
Edo duduk tidak nyaman di kursi penumpanh melihat orang-orang keluar masuk rumah mantan istrinya, terlebih Fathan yang datang setiap harinya, berdasarkan laporan anak buahnya dari pagi hingga malam.
" Ko, Kau tahu dengan siapa Dewa menikah?"
" Hari ini detektif akan datang ke kantor anda, tuan."
Mereka memperhatikan Bian yang membonceng Senja tersenyum smirk saat melewati mereka matanya bersirobok dengan sang sopir.
" Apa Bian pernah meminta disopiri kamu, Ko?"
" Hanya saat ke kantor saja, tuan."
Drrt....
Sang asisten Edo, Yusuf, putra dari Joko membaca pesan yang masuk ke ponselnya.
" Tuan, pak detektif menunggu anda di kantor."
" Hmm." ada mimik sedih terlihat jelas dari wajah Edo saat melihat Rianti masuk ke dalam mobil Fathan dan melaju melewati mereka.
^^^^
" Dengan siapa dewa menikah?" Edo langsung to the point saat detektif memasuki ruang kerjanya.
Detektif menghela napas berat, ia menaruh amplop besar ke hadapan Edo.
" Shavara Nasution, putri dari Fena dan Anggara Nasution. perempuan baik-baik yang sangat santun, namun tidak lemah. sangat dibutuh putramu yang penuh kerapuhan sekaligus kebencian."
Ad atasan lega saat mendengar berita itu." Syukurlah kalau begitu."
" Tapi beberapa orang disekitarnya beresiko mengganggu hidupnya dikhawatirkan akan mempengaruhi pernikahan ini."
" Siapa?"
" Pak Edo, anda membayar saya untuk menyelidiki bukan untuk membacakan hasil, semua mengenai putra-putri anda ada di setiap laporan yang belum anda buka."
Edo melonggarkan dasinya yang terasa mencekiknya.
Sang detektif beranjak, merapihkan jas apa detektifnya." Sebaiknya segera anda baca apa hasil usaha saya, terlambat sedikit saya khawatir anda menyesal."
Setelah kepergian detektif, lama Edo terdiam memandang amplop besar itu, kemudian dia memundurkan kursinya, lalu melongok ke laci terbawah di mana salinan laporan itu menumpuk.
Saat hendak mengambil amplop-amplop besar itu, Yusuf memasuki ruangan.
" Tuan, jadwal anda hari ini..."
" Batalkan, kalau ada meeting yang urgent, kau saja yang mewakili saya."
" Tapi nyonya Desty sudah menunggu anda di rumah. anda hari ini berjanji akan meliburkan diri, tuan."
" Cari alasan, jangan biarkan dia menemui saya."
" Baik, tuan. permisi."
Setelah melawan rasa takutnya, Edo mengambil laporan itu, secara acak dia mengambil amplop yang di mukanya tertulis" BIAN DAN KEHADIRANNYA."
Di rumah, Desty mengamuk melempar benda-benda yang terdapat di ruang keluarga mengeluarkan segala kosa kata kasar akibat pembatalan rencana suaminya yang hendak menemaninya berbelanja.
"Sialan Edo, setelah apa yang ku lakukan, aku tidak sudi kau abaikan. bertahun-tahun aku bertahan dengan sikap dingin mu tidak untuk tangan kosong, Edo. aku bersumpah kau akan menyesalinya." Saat mengatakan itu wajah Desty penuh dendam kesumat.
Desty mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, kemudian dia menelpon Bian.
" Hallo."
" Mama ingin belanja, kirim uang ke rekening mama."
" Aku juga merindukan mu, Mam. hampir seminggu kita tidak bertemu dan uang kata pertama yang aku ucapkan padaku. cara elegan kalangan atas saat mengemis, hmm?" sinis Bian.
" Tutup mulut mu, Bian. kirimkan uang itu."
" Sorry tidak bisa, aku bahkan telah mengurangi setengah pengeluaran mu, Ma."
" Jangan berani-berani melakukannya." teriak Desty.
" Aku sudah melakukannya, Mam."
Klik..
Desty menatap berang ponsel yang perlahan lampunya mati itu.
" Anak si'alan, tidak berguna."Desty melempar ponselnya membentur tembok hingga pecah berkeping-keping.
❤️❤️❤️❤️❤️
Sedari bangun tidur hari ini bibir Bhumi terus mengulum senyum dan sangat sulit ditahannya, bahkan kalau bisa dia sebenarnya dia enggan keluar kamar karena ingin terus tersenyum jika mengingat dua hari lagi dia bisa menikahi pujaan hatinya.
"Pagi semua." Bhumi menggeleng saat melihat anak muridnya kalang kabut duduk di tempat masing-masing.
Mata tajamnya menangkap Mega dan genknya sibuk memasukan alat-alat makeup mereka.
" Kita tidak akan mulai ujian jika Mega dan antek-anteknya belum menghapus make-upnya."
Kontan kegaduhan berupa protesan memenuhi ruangan.
" Di sini tertulis waktu mengisi soal selama 100 menit dari jam delapan hingga selesai. sekarang jam delapan lewat sepuluh menit, dan saya tidak berniat memberikan waktu tambahan."
" Ya tuhan, Mega. tolong dong hapus. muka Lo udah kayak itik warna-warni yang dijual abang-abang di pasar aja, Ga."
Mega mendelik kan Atma tajam ke Aditya atas perkataannya," Heh, setara hasil MUA ini." sentaknya.
" Terserah, tapi kalau nilai ujian gue kecil gegara Lo, gue jual juga Li di pasar burung. hapus gak makeup Lo." omel Nuril yang beranjak ke mejanya.
Dipimpin oleh Leo, para teman lelaki lainnya bergegas bahu-membahu secara tega memegangi mereka dan secara asal menghapus make-up dengan tidak estetiknya.
Mega dan yang lain sudah misuh-misuh maka terjadilah keributan yang memancing guru yang lain berhenti di kelas itu salah satunya guntur, sang tunangan Mega.
Dia hanya menghela napas lelah padahal hari masih pagi pun." Kenapa tingkahnya makin ke sini makin jadi ya." Bhumi terkekeh mendengar keluhan Guntur.
" Lo yang milih dia buat jadi ibu anak-anak Lo." bisik Bhumi.
" Pak Guntur, tolongin Megaaaa..." pekik Mega.
" punya kenalan ustadz gak buat ngeruqyah dia." guntur ngeloyor pergi meninggalkan Mega yang yang masih melawan penjajah.
Bhumi tergelak, ekor matanya menangkap Bian yang sendirian tidak ikut ribut dengan yang lain, tumbenan.
" Pak, perintah telah dilaksanakan." ucap Ajis.
Bhumi menghampiri lalu memegang kepala Mega, kalau mengamatinya.
" Gak usah jutek sama guru gak sopan." tegur Bhumi yang berhasil merubah raut Mega.
Mata Mega melihat hal ganjil dari tangan Bhumi yang memegangi kepalanya.
Matanya membola besar secara dramatis." Omo...Omo...Omo...pak Dewa memakai cincin nikah." pekik Mega sumringah sambil memegang tangan Bhumi.
Serempak penghuni kelas terdiam memandang Bhumi, Bhumi mengelap napas pasrah.
" Iya, saya sudah menikah."
" kyaaaaa....." pekik para siswi histeris. yang dihiraukan Bhumi yang trus melenggang ke mejanya.
" Berdoa sebelum ujian." tegas Bhumi yang jengah dengan pertanyaan kepo para muridnya.
__ADS_1
Bhumi berkeliling mengawasi siswa-siswinya yang mulai gelisah karena sisa waktu tinggal sedikit.
Bhumi berdiri di samping meja Bian," kenapa?" tanya Bhumi pelan agr tidak didengar oleh yang lain.
Bian menengadah." Mama nyari masalah."
" Lupakan, lakukan saja yang menurut kamu benar. jangan merasa terbebani."
" Kalau Mama ganggu ibu Rianti, gimana?"
" Udah biasa, ada saya yang melindungi kalian." Bhumi menepuk-nepuk lembut kepala Bian kemudian pergi dari sana.
Bian tertegun, satu tangannya memegangi kepalanya yang tadi dipupuk Bhumi, ada rasa hangat menjalari hatinya. tak ayal ras senang pun menghinggapinya. ia pun bersemangat mengisi soal.
Di mejanya Bhumi tersenyum lebar saat menerima pesan dari Shavara.
" Aku sama yang lain mau ke warungKita, mereka minta ditraktir."
" Kita ketemuan di sana, cantik. Miss you, pengen peluk kamu. love berhektar-hektar ❤️❤️❤️❤️" balasnya.
" Cie...bapak pacaran." celetuk Mega yang berjalan ke mejanya dengan membawa lembaran jawaban.
" Kok tahu? pengalaman ya." sindir Bhumi.
" Tau ah." Mega langsung jutek. ia menaruh lembar jawaban di atas meja dengan hentakan.
Bhumi menggeleng," Ck..ck..ck...bisa tahan gak tuh Guntur dengan tingkah naudzubillahnya."
Isu nikah Bhumi flam sekejap menyebar seantero sekolah, maka di sinilah Bhumi yang diteror pertanyaan oleh APRA muridnya sepanjang berjalan ke kantor guru.
" Pak, gosip bapak sudah menikah itu gak benar kan?" tanya Arleta dengan napas ngos-ngosan.
" Itu benar. saya sedang bahagia." Bhumi melanjutkan langkah meninggalkan Arleta yang berdiri kaku di tempatnya.
" Sakit." ringisnya memegangi dadanya.
" Pak Dewa." panggil Siena saat Bhumi memasuki kantor guru.
" Sekolah heboh dengan kabar bapak telah menikah, itu hoax kan ya."
Para guru lain diam ingin mendengar konfirmasi jelas dari orangnya." itu benar adanya ibu." jawab Bhumi tegas.
kehebohan pun terjadi diantara para guru.
" Kok gak ngundang pak Dewa." tanya salah satu guru.
" Acaranya memang khusus keluarga."
" Traktir dong di restoran bapak." ujar yang lain.
" Datang saja, saya siap."
" Gituuu dong. selamat ya." satu persatu guru menyalaminya sambil berucap mendoakannya kecuali Siena yang cemberut duduk di ujung sofa.
" Bu Siena muslim sekarang jangan ngejar-ngejar pak Dewa lagi ya, ibu guru, gak pantes menyabet gelar pelakor." seru Bu Ratna terang-terangan yang disetujui guru yang lain.
❤️❤️❤️❤️
Bermodal ucapan Bhumi, sepulang sekolah Bian langsung menuju kantor ayahnya, maka kini duduk di ruang kerja ayahnya berhadapan langsung dengan Edo yang menatapnya dengan tatapan bercampur emosi.
Bian melihat amplop yang tertera namanya di sana yang segelnya sudah terbuka.
" Sejak kapan kamu tinggal dengan mereka?"
Bian mengangguk-angguk," kalau aku gak di rumah, itu berarti aku bersama mereka."
" Di rumah mereka ramai, ada apa?"
Edo terhenyak kaget." benarkah?"
" Bukannya aku udah bilang ya bang Edo tunangan."
" Kamu gak bilang dia akan menikah secepat ini."
" Ohh lupa berarti, sorry." jawab enteng Bian.
" Bian, kamu bukan anaknya, kenapa kamu tinggal bersama mereka? gak pantas, Bian." tekan Edo.
" Dan aku pun bukan anakmu, jadi aku juga gak pantas tinggal bersama mu." ucap Bian dingin.
Di tempatnya Edo mematung ngeri," Kau... mengetahuinya?"
" Sudah ku bilang aku mengetahui segalanya, dja aku hidup dibawah bayangan pengkhianatan itu, mental ku rusak, Pa. dan ini diperparah kau tidak mempedulikan aku."
Tercetak jelas rasa pilu bercampur kecewa di manik coklat itu,
" Biannn... maafkan Papa." lirih Edo.
Bian berdiri, menyugar rambutnya kasar." Aku hanya bertanya-tanya kenapa kau memilih kami kalau hanya untuk aku abaikan. kenapa kau meninggalkannya hanya karena omongan bullshit sekretaris mu yang serakah, Papa." bentak Bian.
Linangan airmata meluruh di pipi Bian" Kau jahat, aku hancurkan keluargamu untuk kau rusak mental ku yang tidak bersalah apapun. KAU JAHAT!!"
BRAKH..
Bian keluar dari ruangan dengan amarah membumbung tinggi, di lorong dia bertemu dengan Desty yang menatapnya durja.
Plak.wajh Bian sampai ahrus tertoleh kesamping karena tamparan keras.
" Anak gak tahu diuntung, lancang sekali kau potong jatahku." teriak Desty.
Bian mengusap pipinya dengan senyuman kontras dengan wajahnya yang muram.
" Lain kali habisi kau jika berani menamparku lagi " desisnya bengis. Allahu pergi meninggalkan ibunya.
Desty terpaku kaku di tempat saat sorot penuh kebencian itu menatapnya.
❤️❤️❤️❤️
Monika dan para temannya tengah bersenda gurau saat netranya melihat Bhumi yang duduk sendirian di satu meja lain.
bibirnya merekah saat ide pembalasan sakit hatinya terpikirkan olehnya hal itu disadari oleh Arda.
" Jangan mulai lagi, Lo Mon. gak inget nasib Lo beberapa hari lalu, Lo udah diperingatkan oleh pak Wisnu." ucap yang lain.
flash back beberapa hari lalu.
" Monik, Paman Angga itu baik, dia menyayangi Lo seperti anaknya sendiri jadi gak mungkin dia nolak Lo buat magang di sini." monolog Monika meyakinkan dirinya sendiri.
Kalau perusahaan Aryo tidak diguncang finansial dan om Jagar, paman Aryo mau menerima dirinya sebagai pemagang, monika tidak sudi mendatangi gedung ini.
" Bego Lo, Monik. bego. seharusnya hari itu Lo minta maaf sama Vara bukannya terus ganggu dia, dia itu naif menjurus ke beg* pasti dia percaya omongan Lo, dan Lo gak akan merana kayak gini."
Sudah beberapa perusahaan ia ajukan magang, namun ditolak. harapannya hanya Nasution corp. itulah mengapa dia bilang gampang pada para temannya.
Netranya memandang gedung pencakar langit berlantai 25 bernama Fena Tower milik Nasution corp.
Monika memegang erat stir mobilnya karena gugup. ia menarik dalam lalu menghembuskan napasnya keras-keras sebelum keluar dari mobilnya.
Saat dirinya sedang berbicara dengan resepsionis kebetulan Anggara dan Wisnu melewati lobby.
Monika dengan percaya diri menghampiri Anggara," Paman Angga." panggilnya bangga yang berhasil membuat para pegawai terkejut.
Mereka berdua berhenti sejenak, " Kau urus dia, pastikan dia paham untuk tidak memanfaatkan kelurga kita." bisik Anggara pada Wisnu yang berlalu setelah menyapa basa-basi pada Monika.
__ADS_1
" Paman..." muka Monika memerah karena malu saat Anggara tidak menggubris panggilannya, tubuhnya kaku saat berbalik mendapati Wisnu yang menatapnya dingin.
" Sediakan ruangan dan panggil HRD." pintanya pada sang sekretarisnya.
" Baik."
" Maka di ruangan kecil di lantai satu m inilah Monika berhadapan dengan HRD, serta Wisnu yang di dampingi sekretarisnya.m.
" Berapa orang yang dari universitas ini mengajukan magang?" setiap tahun sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan nasional, perusahaan Nasution corp menjalin kerjasama dengan beberapa universitas program magang untuk meningkatkan kualitas mahasiswa.
" Enam, pak."
" Saya ingin dia ditolak magang di sini." dagunya menunjuk pada Monika yang duduk menunduk di depan mereka.
" Kak tolong..."
" Kak? siapa kakak kamu?" cibir Wisnu.
Monika kelimpungan," to.. tolong..izinkan saya bertemu dan berbicara dengan paman Anggara." desak Monika.
" Sejak pemimpin perusahaan usahakan ini menjadi Paman kamu? Untuk apa kau ingin bertemu dengannya? merayu beliau? kau yakin bisa menggodanya sementara beliau memiliki istri wanita baik-baik seperti ibu saya?"
Monika menggeleng cepat, tangannya mengepal erat di atas pangkuannya, dadanya merasakan nyeri atas penghinaan tersebut, namun harus dia tahan karena dia membutuhkan kesempatan magang ini.
" Saya yakin beliau akan mempertimbangkan saya magang di sini?"
Wisnu tersenyum devil, wajah yang biasa memberi keteduhan walau terkesan pendiam, kini berubah sinis.
" Kau pikir mengapa saya di sini, sedangkan beliau pergi tanpa menghiraukan panggilan mu? karena beliau ingin kau ditolak di sini."
Monika menggeleng lagi, " tidak..tidak mungkin. beliau orang baik, beliau menyayangi saya."
" Sebelum atau sesudah kau mengkhianati putrinya? kami tidak menerima pengkhianat." tekan Wisnu penuh kebencian,
Monika tertegun di tempat, wajahnya mengeras dengan tubuh bergetar menahan emosi.
Wisnu berdiri memperbaiki jasnya lalu pergi dengan sang asisten yang telah siap membuka pintu. langkahnya terhenti saat dari arah belakangnya mendengar tawa meremehkan.
Merasa sia-sia sudah menurunkan ego untuk kemari berharap disambut baik, malah mendapat penghinaan, Monika pun kehilangan akal, " Kupikir perusahaan ini dibangun dengan sikap profesional, dengan tidak mencampuri urusan pribadi ternyata salah besar, kalian arogan. akan ku pastikan Shavara menangis lagi karena kegagalan pernikahannya untuk kali kedua." sentakannya dengan mata membesar tajam.
Tanpa menoleh ke belakang, Wisnu berucap." Pikirkan oleh mu kenapa kau tidak diterima di mana pun." culas Wisnu menyeringai miring.
Kalimat itu yang menyadarkan Monika akan kebodohannya. wajahnya memucat pias.
" Kak..kak...maafkan aku, lupakan apa yang ku katakan tadi. ku mohon terima aku." Monika bersujud di kaki Wisnu yang langsung menghempaskannya.
" Mulai sekarang kau akan tahu, bahwa godaan tubuh mu tidak berlaku lagi." Wisnu pergi dari ruangan itu setelah mengutarakan penghinaan yang nyata tersebut meninggalkan Monika yang meraung menangis.
Setelahnya di dalam mobil, Monika menyeka air matanya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain menelpon Aryo yang sudah belum juga mendapat jawaban.
Di saat yang sama, di tempat lain, setelah mendiskusikan rencana mereka Aryo dan Kinan banjir peluh dengan gerakan erotis saling memuaskan di atas ranjang tidak peduli cahaya matahri sudah naik ke atas.
Walau dalam pikiran Kinan ia sedang melakukannya dengan Dewa.
" Aahh...Aryo... angkat dulu telpon mu, itu sangat mengangguhhh..." lenguh Kinan embusungkan tubuhnya karena nikmat yang dia rasakan dari hujaman Aryo yang buas.
" Ck, itu cuma pengganggu, sayang..aaahhh puaasskan aku...aaa....hhhjlh..." tubuh aryo terjatuh setelah lahar miliknya keluar deras.
Aryo berguling ke samping dengan napas terengah-engah." Kau harus melakukan rencana itu segera."
" Kau tidak bisa memerintah ku, aku bisa melakukannya kapan pun semauku."
" Mereka akan menikah, akan lebih sulit melakukannya jika pernikahan itu sudah terjadi." Aryo begitu marah ketika dia mengetahui berita itu dari Kinan.
Kinan pun termenung menyetujui pendapat itu." Kalau begitu tunggu lah pesanku, kau harus menolongku."
" Hmm." Aryo mengambil ponselnya, ia membaca rentetan pesan dari Monika.
" Oh, shitt..aku lupa harus mengantar dia ke Fena tower."
flash back off
" Justru pengunaan itu gue lakuin, ini cara gue ngebalas."
" Bisa-bisa Lo gak bakal lulus karena gak magang, Mon."
" Mana mungkin. gue bil resiko magang tahun depan, pastinya mereka sudah gak engeuh lagi sama gue."
" Mon, mereka dekat dengan RaHasiYa, itu berarti Lo bakal menderita seumur hidup kalau Lo bertingkah lagi, gue ngingetin aja sih."
" Bacot. Da, Fotoin gue, Lo lihat aksi gue."
Monika membuka dia kancing teratas kemejanya lalu melangkah menghampiri meja .
Bhumi menoleh saat tiba-tiba tangannya digelayuti manja oleh seseorang mengganggu aktifitasnya mengudang acara digital para temannya.
" Mas, Dewa jahat aku telpon gak pernah diangkat." Monika menaruh dagunya di bahu lengan atas Bhumi.
" Saya sibuk."
"Jangan lagi-lagi." rengeknya manja.
" Hmm."
Bhumi mengangkat alis memandang Monika dirasa ada yang yang merayapi pahanya, Monika membalas pandangan Bhumi dengan senyum menggoda.
Tanpa sepengetahuan Monika, Bhumi mengambil foto lalu mengiranya ke Shavara dengan caption." Tolong lindungi aku dari ulet keket, sayang."
" Gara-gara ditelpon yang waktu itu kamu sedang main aku selalu terbayang menyentuh kamu, Mas." tangan itu bergerak naik turun.
Bhumi menangkap tangan nakal itu, " malu, banyak orang liatin kita." bisiknya.
Bola mata Monika mengedar ke sembarang arah dan memang benar ada beberapa pengunjung memperhatikan mereka.
" Pindah tempat?" bisik Monika dengan ujung lidahnya menyentuh daun telinga Bhumi.
" No, aku sedang nunggu orang." tegas Bhumi mengubah duduknya bersandar.
" Gak penasaran sama punya aku?" jari lentik Monika membelai dirinya diantara dua kancing yang terbuka.
Bhumi mengentikan dahi," enggak. pasti sama dengan yang lain sudah gak kenyal karena sudah banyak yang nyentuh."
Raut Monika sontak berubah tajam," aku sedang menghina ku, Mas?"
" Kau tersinggung dengan apa yang aku omongin?"
Wajah cantik itu kembali berubah sayu mendayu," Enggak, aku hanya bersama orang yang aku cinta."
" Kamu cinta aku?"
" Pada pandangan pertama."
" Bullshit, itu nafsu. dan aku gak tertarik."
" Kamu menolak ku?"
Bhumi mengangkat tangannya yang tersemat cincin." aku sudah tunangan.
Bukannya mundur, monika malah merasa tertantang." Baru tunangan, mau nyoba cari cadangan?" kali ini lengan Bhumi yang digerayangi.
" Monikaaa..." Suara menggelegar Daria rha belakang mereka membuat Monika menoleh, detik kemudian matanya membesar karena takut....
Pada subscribe cerita ini gak?...stay toon untuk next part-nya ya....
__ADS_1