Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
25


__ADS_3

Di dalam mobil Jeep Wrangler Rubicon berwarna billet silver sambil mengemil sebatang coklat  milik Senja yang dibelikan Erlangga,  Adnan menatap bosan dua insan yang duduk bersisian tanpa jarak di atas bongkahan kayu yang dijadikan bangku panjang di depan danau.


Sesekali Erlangga menyelipkan rambut nakal yang terbawa semilir angin ke belakang telinga Senja.


Sorot mata lembutnya pada Senja mengganggu Adnan," kalau Bhumi tahu segimana Elang men-treat adiknya gue yakin dia langsung ne-bas leher si cungvk playboy itu." Monolognya seraya mengusap-usap lehernya.


" Elang..ck..Elang cari mati Lo...anjir pake dipeluk segala, kudu diabadikan ini" Adnan menaruh coklat yang tersisa sedikit ke kursi di sampingnya lalu mengambil ponselnya, membuka aplikasi kamera, setelah beberapa kali memotret lalu mengalihkan ke video dan mengarahkannya pada mereka yang sedang berpelukan yang diakhiri Erlangga mengecup pelipis Senja.


" Sok soft banget, anying Elang fix bosen hidup dia" Adnan sibuk bersungut-sungut.


Saat kepala Erlangga sedikit miring dan mendekati Senja, satu tangan lain Adnan menekan klakson mobil.


Tiin...tiin....


Erlangga menutup mata mensyukuri gangguan dari Adnan atas kekhilafannya yang hampir mencivm adik dari sahabatnya, namun di sisi lain dirinya merutuki perbuatan Adnan.


Dua kepala itu saling menjauh, sesaat mereka saling tatap yang kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain karena kikuk.


" Kita pulang yuk, takut ibu nyari kamu." Ujar Erlangga berdiri sembari membersihkan celana bagian belakangnya.


" Sebenarnya aku males pulang, tapi abang bener, ibu pasti cemas. Perasaan aku gak enak."


Erlangga mengulurkan tangan pada Senja, " jangan sok sinteron kamu, Abang jadi was-was ini."


Senja terkikik, tangannya menyambut uluran tangan besar itu.


Berjalan di belakang Senja Erlangga menatap sayu punggung remaja yang sejak tiga tahun yang lalu sering hadir dalam mimpinya.


Tapi dia tahu diri harus menghilangkan rasa yang bersumber dari degup jantungnya yang selalu meningkat tajam jika melihat gadis manis berlesung pipi ini.


Trek recordnya dengan wanita akan menjadi alasan murka Bhumi padanya jika dia berani mendekati adik kesayangannya.


Ketika sudah di dekat mobil, Senja sedikit malu kepada Adnan perihal apa yang hampir dia dan Erlangga lakukan, namun Adnan yang peka membuka pintu mobil yang dilanjut ceramah randomnya.


" Ini udah sore kalau ibu marah gimana? Apa sih yang kalian obrolin lama banget."


" Kep Lo kayak curut." Omel Erlangga yang menstrarter mobil lalu melaju meninggalkan danau yang sebenarnya tempat healing tersembunyi bagi empat sahabat itu.


" Bhumi tahu mati Lo." Ucap Adnan tidak begitu keras.


Erlangga menoleh sesaat pada Adnan yang memberi tatapan penuh arti.


" Ekhemm..khemm..." Erlangga merasa ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya.


" Jangan ampe dia tahu lah, Lo sohib gue kan?"


" Gak janji, sohib? Apa tuh, yang pake adonan terigu ya?" 


" Kalian lagi ngomongin apa sih?" Tanya Senja.


" Gak penting, bocil mending bobo. Inget BOCIL! Tekan Adnan melirik Erlangga.


Erlangga sedikit kaku saat dia paham kalau Adnan melihat apa yang tadi hampir terjadi.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


" Apa yang Lo ceritain tadi serius? Tanya Mira tidak percaya pada Shavara seusai menceritakan apa yang terjadi di sekolah Aditya.


" Itu sih yang dibilang kak Bhumi. Kan gue gak ada di sana."


" Nyokap Lo savage banget, jadi pengen ketemu beliau, gue. Gue bakal jadi pengagumnya." Ucap Bima.


" Mending jangan,  Lo bakal dimakan hidup-hidup sama bokap gue."


" Kelihatannya bokap Lo orang baik." Ucap Kenzo menyodorkan ponselnya yang terdapat gambar Anggara diulasan peristiwa di sekolah.


" Beliau kalem, tapi kalau ada yang lirik apalagi muji nyokap, beuhh... Macam berasa kucing di depan beliau."


" Serius?" Tanya Berliana tidak yakin.


" Heeh, adek gue aja kalau kelamaan minta dikelonin nyokap ditoyor terus ditarik supaya ngejauh padahal anak sendiri."


" Aaaaakh,... romantisnya." Pekik Berliana sok imut.


" Berisik, Na." Omel Kenzo yang telinganya pengang gegarama Berliana berteriak tepat di samping telinganya.


" Pengen gue diposesifin." Rengeknya.


" Lo pake naksir orang dingin kayak pak Wisnu, ubah haluan sono. Gue lihat Jefri makin gencar ngejar Lo." Sindir Bima.


" Siapa yang naksir saya?" Mereka bergidik ngeri mendengar suara berat yang selalu melahirkan semriwing horor bagi mereka.


Mereka seketika kaku menganga mendapati Wisnu berdiri menyandar pada daun pintu antar ruangan sambil menyeringai miring culas dengan tatapan sok mengintimidasi dimana kedua tangan dilipat di dada.


Ketika semuanya menatap takut Wisnu beda dengan Berliana yang menatapnya kagum, baginya Wisnu adalah definisi lelaki idaman sesuai impiannya.


Kulit sawo matang, rambut sedikit ikal, senyum manis yang jarang terlihat, mata coklat tua, rahang tegasnya mengalihkan seluruh perhatian dan hatinya dari lelaki lain yang ada di dunia ini.


" Kereenn,....kapan ngelamar aku..." gumamqn yang dia tak sadari.


Shavara yang terlebih dahulu sadar dari kekagetannya, dari ekor matanya melihat buliran bening jatuh dari mulut Berliana.


" Ana..ih jorok, Lo ngeces..." Pekik tertahan Shavara yang mengelap ujung bibir Berliana yang duduk tidak jauh darinya.


Mereka berganti menoleh pada Berliana yang mengambil tissue dari Shavara dengan kepala menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. Wisnu mengulum senyum kecil, ia mengigit kulit bibir dalamnya menahan gemas pada gadis cantik di depannya ini.


" Lo norak amat sih, laki Bulik macam kakak gue aja ampe nyeces gitu, doyan lo sama yang kulit hangus." sungut Shavara mengelap jejak air liur Berliana di atas meja.


" Udik, lho. Tetangga gue banyak yang modelan pak Wisnu." Timpal Mira yang ikut malu.


" Eeh..bapak, dosen yang paling baik sejagat Nusantara. Sini pak, duduk sini." Bima berdiri memberi kursinya yang di sisi lain Shavara.

__ADS_1


Namun Wisnu memilih mengambil kursi dari meja lain dan duduk di ruang kosong antara Berliana dan Shavara.


" Nyantai kalian, enak ya anak semester-semester akhir udah gak sibuk kuliah bukannya nyari bahan buat proposal skripsi tapi hangout tiap hari. mereka udah mengajukan proposal, cuma kamu yang belum, dek." Sindir Wisnu.


 " Ini kita lagi diskusi, pak. Kita mau memastikan kalau judul skripsi kita gak ada yang sama." Alibi Bima.


" Mereka duluan yang ngajuin bukan berarti mereka duluan yang lulus m, apalagi modelan Bima yang UTS aja minta contekan." ucap Shavara.


" Dih ngelunjak ni, bocil." elak Bima.


" Iya juga sih." disetujui wisnu.


" Pak, jangan ikut-ikutan mojokin saya dong." rengek Bima.


" Na-jis, sok imut Lo. amit juga." Kenzo menutup kepala Bima dengan serbet meja.


Disela meladeni cerocosan mahasiswa-nya sesekali matanya melirik Berliana yang masih menunduk sembari mengusap bibir dengan tissue yang sudah robek.


Wisnu lagi-lagi mengigit bibir dalamnya menahan tawa, ia tidak bisa percaya mahasiswi bule cantik yang di dalam kelas biasanya percaya diri menggodanya mengaku sebagai pacarnya kini seperti tidak berkutik, bahkan tangan Wisnu gatal ingin mengangkat kepala Berliana takut leher cantik itu patah.


" Ana, memang kamu produksi iler berapa ton sekali ngeces? Itu tissue udah pada ancur, bibir kamu juga lipsticknya udah luntur, kenapa kamu masih nyusut bibir kamu?" Tutur Wisnu tanpa dosa.


" Hah?" Berliana mengangkat kepala cengo seraya matanya berkedip-kedip polos, di tangannya banyak potongan kusut tissue.


" Ya tuhan,...gak kuat ngegemesin banget." Bathin Wisnu semakin mengigit bibir dalamnya.


" Ishh, Na, sumpah Lo malu-maluin kaum bule aja Lo, pak Wisnu gak seganteng itu sampe Lo kayak orang baru lihat laki, cakepan juga gue." Kenzo mengambil sampah tissue lalu menepuk-nepuk tangan lentik itu membersihkan sisanya.


" Mana ada, pak Wisnu yang Ter..ya....ups" Berliana keceplosan melirik malu pada Wisnu yang tersenyum smirk sambil menaikkan alisnya.


" Aa juga ngapain ke sini? Mau cuci mata ya...secara di sini banyak mahasiswi bening." Seloroh Shavara setengah meledek.


" Aa disuruh Mama jemput kamu, telpon kamu gak diangkat. Dari Bhumi, Aa tahu kamu di sini."


" Tahu, kenapa sih Lo pake jemput Shava, Entar juga gue anterin."  Bhumi datang sembari membawa nampan berisi menu pesanan Wisnu.


" Kata nyokap takut gak pulang lagi." Sindirnya nyinyir.


" Lo semalam gak pulang?" Selidik Berliana.


" Pantesan gue telpon gak aktif." timpal Mira.


" Ternyata sedang skidadapdap." Celetuk Bima yang mendapat pelototan dari Wisnu dan Bhumi yang duduk di antara Shavara dan Wisnu


" Jangan marah, emang apa yang dilakukan pria dan wanita dalam satu kamar?"


" Tidur, Bima. Tidur, merem mata gue, ada ilernya juga kalau lo mau bukti." Sungut Shavara.


" Bang Bhumi bukan kayak Lo." ucap Kenzo.


" Aduh..." Bima mengelus tangannya yang habis disabet serbet oleh Kenzo.


" Iya, ya...kalian kan bukan..."


" Hah, kok bisa?" Celetuk Mira yang disetujui yang lain yang sama herannya.


Shavara menunduk, merasa tidak nyaman.


" Kenapa gak bisa?" Nada Bhumi sedikit sinis.


Sadar kalau dia salah ngomong, Mira kalang kabut sendiri." Eeh, jangan senewen dulu. Vara kan belum lama putus."


" Bagus itu gak perlu ada bab galau berkepanjangan." Ucap Kenzo mencoba menurunkan ketegangan.


" Heeh, apalah orang jelek gitu digalauin." Timpal Berliana.


Namun ucapan menghibur itu tidak meringankan perasaan Shavara.


" Dek, pulang sekarang?" Wisnu menyesap teh manisnya setelah menghabiskan nasi soto Betawinya.


Shavara mengangguk, ia memberesi bawaannya dimasukan ke dalam Sling bag-nya tanpa permisi berdiri.


" Aku bayar makanan dulu."


" Sekalian sama punya Aa."


Saat Shavara hendak melangkah tangannya dipegang Bhumi." Biar aku yang bayar."


Shavara menggeleng," gak usah, yang pinjaman di festival aja aku belum sempat bayar. Kita ini cuma pacaran, gak perlu jajanin aku terus." Shavara bergegas pergi.


Sepeninggal Shavara, Bhumi menatap satu persatu mahasiswa itu," harus ngomong begitu? Kamu pikir Shava wanita yang mudah disentuh, Bim." Tanya Bhumi kesal, ia lantas masuk ke ruang dalam restoran.


" Langsung pulang, Na. Kamu dan Bima dibimbing saya." Ujarnya pada Berliana.


" Dan kmu, Bima. kamu gak bisa nyogok saya dengan ngajak tidur bareng supaya semua berjalan lancar." Sarkas Wisnu membungkam mulut ceriwis Bima.


Wisnu mengusap kepala Berliana sebelum masuk menyusul Shavara.


❤️❤️❤️❤️❤️


" Rianti." Edo berjalan pelan beberapa langkah untuk mendekat.


Suara berat itu melahirkan bayangan menyakitkan yang meluluhlantakan mentalnya, tangan Rianti gemetaran dan gunting itu pun jatuh ke tanah.


" Rianti, bisa kita bicara?" Melihat raut nyeri dari mantannya, sesak menerpa Edo. 


Peristiwa itu terjadi sudah bertahun-tahun berlalu, ia tidak menyangka masih meninggalkan luka bagi wanita yang pernah mengisi hidupnya.


Kalau bukan keadaan mendesak, dia tidak akan mendatangi mantannya.


" Rianti..."

__ADS_1


Dengan langkah tergesa-gesa Rianti masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintu rumah.


Edo mencoba mencegah upaya kabur Rianti namun ia terlambat, pintu itu keburu ditutup dan dikunci dari dalam.


" Rianti...buka. aku ingin berbicara." Ucap Edo agak keras.


" Rianti..buka pintunya." Edo menggedor-gedor pintum


Di balik pintu Rianti menutup mulut dengan kedua tangan agar tangisannya tidak terdengar keluar, badannya gemetar tidak karuan.


Mengapa, mengapa lelaki itu kembali datang setelah bertahun-tahun dia dan kedua anaknya menunggu dirinya untuk kembali dan meminta maaf, pasti mereka akan memaafkan dan kembali bisa membina rumah tangga, namun nyatanya Edo tidak pernah lagi datang sampai hari ini.


" Rianti, apapun yang terjadi dengan masa lalu kita,kamu tidak bisa menampik dan membuang kenyataan kalau aku ayah dari anakmu, suka atau tidak suka itu faktanya, Rianti. Aku berhak atas diri Dewa."


"Pergi....PERGI KAMU...." teriak Rianti frustasi.


" Aku tidak akan pergi sebelum kamu mendengarkan apa keinginan ku."


" Pergi...KU MOHON PERGILAH...."


" TIDAK AKAN."


Mereka dalam posisi berbicara diantara balik pintu sebelum akhirnya Rianti membuka pintu, meski dalam hati ia melafalkan do'a agar dirinya tidak pingsan.


" Apa maumu?" Tanya Rianti sinis yang menyiratkan pencampuran kebencian sekaligus luka.


" Aku...menginginkan Dewa. Dia ahli waris ku."


" Dia bukan barang yang bisa kau ambil dan aku buang seenak jidat mu, Edo. Bukankah kau memiliki anak lelaki lain dari sekretaris mu."


" Tapi dia juga anakku."


" Aku yakin Bhumi tidak butuh harta darimu, anak bukan hanya Bhumi, kalau kau lupa. kau memiliki dua anak yang lahir dari rahim ku."


" Ayolah Rianti, kita sudah membahas ini. Soal bayi itu, dulu kau menolak tes DNA. Untuk memastikan siapa ayahnya,..."


" Karena memang kau ayahnya, aku tidak pernah berzina. Jangan samakan aku dengan mu." Hardik Rianti, rasa sakit itu masih sama setiap Edo menolak mengakui Senja sebagai darah dagingnya.


" Aku meragukan itu, lelaki itu sering bersamamu di belakangku."


" Kami hanya berteman, hanya karena kau berselingkuh, bukan berarti semua orang bisa bisa melakukan itu, Edo. Hanya kamu, dan wanita murahan itu yang bisa melakukannya."


" Tutup mulutmu, wanita murahan yang kau sebut itu adalah istriku."


" Dan dia adalah pelakor yang menghancurkan rumah tangga kita."


" Bukan, tapi kau. Kau yang menyebabkan rumah tangga kita hancur, dengan mata kepalaku sendiri aku melihat bagaimana mesranya kamu dengannya, lelaki yang kau sebut sahabat." Ucap dingin Edo.


Otak Rianti berkerja keras mengulang ke masa lalu untuk mencari hal yang dituduhkan Edo padanya. Di bagian mana dia dan sahabatnya bersikap mesra, mereka paham harus menjaga jarak setelah dirinya menikah.


" Kau tertawa dengannya, kau menelponnya ketika ingin pergi, dia bertamu ketika aku tidak ada. Di rumah ini kalian berdua, kau pikir aku terlalu bodoh untuk memahami apa yang kalian lakukan sampai ku dapati kau hamil. Beruntung sekretarisku melihat dan mengawasi mu dan memberi tahuku


Tangan Rianti yang memegang kenop pintu memutih, seluruh tubuh Rianti gemetar, sorot matanya memancarkan rasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


" Hehehehe, Edo, apa kau sedang mencari alibi untuk pembenaran perselingkuhan mu? Itu tidak perlu, Edo. toh aku sudah move on darimu, aku sudah tidak peduli padamu."


" Setiap kali aku jalan keluar bersamanya, itu setelah kau mengizinkannya, karena kau sibuk hingga tidak bisa menemaniku untuk belanja bulanan meski itu di hari akhir minggu. Setiap dia kemari bertamu, selalu ada Bhumi di sini. Kami tidak pernah berdua dalam ruangan tertutup seperti yang kau sangka kan.  Jadi berhenti mencari alibi untuk menutupi kesalahanmu yang menghamili sekretaris mu."


Edo mematung, dia mengakui dirinya gamang karena hati kecilnya pun menolak menerima kalau istri lembutnya ini berlaku curang padanya.


" Aku punya semua foto kalian, apa yang aku katakan itu tidak bohong."


" Terserah mau kau percaya atau tidak,  bisa kau tanyanya langsung pada Bhumi. Dia yang sering bersama Fathan menghabiskan waktu berjam-jam sementara kau terlalu mencintai pekerjaan dan sekretaris mu ketimbang putramu." Sesak, itu yang dirasakan Rianti, saat dirinya mengingat keluhan Bhumi kecil padanya karena ayahnya yang hampir tidak meluangkan waktu untuknya.


" Kalau kau ingin aku mengakui bayi itu, sebaiknya tawaran tes DNA itu kau terima."


" Aku tidak sudi melakukan tes DNA itu, itu sama saja aku mengakui tuduhan kejam mu padaku, tuduhan yang tidak pernah pernah aku lakukan, tapi kau yang melakukannya. Kenapa kau tidak melakukan tes DNA pada anak yang sekretaris mu kandung, kau yakin dia anakmu?"


" RIANTI...." Geram Edo, dia tidak suka istrinya disudutkan.


" Kenapa? Apa aku salah bicara?"


" Dia wanita baik-baik."


" Wanita baik-baik tidak akan tidur dengan suami orang, Edo. Suka atau tidak suka, itu faktanya."


Kedua mata dari dua manusia yang pernah terikat dalam hubungan suami istri kini saling mengunci berdiri di atas keyakinan masing-masing.


" Ibu.." panggilan lembut dari Senja menolehkan Edo ke belakang, matanya bersirobok dengan dengan netra yang berwarna amber yang hampir mirip dengan milik neneknya, warna mata yang termasuk langka di bumi ini.


Dalam keluarganya nenek dan adik perempuannya yang memiliki warna bola mata itu.


Dilanjut tatapan itu menurun ke tulang pipi, hidung, bibir, rahang. Semua bagian wajah itu terlalu mirip dengannya untuk disangkal bukan darah dagingnya.


Tubuhnya terhenyak terhuyung mendapati kenyataan ini,


" Aku hanya kebagian warna kulit di dirinya, seluruhnya hampir mirip dengan mu. Andai dulu kau sudi melihatnya, kata-kata kasar tentang bayi cantik itu tidak akan pernah terlontar dari mulutmu." Ucap Rianti yang menyadari syok yang dialami Edo.


Senja terkejut hingga pijakan kakinya oleng, beruntung Erlangga menyangganya. Senja tidak percaya dia melihat wajah yang dia tahu adalah ayahnya, kini untuk pertama kalinya dia bisa melihatnya langsung.


" A... A..." Suaranya  bergetar, Senja menumbuk-numbuk dadanya. Senja ingin mengatakan satu kata sakral itu, namun sesak di dadanya menghalanginya.


" Paman, sedang apa paman di sini?" Adnan was-was. Dia khawatir Bhumi segera pulang, dan terjadi keributan.


Dia sangat tahu bagaimana bencinya bhumi pada lelaki paruh baya ini, Bhumi selalu mengatakan akan membv-nvh pria ini jika mereka bertemu lagi.


Luka yang ditorehkan pria yang masih terlihat tampan ini sangat dalam bagi sahabatnya itu.


" Paman, ini sudah sore sebaiknya paman pulang." Padahal arloji di tangannya masih menunjukan pukul 14.45.


Tidak ada jawaban dari pria paruh baya itu, Adnan berjalan menyentuh tangan Edo ketika suara berat berkata,

__ADS_1


" Sedang apa lelaki itu di sini?" Suara menggelegar yang menyiratkan kemarahan yang teramat sangat dari arah pagar seketika mencuatkan ketegangan....


__ADS_2