
Rencana hanya mengajak Shavara dan Senja yang terjadi malah banyak orang yang ngintil. dimulai dari Bian yang mengajak Aditya yang ternyata mengajak para sahabat yang lain.
Saat mereka akan keluar rumah, mereka berpapasan dengan Wisnu dari arah dapur, dan dia pun ikut serta tidak lupa menelpon Adnan dan Erlangga.
Kini karena Shavara yang risih hanya mereka berdua yang perempuan menelpon Berliana dan juga Mira yang akhirnya mereka mengajak Kenzo dan Bima.
Bhumi menatap malas para jomblo yang menggoda dua pengunjung wanita cantik yang duduk di meja bersebalahan meja mereka, mereka tinggal menunggu Aira yang ditelpon dadakan oleh Bian.
Shavara memperhatikan Bhumi yang duduk di seberangnya, dia seperti dalam kotak tertutup ditengah keramaian orang hingga Wisnu menghampirinya.
Ketika yang lain heboh tidak jelas, Bhumi dan Wisnu hanya ngobrol berdua.
Belum apa-apa Shavara merasa lelah." lo lagi berantem sama kak Bhumi?" tanya Mira berbisik.
" Enggak, tapi hampir satu Minggu ini sikapnya memang aneh. apa dia udah bosen sama gue ya." ucap Shavara lesu.
"Serius? gak mungkin secepat itu, kemarin dia masih bucinin Lo."
" Gue bingung, dia masih suka bilang suka, sayang sama gue tapi sikap dia beda sama yang dulu. bahkan kini dia jarang nelpon gue."
" Lo lah yang nelpon dia."
" Ck, kalau direject?"
"Ya udah fix dia udah gak mau sama Lo, Lo jangan bego kayak waktu sama Aryo."
" Enggaklah, tapi emang gue type kalau udah sayang, totalitas gitu. gak bisa ngubahnya gue." erang Shavara kesal sendiri karena bingung.
" Lo pengen tahu dia masih suka atau enggak sama Lo, kan?" tanya Mira yang diangguki Shavara.
"Gue gak bisa diginiin terus-menerus."
"Coba Lo duluan yang nyosor." bisik Mira di telinga Shavara.
" Apa-apaan sih. ogah, gak mau. gila, taruh dimana muka gue?" ucap Shavara tanpa sadar meninggikan suaranya.
Semuanya menatap mereka, termasuk Bhumi dan Wisnu.
" Eeeh,.,sorry. silakan dilanjutkan." Shavara nyengir kikuk.
pletak...
" Lo sih toa." Mira menjitak kepala Shavara.
" Lo yang ngada-ngada."
" Kalian kenapa dari tadi rusuh banget berdua doang juga." Wisnu menatap mereka berdua.
" Biasa, gibah." alibi Mira.
Tanpa sepengetahuan Shavara, bhum pun tengah Sam galau dengan dirinya. meski terkesan tenang diantara riuhan random yang lain sudut matanya tidak lepas dari Shavara.
Bhumi sangat sadar Shavara seringkali meliriknya bahkan menatapnya, raut Shavara yang menggambarkan kerisauan meresahkannya dia takut Shavara berpikir yang tidak-tidak tentangnya, namun dia bingung harus bersikap bagaimana ditengah hasrat menyentuhnya yang membuncah dengan ketidaknyamanan Shavara, dia takut Shavara pergi darinya.
"Sejak kapan kamu suka gibah, teh? teteh Mira bawa efek jelek buat Lo ya?" sindir Aditya.
" Ngeunah ae." sungut Mira.
" Udah-udah balik ke kegiatan kalian." Shavara melerai.
Wisnu memperhatikan sikap ganjil antara Bhumi dan adiknya yang seperti ada jarak diantara keduanya.
" Lo berantem sama adik gue?" tanya Wisnu.
"Enggak."
" Terus kenapa dari tadi Lo nyuekin dia."
"Enggak, cuma banyak orang aja takut dia gak nyaman."
" Alasan, biasanya juga Lo gak bisa jauh dari dia. ini ni yang gue gak mau kalo sahabat gue jadian sam adik gue."
" Apa sih, Nu. emang gak ada apa-apa."
" Bhum, kalau Lo udah gak mau bareng Sam adik gue lagi gak masalah cuma jangan gantungin dia. di rumah dia galau ampe gue dikecengin gak jelas."
" Ck ,gak ada ya gue begitu. perasan gue sama dia aman bahkan makin aman tentram."
" Yang gue lihat gak gitu, tapi gue gak mau ikut campur. cuma satu gue kasih tahu Lo jangan brengsek macam Aryo pacaran 4 tahun pake 2 tahun tunangan, diminta nikahin nunda mulu tahunya selingkuh. kalau Lo begitu gak segan-segan gue habisi Lo."
" Nu, gue ini produk dari perempuan yang dinistakan lelaki brengsek, gue juga punya adik perempuan. gue tahu persisi sakitnya gimana dikhianati. gue sayang adik Lo, gue gak bakalan ngulang kesalahan bokap, ngebayangin aja gue jijik." terang Bhumi tegas.
" Janji Lo gak akan selingkuhin adik gue?"
" Gak akan, kedepannya kemungkinan gue gak bisa selalu bahagiain dia, tapi buat curang ke dia..mending Lo kebiri gue."
" Gue pegang janji Lo."
" Lo kekepin juga boleh, ngebet banget punya ipar gue."
" Anj...."
" Hallo semua... maaf Ira lama. salahin kak Bian yang ngajak dadakan." cerocos Aira yang masuk dengan napas ngos-ngosan.
Bian tertawa jahil," maaf, tapi ini juga dadakan." Bian menyodorkan segelas air putih ada Aira yang langsung ditenggak habis.
" Gak dadakan orang udah direncanain dari dua hari yang lalu." bongkar Senja. Aira mendelik pada Bian yang merangkulnya
" Yuk pergi aja langsung." ujar Bhumi.
Perkara naik kendaraan pun jadi ribut, Bian bersikukuh membonceng Aira yang ditarik Senja satu mobil bersamanya.
Bhumi yang keburu malas manarik lengan Shavara yang sesaat tersentak terkejut, dirinya menatap tangannya besar Bhumi yang mengurung tangan kecilnya, senyum pun tidak terelakkan lagi terlukis di bibirnya, namun itu hanya sesaat.
Senyum itu pudar seiring Bhumi yang melepas pegangannya saat posisi mereka terpisah dari yang lain. Shavara melihat tangannya dengan senyum kecut, hatinya serasa diremas kuat-kuat, sakit sekali rasanya.
Bagi Bhumi pun demikian, saat tanpa sengaja tangan itu melepas sedetik itu jua dia menyesalinya, seketika dia merasakan hawa dingin di belakangnya, hatinya berdegup kencang karena risau.
Mereka masuk ke dalam mobil tanpa menunggu yang lain, Bhumi melajunya meninggalkan Warungkita.
" Gue sama Shava duluan, dah." serunya pada mereka yang masih ribut, kemudian menutup kaca jendela.
" Gak apa-apa kita duluan?"
" Kalau nunggu mereka lama padahal kan kita ke tujuan yang sama nanti juga ketemu lagi."
" Iya, ya.."
Setelahnya tidak ada lagi obrolan, Shavara tidak menyukai suasana tidak menyenangkan ini, namun apalah saya dia hanya bisa memalingkan wajah ke luar jendela.
Bhumi melirik Shavara yang lebih tertarik melihat pemandangan luar, dirinya gelisah takut Shavara marah akan tindakan tidak menyenangkan tadi saat dia melepas pegangan tangan mereka.
__ADS_1
" Kamu udah buat list mau beli apa aja?"
" Belum, lihat yang ada saja." jawab Shavara pelan tapi semangat.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
" Astaga rame banget.." mata Shavara membesar melihat kepadatan pengunjung yang memenuhi festival kuliner.
" Jangan jauh-jauh dari aku." Ucap Bhumi saat menutup pintu bagian Shavara.
" Kemana ya mereka? kok lama banget nyampenya?"
" Katanya suruh masuk duluan nanti ketemuan di meja yang dicari Kenzo sama Wisnu." timpal Bhumi mengangkat ponselnya yang berisi pesan dari Wisnu.
" Oh begitu, ya udah ayok masuk." Shavara berjalan tanpa menunggu Bhumi.
Bhumi menghela napas kasar menatap kepergian Shavara sebelum menyusulnya.
" Shitt, dimana dia? gue yakin gue cuma telat sepersekian detik kenapa gak kelihatan." Bhumi mencari Shavara ditengah ruang gerak terbatas, bejubelnya pengunjung tak jarang mereka harus memiringkan tubuh agar bisa lewat.
Kekhawatiran kini menghinggapinya saat 10 menit dia mencari tak kunjung jua melihat Shavara ditengah lautan orang ini. baru dia akan menelpon saat dirinya menangkap siluet Shavara di depan gerobak steak ayam.
" Sayang, astaga, kamu ini. aku bilang jangan jauh-jauh dari aku." cerocos Bhumi begitu dirinya berada di dekat Shavara.
" Loh emang kakak dari mana?" tanya Shavara bingung, Bhumi menggeleng sembari menghembuskan napas kasar menanggapi ucapan Shavara.
" Kakak, mau ini gak?" tunjuknya pada steak.
" Enggak, aku makan yang kamu beli aja."
" Ini, kak satu box steaknya." ujar si penjual. Bhumi mengambil kantong plastik tersebut.
Saat hendak membayar, didahului Shavara yang menyodorkan uang.
" makasih, kak."
" Udah prepare uang?"
" Udah, sekarang kan niat ke sisinya. kak Bhumi juga kalau ad ayang dimainin ngomong ya, sekalian aku mau bayar hutang."
Bhumi merubah raut wajah tidak senang kala mendengar ucapan gadisnya itu.
" Sekarang mau kemana?" tanya Bhumi berada agak dingin.
" Ke sana." tunjuknya pada gerobak gyoza.
" Ayok, ke sana." Bhumi berjalan duluan di depan Shavara tanpa memegangi Shavara.
Shavara yang takut ketinggalan memegang ujung jaket Bhumi, karena takut Bhumi marah kalau dia memegang tangannya. Begitu cara mereka memburu makanan selama 45 menit.
Di kedua tangan Bhumi telah menjinjing banyak kantong plastik belum lagi belanjaan di tangan Shavara.
" Ada yang mau dibeli lagi gak?" tanya Bhumi.
" Kenapa emang?"
" Kita udah disuruh kumpul."
" Ya udah ke sana aja dulu, kalau masih kurang nanti beli lagi."
Saat mereka terlihat, mereka langsung disambut ledekan dan godaan dari yang sudah menunggu dari dua meja yang digabung satu.
" Woy, lama amat. bisa Lo kencang di kerumunan semut gini." sindir Erlangga
" Ck, kasian yang jomblo cuma bisa nonton." culas Shavara yang mendapat delikkan dari yang merasa jomblo. Bhumi terkekeh, menarik kursi yang dimaksudkan untuk gadisnya, namun matanya menatap Shavara yang memutar ke sebelah Wisnu dan duduk di kursi kosong di sana.
" DEWA...KAMU.. DEWA KAN!?" teriakan itu mengundang perhatian orang sekitar termasuk mereka yang di meja.
Wanita cantik yang tersenyum lebar sumringah itu berlari kecil mendekat dan tanpa segan langsung menggelayut manja di lengan Bhumi yang tersentak kaget.
Semuanya melihat dua orang yang saling adu tatap bagai waktu terhenti, dan melupakan mereka. Beda dengan Shavara yang menatap melas tanah lentik yang bertengger manja mengelilingi lengan bhumi yang tidak ditolak oleh sang empunya, sontak itu membuat dadanya bergemuruh, matanya memanas, bibirnya menipis.
" Dewa,...akhirnya kita ketemu, aku kangen kamu banget tahu." rengeknya manja memangku dagunya di lengan Bhumi.
" Kinan...?"
" Iya, ini aku. aku tahu kamu pasti mengingat ku." Ucapnya mendayu sambil mengelus lengan Bhumi.
Suara yang terdengar lembut itu berhasil memancing emosi marah Shavara, ia merasa diperdaya. setelah seminggu Bhumi tidak menyentuhnya, dan tadi menghentakkan tangannya, kini dengan senang hati pria tersebut tidak menolak sentuhan wanita itu.
BRAKKKH...PRAKHH...
Suara gebrakan meja dan kursi jatuh mengalihkan tatapan mereka paa Shavara yang berdiri menegang daa mata memerah yang berkaca, sorot terluka dan kecewa ada di sana yang sedang menatap bhumi.
Shavara melangkah lebar dan menghentak melewati meninggalkan meja, Bhumi bergerak namun terhalang sesuatu yang menekannya, dia baru menyadari ada tangan yang melingkarinya.
Bhumi langsung menghentak tangan Kinan, dia ingin mendekat namun Kinan mencekal kembali tangan Bhumi.
" Dewa,...gak sopan." peringat Kinan sedikit meninggi karena tersinggung.
" Ngaca, bang-sat." Sinis Bhumi menyentak keras tangan putih halus tersebut hingga membentur ujung meja lain yang membuat Kinan meringis, dia lekas berlari menyusul Shavara.
Kinan membelalak syok, ia mematung kaku terkejut, begitupun yang lain tersentak kaget akan kekasaran Bhumi.
Seketika suasana sekitar mereka seperti hening tidak bergerak, sampai akhirnya suara berat Wisnu membuyarkan semuanya.
" Siapa kamu?"
Tidak ada respon dari Kinan, brakh...
Kinan terlonjak mengerjap kaget, dari tatapannya terlihat dia baru menyadari ada orang lain di dekatnya.
Adnan dan Erlangga pun segera mendekati Wisnu berharap bisa menenangkannya
" Siapa kamu?" tanya Wisnu dingin.
Aura mengancam yang menyeruak dari Wisnu membuat Kinan sedikit terintimidasi.
" Jawab, wanita. siapa Lo?"
" Aku temannya Dewa." jawabnya setenang mungkin. Kinan sudah melihat berbagai karakter pria dalam perjalanan hidupnya.
Orang otoriter seperti Wisnu hanya bisa dihadapi dengan ketenangan dan kepercayaan diri, itu pikirnya. dia tidak tahu kalau Wisnu tertarik padanya karena adiknya yang terlihat nelangsa bukan ingin mengenalnya.
" Dewa,..bukan teman dekat, Huh. Sok akrab, type perempuan yang si paling populer hanya karena berhasil berbicara dengan si paling most wanted." cemooh Wisnu.
Kinan terbeliak dengan perkataan meremehkan tersebut, dia tidak terima. seumur hidupnya jiwa humble-nya yang membuat dia diterima oleh siapa saj dan dari kalangan mana saja.
" Aku mantannya Dewa." ucap Kinan percaya diri.
Adnan dan Erlangga yang berdiri di belakang Wisnu mengerang kesal.
__ADS_1
" Mantan. datang, menyapa, genit. ciri-ciri, ingin balikan. basi, gak mutu." mata Kinan makin melebar dengan tudingan itu.
" Nu, tenang..."
" Emang gue ngapain?" Wisnu menaikan alisnya bertanya polos.
" Oke, gue salah ngomong. gue bakal bawa dia pergi." Adnan menghampiri Kinan.
Dia menarik tangan Kinan untuk mengikutinya, namun Kinan menolak, ia bergeming di tempat dengan membalas tatapan Wisnu yang tidak kalah garang.
" Kin, ikut gue. bukan waktunya Lo ngeyel, dia orang yang gak bisa Lo taklukan."
Kinan membalas tatapan Wisnu, mereka saling pandang menyelami kekuatan masing-masing." Massaaa? kok gue ragu. lagian apa yang dia omongin itu benar, gue datang untuk balikan sama Dewa." culas Kinan.
" Kinan, jangan bertingkah, ikut gue." ucap kesal Adnan.
" Gak mau, gue Mau nyari Dewa. ini salah Lo juga yang gak mau masih info tentang dia." Kinan berbalik, namun langkahnya terhenti kala Wisnu kembali bersuara.
" Memang gak perlu Lo tahu tentang dia. gue kasihan sama Lo, dia gak peduli sama Lo."
"Bohong, cuma gue yang pernah jadian sama dia, jadi cuma gue yang dia pedulikan." Kinan menolak percaya.
" Lo yang nembak, Lo juga yang berkhianat. gak ad alasan kenapa dia nginget Lo seperti yang Lo kira. gue sama Elang saksinya. dia gak pernah nanyain atau ngomongin Lo, Lo gak penting buat dia." tegas Adnan yang mulai jemu dengan tingkah Kinan semenjak dua Minggu lalu mendatanginya dan menerornya meminta nomor ponsel Bhumi.
Kinan terdiam sakit hati, " kita pergi, Lo ganggu acara kami." Adnan menarik tangan Kinan.
" Duduk." lagi-lagi Wisnu menginterupsi.
" Gak mau." Kinana berbalik menghadap Wisnu, ucap kinan menekan menantang. cukup Adnan yang menyentil egonya, tidak dengan orang asing ini.
"Duduk." kini suara Wisnu lebih tegas.
" Gue gak budeg, gak usah pasang sok nyeremin ke gue. gei bilang gue gak mau, budeg Lo."
" Duduk sukarela atau dipaksa, tinggal pilih."
"Atau apa? Lo gak mungkin kasar ke perempuan kan!" sarkas ironi Kinan sambil menyeringai culas.
Kinan berbalik sembari mengibas rambutnya sombong.
Brukh...
" Aaaduuaaw..." Kinan tersentak sebelum terjatuh meringis duduk di lantai saat kursi kosong di belakanganya yang ditendang Wisnu menghantam lutut belakanganya.
" Kyaaa...Kyaaa..." jerit kaget Berliana, Mira, Senja,. Aira yang menjadi perhatian pengunjung lain.
" Duduk." Wisnu menatap tajam Kinan yang dibantu berdiri oleh Adnan untuk di dudukan di kursi yang tadi terdorong.
" Kalian boleh makan selama saya mengurus wanita yang haus belaian ini."
Ucapan merendahkan itu menyenggol ego Kinan, meski berusaha memberontak, tenaga Adnan lebih besar darinya hingga Kinan tidak punah pilihan selain menurut.
" Cuma banci lelaki yang nyakitin perempuan."
Wisnu tersenyum smirk meremehkan." andalan perempuan kalau kalah duel, kalau sudah tahu akan kalah jangan banyak tingkah, tapi lagi murahan."
Kinan makin terbakar marah, saat ia hendak membuka mulut wisnu menyelanya.
" Jangan banyak omong kosong, saatnya lo bicara empat mata sama gue...."
¥¥¥¥¥¥¥
Bhumi mengangkat kepala berlari kecil dari satu sudut ke sudut lain celingukan kanan kiri diantara banyak orang mencari Shavara, ia menelponnya untuk kesekian kalinya yang tak kunjung diangkat.
Raut cemas tersemat di wajahnya sampai dia temukan siluet Shavara yang menjauh dari festival.
Bhumi berlari ke luar area mengejar secepat mungkin lalu menarik tangannya.
" Shava..." panggil Bhumi terengah-engah.
Shavara menoleh, wajahnya menampakkan kemarahan. " Lepas." Shavara mencoba menghentak tangan Bhumi yang makin mengeratkan cekalannya.
" Kita harus bicara, Va."
" Gak sudi." Shavara mengusap air mata yang hendak turun di bawah kantung matanya.
" Shava, jangan begini."
" Pergi, lepaskannn." Shavara mencoba menarik tangannya dari pegangan Bhumi.
" Shava, aku minta maaf."
" PERGIIIII..."
" Gak mau, dan gak bisa kalau kamu marah begini."
PLAKKK...
Satu tamparan keras mengenai pipi Bhumi hingga tercetak bekas tangan di sana. Bhumi tertegun, Shavara pun terkejut sendiri akan perbuatannya, tapi ini sangat menyakitkan.
" Breng-sek, egois, bedebah. kamu lebih jahat dari Aryo. setidaknya dia selingkuh di belakangku, tapi kamu terang-terangan di depanku. semua lelaki sama, ba-jingan!" teriak Shavara dengan berlinang air mata.
Bhumi menahan napas sesak, dia marah diperbandingkan dengan pengecut itu." Aku gak selingkuh."
" Pantas seminggu ini kamu bersikap aneh, kamu gak lagi megang tangan aku, kamu gak lagi meluk aku, kamu gak lagi mencuri civman dariku ternyata sudah ada penggantinya." Shavara menertawakan dirinya miris. Aira menyeka kuat airmata yang terus mengalir.
" Apa kau pikir modal ucapan sayang saja bisa membodohiku? kau pikir hanya karena aku pernah ditipu mantan ku maka kau pun bisa memanfaatkan keluguanku? ya tuhan seharusnya aku memang bodoh yang tidak belajar dari pengalaman, hanya karena kata-kata sayang darimu aku bisa terlena padahal aku menertawai ku." ernag Shavara memilukan.
" Pergi, pergilah. bukankah aku sudah tidak mau lagi aku, Bukankah aku sudah mendapatkan yang lebih dariku, bisakah kau pergi...aku...merasa terhina...huhuhu..hiks...pergilah, beri aku sedikit harga diri, pleasee...pergiii..."
Sakit, bukan saja Shavara yang sakit, tapi hatinya pun sakit melihat gadis yang dia puja menangis karenanya. tanpa kata Bhumi membawa Shavara ke parkiran mobil yang tentu saja ditolak Shavara.
diliputi kemarahan sekaligus habisnya kesabaran, Bhumi memanggul Shavara ke pundaknya. berjalan menuju mobilnya.
" Turunkan aku Playboy." teriak Shavara di Alik punggungnya, dia malu menjadi perhatian pengunjung lain.
" Kurang ajar... bangs..."
"DIAM...aku sudah tidak bisa mendengar omong kosong mu lagi, aku benar-benar marah, Shavara." bentak Bhumi.
Bhumi membuka kunci pintu mobil bagian penumpang, membukanya, lalu memaksa memasukkan Shavara yang berontak ingin keluar yang langsung dihadangnya.
" Aku benci kamu, Bhumi." hardik Shavara
" Benci saja." balas Bhumi tenang.
" Awas, aku ingin keluar. tidak sudi aku satu berbagi napas dengan mu." Shavara mendorong Bhumi yang tidak bergerak sama sekali.
Malah Bhumi mendesak Shavara ke bangku penumpang belakang diikuti olehnya
" Bhumi, awass. budeg kamu."
__ADS_1
" Hina aku sepuasmu, sayang. tapi jangan harap aku melepaskan mu." Bhumi menutup pintu mobil lalu menguncinya....