
Suasana selepas subuh di rumah Nasution langsung bising dengan pekikan dan kekacauan yang dibuat Fena yang panik bercampur cemas setelah mendengar apa yang menimpa putrinya.
Dia langsung memerintah para art untuk membuatkan makanan kesukaan Shavara," Sayang, tenang, jangan panik begini." Anggara mengusap lengan Fena.
" Bagaimana aku gak panik, putri satu-satunya aku dicelakai oleh mereka yang gak bertanggung jawab.
" Sialan memang sia Aryo itu, beruntung anak kita tidak jadi menikah dengannya. Kita harus bikin dia lebih hancur, A."
" Pasti, papa sudah menghubungi pengacara untuk menindak lanjuti persoalan ini."
" Ya udah ayok, kita jemput Rianti terus kita langsung ke bandung."
Sesampainya di kediaman Rianti, mereka melihat hal yang tidak bisa percaya, di sana di depan pintu utama Desty menunjuk-nunjuk Rianti dengan segala hujatan dan cacian yang membuat mereka menjadi tontonan para pembeli sarapan dan tetangga.
Separuh dari mereka yang menyadari keberadaan kendaraan Anggara menahan napas was-was, sosok Fena yang sempat viral, dan tetangga yang paruh baya yang mengenal Fena sejak lama di masa kesembuhan Rianti paham betul bagaimana karakter keras istri dari lelaki yang terkenal tenang dan adem itu.
Fena yang sedang dibalut amarah yang terpendam, langsung naik pitam, dia butuh sesuatu atau seseorang untuk menyalurkan emosinya.
Dengan gerak kasar dia siap membuka pintu yang langsung ditahan Anggara." Ma..."
" A, jangan halangin Neng, atau Aa siap menerima resikonya, Neng harus segera meluapkan amarah neng, A. Mending Aa telpon pak Edo supaya dia tahu kelakuan mantan simpanannya gimana."ucap tegas Fena yang tidak bisa dibantah.
Dengan terpaksa Anggara melepas pegangan tangannya, dia membiarkan Fena melangkah lebar memasuki pekarangan rumah dengan menaikkan lengan bajunya, siap untuk bertempur.
Saat dia hendak menelpon Edo, ada satu mobil Mercedez Benz berwarna hitam metalik memarkir di seberangnya.
Secara bersamaan mereka keluar dari mobil masing-masing." Ada apa kemari?" tanya Anggara mengurungkan niatnya menelpon Edo.
" Ditelpon Fathan, katanya Desty marah-marah di depan rumah Ririn." dari sebelah rumah Rianti keluarlah Fathan, dan melihat keributan yang dibuat Desty dari jarak jauh.
Sebenarnya dia ingin mendekat, tapi Rianti melarangnya, takut makin melebar urusannya, itu alibi Rianti. padahal Rianti hanya tidak ingin Fathan dipojokkan oleh Desty yang pastinya akan mengolok-olok dia.
" Dasar wanita tua licik plus tidak punya malu, kalau memang mantan suami mu tidak mau kembali pada mu jangan kamu menggoda dia lewat anak mu.sudah tua, jelek, bau tanah masih aja jadi pelakor."
" Kyaaa ..." Desti terpekik kaget dan terjerembab ke belakang saat ada tangan menarik rambutnya.
" Siapa yang Lo sebut pelakor, p3rek. situ ya yang pelakor.jangan playing victim, belasan tahun yang lalu suami siapa yang Lo rebut? DIA..SUAMI DIA..." hardik Fena menggebu-gebu sambil menyeret tubuh Desty menjauhi pintu rumah Desty.
Ia tidak peduli dengan teriakan Siena yang ketakutan melihat tubuh kakak yang merosot di undakan tangga teras.
" Lo cuma pegawai matre yang ingin kaya secara instan, Lo jual diri Lo sama tu laki, dan Lo nikahi dia."
Belum puas, Fena menjambak rambut Desty dan membawa wanita itu ke hadapan kerumunan orang yang penasaran.
Plak....
Wajah Desty sampai berpaling ke samping karena tamparan keras itu, Rianti berlari menyusul khawatir terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan.
" Mbak, sudah mbak. Saya tidak apa-apa." bujuk Rianti.
" Memang harus kamu kenapa-kenapa buat dia bungkam, gak sudi aku.kita harus kasih paham, lont3 macam dia gak sepatutnya ada di tengah-tengah wanita baik-baik seperti kita." Rianti terdiam, dia sendiri takut kalau sudah Fena dalam keadaan marah begini.
Desty hanya mampu meringis kesakitan di antara kaki penonton, terlihat tidak da yang hendak menolongnya.
Melihat suasana memanas, Edo hendak mendekat, namun dicegah Anggara." kalau kau mendekat, saya yakin itu hanya kan memperburuk situasi."
" Saya hanya ingin melindungi Ririn."
" Menurut mu, apa yang sedang dilakukan istri saya untuk siapa? tanpa kau, Ririn sudah banyak yang melindungi." telak Anggara memaksa Edi melihat ke sekeliling yang mana para tetangga sudah merapat pada Rianti. itu cukup membungkam Edo.
" Dengar, pelakor usang. belasan tahun Lo jadi istri dari lelaki yang Lo rebut dari dia, pernah dia nyamperin rumah Lo? Gak kan, sekarang Lo yang nyamperin rumah dia saat lelaki itu nyerain Lo, jadi siap yang tidak tahu malu. LO..LO...muka gak seberapa cantik tapi bin4lnya minta ampun." Tunjuk Fena tepat ke hidung Desty.
Desty diam menciut, segala kegagahannya saat menghardik Rianti terbang entah kemana.
" Pak Edo, ini mantannya nyamperin mantan bapak, harus diapain dia?" teriak Fena pada Edo.
" Terserah mbaknya, saya sudah tidak punya urusan lagi sama dia." sahut Edo yang hanya punya pilihan mendukung situasi yang berkembang.
Selagi Fena lengah berbicara dengan Edo, Desty segera menjauh dari Fena, dia memilih berdiri di dekat mantan suaminya." Mas,..jangan begini, aku minta maaf sudah menipu mu, tapi belasan tahun aku yang menemanimu, kamu berjanji kita akan Melawati tua bersama."
Namun Fena tidak membiarkan itu mudah bagi Desty, dia pun melangkah mendekati mereka." belasan tahun Lo nikmati kekayaan Mahendra hasil dari mencuri suami Rianti, tapi tadi Lo bilang Rianti yang menggoda suami lo. Heh, dia bukan cewek murahan kayak Lo, kalau sekarang Lo dibuang oleh Edo, memang Lo berharap apa, ketika selangk4ngan Lo tidak lagi menggodanya."
Para penonton yang mendengar menganga lebar akan kata-kata frontal itu. Desty dibuat malu sedemikan rupa begitu pun dengan Siena yang sedari tadi menunduk.
" Mas, tolong aku..aku berjanji ini yang terakhir kali aku melibatkan diri..."
" Kamu menolong dia, akan ku telpon Bian dan Bhumi kalau kamu membela dia, dan kau akan kembali dibenci oleh putra yang belum bisa menerima mu itu." ancam Fena.
Edo, tentu tidak mau mengambil resiko itu, " Kalau mbak mau menghabisi dia, habisi saja. Saya tidak melihat apapun."
" Saya juga." timpal Anggara.
Fena melihat pada para penonton," Kami gak mendengar, melihat bahkan bermimpi apapun tidak." Ucap salah satu dari mereka.
Fena yang mendapat dukungan dari orang-orang sekitar tertawa menyeramkan," HAHAHHAHAHAHAHA, gue memang lagi butuh pelampiasan, dan Lo si tol0l dvngu yang nyamperin diri menjadi objek samsak gue."
BUGh...
" Kyaaa ....
Krekkk..
" KYAAAA...."
Plak....
kreteek....
" KYAAA..."
Hanya suara itu yang selanjutnya terdengar, dari aksi Fena sampai akhirnya Desty terkapar tidak bergerak di aspal dengan tubuh penuh lebam, luka dan beberapa diyakini patah.
" TOLONGGG...tolong.... kakak saya..saya mohon...kalian tega membiarkan kekerasan ini terjadi..." Raung Siena yang tidak tega melihat kakaknya bersimbah luka.
" Kalau saja dia bukan pelakor, akan kami tolong, tapi saya masih ingat kejadian dulu saat dia merendahkan Rianti dengan sombongnya." sahut salah satu wanita paruh baya yang merupakan tetangga Rianti.
" Katakan saja ini karma pelakor." tutur yang lain.
" Kalian makhluk-makhluk tegaaa..."
" DIAMMM... BERISIK BACOT LO." Siena terdiam.
" Lo siapa dia?"
Takut untuk menjawab, Siena hanya untuk menunduk.
" SIAPA DIA?"
" Siena, adik dari Desty." Anggara yang menjawab.
" Adik?" Fena tengah merenungi sesuatu.
__ADS_1
" Aaaa..hhh...jadi dia bocah cilik yang bikin lelaki itu bersimpatik pada pelakor ini, dan akhirnya dengan menjual kesedihannya mereka melakukan perslikvhan itu."
Tebakan Fena membuat wajah Siena karena malu.
" Dia juga naksir Dewa." ungkap Anggara memberi bensin pada api yang menyala.
Mata Fena langsung menyalang, secara dramatis ia mendekati Siena, menarik dagunya ke atas menghadapkan wajah yang sudah ketakutan itu padanya.
" Oooh....Lo juga bibit pelakor ternyata. Dewa Lo, mantu saya. Lo berani dekati mantu saya, habis Lo ditangan gue. Gue pastiin nasib Lo lebih parah ketimbang kakak Lo." gertak Fena langsung menatap netra Siena.
" Kalian mau kemana terlihat rapih." tanya Edo.
" Ke Bandung, Vara mendapat musibah."
Edo tersentak," Boleh saya ikut, izinkan saya ikut serta. Setidaknya saya ingin menemani anak saya."
Anggara menatap Edo yang bermuram," Tentu, kenapa tidak."
❤️❤️❤️❤️❤️
" A..aku...waktu itu...di...A...hiks..." tubuh Shavara menggigil manakala harus mengingat peristiwa semalam.
Dia mencengkram erat tangan Bhumi hingga kukunya melukai punggung tangan suaminya, namun Bhumi diam, tidak memprotesnya.
" Its, okay. Kalau belum bisa cerita. Tapi kamu sejauh ini sudah kuat, sayang. Kamu bisa menangani diri kamu sendiri." tutur Lena, psikiater profesional, teman kalian Wisnu.
Shavara menggeleng, " Aku pengen cerita, ini menyesakkan dadaku.
" Ta..tapi..aku takut Aa Bhumi akan membenciku katena aku tidak suci lagi." lirih Shavara pilu.
Bhumi membawa Shavara ke dalam pelukannya, mengusap punggungnya." Itu tidak akan terjadi, sayang. Cinta aku tidak serapuh itu, cinta." ucapnya lembut.
Shavara mengurai pelukannya, ia menengadahkan menatap Bhumi yang sedikit menunduk menatapnya. Pancaran sport Bhumi yang teduh membangkitkan kepercayaan dirinya.
Bermodal dari pengalaman pahitnya kala dikhianati Aryo, kala dia menceritakan peristiwa itu pada keluarganya hatinya lega dan tenang. Maka sedari semalam sebenarnya dia ingin menceritakan semua kronologinya agar siksa batinnya bebas.
Tangannya yang digenggam tangan besar Bhumi mengerat, saat ia mengumpulkan keberaniannya.
" Saat kami memperhatikan di bawah, tiba-tiba ada tangan yang menarik ku, aku kaget tapi dia menarik ku kuat. tentu aku mencoba berteriak, namun mulutku langsung ia bungkam dengan tangannya." Shavara menarik napas dalam-dalam sebelum meneruskan.
" aku berontak, ku injak kakinya agar cekalan dia terlepas, namun yang ada dia menampar ku, lalu memanggul ku."
" Aku lantas berteriak minta tolong, namun club' yang ribut karena teriakan pertengkaran di bawah tidak ada satu pun yang mendengarnya hingga kami tiba di satu kamar yang sudah dibuka pintunya oleh Kinan. Dia sudah menunggu kami di sana.
" Ar..." Shavara sulit mengucap satu nama itu, tubuhnya bergetar.
" Shhhtt..sayang stop. Jangan diteruskan aku gak mau kamu sakit." bujuk Bhumi seraya membingkai wajah terkasihnya.
" Tapi aku harus, sayang. Aku gak mau terus dibayangi peristiwa durja itu, tapi aku..." Shavara menangis tergugu untuk kesekian kalinya selama 24 am ini.
" Saat dia membantingku ke ranjang, mereka berdua tertawa jahat untuk ku. Kinan berucap kalau kali ini aku akan menjadi wanita paling kotor dan Dewa akan kembali padanya." Shavara melihat pada Bhumi yang menggeleng cepat.
" Itu tidak akan terjadi, sayang. Aku lebih memilih dengan mu, meski kau terkotor sedunia sekalipun, bagiku, kamu tetap Shava-ku. aku pasti memilih bersama mu."
Air mata Shavara dengan sendiri menetes, dia mengigit bibir dalamnya menahan emosi.
" Aku terpancing omongan Kinan, maka ku tendang ************ lelaki itu, dia marah. Dia lantas merobek pakaianku, dia menyentuh dadaku, coba mencivmku, dia.... Hiks...dia....hiks...."
Bhumi memeluk erat Shavara, matanya sudah basah. Dia pun sendiri tidak sanggup lagi mendengarnya.
Kobaran api di dadanya ingin segera menghanguskan musuhnya itu.
" Aa Wisnu menghajarnya, dia bahkan tidak bisa menggerakkan jari-jari yang menyentuhnya sayang. Kakak mu sudah membalasnya." sahut Bhumi lembut.
" Tidak ada lagi alasan kamu menderita, karena mereka telah membayar perbuatan mereka. Mereka kini dirawat di ruang ICU."Bhumi membungkuk wajah Shavara.
" Apa mereka mati?" tanya Shavara.
" Apa kamu ingin mereka mati, sayang?"
Shavara bergeming, dia mencoba mempertimbangkannya.
" Bagaimana kalau kamu membalasnya dengan hidup bahagia bersama suami mu. mereka hanya pembenci, dna balasan yang terbaik bagi pembenci adalah bahagia." tutur Lena.
" Apa aku bisa bahagia setelah membaut suamiku kecewa?" Shavara meragukan itu saat ini.
Alih-alih menjawab, Bhumi malah menciumnya dengan rakus mengabaikan keberadaan Lena.
Menaksir civman itu tidak kan berhenti dalam.waktu dekat Lena memilih keluar dari kamar itu.
Bhumi mengusap leher Shavara, memperdalam civmannya. Ia melahap habis bibir itu tiap jengkalnya. menyedot, membelit lidah, dan menelan saliva tidak terkecuali.
Shavara mengalungkan tangannya di pinggang Bhumi meremat kemeja di punggungnya kala nikmat peraduan bibir itu memasuk sanubarinya.
" Hmmmhmmh...EE...HHH...hmmhhh..." Bhumi merengkuh tubuh Shavara, mengangkat Shavara ke atas pangkuannya.
Membelai seluruh tubuh yang membelai tubuh yang keseluruhannya menjadi candunya.
Karena bibir mereka sudah kebas, terpaksa Bhumi melepas pa hutan itu dengan napas terengah-engah.
Ia merapihkan rambut wanita-nya, matanya menyorot sayu penuh gairah. Mereka saling pandang.
" Apa aku terlihat jijik padamu, sayang?" tanyanya yang dibalas diam oleh Shavara.
" Kalau kamu masih meragukan aku, aku dengan senang hati membuktikan kesimpulan mu itu salah, salah besar. Cinta. padahal semalam aku telah melihat dirimu di bawah dia ,tapi hati aku tepa tidak berubah, masih menginginkan mu, memuja mu, sayang."
Shavara menjauhkan diri memeluk Bhumi, "Aa..."
Bhumi membalasnya, ia mengusap rambut Shavara." Jangan meragukan aku, hmm?"
Shavara mengangguk," Iya, dan maaf."
" Aku juga minta maaf meninggalkan mu saat itu." nyatanya, sejak semalam Bhumi gundah gulana merasa menyesal.
Shavara menggeleng," Tidak ada yang perlu dimaafkan."
" Begitu pun dengan mu, cinta. tidak ad ayang harus disesalkan tentang dirimu."
Shavara mengeratkan pelukannya menikmati rasa nyaman dalam rengkuhan suaminya.
" Sepertinya ada suara Mama." ucap Shavara.
" Tidak ada, sekarang ku tidur lah. Istirahatkan dirimu." bujuk Bhumi, sedikit berbohong.
¥¥¥¥¥
" Aarghh ...eee..hhh..aaahhhhh...." Kinan meringis kesakitan namun hasrat liarnya yang tiba-tiba menyala memaksanya untuk mencari sesuatu sebagai pelampiasan bir4hinya.
" Eerrggkkhh...."
Di sisi pojok lain raungan tertahan Aryo dengan tubuh tak berdaya bagia singa yang terluka parah.
__ADS_1
Dia sangat tersiksa, panas dalam tubuhnya, intinya yang menegak, namun tubuhnya yang tidak mampu digerakkan bagai siksaan di batas kematiannya.
Urat-urat di seluruh tubuhnya menonjol tegang. rahangnya beradu rapat. Dia yakin dirinya akan mati.
Kinan menyesot memaksa bergerak mencari sesuatu, lantas dirinya menemukan kaki yang terus dia rayapi hingga bertemu dengan sejenis batang berdiri.
" Ssshhttt.... Eergghh..." sakit di tulang rusuknya yang patah tak menyurutkan dia untuk bergerak, hawa panas didorong ingin dipuaskan membuat tubuhnya lebih merasa kesakitan.
Tanpa pemanasan atau aba-aba dia masukan yang tegak itu ke intinya. Aryo mengerang sakit dipaksa bergerak, Kinan pun tak kunjung lebih baik, meski dia bergerak di atasnya tanpa balasan apapun.
Hanya suara lengkuhan yang menyeramkan dari keduanya dengan gerakan terbatas tidak manusia yang mewarnai seluruh gambar televisi besar yang ditonton tiga orang pemuda plus lima orang paruh baya di belakang tanpa sepengetahuan mereka.
" Baru kali ini gue lihat cowok diperkos4 cewek. Pasrah banget lagi." komentar Adnan sambil menggelengkan kepala.
" Gue akui Kinan lebih kuat dari Aryo. Cemen dia." cibir Adnan.
" Ck, sombong. Gue yakin kalau itu Lo, Lo sama sekali gak bisa gerakan jari Lo." sembur Erlangga.
" Kalian ngapain nonton p*rno siang bolong gini."
Mereka bertiga menoleh sambil berjengkit kaget. Wisnu langsung mematikan televisi.
" Tante, sudah datang." basa-basi Adnan.
" Mana Vara?" Fena menyingkirkan Erlangga dari sofa yang didudukinya di samping Wisnu.
" Di dalam kamar. Aa manggil teman Aa yang psikiater buat ngobrol bareng mereka."
" Pasir kamu capek, A."
" Enggak, selama Vara baik-baik saja."
" Bagaimana keadaanya?" tanya Anggara."
" Pas bangun tidur tadi, dia nangis, tapi gak histeris. Tapi tetap aja itu bikin cemas Aa." Wisnu memilin-milin tangannya.
" Ma, Pa. Maaf Aa gagal..."
" Kamu sudah hebat lindungi adik kamu." potong Fena.
" Siap yang bikin Aryo ancur begitu?"
" Wisnu." jawab Adnan.
" Yang bikin Kinan luka siapa?" tanya Rianti.
Ketiga l laki itu saling lirik sebelum menjawab." Bhumi." jawab Erlangga ragu.
" Apa? mana bisa Bhumi..."
" Dia kerjasama sama Aryo bikin Vara celaka, Tan. Tugas dia mendokumentasikannya." sela Wisnu.
" Astagaaaa, dua orang itu. Di mana mereka sekarang?"
" Di ruang sakit, Tan." sahut Adnan.
Cklek..blam...
Mereka melihat Lena yang keluar jekur dari kamar.
" Bagaimana keadaan Vara?" tanya Wisnu.
" Membaik, dia butuh dukungan kalian, tapi secara keseluruhan dia baik-baik saja."
" Kalau begitu mama pergi dulu, A." Fena beranjak berdiri.
" Mama mau kemana?" tanya Wisnu.
" Ke rumah sakit, kemana lagi."
" Ma..jangan..." erang Wisnu.
" Kenapa? Mama hanya ingin memastikan mereka tidak mendekati Vara lagi."
" Aa jaminan mereka tidak kan berani mendekatinya lagi." Wisnu hanya ingin mama-nya tidak membuat masalah baru.
" Benar?"
" Ck, beneran."
" Ma..., Pa..." Bhumi gagal mencegah Shavara untuk berisitirahat.
Fena dan Anggara lantas menoleh ke arah suara itu." VARAAA..anakku..." Fena berlari melintasi ruangan merentangkan tangan untuk memeluk yang terlihat kacau.
Namun keburu oleh Anggara yang melangkah cepat dan lebar. Ia mendahului Fena memeluk Shavara.
Mendekapnya erat, menyalurkan rasa kasih dan sayang serta penerimaan yang penuh pada putrinya." Putri tercinta Papa. Anakku sayang..." Anggara menciumi wajah Shavara.
Di belakangnya, Fena melototi nya sengit. selalu, selalu begini. Dia selalu kalah cepat ada untuk putrinya dari suaminya itu.
" Ma, jangan berdiri saja, mending peluk Aa." ledek Wisnu yang menahan tawa melihat betapa beratnya Mama-nya itu.
Cklek...blam...
Empat gadis memasuki kamar. mengudang atensi mereka.
" Bagiamana car kalian masuk?" tanya Erlangga.
" Pintunya tidak tertutup rapat, terganjal sepatu, entah milik siapa." jawab Mira.
" Siapa wanita jelek yang babak belur itu?" tanya Fena seringan kapas mengucapkan penghinaan itu.
" Masa gak kenal, Tan. Dia mantan sahabat Vara sekaligus selingkuhan Aryo." sahut Mira.
" Apa? Dia si pengkhianat Monika? Apa dia juga bekerja sama dengan si bangs4t itu?"
Segera Monika menggeleng walau dengan takut-takut." Ti..tidak, Tan."
" Dia menyerang Ana." timpal Adnan.
" Untuk apa? Kenapa gak sekalian saja kepalanya dipisahkan dari badannya, cewek macam dia cuma jadi beban."
Mata Fena melotot kala satu pikiran menyergapnya, " Apa kau sendang mencoba mendekati putraku? n4jis gila. mending anakku jomblo seumur hidup dari pada sama Lo. Amit-amit jabang tuyul." pekik Fena membahana.
Selanjutnya segala hinaan dari Fena Minka terima, ia tiada daya untuk melawan, tatapannya menyiratkan rasa iri melihat Shavara dipeluk ayahnya.
" Ngapain kamu lihat-lihat suami saya, mau merebut dia? Cih, mana bisa, modelan badut kayak kamu jadi pelakor, jadi simpanan saja kudu syukur kamu." cibir Fena salah paham.
Monika menurunkan pandangannya dia harus menyelamatkan diri dari sang maha penguasa Bhumi....
Cussss... tongkat kan komen, like, hadiah, dan vote nya..❤️❤️❤️❤️ sehektar buat kalian!!!
__ADS_1