_1
" Selain aku, mas punya adik lain, kan? Anak yang diakui ayah, anak yang disayang ayah...." tanyanya dengan yang wajah yang terlihat nelangsa memandangi kakaknya yang terbeliak kaget....