
" Cinta, katanya tergila-gila, tapi jangankan berkeluh kesah ditelpon aja gak diangkat padahal telpon dia megang, cinta apaan. bullshit..apa bedanya dia sama Aryo..gak ada cuma bisa omdo." Shavara berbicara sendirian selama berkeliling tak tentu arah, hanya mengikuti jalan dan tangan saja maunya ke mana.
" Gak ada cinta seperti cintanya Papa ke Mama, gak ada cinta seperti cintanya Aa Wisnu sama adek ke aku. gak ada, gak ada sama sekali. semuanya boong." Shavara seperti meyakinkan diri sendiri.
" Dan Lo bego, Vara. masih percaya ada cinta kayak cinta yang Lo kasih ke Aryo. gak ada orang yang akan selalu ada buat Lo kayak Lo ada buat dia. gak ada. jadi stop Lo berharap cerita cinta kayak di dongeng." lampu lalu lintas berganti merah, yang mewajibkan Shavara berhenti. tapi tidak dengan mulutnya yang terus bicara.
Ekor matanya menangkap motor RX-King yang berhenti di depan berjarak tiga baris dari antrian dengannya. ia hafal ransel hitam kombinasi coklat yang menempel di punggung itu milik siapa, Bhumi, pasti punggung tegak itu milik pria yang mengaku mencintainya tapi tidak mau mengangkat telpon darinya.
Ponsel dalam tasnya bergetar untuk kesekian kalinya ia pun menyerah dan akhirnya mengambil ponsel tersebut.
Panggilan dari Wisnu berhenti bertepatan dia akan menekan icon hijau. saat melihat bilah notifikasi ia terkaget melihat banyaknya panggilan dan pesan masuk dari mama, papa, Wisnu, Berliana, Bima dan Mira.
" Ngapain pada telpon banyak banget gini." saat hendak membuka pesan dari Mira ada panggilan masuk dari Bhumi.
Shavara menghela napas berat, matanya melihat silih berganti antara ponsel dan orang yang dia yakini Bhumi.
" Nelpon bisa, angkat telpon gak bisa, tapi jalan bisa." cibir Shavara.
" Nelpon paling mau bilang menjelaskan, terus minta maaf, mulai mencari alibi, tapi ujung-ujungnya gue juga yang disalahin. dia kan gak beda dari Aryo, maka gak bedanya juga cara memanipulasi gue." gerutu Shavara.
Tin..tin....
Lampu berubah hijau, kendaraan di belakangnya sudah tidak sabar, ia pun hendak menaruh ponselnya kembal ke dalam tas, namun sebuah tangan merebut ponselnya, dan kendaraan yang membawa orang itu melesat pergi ini dengan cepat.
Shavara tertegun, ponselnya raib di depan matanya.
" HEI... hp gue..." ucpannya pelan, saat itu tidak bermanfaat.
" Hahahhaha, good...good...lengkap sudah kesialan gue." sarkasnya mengomentari ketidak beruntung untuk hidupnya sendiri sembari tertawa garing.
Tin...tin...
Mobil di belakangnya habis kesabaran, tidak ingin mencari ribut Shavara pun melakukan motor scoopynya.
¥¥¥¥¥¥
Wisnu meminta bantuan Erlangga dan Adnan untuk mencari Shavara setelah menelpon Berliana dan Mira yang ternyata Shavara tidak bersama mereka.
Mereka berpencar mencari di setiap tempat yang mereka kira Shavara datangi sampai ke club.
" Ck, Lang. ini tempat Lo, bukan Vara." kesal Adnan.
" Siapa tahu, si efek berantem si mo'nyet itu Shavara nekat ke sini." Erlangga menari bergabung ke beberapa wanita yang meliuk mengikuti musik.
" Gue telpon si Wisnu, Tah rasa Lo." Adnan memilih keluar sebelum akal sehatnya hilang. Erlangga mau tidak mau ikut keluar dari pada berurusan dengan Wisnu.
" Sayang, maaf. ini udah malam kamu dimana?" Bhumi merasa lelah, namun kekhawatiran lebih mendominasi dirinya.
Drrrtt....
melihat taman, Bhumi memarkirkan motor sekaligus menjawab telpon.
" Hallo."
" Ada info gak?" tanya Adnan.
" Belum ada, gue berhenti dulu mau makan. dari adi siang belum makan maaf gue mau kambuh ni kayaknya."
Saat waktu siang tadi dia hanya sempat makan cemilan, dia berniat makan saat anak-anak masuk kelas tahunya dia disibukkan dengan yang lain.
Setelah memarkirkan motornya ia berjalan menuju taman yang ada banyak dagangan angkringan, namun langkahnya terhenti, berdiri di tempat saat matanya melihat Shavara yang duduk santai tengah menikmati semangkuk seblak.
Pencahayaan yang temaram tidak menghalangi gadisnya menyantap hidangannya, hembusan angin yang mengganggu rambutnya yang lepas dari ikatannya tidak dia gubris, sebelah lebih menarik ketimbang merepotkan diri merapihkan rambutnya.
Bhumi mengulum senyum geli Shavara tampak sangat kepedasan, satu tangan repot mengatur rambutnya yang sedikit berantakan keluar dari ikatannya sekaligus menyeruput minuman dan tangan yang lain mengambil tissue dalam kotak di depannya.
Bhumi menghampiri, Berjongkok di belakangnya," biar aku bantu." ucapnya membantunya memperbaiki ikatan rambut, Shavara mengangguk tidak menyadari siapa orang di belakangnya.
Ia sibuk mengemut permen berupaya meredam panas dalam mulutnya.
" Pedes banget?" bisiknya, Shavara mengangguk lagi karena mulutnya masih megap-megap. sementara Bhumi mengulum senyum merasa konyol.
" Mau aku civm biar pedesnya ilang?" bisik Bhumi, ia mengusap kedua bahu Shavara setelah selesai dengan urusan rambutnya. Shavara hendak mengangguk, namun di tengah anggukan ia berhenti.
" Eh?" Shavara diam tertegun, ia menoleh ke belakang bertepatan Bhumi hendak mengecup kepalanya.
" Maaf." kecupan Bhumi jatuh di pelipis Shavara.
Shavara menjauhkan diri, Bhumi menahan pundaknya, mereka saling pandang untuk beberapa saat sebelum Shavara memutusnya.
Ia menggeser duduk menjauh, Bhumi m duduk merapat dengannya mengurung dirinya, tangannya melingkari pinggang Shavara.
" Jauh-jauh gak?" ucap Shavara galak.
"Enggak."
" Ck, ngapain di sini?" masih dengan judesnya Shavara.
Bhumi mengernyitkan satu alis seakan pertanyaan Shavara adalah hal yang konyol." Kamu tahu ini dimana?"
" Indonesia." jawab asal Shavara.
" ini di selatan, sedangkan rumah kamu di Utara. kamu sadar itu?"
" Masa sih." Shavara meragu, sebab dia sendiri tidak yakin di mana dia berada.
Rencananya setelah makan dia akan pulang, kalau pun dia tidak bisa menemukan jalan pulang, dia akan menginap di hotel.
" Pak, nasi goreng satu." ucap Bhumi pada bapak yang baru mengantar nasi goreng ke pelanggan yang duduk di tikar tidak jauh dari mereka.
" Siap, mas."
Bhumi melepas jaket, mengambil ponselnya dan menaruhnya di atas meja, menyampirkan jaket di tubuh Shavara yang dingin. menyelipkan rambut yang mulai nakal lagi ke belakang telinga Shavara.
" Yang lain lagi nyari kamu. aku telpon Wisnu dulu kalu kamu bersama aku." Bhumi mengambil ponselnya
__ADS_1
Shavara menahannya," gak usah. habis makan aku juga mau pulang."
" Tahu jalan pulangnya? gelap loh ini. mereka panik kamu ilang."
" Aku gak ilang, ini kamu nemuin kamu."
" Gak sengaja, niatnya berhenti mau makan setelah seharian nyari kamu."
" Boong banget, terus tadi di kantin ngapain kalau gak makan? sibuk ngecengin murid-murid kamu? itu kerjaan kamu kalau di sekolah. gak pernah pacaran sih, tapi sering godain anak orang." cibir Shavara, jelas dia sedang cemburu.
" Aku belum sempat makan tadi, pas lihat kamu lupa buat makan, dan niatnya mau ngajak makan bareng sama kamu, tapi pas aku balik ke kantin kamu gak ada. terus lupa deh soal makan, sebab nyari kamu lebih penting buat aku."
" Ck, gombal. aku gak akan termakan gombalan kamu lagi ya. apa yang kamu omongin boong."
" Yang bagian mana?"
" Semuanya."
" Gak ada yang boong."
" Kamu bilang cinta sama aku, tergila-gila sama aku, tapi aku telpon gak diangkat padahal lagi megang telpon, lebih senang godain muridnya." ketus Shavara.
" Aku minta maaf soal itu, aku gak tahu kamu nelpon, aku lagi nyuekin telpon dari orang lain." Bhumi menyalakan ponsel yang dia pegang.
Ia membuka riwayat telpon masuk." Lihat..."
Shavara cuek tidak merespon permintaan Bhumi, dia memilih memakan kembali seblaknya yang sudah dingin.
" Lihat dulu sini, baru makan lagi." Bhumi mengambil sendok dari tangan Shavara dan menjauhkan mangkoknya.
Memegang dagu Shavara memaksa untuk melihat ke ponselnya.
" Ini yang bikin aku nyuekin telpon masuk." Bhumi menunjuk 30 panggilan telpon, 10 SMS, dan 15 chat serta 20 telpon suara di WA-nya semuanya atas nama Bu Siena.
" Busyet banyak amat. ni orang guru atau debt colector." sinis Shavara tersirat bad marah di dalamnya.
Bhumi terkekeh," Kamu yang lihat aja sebal, apa lagi aku yang diteror."
" Ngapain dia rajin nelpon kamu?"tanya Shavara curiga.
" Gak penting, beberapa hari ini dia bertingkah aneh, sok kayak jadi istri gitu, nanyain aku makan, beliin aku makan. lama kelamaan aku eneg juga, kan."
"Wow enak ya ada yang merhatiin, aku mah apa atuh nelpon kamu aja jarang, pantesan gak mau angkat telpon aku." sindir Shavara judes.
Bhumi memperhatikan Shavara, wajah gadisnya cemberut, dia sendiri bingung menanggapi ucapan pacarnya inj, hingga satu ide terbesit di kepalanya, ia mengulum senyum, Bhumi menyadari ada kecemburuan dalam ucapan Shavara itu.
Bhumi merangkul Shavara, mengecup pelipisnya," Aku gak engeh ada telpon dari kamu, kamu kan gak biasanya nelpon siang, ku pikir getar telpon itu semuanya dari dia, makanya m aku gak angkat telpon kamu. pas liat ada telpon kamu, aku kaget sekaligus khawatir. aku langsung telpon balik kamu, tapi gak kamu angkat."
" Iya, aku gak angkat, namanya juga lagi marah. terus kamu sekarang mau marah balik sama aku, gitu?" bentak Shavara sebagai pertahanannya, karena dia yakin saat ini Bhumi akan masuk ke mode balik menyerangnya
Dia hafal dengan ritme ribut seperti ini, ini cara yang dipakai Aryo untuk menutupi kesalahannya, dan membalik memposisikan Shavara sebagai tersalah.
Bhumi makin dibuat bingung tadinya Shavara yang cemberut merajuk, kini galak, tapi bertahan.
Bhumi merasa sakit dengan apa yang diperlihatkan Shavara tanpa dia sendiri sadari, ia tahu Shavara naik pitam untuk menutupi pertahanannya, alih-alih bicara, Bhumi memilih mendekapnya dari belakang, melabuhkan banyak kecupan sayang di belakang kepalanya.
Shavara bergeming, dia kaget sekaligus tidak percaya," gak percaya kamu gak marah sama aku,...seharusnya kamu marah sama aku."
" Kesel iya, tapi itu karena aku takut ada apa-apa sama kamu, aku gak mau nunda waktu buat nyari kamu, tapi perutku ternyata gak demikian. Aku mampir ke sini karena perut aku sakit, maag aku mau kambuh."
Kontan Shavara melihat padanya, raut cemas jelas ada di sana." kok bisa? kalau punya maag jangan sok-sokan telat makan." omelnya.
" Partner yang mau diajak makannya kabur, mana bisa aku makan." Bhumi menahan senyum senang melihat Shavara peduli padanya.
" Ck, mulai lagi. Cepat makan."
" Itu lagi dibuatin."
" Makan ini dulu.," Shavara mengambil sebungkus roti dari dalam tasnya, kebiasaan untuk berjaga-jaga sewaktu-waktu dia malas ke kantin atau sibuk.
Bhumi menerima roti yang sudah dikupas," makasih, cantik. Hp kamu mana?"
" Ilang, dijambret."
" Kok bisa?"
" Bisalah, Jakarta ini, mas."
" Aku telpon wisnu dulu ya, kasian dia takut masih nyari kamu."
Shavara mengangguk, dia menempelkan telinga di samping ponsel Bhumi ikut mendengarkan obrolan Bhumi dan kakaknya, mencoba untuk tidak salah tingkah karena usapan tangan Bhumi di kepalanya." Wisnu pengen ngomong sama kamu."
Shavara mengambil ponsel dari tangan Bhumi. sewaktu Shavara bicara, pesanannya datang, dia dengan lahap memakan nasi itu sambil sesekali memaksa Shavara membuka mulut untuk memakan nasi yang dia suapkan, Bhumi tahu Shavara belum akan nasi.
Bhumi mengelap remehan nasi di sudut bibir Shavara," Jorok." ledeknya tanpa suara. Shavara mendelik sebal.
" Ini." Shavara memberi ponselnya kembali pada Bhumi.
Dia mengambil sendok dari tangan Bhumi, nasi gorengnya ternyata enak, dia ketagihan, tapi dia juga tidak lupa menyuapkan Bhumi yang ngobrol dengan Wisnu.
Bhumi menarik pinggang Shavara agar lebih merapat, cuaca semakin dingin.
" Kalau ga hujan gue anter balik, tapi kalau hujan kayaknya nginep dah."
" Lo jangan apa-apain adik gue."
" Ck, sampe sekarang adik Lo masih utuh."
" Bibirnya gak utuh." dumel Wisnu.
Bhumi tergelak," Nyampe situ doang. dari pada kehujanan."
" Terserah Lo dah. Awa aja Lo rusak adik gue."
" Gue nikahin. udah ya, bye."
__ADS_1
" Apa itu kok ada omongan nikah?" tanyanya sebelum menyantap sesendok nasi terakhir.
Bhumi mendekat ke telinga Shavara," Kalau aku nidurin kamu, aku siap nikahi kamu."
Bhuur...
Shavara memuncratkan makanannya..
" Ih, jorok." Bhumi mengelap sudut bibir Shavara yang tercemar remehan nasi.
" Habis kamu ngomongnya ngawur. Siaps juga yang mau kamu sentuh, seharian ini aku udah mikir, dan aku putusin buat gak mau kamu sentuh lagi."
Bhumi menatap Shavara tidak suka," omong kosong itu udah terlambat sepertinya, di leher kamu masih ada jejak aku, Shava. dan aku menolak ide kamu itu." ucap Bhumi dingin.
" Aku gak minta pendapat kamu. ini tubuhku, ini keputusanku."
" Aku tidak sekadar membicarakan soal sentuhan dan tubuh, Shavara, tapi hubungan ini. ada dua orang dalam hubungan ini, dan kamu gak bisa egois memutus sepihak untuk hubungan ini."
Shavara menyeringai sinis merespon ucapan Bhumi." Apapun yang kamu katakan kemarin aku anggap angin lalu, apa yang terjadi hari ini adalah kenyataannya."
" Dan apakah itu?" sinis Bhumi.
Shavara tidak menyukai mimik Bhumi yang yang menatapnya tajam, ia dalam hati ketakutan.
" Perkataan cinta mu, rasa tergila-gila mu semuanya semu, semuanya hanya memanipulasi untuk menguasai ku. kamu sama persis dengan Aryo. bilang cinta, menyanjungku disaat membutuhkan aku, sedangkan saat aku membutuhkan kamu, kamu gak ada, dengan segala alasan kamu gak ada untuk ku." cerocos Shavara.
Bhumi yang tidak suka disamakan dengan Aryo berdiri, menjauh dari Shavara, dia takut kelepasan kendali amarahnya.
Dia mondar-mandir menelpon seseorang, lalu duduk di depan Shavara, memasukan bawaan Shavara yang berada di atas meja ke dalam tasnya.
" Kita perlu bicara." ucapnya tegang.
" Aku mau pulang."
" Tidak ada yang pulang sebelum semuanya clear."
Bhumi menarik Shavara berdiri, tarikannya kuat hingga memaksa Shavara berdiri.
Ia menghampiri pedagang seblak membuka dompet, memberi dua lembar berwarna biru.
" Bang, sekalian untuk nasi gorengnya."
" Mas, kembaliannya."
" Ambil saja. bang, nanti ada orang yang mau ngambil motor tunangan saya, saya titip kuncinya ya." Bhumi menitipkan kunci motor Shavara ke pedagang seblak, Shavara diam karena bingung.
" Siap."
Bhumi menarik tangan Shavara berjalan ke motornya." Kita mau kemana?"
" Suatu tempat."
" Motor aku?"
" Nanti ada yang ngambil."
" Gak mau, aku gak bisa ninggalin motor aku, aku bawa motor aku."
" Ya tuhan Shava, kalau motor kamu hilang, aku ganti." ucap Bhumi tidak sabar.
Shavara bersedekap dada menantang Bhumi yang sudah duduk di atas motor.
" Naik, Shava."
"Gak mau, kamu pulang aja sana sendiri."
" Aku gak malu lho gendong kamu kayak karung terus keliling taman ditonton orang supaya kamu malu terus jd fyp tok-tok orang. pilih, kamu naik, atau adegan yang tadi aku omongin."
" Issh,..." Shavara menghentakkan kaki, sembari misuh-misuh dan merajuk ia menaiki motor Bhumi.
" Peluk."
" Ogah, udah sih nyalain motornya."
" Okez aku mau ngebut. kamu ngancleng jangan nangis."
" Ishh, nyebelin banget jadi orang."
" Kamu duluan. main nyamain aku sama si bang'sat itu."
Shavara menelan salivanya takut, ia meringsek menempel di punggung Bhumi selama perjalan.
Perjalan itu tidak lama, Bhumi berhenti di parkiran motor. Shavara mengangkat kepal ia kaget saat matanya membaca kata hotel tertulis besar di depan gedung megah.
"Kok..kok..Ki..kita..di..sini...." gugup Shavara pasrah saat Bhumi menarik tangannya memasuki lobby hotel.
Bhumi mengulum senyum menikmati kegugupan gadisnya." malam ini akan menjadi malam yang panjang, Beb." goda Bhumi.
Dan bibirnya mulai melengkung ke atas kala mendapat wajah Shavara pucat Pisa. Bhumi menarik pinggang Shavara hingga membentur tubuhnya yang keras.
telinga Shavara terasa pengang saat Bhumi memesan kamar yang kasurnya berukuran king size, dan rangkulan di pinggang makin. erat kala mereka berjalan menuju lift.
begitu pintu lift yang berisi hanya mereka berdua tertutup, Bhumi langsung mengukung Shavara ke dinding.
" Aku marah kamu nyamain aku dengan si brengs'ek itu. malam ini aku bakal kasih kamu paham kalau kami berbeda, bahkan tidak ada secuil pun persamaan di diri kami." ucap Bhumi dengan suara serak.
Bibirnya mendekat semakin mendekat hingga menempel, menge'cup, melu-mat, lidahnya terjulur mengg'oda bibir Shavara agar terbuka, dia langsung menghi'sap dan memperdalam pag'utannya begitu diberi kesempatan.
tangannya menarik pinggang, merupakan tubuh, mendesak tubuh Shavara di dinding untuk dihimpit tubuhnya yang mengeras.
Tangan itu bergerak mulus di punggung Shavara sesuai irama pag'utan kulit kenyal yang saling menikmati itu.
" Eekhh..ekhhh..." Shavara mengalungkan tangan di leher Bhumi, menekan tubuhnya pada lelakinya.
"Aaakhhhh...kakkkkkhhh...aaakkkkhhh..." Shavara menjambak rambut Bhumi saat bibir sexy itu menghisap kulit lehernya...
__ADS_1
Ting....