Kamu Yang Aku Mau

Kamu Yang Aku Mau
91. Shavara yang Mengakhiri...


__ADS_3

Kecuali kamu menikmatinya..." ada nada mengejek dalam ucapan itu.


Arleta mundur beberapa langkah karena syok. Kepalanya menunduk menyembunyikan pupilnya bergoyang-goyang lemah dan putus asa.


Perkataan itu menghinanya, ia tahu itu niatan Dewa padanya. Dewa-nya benar-benar tidak bisa tertolong, sudah sangat membencinya. sikap lembut penuh dukungan seakan tidak pernah terjadi diantara mereka.


" Kalau begitu bisakah bapak menikahi ku karena aku telah bersusah payah sedemikian effort-nya untuk bapak?" tidak ada penyesalan kala kepala itu terangkat dan matanya menatap lurus mata Bhumi yang menatapnya intens.


PLAK....


Kepala Arleta harus bertolak kala Jagar menamparnya keras," Pa..?" kaget Arleta.


" Berhenti bersikap murahan, tidak bisakah kau membalas jasa ku yang membesarkan mu dengan hanya bernapas saja sambil menunggu malaikat maut menjemputmu?" seru Jagar tampak jelas kebencian di netranya.


Arleta terhenyak, napasnya memburu karena dadanya begitu sesak. Matanya membelalak besar akan kata-kata menyakitkan tersebut.


Shavara pun terkejut bukan main, sementara Bhumi diam tanpa emosi apapun hanya tangannya yang menggenggam erat Shavara.


" PAPAAA..." tegur marah Deby.


Saya


" Kau urus putri mu, kasih dia ajar bagaimana aku bersabar dalam kebencian ku setiap kali melihatnya yang hanya mengingatkan ku akan pengkhianatan mu, Deby." tambah Jagar yang matanya masih beradu pandang dengan Arleta.


" Kau sangat membenciku, Pa?"


" Sangat."


" Lalu kenapa kau tidak membuang ku? Kenapa kau tidak membunvh ku selagi masih dalam kandungan Mama?" teriak Arleta.


 " Karena mama mu mengancam ku, dia akan menyakiti keluarga ku kalau saya berani menceraikan dia. Soal kehadiranmu, itu bukan urusanku."


" JAGARRRR...STOPP..DEMI TUHAN DIA ANAK YANG KAU BESARKAN DENGAN KASIH SAYANG MU."


Jagar menoleh pada Deby, ada senyum terluka di sana." Kapan aku mengasihinya? Kau tanyakan padanya kapan dia merasa aku cintai?"


" Tidak..tidak pernah." lirih Arleta terluka dengan airmata yang mengalir di pipinya.


" Leta..." panggil Deby lemah, is terduduk di sofa.


" Kalian tidak pernah menyayangiku itulah mengapa aku mencari kasih sayang dari luar."


" Tapi tidak dengan mengganggu guru mu, dia sudah menikah, Leta." Jagar kehabisan akal akan sikap Arleta.


" Seharusnya pak Dewa menikahiku, kita begitu dekat sebelumnya. mengapa sulit bagimu memandang ku sebagai wanita, pak?"


Bhumi menatap Arleta sedemikian rupa, ia menghela napas kasar," Karena saya menganggap mu adik."


" Tapi saya bukan adik mu, dan tidak ingin menjadi adikmu." tolak Arleta cepat.


" Tentu saja kamu bukan adik saya, karena saya lebih baik membnvnvh adik saya tepat ketika saya melihat kamu menjajakan diri mu pada hidung belang."


Kedua orangtuanya terkejut," Hati-hati anda kalau berbicara, saya bisa menuntut anda." sanggah Deby tersinggung.


Bhumi memandang sinis Deby," Jangan repot-repot menuntut saya, kalau nada enggan mengakui anak anda murahan setidaknya didik dia menjadi wanita sedikit bermartabat."


" Ini fitnah."


" tanyakan pada putrimu darimana segala kemewahan yang dia punya, dia memang terkenal sebagai putri seorang Jagar, tapi kita semua tahu pak Jagar tidak sebaik itu memfasilitasi putria dengan kemewahan."


" Kau seperti mengenal putriku, apa kau salah satu pelanggannya?" sarkas Deby tidak kalah sinis.


Bhumi tersenyum miring," apa sekarang anda sedang menyudutkan saya? lihat putrimu, saya bisa menikmati dia tanpa harus saya keluar uang, serendah itu dia menempatkan dirinya di depan saya."


" Pak...."


" Pak Dewa...anda seorang guru tidak pantas berucap demikian."


" Dan anda ibunya alih-alih menyudutkan saya lebih baik anda introspeksi diri mengapa putrimu ingin bunvh diri dan menjadi bin4l."


" Pak Dewa, anda melewati batasanmu."


" Saya bahkan tidak ingin berurusan dengan putrimu, tapi bertahun-tahun dia melecehkan saya, dan sekarang ingin mengganggu rumah tangga saya, tentu saja saya tidak bisa lagi tinggal diam mentolerir tingkah dia yang begitu menjijikan." tekan Bhumi dikata terakhirnya."


" Pak, ini usaha saya mendapatkan bapak. Tolong..tolong hargai saya."


" Gunakan otakmu, Arleta. Drama diperkosa enam orang dan kau jual kesedihan mu pada istri saya, itu menandakan kau gil4."


" Ya, aku gila..aku tergila-gila padamu. Kalau bapak menolak saya, kenapa bapak dulu menolong saya." pekik Arleta putus asa.


" kalus Aya Thai kau akan menjadi benalu dalam hidup saya, tentu saya tidak akan pernah menolongmu. Melihat bagaimana ibu mu menyalahkan saya lebih baik memang kau mati."


" Aa..."


" Pak Dewa..."


" Bapak...."


Tangis arleta pecah, untuk pertma kalinya dia merasa tidak diinginkan, untuk pertma kalinya dia tertolak, untuk pertama kalinya dia merasa sedemikian direndahkan.


" Urus putrimu, sebaiknya kau kasih tahu ayahnya soal anaknya yang menyusahkan ini." perintah Jagar.


" Mas, please. jangan sekarang kau egois. Dia anak mu."


" Deby, Arleta tahu dia bukan anak kandungku, aku tidak pernah ingin menyembunyikan itu darinya karena setiap kali melihatnya itu hanya mengingatkan ku pada pengkhianatan mu. Sebaiknya kita memang bercerai, kalau kau berani melakukan sesuatu yang membuatku marah, kau akan lihat pembalasanku." tukas Jagar melangkah ke pintu ruangan.


" MAS...TUNGGU. KAMU GAK BISA MENCERAIKAN AKUU..."


" Aki tidak bisa lagi hidup dengan segala hal memalukan yang diakibatkan putrimu, sebagai tanggung jawabku sesama manusia aku akan bertanggungjawab atas pengobatan mental dia, sebaiknya kau mulia memperhatikannya daripada sibuk bergosip dan mengurusi keponakan mu yang tidak tahu diri itu." Jagar Meninggalkan ruangan.


Tangisan Arleta dan Deby yang memenuhi ruangan, Arleta sedikit demi sedikit melangkah ke arah sofa Shavara ia duduk bersimpuh di sana.


" Mbak sudah melihat betapa kacaunya keluargaku, tidak ada yang peduli padaku. tolong.. tolong..beri pada Dewa padaku. Aku sangat membutuhkan dia, mbak...tolong kasihani aku... beri dia untukku..." Arleta memegang tangan Shavara.


" Lepas..." ucapan Bhumi terputus kala Shavara menggelengkan kepala padanya.


" Kau mencintainya?" tanya Shavara lembut.


" Sangat, dia jiwaku."


" Kau ingin membahagiakannya?"


" Sangat."


" Lalu mengapa kau mengkhianatinya?"

__ADS_1


" Kapan? Cintaku padanya tidak pernah tergoyahkan."


" Kau biarkan dirimu disentuh pria lain."


" Itu karena pak Dewa menolak ku."


" Kau membuatnya malu."


" Untuk mencari perhatiannya hanya itu."


" Kau membuatnya menderita?"


" Aku tidak pernah bermaksud demikian. Kalau mbak melepasnya untukku aku akan mengabdikan diriku padanya."


" Tapi aku bisa melihat Bhumi -ku tidak akan bahagia dengan mu. Aku mencintainya sebesar kamu mencintainya bahkan aku memintanya untuk berbaik hati padamu, tapi kini aku bisa melihatnya mengapa dia begitu membenci mu, kau tidak mencintainya, kau hanya ingin memanfaatkan perasaanya yang tidak bisa kau dapatkan dari keluargamu untuk kesenanganmu, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Arleta."


wajah Arleta yang semula memelas, berubah dingin, bahkan terlihat marah. Dia hentakan tangan Shavara lalu berdiri merapihkan rambutnya dengan tangan gemetar.


Ia berbalik menatap sengit Shavara," Aku sudah meminta baik-baik padamu, jangan salahkan aku kalau ku rebut dia secara paksa darimu."


Deby menggeleng tidak bisa menerima akan sikap anaknya.


" ARLETA...jaga sikapmu pada istri saya."


" Dia membuat ku marah, pak. Dia orang baru sebaiknya dia mengembalikan bopak padaku. bapak milikku, hanya bisa menjadi milikku."


" KAU..."


" Apa yang akan kau lakukan? Menjebak suami saya dengan kehamilan mu?"


Mata Arleta membesar, Shavara terkekeh meremehkan," Ku taksir tebakanku benar, cari cara lain, itu sudah kuno. Meski aku hamil anaknya aku tidak akan membiarkan kau memilikinya.


Ku yakin kau bukan wanita pertama yang hamil diluar nikah, sudah banyak pula lelaki yang meniduri mu jadi mengapa suamiku yang harus bertanggungjawab akan kehamilan mu? Enyah kau."


Tidak ada kata-kata yang bisa Arleta katakan saat melihat mata Shavara yang tajam, dia mati kutu. Namun desakan diri yang terbiasa mendapatkan apa yang dia mau lah yang membuat dirinya bergerak menyerang Shavara dengan murka.


" Kalau begitu, lebih baik kau mati daripada aku melihat mu bahagia dengan pak Dewa."


" SHAVA..." Bhumi takut istrinya terluka.


Arleta melancarkan pukvlan yang dengan mudahnya ditepis oleh Shavara dengan menend4ng perut Arleta.


Dia terdorong jatuh dengan memegang perutnya yang sakit." Jangan memancingku melakukan kekerasan padamu. Sudahi kegilaan mu pada pak Dewa mu, Arleta. ini ultimatum terakhirku padamu. Lain kali tidak hanya pukvlan yang kau terima, tapi kecacatan permanen yang kau rasakan."


Arleta terkejut, perempuan yang terlihat lemah lembut itu ternyata bisa melakukan perlawanan badan padanya.


Mata mereka saling beradu." Kau butuh kesempurnaan tubuh untuk menggoda mangsamu bukan? Maka jangan kau ganggu hidup kami. Permisi."


" Pak Dewa...jangan tinggalkan saya, pak..." mohon Arleta yang diabaikan mereka berdua.


Saling bergenggaman tangan mereka meninggalkan ruangan, dia depan mereka bertemu dengan Wita dan Monika.


" Mas..." Monika melaju selangkah ke arah Bhumi yang langsung dicegat Shavara." Lo dengar omongan gue ke calon ponakan Lo itu?"


Monika mengangguk," Itu juga berlaku untuk Lo."


" Tapi mas Dewa suka gue, Lo gak tahu apapun soal kami."


" Ck, satu lagi lintah. Mon, soal chat Aa Bhumi sama Lo, itu cuma prank. Gue ada di situ saat dia ngirim chat itu. Dia cuma mancing kasih tahu gue Lo sebenarnya kalau Lo cuma cewek rendahan yang tidak tahu diri."


Bhumi mengedikan bahu tidak peduli," Bahkan ******* dia yang Lo kirim sama gue itu gue lagi sama dia. Lo kena prank."


" Mas, kamu jahat."


" Maka Lo bisa jauhi gue, kan. Gue jahat seperti yang Lo bilang." timpal Bhumi tidak mengelak.


" Kasihan...niat hati cari sugar Daddy yang baru, malah zonk. Urus sugar Daddy Lo yang cacat itu." ucap Shavara enteng.


" Nak, jangan begitu. itu anak Tante." tegur Wita.


" Maaf, Tan. tapi aku sudah bosan menghadapi para manusia tidak tahu diri ini. Selama ini aku diam, bahkan sempat bersimpati pada ponakan Tante itu, ternyata tidak lebih hanya perempuan yang tidak punya hati.


Mulai sekarang sebaiknya Tante dan Tante Deby urusi anak masing-masing, kalian tidak mau berhadapan dengan mama kan? dan Lo, Mon, mau gue aduin ke Aa Wisnu dan mama gue?"


Monika dan Wita terdiam, mereka tentu tidak ingin berurusan dengan seorang Fena.


Monika tersenyum miring," Lo memang anak manja, cuma bisa Cepu. hadapi gue kalau Lo mampu. Aryo saja bisa gue rebut dengan mudahnya.


" Itu karena Lo bisa dipake gratisan, sedangkan gue harus sama ijab Qabul, kita beda kelas, Mon. Jangan lupa dimana Lo berdiri sekarang, berapa rupiah yang sudah tubuh Lo hasilkan hari ini"? Sarkas Shavara.


" Lo..." tangan Bhumi menulis tangan Monika yang hendak menampar Shavara.


" Rawat germo Lo, mas Aryo yang sudah cacat itu. HAHAHHAHAHAHAHA...." Bhumi dan Shavara meninggalkan mereka dengan tawa membahana dari Shavara.


Bhumi hanya menggeleng, ia mengusap rambut Shavara dengan sayang." Senang banget, sayang."


" Banget lah. Sekali bertindak dua curut keok, keren gak?"


" Banget, berdamage..."


" Damage-nya bisa sampe rahang gak?" bisik Bhumi disusul mengecupi telinga Shavara saat menunggu lift.


" A, ih..ini rumah sakit."


" Gak ada orang." Bhumi memeluk pinggang Shavara.


" Tetap aja..."


" Pengen nyoba lagi di parkiran gak?"


" Gak, gila aja ini siang bolong."


Ting...


Ruang lift kosong, Bhumi segera mendorong Shavara, saat pintu belum tertutup rapat Bhumi sudah melum'at bibir Shavara yang disaksikan Monika yang hendak menyusul mereka.


Saat lift turun, Monika masih tertegun di tempat. Seringai dengan lirikan mengejek saat civman dari Bhumi yang menyentil nyeri di hatinya.


" Sial, gak punya harapan lagi gue." monolog Monika kesal.


" Tapi gue gak bisa jadi pelacvr selamanya, bukan akhir begini yang gue mau saat merebut mas Aryo dari dia. soal..sial.... Kenapa dia selalu beruntung.sial..."


❤️❤️❤️❤️


" A, tangan kamu."

__ADS_1


" Diam, sayang. biarkan di sana."


" A, nyetir yang benar. pake dua tangan."


Shavara geregetan dengan tangan bumi yang langsung bertengger betah di pahanya. Mengusap naik turun, luar dalam pahanya, meremas, lalu mengusap lagi. terus itis aja yang dilakukan. menjauh hanya untuk ganti persneling.


" Kita cari hotel, oke?"


" Gak okay. Nanti malam tahun baru, aku pengen bersama keluarga."


" Nanti kita gabung bareng mereka, sayang. Pleaseeeee..."


" Gak da, kamu gak cukup sehari ngurung sehari kalau begituan."


" Namanya juga bulan madu, cinta." Bhumi meriah tangan Shavara lalu mengecupnya.


" Terima kasih udah bela aku."


" Aku yang minta maaf udah bikin kamu marah gegara murid kamu itu, sumpah aku kesel banget sama dia." sungut Shavara.


" Makanya aku bertindak tegas, dia gak otaknya gak dipake."


" Bisa kamu Bethan selama bertahun-tahun, A."


" Aku gak pernah anggap dia ada, sayang."


" Aku jadi penasaran sama tindakan dia yang di ruang kerja kamu itu."


" No, aku gak bakal ngasih tahu kamu, iya aku benci dia, tapi gak perlu mempermalukan dia juga sayang."


"Spoiler aja dikit."


" Dia hmbukan baju sama kakinya baut aku."


BUGh...


" Aku bilang dikit, A. bukan intinya." Shavara memukul lengan Bhumi.


Bhumi hanya bisa terkekeh, matanya melirik kemacetan di depannya, ia mencivm bibir Shavara, melum4tnya habis-habisan sampai kemacetan itu mengurai.


" Selalu manis rasanya. Aku suka banget." ucapnya serak seusai melepas pag'utannya yang ke sekian. Dia setiap macet, Bhumi memanfaatkannya untuk mencivm bibir ranum itu.


" Kita mampir ke hotel ya, sayang."


" No, dikit lagi kita nyampe."


" Aaarrghhh...aku pengen..cuaca sini tuh ranjang-able banget, sayang." Bhumi mengantar tangan Shavara ke selangkangannya.


" A, ada yang berdiri tegak tapi bukan keadilan, ad ayang keras tapi bukan batu. Apakah itu?" canda Shavara yang mengelus pelan di sana.


Bhumi tertawa kecil," Pisang gen Z, sayang. Kesukaan kamu. Kalau udah di sana kamu Betha banget berlama-lama."


" Aaa...mesum banget jadi orang."


" Kalau sama kamu otak cabul aku turn on kencang, sayang." seloroh Bhumi membelokkan mobil ke tempat tujuan di mana para teman sudah menunggu.


" Untung sama aku doang."


Bhum memarkirkan mobil, belum mematikan mesinnya. Ia tatap Shavara," Cuma sama kamu doang aku maunya, gak yang lain. Percaya sama aku."


Bhumi mendekatkan diri mengikis jarak *****4* bibir istrinya, mengelus rahang, tengkuk agar civman itu bergerak lincah saling menghis4p dan bertukar saliva.


Bibir itu menjauh saat bibir dirasa kebas, Shavara merapihkan rambut Bhumi yang berantakan, Bhumi pun sama rambut panjang berantakan Shavara menjadi korban keganasan ulahnya.


" Aku sayang kamu." kata Bhumi lembut sambil menatap Shavara.


" Sayang kamu juga."


Bhumi mengecup kening Shavara dalam," Cinta kamu banyak-banyak."


Shavara memejamkan mata ingin meresapi rasa yang membuncah di hatinya." cinta kamu juga."


Terakhir, Bhumi mengecup bibir itu," Kamu cuma milik aku."


" Hmm. Kamu juga uam milik aku."


Bhumi mengangguk," Miliki aku seutuhnya, dan akan ku berikan dari versi aku yang terbaik untuk kamu."


" Hmm, terima kasih."


Mereka saling pandang, saling tersenyum sebelum keluar dan bergabung dengan yang lain.


Di parkiran mereka bertemu dengan para orang tua," Ayah, dan calon ayah." pekik Shavara senang mengandeng Edo yang kebetulan berjalan bersama dengan Fathan.


tubuh Edo kaku bergeming, walau ia terenyuh, namun tatapan datar puteranya mengusak hatinya, dengan berat hati ia mengurai gandengan tangan itu.


" Shavara, anakku. bukan ayah menolak mu, tapi ayah takut Dewa marah." ucap pelan Edo.


" Gak apa-apa. kalau Aa marah, bair Vara yang urus. Aku mau gandeng ayah mertua aku."


" Kamu udah nemu jurus menaklukan hati dia, Ra?" bisik Fathan.


" Hmm, tentu saja. Dengan cinta kasih aku, calon ayah mertua."


" Lebay, baru Mama lihat cinta kasih kalian yang ngeribetin tadi pagi." komentar Fena.


" Apasih Ma, itu cuma intermezo. Ma. Intermezo...kayak gak pernah ribut aja sama papa."


" Gimana, semua beres, Bhum?" tanya Anggara.


" Alhamdulillah, tadi ada pak Jagar juga di sana."


" Papa yang telepon beliau. papa bosen dengan kelakuan murid kamu itu."


" Ma, tadi Monik berulah lagi mau goda Aa Bhumi." Adu Shavara.


" Ck, tu anak..."


" Tenang, ma. Elang janji bakal bawa dia ke Nathan Wilson. Pemilik the Flawless..."


" Dih, Kebagusan kalau di Monika bertengger di sana. dia levelnya Surga Duniawi, bukan sih."


" Udah gak ada lokalisasi itu, tapi Papa bakal bujuk elang ke tempat lain.


Maka kekal lah nasib Monika di dunia prostitusi....

__ADS_1


__ADS_2